Target gue cuma satu,Lulus Skripsi. Tapi, gara-gara Abang kurir salah kirim paket barang ilegal, gue malah berurusan sama Arka, bos mafia paling ditakuti.
Bukannya dihabisin, gue malah disandera dan dipaksa jadi asisten pribadinya dengan ancaman gila, "selesaikan skripsimu, atau hidupmu tamat detik ini juga!"
Asli, kepala gue rasanya mau pecah, udah pusing mikirin revisian dosen killer, ditambah harus ngadepin bestie halu, Bara si bodyguard sedingin kanebo kering, dan Dino yang otaknya suka buffering pas lagi genting.
"Mas, tolong dong, mas.."Suara gue bergetar nahan nangis."Gue cuma mau revisi, bukan mau cari mati."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nisaicha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pesan Kematian dari Neraka
Api berkobar buas melahap habis Villa Puncak. Suara derak kayu terbakar menelan sisa jeritan pasukan The Ghost di dalam sana.
Arka berdiri tegak membelakangi kobaran api. Jas hitamnya berkibar pelan. Di ujung sepatunya, seorang prajurit bayaran berlutut dengan tubuh gemetar hebat.
"S-semua target di dalam sudah rata dengan tanah, Bos," lapor Bara, melangkah mendekat dari arah bayangan pepohonan. "Ini satu-satunya hama yang tersisa."
Arka tidak membalas Bara. Pria itu menunduk, menatap tajam ke arah prajurit yang terus menangis di bawah kakinya.
"Ampun! Ampun, Tuan! Saya bersumpah tidak tahu apa-apa!" ratap prajurit itu. "Saya cuma menjalankan tugas!"
"Buka matamu dan lihat ke arah saya," perintah Arka pelan namun mutlak.
Prajurit itu terus menunduk gemetar.
Arka menempelkan moncong Glock 19 yang masih berasap tepat ke kening pria itu. "Telingamu mendadak tuli?"
Prajurit itu langsung mendongak patah-patah dengan wajah pucat pasi. "Y-ya, Tuan! Maaf, Tuan!"
"Siapa yang memberi perintah langsung padamu malam ini?" cecar Arka datar.
"P-para tetua, Tuan! Para tetua di Dewan Tertinggi! Mereka yang menyewa kelompok kami dan berjanji akan membayar mahal untuk kepala Anda!"
Arka mendengus sinis. "Kau satu-satunya hama yang saya biarkan hidup. Tahu kenapa?"
"T-tidak, Tuan."
"Karena para tetua bangka itu butuh kurir untuk mendengar pesanku," desis Arka. "Dan kau yang akan menyampaikannya malam ini juga."
"S-saya akan sampaikan apa pun, Tuan! Tolong jangan bunuh saya!"
"Katakan pada mereka, taktik murahan mereka menyewa pembunuh bayaran gagal total. Dan masa bersembunyiku sudah habis." Arka memiringkan kepalanya, membentuk seringai iblis yang sangat kejam. "Mulai detik ini, tidak ada satu pun dari mereka yang bisa tidur nyenyak. Karena saya sendiri yang akan datang memburu kepala mereka. Mengerti?"
"M-mengerti, Tuan! Saya paham!"
Arka menjauhkan senjatanya. "Sekarang, lari. Sebelum jari saya tidak sengaja menarik pelatuk ini."
Tanpa perlu disuruh dua kali, prajurit itu langsung bangkit dan berlari terbirit-birit menembus gelapnya malam.
Arka memasukkan senjatanya ke balik jas. "Bersihkan abu tempat ini, Bara. Kita kembali ke bunker sekarang."
"Dilaksanakan, Bos."
Sementara itu, di dalam Bunker 04.
"Dino! Lo nggak bisa lacak pakai satelit atau apa gitu?! Udah satu jam lebih mereka pergi!" seru Rara sambil terus mondar-mandir di depan meja monitor.
Dino menghela napas panjang. "Mbak Rara yang bawel, satelit kita cuma mantau pergerakan panas dan kendaraan. Bukan nampilin video dari atas langit. Santai aja."
"Santai mata lo!" sungut Rara panik. "Arka tuh baru aja distaples perutnya, Dino! Distaples! Kalau jahitannya robek lagi di tengah jalan gimana? Kalau dia tiba-tiba kehabisan darah gimana?"
Beby yang duduk memeluk lutut di ujung sofa ikut bersuara. "Ra, mending lo duduk deh. Pusing gue lihat lo mondar-mandir terus. Cowok lo itu mafia, bukan bocah pramuka. Dia nggak mungkin mati gampang."
"Cowok gue matamu! Gue ini cuma kebetulan terseret masalah dia!" balas Rara judes.
"Terseret kok sampai rela ngelapin keringatnya tadi?" goda Dino terkekeh. "Cieee, khawatir banget nih sama Bos."
"Gue nggak khawatir!" bantah Rara dengan wajah memerah. "Gue cuma nggak mau dituduh bawa sial kalau dia kenapa-napa! Lo berdua kan tahu sendiri tadi dia sok-sokan jadi tameng gue di lobi kampus! Kalau dia mati, ntar gue yang disalahin!"
Tttsss... Klak!
Lampu indikator di atas pintu baja berkedip hijau. Suara deru mesin terdengar, menandakan pintu isolasi sedang dibuka dari luar.
"Tuh, panjang umur. Bos pulang," ucap Dino santai.
Pintu terbuka sepenuhnya. Langkah kaki yang tegas menggema. Arka melangkah masuk diikuti Bara. Aroma asap pembakaran dan anyir darah langsung memenuhi udara bunker. Namun, postur Arka berdiri sangat tegap, raut wajahnya mengintimidasi tanpa ada sisa rasa sakit sedikit pun.
Mendengar ucapan Rara barusan, Arka langsung menghentikan langkahnya. Ia menatap gadis itu lekat.
"Jadi, kau hanya takut disalahkan jika saya mati, Rara?" suara berat Arka memecah keheningan ruangan.
Rara membelalakkan matanya, kaget setengah mati tertangkap basah sedang mengomel. "L-lo udah pulang? Lo denger obrolan gue barusan?!"
Arka tidak menjawab. Pria itu justru melangkah maju secara perlahan, memangkas habis jarak di antara mereka.
Rara refleks mundur selangkah demi selangkah hingga punggungnya menabrak pinggiran meja monitor. Ia terkunci.
"Jawab saya," desak Arka pelan. Kedua tangannya terangkat, bertumpu di meja, mengurung tubuh Rara sepenuhnya.
"M-mundur dikit bisa nggak sih?! Lo bau asap tahu nggak!" protes Rara salah tingkah. Jantungnya berdegup brutal menghirup aroma maskulin bercampur mesiu dari tubuh pria itu. Rara ingin mendorong dada Arka, tapi ia sadar ada luka yang baru dijahit di sana, sehingga tangannya hanya menggantung kaku di udara.
Arka sama sekali tidak peduli. Ia justru menundukkan wajahnya, mendekatkan bibirnya tepat ke samping telinga gadis itu.
Di meja seberang, Dino menyenggol lengan Beby. "No, tutup mata lo. Nggak baik ditonton jomblo."
"Udah merem dari tadi gue," bisik Beby menutup wajahnya dengan bantal.
"Arka! Minggir, dilihatin anak buah lo tuh!" bisik Rara panik, wajahnya kini benar-benar memanas.
"Biarkan saja," balas Arka posesif. Hembusan napas hangat pria itu membuat bulu kuduk Rara meremang hebat.
"Biar mereka tahu, Rara," bisik Arka lagi, suaranya kini terdengar seperti sebuah sumpah mutlak. "Bahwa saya tidak akan mati semudah itu. Dan selama saya masih bernapas... tidak ada satu pun peluru yang boleh menggores kulitmu."
Rara membeku seketika. Napasnya seakan tersita habis.
Arka menarik wajahnya sedikit, menatap mata Rara yang kini benar-benar mati kutu dan tak bisa membalas dengan kalimat judes lagi. Seringai arogan terbit di bibir sang mafia. Malam ini, ia sudah memastikan siapa yang memegang kendali penuh atas segalanya.