Menikah karena keadaan bukanlah akhir dari segalanya. Bagi Arkana Najendra dan Hanifah Shafiqa, itu justru menjadi awal dari kehidupan yang tak pernah mereka bayangkan.
Dengan kondisi ekonomi yang pas-pasan, mereka membeli sebuah rumah tua di ujung jalan. Rumah tusuk sate. Murah, tetapi dipenuhi cerita yang membuat orang enggan mendekat.
Saat kehilangan terbesar menghancurkan keluarga kecil mereka, satu per satu masalah mulai berdatangan. Tekanan keluarga, luka yang belum sembuh, hadirnya orang ketiga, hingga berbagai kejadian ganjil yang membuat mereka bertanya...
Benarkah rumah itu membawa kutukan?
Ataukah, kutukan sesungguhnya adalah ketika dua hati yang saling mencintai perlahan berubah menjadi asing di bawah atap yang sama?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PqxxyZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 - Pertemuan yang Tak Disangka
Pagi itu, suasana rumah mulai terasa sedikit lebih hidup. Arkana sudah bersiap berangkat bekerja setelah selesai memasak sarapan dan membungkus bekalnya sendiri.
Saat hendak meraih kuncinya, Hanifah keluar dari kamar membawa tas kecil dan map cokelat.
Arkana menatap istrinya heran. "Mau ke mana, Dek?"
Hanifah menarik napas pelan. "Mas... hari ini aku ingin mencoba mencari pekerjaan."
Arkana terdiam beberapa saat, raut khawatir terpancar dari wajahnya. "Kamu yakin?"
"Aku tidak ingin terus mengurung diri di rumah, Mas," jawab Hanifah mengangguk tegas. "Semakin lama aku di sini... semakin banyak kenangan yang berputar di kepalaku."
Arkana merapat mendekati istrinya, merapikan ujung jilbab Hanifah. "Kalau capek, jangan dipaksa ya. Kalau belum dapat hari ini juga tidak apa-apa. Mas tidak pernah menuntutmu bekerja, Dek."
Hanifah tersenyum tipis. "Aku tahu, Mas. Aku hanya ingin mencoba."
"Semoga Allah memudahkan langkahmu ya," bisik Arkana lembut mengusap kepala istrinya.
"Aamiin..." sahut Hanifah.
Sepanjang pagi, Hanifah menyusuri kawasan pertokoan di pusat kota. Ia keluar masuk beberapa toko, namun jawaban yang didapatnya selalu senada.
"Maaf, Mbak. Belum membuka lowongan kerja," ujar seorang pemilik toko dengan sopan.
"Terima kasih sudah datang ya, Mbak," timpal pegawai toko lainnya.
Hanifah tetap tersenyum dan membungkuk hormat. "Terima kasih kembali."
Meski begitu, kakinya mulai terasa semakin pegal. Saat melintas di depan sebuah toko kue yang ramai, langkahnya terhenti. Aroma manis roti yang baru matang menyeruak hingga ke jalanan.
Hanifah menatap papan nama toko itu sebentar, lalu memberanikan diri melangkah masuk.
"Permisi..." sapa Hanifah pelan.
Seorang pegawai berseragam menghampirinya. "Ada yang bisa kami bantu, Mbak?"
Hanifah meremas map di genggamannya. "Saya ingin bertanya... apakah di sini sedang membuka lowongan pekerjaan?"
Pegawai itu tersenyum menyesal. "Maaf sekali, Mbak. Untuk saat ini toko kami belum ada lowongan."
Senyum Hanifah luntur seketika. "Baik kalau begitu. Terima kasih."
Hanifah membungkuk kecil dan berbalik menuju pintu keluar. Namun, matanya tak sengaja menangkap pemandangan di sudut jendela toko.
Seorang wanita muda tampak sangat kewalahan. Di pelukannya, seorang bayi mungil terus menangis kencang. Sepotong cheesecake dan teh hangat di mejanya bahkan belum sempat tersentuh.
Sementara di kursi sebelah, anak perempuan berusia sekitar lima tahun tampak asyik memakan donat sambil menggoyangkan kakinya.
"Mama... Adik menangis terus!" jerit anak kecil itu.
"Iya, Sayang... Tunggu sebentar ya," bisik wanita itu panik, terus mengayun bayinya.
Namun, tangisan sang bayi justru makin melengking. Hanifah berdiri terpaku menatap mereka. Dadanya mendadak berdenyut sesak. Bayi itu... membangkitkan rasa rindunya yang membuncah pada Eka, Dwi, dan Tri.
Tanpa sadar air mata menetes di pipinya. Hanifah menarik napas panjang, lalu melangkah mendekati meja wanita tersebut.
"Maaf, Kak..." sapa Hanifah lembut.
Wanita itu mendongak kaget. "Iya?"
"Kalau Kakak tidak keberatan... boleh saya bantu menggendong bayinya sebentar?" panggil Hanifah tulus.
Wanita itu sempat ragu, namun sorot mata Hanifah memancarkan kejujuran yang menenangkan. "Kalau... kalau tidak merepotkan Mbak?"
"Sama sekali tidak," jawab Hanifah tersenyum hangat.
Perlahan, bayi mungil itu berpindah ke pelukan Hanifah. Ajaibnya, tangisan yang memekakkan telinga itu mendadak mereda.
Bayi itu mengerjap-erjapkan matanya, memandangi wajah Hanifah, lalu jemari mungilnya meraih ujung jilbab cokelatnya. Tak lama kemudian, senyum tipis terukir di bibir sang bayi.
Wanita itu membelalakkan mata tak percaya. "Lho... Biasanya Raka lama sekali kalau sudah menangis!"
Hanifah mengusap lembut pipi sang bayi. "Mungkin dia hanya ingin berganti suasana digendong, Kak."
Namun, di tengah senyumnya, setetes air mata Hanifah kembali runtuh menetes ke kain jilbabnya.
Wanita itu spontan berdiri panik. "Mbak? Kamu kenapa? Ada yang sakit?"
Hanifah usap pipinya buru-buru. "Maaf, Kak... Aku malah menangis. Bayi ini... sangat mengingatkanku pada anak-anakku."
Wanita itu terdiam prihatin. Ia segera menggeser kursi di hadapannya. "Duduklah dulu, Mbak."
"Terima kasih, Kak," jawab Hanifah pelan sambil tetap menimang sang bayi.
Wanita itu menggeser piring cheesecake-nya. "Silakan dimakan. Anggap saja aku mentraktir."
"Eh, tidak usah, Kak..." tolak Hanifah canggung.
"Gak apa-apa, ayo dimakan! Kalau tidak dimakan nanti keburu tidak enak," bujuk wanita itu ramah. "Namaku Aprilia, tapi semua orang memanggilku Lia."
"Aku Hanifah, Kak Lia," jawab Hanifah tersenyum tipis.
Lia menunjuk anak perempuan di sebelahnya. "Nah, yang sibuk sama donat itu Naya. Naya, sapa Tante dulu!"
Anak kecil itu melambaikan tangannya yang belepotan gula. "Halo, Tante!"
"Halo juga, Naya," sahut Hanifah gemas.
"Sedangkan yang sedang kamu timang itu namanya Raka," tambah Lia tertawa kecil. "Usianya baru enam bulan."
Lia melirik map cokelat di samping tas Hanifah. "Tadi... aku tidak sengaja mendengar kamu bertanya soal lowongan pekerjaan ya?"
Hanifah mengangguk pelan. "Iya, Kak. Aku sedang mencari pekerjaan, tapi sepertinya hari ini belum berjodoh."
Lia menyunggingkan senyum misterius. "Belum tentu!"
Hanifah menaikkan alisnya heran. "Maksud Kak Lia?"
"Adikku yang punya toko kue ini," jawab Lia tersenyum lebar. "Aku cuma sering datang membantu kalau dia sedang sangat sibuk."
Hanifah tersentak kaget. "Oh... begitu?"
"Sejak tadi aku memperhatikanmu," panggil Lia menatapnya tulus. "Kamu orang yang sangat sabar dan penyayang. Tidak semua orang mau menawarkan bantuan pada orang asing di tempat umum."
Hanifah menunduk malu. "Aku hanya refleks ingin membantu, Kak."
"Justru itu!" tegast Lia seraya berdiri dan mengambil kembali Raka dari pelukan Hanifah. "Orang yang membantu tanpa diminta itu punya hati yang tulus. Ayo ikut aku!"
Hanifah makin bingung. "Ke mana, Kak?"
"Kenalan sama adikku!" seru Lia mengedipkan mata. "Kalau memang belum ada lowongan... biar aku yang membujuknya sampai kamu diterima!"
Hanifah membeku di tempatnya, matanya mulai berkaca-kaca menatap Lia.
"Terima kasih banyak, Kak Lia..." bisik Hanifah terharu.
Lia menggandeng lengan Hanifah hangat. "Jangan berterima kasih dulu! Siapa tahu... ini memang jalan yang sudah Allah siapkan untuk kita bertemu."