Dahayu Nayanika Arutala (Naya), siswi baru yang tidak pernah terkesan pada popularitas, harus berulang kali berhadapan dengan Narain Shankara Naradhipta (Nara) — bintang basket sekolah sekaligus seniornya di SMA yang ia anggap sombong dan menyebalkan. Namun, di balik pertengkaran dan saling ejek, Naya menemukan sosok Nara yang sebenarnya, seorang pemuda yang tertekan oleh tuntutan keluarga dan hanya dapat menjadi dirinya sendiri ketika bersamanya. Saat kedekatan mereka memicu penolakan Reksa - Kakak lelaki Naya dan kemarahan para penggemar Nara. Naya harus memilih tetap menyangkal perasaannya atau memperjuangkan cinta kepada orang yang dahulu paling ia benci, sebelum pertandingan terakhir dan kelulusan memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anggun Kartika Mundikasih, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
COUNTDOWN (1)
Ada perpisahan yang menyakitkan karena datang tanpa peringatan. Seseorang pergi, sebuah pintu tertutup, dan kita baru sadar bahwa sesuatu telah berakhir ketika kesempatan untuk menahannya sudah tidak ada.
Namun ada jenis perpisahan lain yang mungkin jauh lebih melelahkan yaitu perpisahan yang tanggalnya sudah diketahui sejak awal dan Naya sedang menghadapi jenis yang kedua.
Tanggal kepulangannya ke Jakarta sudah tercetak di tiket bahkan sebelum ia benar-benar mengenal California. Sejak hari pertama program pertukaran pelajarnya dimulai, ia sudah tahu bahwa enam bulan kemudian ia harus pulang. Tidak ada kejutan. Tidak ada perubahan rencana. Tidak ada kemungkinan memperpanjang waktu hanya karena ia mulai merasa betah. Selama berbulan-bulan, kenyataan itu mudah diabaikan. Enam bulan masih terasa seperti masa depan. Lalu lima, empat, tiga, dua. Tanpa terasa, kalender terus bergerak sementara kehidupan Naya di California justru semakin penuh. Ia mempunyai sekolah baru, teman-teman baru, host family yang perlahan terasa seperti keluarga kedua, tempat-tempat favorit, kebiasaan-kebiasaan kecil, dan satu manusia yang paling sulit untuk diabaikan, Nara. Semua itu membuat tanggal kepulangannya semakin terasa tidak masuk akal.
Sampai suatu pagi Naya bangun dan menyadari bahwa waktu yang tersisa tidak lagi dihitung dalam bulan. Dua puluh satu hari. Ia duduk cukup lama di depan meja belajarnya, memandang kalender yang menempel di dinding. Sebuah lingkaran merah mengelilingi tanggal keberangkatannya. San Francisco—Jakarta.
Tangannya sempat mengambil pena. Ada dorongan kecil untuk mencoret lingkaran merah itu, seolah tinta dapat mengubah kenyataan. Namun ujung pena berhenti beberapa sentimeter sebelum menyentuh kertas. Tanggal itu bukan musuhnya. Ia sudah tahu sejak awal.
Program pertukaran ini memang harus selesai. Ia harus kembali ke Indonesia, melanjutkan kelas XI, kemudian kelas XII, menyelesaikan sekolah, dan setelah itu menentukan ke mana hidup akan membawanya.
Semua terdengar sangat masuk akal ketika disusun seperti daftar. Anehnya, sesuatu yang masuk akal belum tentu terasa ringan. Ponselnya berbunyi di atas meja. Nama Nara muncul di layar.
Sudah Bangun?
Naya menatap layar beberapa detik sebelum mengetik.
Sudah.
Tidak sampai semenit, pesan berikutnya muncul.
Breakfast?
Naya melirik kalender sekali lagi. Kemudian ia membalas singkat. Jemput.
Jawaban Nara datang cepat. Yes, ma’am.
Naya tertawa kecil. Setidaknya ia masih mempunyai dua puluh satu hari.
Dan pagi itu, ia memutuskan tidak akan menghabiskannya hanya dengan menghitung mundur.
***
Sekitar empat puluh menit kemudian, mobil Nara berhenti di depan rumah host family Naya. Naya sudah menunggu dengan jaket dan tas kecil di bahunya. Ia masuk, memasang sabuk pengaman, lalu menatap lurus ke depan. Nara menoleh sebentar.
“Pagi.”
“Pagi.”
Mobil mulai bergerak. Beberapa detik berlalu sebelum Nara kembali meliriknya. “Kok diam?”
Naya mengangkat bahu.
“Enggak apa-apa.”
Nara mengenalnya cukup baik untuk tahu bahwa kalimat itu biasanya berarti kebalikannya. Ia tidak mendesak.
California bergerak melewati kaca mobil seperti biasa: persimpangan, pepohonan, toko-toko, orang-orang membawa kopi. Tidak ada satu pun dari mereka yang tahu bahwa bagi Naya, pemandangan sederhana itu perlahan berubah menjadi sesuatu yang akan dirindukan. Beberapa menit kemudian, Naya akhirnya berkata, “Tinggal dua puluh satu hari.”
Jemari Nara yang memegang kemudi sedikit mengencang. Ia tidak perlu bertanya dua puluh satu hari menuju apa.
“Aku tahu.”
Naya memandang keluar jendela.
“Aku benci Kak Nara tahu.”
Nara tersenyum tipis. “Kalau aku enggak tahu, pesawatnya batal?”
“Siapa tahu.” Jawab Naya sambil mengangkat kedua bahunya.
“Naya, kamu jangan ikutan gila seperti Ekky yang nekad masuk ke klub basket menumbalkan Kimi untuk menemuiku yang sedang cidera dulu.”
“Iya, iya. Aku tahu.”
Setelah itu mereka kembali diam. Nara tidak mencoba mengatakan semuanya akan baik-baik saja. Ia tidak mengatakan tiga minggu masih lama. Karena mereka berdua tahu bahwa itu tidak benar. Tiga minggu adalah waktu yang sangat singkat ketika setiap hari mulai terasa seperti sesuatu yang harus disimpan.
***
Mereka sarapan di sebuah kafe kecil yang selama beberapa bulan terakhir menjadi tempat favorit Naya. Ia memesan menu yang sama. Nara juga. Ada pepatah yang mengatakan bahwa jika seseorang tidak pernah bosan dengan menu pilihannya, maka itu tanda dia adalah tipikal orang yang setia. Entah darimana ide itu berasal.
Semuanya terasa normal, tetapi justru kenormalan itulah yang membuat Naya semakin sadar bahwa sebentar lagi kebiasaan seperti ini akan hilang. Di tengah sarapan, Nara meletakkan cangkirnya.
“Aku mau tanya sesuatu.”
Naya mengangkat wajah. “Apa?”
“Setelah pulang nanti… kamu masih mau kuliah di luar negeri?”
Pertanyaan itu sebenarnya sudah beberapa kali berputar di antara mereka, tetapi baru kali ini diucapkan secara langsung.
Naya memainkan ujung garpunya. “Aku belum tahu.”
“Apakah Amerika masih masuk dalam list rencanamu?”
“Mungkin.”
Jawaban itu membuat Nara mengangguk pelan.
Naya memperhatikannya. “Apakah Kak Nara mau aku kuliah di Amerika?”
Nara diam sesaat. Tentu saja ia ingin. Batinnya. Akan jauh lebih mudah jika Naya kembali ke Amerika. Mereka mungkin tetap berbeda kota, bahkan negara bagian, tetapi setidaknya tidak ada lagi Samudra Pasifik di antara mereka. Namun Nara tahu bahwa keinginan itu tidak boleh menjadi alasan utama.
“Aku maunya kamu kuliah di tempat yang bagus untukmu dan sesuai keinginanmu.”
Naya menyipitkan mata. “Sungguh memberikan jawaban aman.”
“Jawaban jujur.”
“Kalau Inggris?”
“Pergi.”
“Jepang?”
“Pergi.”
“Australia?”
“Pergi.”
Naya berhenti sebentar.
“Indonesia?”
Nara tersenyum. “Juga pergi.”
Naya menyandarkan punggung ke kursi.
“Kenapa Kak Nara mudah sekali mengucapkan kata pergi.”
Senyum Nara memudar sedikit. “Bukan mudah.”
“Lantas?”
Nara memandangnya beberapa detik tangan kanannya menggenggam tangan kiri Naya dan mengusapnya lembut. “Aku cuma enggak mau suatu hari kamu bangun dan sadar kamu memilih kampus karena aku ada di dekat situ.”
Kalimat itu membuat Naya terdiam. Ada perbedaan besar antara memilih seseorang dan memilih masa depan hanya demi seseorang. Dan mungkin, untuk pertama kalinya, Naya mulai memahami perbedaannya.
***
Setelah pembicaraan pagi itu, universitas menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari mereka. Naya mulai mencari. Awalnya hanya beberapa kampus. Kemudian daftar itu bertambah menjadi puluhan. Amerika Serikat, Kanada, Inggris, Australia, Jepang. Singapura, dan Indonesia.
Ia membaca program studi, persyaratan penerimaan, beasiswa, biaya, kesempatan penelitian, organisasi mahasiswa, sampai suasana kota tempat universitas itu berada. Semakin banyak yang ia baca, semakin ia memahami bahwa memilih universitas ternyata bukan sekadar memilih nama yang terdengar bagus. Ia sedang memilih kemungkinan masa depan.
Nara terkadang membantu, tetapi selalu menjaga jarak dari keputusan itu. Hingga suatu malam mereka belajar bersama di perpustakaan. Naya duduk di depan laptop sementara Nara membaca buku di hadapannya.
Tiba-tiba Naya berhenti pada satu halaman. “Kak Nara…”
“Hmm?”
“Kalau Stanford?”
Kepala Nara langsung terangkat. “Apa?”
Naya menahan senyum. “Reaksi Kakak terlalu cepat.”
“Enggak.”
“Banget. Aku saja hampir gila berusaha tapi tidak pernah kutampilkan di muka umum.”
Nara menutup bukunya. “Terus?”
Naya memutar laptop sedikit ke arahnya. “Programnya bagus.”
“Memang.”
“Tapi susah banget.”
“Memang.”
Naya memandangnya datar kearah Nara. “Terima kasih motivasinya.”
“Apakah aku harus berbohong?”
Naya mendengus kecil lalu kembali menatap layar laptop. Namun semakin lama ia membaca, semakin sebuah pikiran lain muncul. Bukan hanya programnya. Bukan hanya kesempatan akademiknya. Ada Nara di sana. Dan kemungkinan itulah yang justru membuat Naya takut. Beberapa menit kemudian ia menutup laptop perlahan.
“Aku takut...”
Nara langsung berhenti membaca. “Takut apa?”
“Kalau aku mulai ingin ke Stanford karena Kak Nara.” Naya menatap meja.
Nara tidak segera menjawab.
Naya melanjutkan. “Awalnya memang karena programnya. Tapi semakin aku lihat… aku juga berfikir jika aku di sini lagi, kita enggak perlu LDR sejauh Jakarta–California.”
Nara menaruh bukunya. “Alasan enggak harus cuma satu.”
Naya mengangkat wajah.
“Kamu boleh suka Stanford karena programnya. Karena lingkungan kampusnya. Karena kesempatan yang ada.” Nara berhenti sebentar. “Dan karena pacar kamu kebetulan ada di sana.”
Naya hampir tersenyum.
“Hampir terdengar seperti kamu promosi.”
“Belum selesai.” Potong Nara tersenyum kecil. “Nah. Ada tapi-nya.”
“Apa tapinya?” Tanya Naya polos.
“Kalau suatu hari aku enggak ada di Stanford, kamu masih harus punya alasan buat tetap mau ada di sana.”
Naya terdiam. Pertanyaan itu terasa jauh lebih besar daripada percakapan mereka. Jika Nara tidak ada di Stanford, apakah ia tetap ingin Stanford? Naya belum tahu. Namun mungkin ia memang tidak harus tahu malam itu.
***
Dua minggu sebelum kepulangan, California mulai memperlakukannya seperti seseorang yang benar-benar akan pergi. Sekolah mengadakan acara perpisahan sederhana. Teman-temannya memberikan kartu, foto, tulisan-tulisan kecil, dan hadiah. Sabrina datang membawa sesuatu di dalam paper bag. Begitu Naya membukanya, ia langsung tertawa. Sweatshirt Stanford.
“Seriously?”
Sabrina mengangguk mantap. “Manifesting.”
Dari belakang, Nara langsung menyela. “Jangan kasih tekanan.”
Sabrina menatap kaus Stanford yang sedang dikenakan Nara.
“You literally wear Stanford stuff all the time.”
Nara menunjuk dirinya sendiri. “I go there.”
Naya tertawa semakin keras. Sabrina akhirnya menyerahkan sweatshirt itu kepadanya.
“Wherever you end up, this is just a souvenir.”
“Thank you.”
Sebelum pergi, Sabrina memeluknya erat.
“You better come back.”
Naya diam sepersekian detik.
“I’ll try.”
Kata kembali tiba-tiba mempunyai terlalu banyak kemungkinan. Kembali untuk berkunjung. Kembali untuk kuliah. Atau kembali sebagai seseorang yang pernah memiliki kehidupan kecil di California dan ingin melihatnya lagi.
***