Dian meninggal dengan sangat menyedihkan: dikhianati tunangannya sendiri dan saudara tirinya, dihina sebagai wanita miskin pengemis cinta, lalu tewas dalam kecelakaan yang "disengaja". Namun saat membuka mata, ia kembali ke masa 3 tahun lalu—tepat saat ayahnya menawarkan pernikahan kontrak dengan pria paling dingin, misterius, dan ditakuti di kota: Erlan Pratama.
Di kehidupan dulu, Dian menolak tawaran itu dan memilih setia pada tunangannya yang brengsek. Kali ini, Dian tersenyum dingin dan menyetujuinya. Ia pikir ini hanya langkah untuk selamat dari nasib buruk—sampai ia perlahan sadar: pria yang terlihat tidak peduli itu diam-diam melindunginya, menyembunyikan rasa sakit yang sama, dan ternyata sudah mencintainya sejak lama... bahkan di kehidupan sebelumnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ristika Rachma, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Jejak yang Kusingkirkan Sendiri
Nama yang tertulis di layar ponsel itu terlihat begitu asing, namun di saat yang sama terasa seperti sesuatu yang pernah kuketahui lalu sengaja kusembunyikan jauh di dalam ingatan—sebuah nama yang tercatat sebagai penerus sah garis keturunan lain, cabang yang selama ini kami kira sudah punah ratusan tahun silam. Dan yang paling mengerikan: di samping nama itu, tertulis keterangan yang menyatakan bahwa ia adalah kerabat kandungku sendiri, seseorang yang sejak kecil aku tak pernah tahu keberadaannya, bahkan tak pernah mendengar disebut oleh ayahku sekalipun. Erlan berdiri di sampingku, napasnya tertahan, matanya menatap layar dengan tatapan yang perlahan berubah dari keterkejutan menjadi pemahaman yang menyakitkan. Semua sebab-akibat kini mulai merangkai dirinya sendiri menjadi pola yang menakutkan: ayahku yang tiba-tiba mengajukan pernikahan kontrak dengan begitu mendesak, kemudahan dengan mana Sari dan sekutunya bisa memanfaatkan setiap celah dalam hidupku, hingga alasan mengapa aku dipilih sebagai kunci yang mengubah jalannya takdir ribuan tahun. Bukan sekadar kebetulan—melainkan karena darah yang mengalir di pembuluhku ternyata membawa beban yang jauh lebih berat dan lebih tua daripada yang pernah kubayangkan.
"Selama ini aku berpikir aku hanyalah gadis biasa yang dikhianati dan dikorbankan," bisikku parau, tanganku gemetar menahan ponsel itu. "Ternyata aku lahir dari garis keturunan yang sama dengan mereka yang selama ini menjadi musuh kita. Dan mungkin... ayahku sendiri tahu hal ini sejak awal. Mungkin pernikahan itu bukan sekadar demi menyelamatkan keluarga kami. Mungkin ia juga bagian dari rencana yang jauh lebih besar yang bahkan ia sendiri tak paham sepenuhnya."
Erlan meletakkan tangannya di bahuku, genggamannya kuat namun penuh kelembutan. "Itu tidak mengubah siapa dirimu, Dian. Darah tidak menentukan hati. Tapi ini berarti musuh kita memiliki akses yang jauh lebih dalam daripada yang kita kira. Mereka tidak hanya mengawasi kita—mereka sudah mengatur panggung pertunjukan ini sejak sebelum kau lahir."
Kami segera menyusuri setiap catatan lama yang berkaitan dengan keluargaku, mulai dari dokumen kelahiran hingga surat-surat yang pernah dikirim kakekku. Setiap langkah yang kami ambil semakin mempertegas kenyataan yang menyakitkan: keluargaku bukanlah pihak yang tidak tahu apa-apa. Mereka adalah bagian dari perselisihan kuno itu, dan kakekku sengaja menyembunyikan keberadaan saudara kandungku—saudara yang ternyata masih hidup, tumbuh di bawah asuhan pihak yang kami lawan, dan kini bersiap mengambil alih segala sesuatu yang dianggapnya miliknya, termasuk posisiku di samping Erlan.
Malam itu, saat aku sedang duduk sendirian di ruang tengah, mencoba menyatukan potongan ingatan masa kecil yang mulai kembali satu per satu, pintu depan terbuka perlahan tanpa bunyi. Aku menoleh perlahan, dan napasku tertahan di kerongkongan. Di sana berdiri seorang wanita yang wajahnya... persis seperti wajahku. Bukan kemiripan biasa—itu adalah wajah yang sama, hanya saja tatapannya lebih dingin, lebih tajam, dan penuh kepastian yang menyakitkan. Ia mengenakan pakaian serba hitam, dan di lehernya tergantung liontin yang sama persis dengan milikku, namun berwarna merah menyala.
"Aku tahu kau sedang menungguku," ucapnya dengan suara yang persis sama dengan suaraku, namun nada bicaranya penuh kepahitan yang mendalam. "Namamu adalah Dian. Dan namaku adalah Diana. Kita adalah dua sisi dari mata uang yang sama—dilahirkan di hari yang sama, dipisahkan di hari yang sama, dan ditakdirkan untuk saling menggantikan peran saat waktunya tiba."
Aku bangkit berdiri, kakiku gemetar namun aku memaksakan diriku tetap tegak. "Jadi kau... saudaraku yang tak pernah kuketahui."
"Kau menyebutnya saudara?" Ia tertawa sinis, melangkah masuk tanpa diundang, seolah rumah itu sudah menjadi miliknya sejak lama. "Kau hidup bahagia, dicintai, diperhatikan, sementara aku dilatih dalam kegelapan—diajarkan untuk membenci segala hal yang kau miliki, diajarkan bahwa kau adalah pencuri yang mengambil tempat yang seharusnya menjadi milikku. Selama ini kau berpikir kau dikhianati oleh Sari dan Rian? Itu hanyalah awal dari segalanya. Pengkhianatan yang sesungguhnya adalah kenyataan bahwa hidup yang kau jalani selama ini bukanlah milikmu. Itulah hidup yang seharusnya kujalani."
Hubungan sebab-akibat kini terlihat begitu jelas dan menyakitkan: sejak awal, aku adalah bagian dari rencana yang disusun oleh kedua pihak—satu pihak ingin aku menjadi jembatan perdamaian, sementara pihak lain memelihara Diana sebagai senjata yang siap dijatuhkan tepat saat aku paling bahagia dan paling lengah. Pernikahan kontrak, kematianku, kembalinya aku ke masa lalu, pertemuanku dengan Erlan... semuanya telah diatur sedemikian rupa agar pada akhirnya, saat ikatan kami tak lagi bisa dipisahkan, Diana muncul untuk mengambil alih, mematahkan segala sesuatu yang kami bangun, dan mengembalikan segalanya ke jalur yang ditetapkan oleh leluhur mereka—bukan kami.
"Kenapa kau tidak pernah datang lebih awal?" tanyaku, air mata mulai menetes namun aku tak membiarkan suaraku pecah. "Kenapa harus menunggu sampai semuanya menjadi begitu nyata dan begitu berarti?"
"Karena kekuatan itu tidak bisa diambil dari orang yang tidak pernah memilikinya," jawabnya dingin. "Aku harus menunggu sampai kau benar-benar mencintainya, sampai kau benar-benar menjadi bagian dari dunia ini, agar saat aku mengambil alih, aku juga mendapatkan kekuatan yang tumbuh dari kasih sayang itu sendiri. Sari, Pak Haris, Rina... mereka semua hanyalah alat. Aku adalah tujuan akhir dari segala rencana ini."
Erlan muncul dari balik pintu ruang kerja, berdiri di sampingku, tatapannya tajam namun tanpa rasa benci. "Kau bisa saja mengambil alih tempatnya secara fisik, Diana. Tapi kau tidak akan pernah bisa mengambil perasaan yang tumbuh di antara kami. Cinta tidak bisa dicuri atau diwarisi. Ia memilih sendiri tempatnya."
Diana menatap Erlan, dan untuk sekejap matanya berkedip ragu—seolah ada sesuatu yang tersentuh di dalam dirinya yang dingin itu. Namun ia segera menutupinya dengan senyum miring yang penuh kepahitan. "Kau pikir perasaan itu cukup untuk mengubah takdir yang sudah tertulis sejak ratusan tahun silam? Kita akan lihat. Besok pagi, saat matahari terbit, upacara penyerahan hak akan dimulai. Dan saat itu terjadi, bukan hanya tempatnya yang akan menjadi milikku. Segala ingatan, segala kasih sayang, dan segala kekuatan yang kalian miliki... akan berpindah kepadaku, dan Dian akan menjadi bayangan yang tak pernah ada."
Ia berbalik hendak pergi, namun sebelum melangkah keluar, ia berhenti dan menoleh ke arahku dengan tatapan yang sulit diartikan—sebagian kebencian, sebagian lagi rasa kasihan yang terpendam. "Satu hal yang harus kau ketahui... ayah kita tahu semuanya. Ia tahu sejak hari kita lahir. Dan keputusannya untuk memisahkan kita bukanlah karena takdir, melainkan karena ia memilihmu. Dia memilihmu untuk hidup dalam cahaya, sementara aku dikorbankan demi keselamatanmu. Jadi jangan pernah menyalahkanku jika aku ingin mengambil kembali apa yang seharusnya menjadi milikku."
Setelah ia pergi, aku jatuh berlutut di lantai yang dingin. Seluruh dunia yang kubangun terasa runtuh seketika. Ayahku yang selalu kukenal lembut dan jujur ternyata menyembunyikan kebenaran yang begitu besar. Aku memiliki saudara kembar yang membenci aku karena pilihan yang bukan kuambil. Dan selama ini, setiap langkah yang kuambil hanyalah bagian dari rencana yang jauh lebih kejam dan lebih tua daripada keberadaanku sendiri.
Namun di tengah keputusasaan itu, satu hal yang Erlan ucapkan kembali terngiang di telingaku: "Darah tidak menentukan hati." Jika Diana dilatih dalam kebencian, jika ia dibesarkan dalam kegelapan, itu bukan berarti ia tidak bisa berubah. Itu berarti ada harapan—bahwa di balik topeng kemarahannya, masih ada seorang gadis yang merindukan kasih sayang yang selama ini dirampas darinya. Dan jika aku bisa membuatnya melihat bahwa aku bukan pencuri, melainkan korban yang sama dengannya... mungkin ada cara lain selain saling menghancurkan.
Namun saat aku mencoba merangkai harapan itu, ponsel Erlan berdering lagi. Sebuah pesan masuk dari nomor tak dikenal, berisi satu foto yang membuat darahku membeku. Foto itu memperlihatkan ayahku—yang kami kira sedang dalam perjalanan pulang—berdiri di samping Diana, dan di tangannya memegang sebuah benda pusaka yang selama ini kami yakini sudah hilang selamanya. Di bawah foto itu tertulis:
"Pilihan sudah ditetapkan sejak awal. Dan yang kau kira sebagai ayah yang menyayangimu... sebenarnya adalah orang yang mempersiapkan pengorbananmu sejak hari pertama kau lahir. Besok pagi, salah satu dari kalian harus pergi. Dan keputusan itu sudah diambil oleh orang yang paling kau percaya seumur hidupmu."
Apakah ayahku benar-benar mengorbankanku? Atau ada rencana lain yang jauh lebih dalam yang sedang ia sembunyikan? Dan jika aku harus memilih antara menyelamatkan diriku atau menyelamatkan saudara kembar yang membenci aku... jalan mana yang akan kuambil, sementara waktu terus berjalan menuju matahari terbit yang mungkin menjadi matahari terakhirku bersama Erlan?