"Tak ada yang lebih menyakitkan daripada melihat orang yang kau cintai,
ragu memilihmu demi seseorang yang paling kau benci.
Dan di antara amarah yang membakar serta air mata yang bengkak,
dua jiwa yang terluka dipaksa melangkah di jalan yang sama...
tanpa sadar, bahaya sebenarnya justru sedang mengintai dari jarak paling dekat"
Bagi Lulu, menjadi sosok culun dan tak kasat mata di kantor adalah hal biasa. Namun, di balik penampilannya yang sederhana, senyum hangat dan ketulusannya justru menjadi "racun" paling mematikan bagi dua pria kelas atas.
Angga, manajer berdingin hati yang membenci kesalahan, mendadak kehilangan fokus tiap kali Lulu berada di dekatnya.
Sementara Riko, CEO angkuh yang awalnya
memandang Lulu sebelah mata, malah terjatuh paling dalam akibat sebuah insiden tak terduga. Ketika dua pria berkuasa ini saling berhadapan demi merebut satu perhatian...
siapakah yang akhirnya memenangkan hati Lulu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Myz Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 34 : DI BAWAH LAMPU YANG TEMARAM
Pintu kaca kafe berdenting pelan saat Riko melangkah keluar. Udara siang yang menusuk tak sanggup mendinginkan gejolak asing yang membakar dadanya.
Pria itu berjalan santai menuju sedan hitam yang terparkir di pelataran lalu melangkah anggun namun pikirannya tertambat penuh pada gadis berkacamata yang baru saja berlari meninggalkannya.
Pintu kabin belakang ter buka. Riko masuk dan menyandarkan punggungnya ke jok kulit yang empuk lalu menyisir rambutnya ke belakang dengan jemari tangan yang kokoh. Pandangannya menerawang ke luar jendela, membayangkan kembali raut perlawanan di wajah Lulu dengan pipi yang memerah menahan amarah serta sorot mata tajam di balik kacamata tebal itu.
Biasanya, tak ada wanita yang berani menatapnya dengan pandangan sebenci itu. Namun Lulu berbeda. Gadis itu bagaikan teka-teki liar yang menolak untuk ditundukkan dengan mudah.
Rasa jengkel karena sikap pembangkang Lulu perlahan tergeser oleh sesuatu yang jauh lebih berbahaya adalah rasa penasaran yang makin menggebu.
"Lulu... Lulu..." Bisik Riko pelan, senyum tipis yang penuh obsesi terukir di sudut bibirnya. Semakin keras gadis itu menghindar, semakin besar dorongannya untuk melacak dan menguasai Lulu sepenuhnya.
Tanpa Riko sadari, dari kaca spion tengah sepasang mata tengah memperhatikannya dengan lekat.
Ivan, asisten pribadi sekaligus sopir Riko tersebut duduk diam di balik kemudi. Pria itu menginjak pedal gas pelan lalu membawa sedan mewah itu membelah keramaian kota.
Di balik sikap patuh dan diamnya, Ivan menyimpan watak yang licik. Matanya yang dingin terus mengamati gerak-gerik sang atasan melalui pantulan spion. Ia menyimak setiap bisikan nama "Lulu" lalu memperhatikan senyum tak biasa bosnya hingga mencerna setiap detail perubahan sikap Riko hari ini.
Sorot mata Ivan sulit dibaca, penuh kalkulasi dan rahasia kelam.
Bagi Ivan, kelemahan atau obsesi baru seorang Riko adalah emas murni. Tanpa terdeteksi sedikit pun oleh Riko yang sedang mabuk oleh rasa penasarannya pada Lulu, Ivan diam-diam mulai mencatat dan mengumpulkan setiap potongan informasi.
Pria itu menyusun rencana rahasianya sendiri di dalam kepala, menunggu saat yang tepat untuk memanfaatkan celah tersebut demi melancarkan aksinya yang tersembunyi.
...****************...
Tumpukan dokumen setinggi gunung masih menggunung di atas meja Lulu. Jemarinya menari cepat di atas keybord lalu memasukkan data satu per satu ke dalam sistem arsip komputer. Hari ini benar-benar terasa seperti nasib sial yang tak ada habisnya.
"Dia itu kenapa sih,, aneh,,,tiba - tiba baik ,, tiba - tiba garang ,, Tau deh,,, mungkin tensian kali tuh orang" Batin Lulu mengomel habis-habisan di dalam hatinya. Ia bingung setengah mati pada perubahan sikap Pak Angga yang mendadak menimbunnya dengan pekerjaan sebanyak ini.
Apakah ini bentuk hukuman terselubung karena ia terlambat siang tadi? Atau Pak Angga memang sengaja mengerjainya? Berkas ini jelas tidak mungkin rampung dalam waktu dua jam. Bayangan pulang larut malam mulai membayangi pikirannya.
Namun yang paling menyiksa batin Lulu saat ini bukanlah tumpukan kertas itu, melainkan Lastri.
Sahabatnya itu pasti kesepian di kamar rawat rumah sakit. Seharian ini raut wajah Lastri begitu murung. Lulu sempat mengirimkan beberapa pesan singkat menanyakan keadaannya, bahkan menawarkan membawa makanan atau benda apa pun yang diinginkan Lastri sepulang kerja nanti. Namun tak seperti biasanya, balasan Lastri sangat singkat dan dingin. Lulu begitu khawatir sahabat SMA nya itu semakin berlarut-larut dalam kesedihan dan rasa tertekan.
Di tengah benaknya yang riuh memikirkan Lastri, Lulu tak menyadari bahwa suasana di sekitar kubikelnya perlahan mulai sepi. Satu per satu rekan kerjanya telah mengemas barang dan melangkah keluar ruangan.
Saat menoleh pelan, mata Lulu melirik jam di pergelangan tangannya.
"Pukul 18.30 WIB"
Pandangannya beralih ke kubikel sebelah. Vika dan Rama tampak sedang sibuk merapikan meja kerja masing-masing dan bersiap untuk pulang. Rasa panik seketika menjalar di dada Lulu.
Ia sangat takut jika harus ditinggal sendirian di ruangan lantai ini lagi. Ingatan kelam minggu lalu mendadak berputar ulang di kepalanya bagai mimpi buruk. Momen saat ia terjebak lembur sendirian, mati lampu mendadak hingga rasa takut kegelapan yang parah membuatnya pingsan sebelum akhirnya Pak Angga datang dengan susah payah menggendong dan menyelamatkannya.
Bayangan kegelapan itu masih menyisakan trauma mendalam. Dengan cemas, Lulu melirik ke arah ruangan manajer. Kaca buram itu masih membiaskan cahaya terang. Di dalam sana, Pak Angga masih duduk tegap nampak begitu fokus menatap layar laptopnya.
Sedikit merasa aman karena atasannya masih ada lalu kemudian Lulu memburu waktu. Ia mempercepat gerakan tangannya, meneliti baris demi baris dokumen dengan sangat teliti agar tidak ada kesalahan. Begitu tenggelamnya Lulu dalam berkas-berkas tersebut, ia sampai tidak fokus saat Vika dan Rama berpamitan padanya di dekat meja.
"Duluan ya Lu..." Ucap Vika dengan pelan melangkah ke arah pintu keluar. Dan tak berselang lama, Rama pun juga berpamitan kepada rekannya tersebut tanpa tahu jika rekannya itu mungkin akan pulang larut malam
"Lu... aku duluan ya..." Ucap Rama dengan buru - buru berlari ke arah pintu keluar menuju lift.
"Ya okey,,, hati - hati ya..." Ucap Lulu hanya menjawab singkat dan mengangguk tanpa benar-benar mencerna bahwa kedua rekannya itu sudah melangkah pergi.
"Klak"
Suara pintu utama kantor yang terkunci otomatis dari luar mengejutkan Lulu. Ia mendongak dan seketika pikirannya menjadi kacau balau.
Area luar kubikel sudah benar-benar gelap dan kosong melompong! Rama dan Vika sudah pulang. Lulu sendirian di area staf.
"Ya Tuhan,, aku sendirian..." Gumamnya dalam hati dan naasnya napas Lulu mulai memburu panik.
"Apa Pak Angga sudah pulang juga ?" Tanya nya dengan cepat ia mengalihkan pandangannya kembali ke ruangan sang manajer. Cahaya dari ruangan itu masih menyala. Di sana, Pak Angga tidak lagi menatap laptop. Pria itu kini duduk bersandar di kursi kerjanya dengan kedua mata terpejam rapat sembari menikmati heningnya malam.
"Syukurlah.. dia belum pulang.. " Ucapnya dengan napas lega.
"Aku harus segera menyelesaikannya sebelum aku benar - benar sendirian di ruangan ini" Ucapnya kembali.
Entah apa yang ada di dalam pikiran Angga malam ini. Alih-alih pulang tepat waktu seperti biasanya, sang manager secara diam-diam memilih untuk tetap bertahan di ruangannya menunggu dan memantau stafnya itu hingga seluruh pekerjaannya benar-benar selesai.
Suasana di lantai kantor mendadak hening total. Hanya terdengar dengung pendingin ruangan dan deretan lampu koridor yang perlahan dimatikan secara otomatis, menyisakan pancaran cahaya dari kubikel Lulu serta ruangan manajer yang berpendar di tengah kegelapan.
Dada Lulu berdebar kencang. Ia menghela napas panjang yang tertahan lalu memegang dadanya yang bergetar hebat. Rasa trauma akan kegelapan bercampur baur dengan luapan debar yang aneh karena kini hanya ada dirinya dan Pak Angga di dalam ruangan sebesar ini.
Dari balik kaca buram, Lulu hanya bisa melihat sosok Angga yang masih mengamati dari dalam. Pria itu perlahan membuka matanya, melirik jam di dinding yang menunjukkan pukul 19.00 WIB. Angga berdiri dari kursinya, merapikan jas kerjanya lalu melangkah keluar dari ruangannya.
Klik
Bunyi langkah sepatu pantofel Angga membentur lantai marmer bergaung begitu jernih di tengah kesunyian. Setiap langkah yang mendekat membuat detak jantung Lulu berkejaran makin liar. Lulu mendadak canggung menundukkan kepala sangat dalam dan berpura-pura super sibuk mengetik keybordnya meski jemarinya sudah sangat dingin dan gemetar.
Bayangan tubuh tinggi Angga perlahan membayangi meja kerjanya. Pria itu berhenti tepat di samping kubikel Lulu bersedekap dada sambil memperhatikannya dari atas. Aroma parfum woody yang hangat dan maskulin seketika memenuhi indra penciuman Lulu, makin mengacaukan konsentrasinya.
"Masih banyak?"
Suara Angga yang berat dan bernada rendah memecah keheningan dan terdengar begitu jelas dan intim di ruangan yang sepi itu.
Lulu tersentak pelan, mendongak menatap wajah tampan atasannya yang diterangi lampu meja. Distance yang begitu dekat membuat mata mereka bersitatap secara langsung.
" Eh...P-Pak Angga..." Bisik Lulu terbata-bata seketika tenggorokannya mendadak kering.
"Tinggal... tinggal sedikit lagi, Pak. Maaf kalau saya menghambat Bapak untuk pulang.."
Angga tidak langsung menjawab. Sorot matanya yang tajam menatap lekat-lekat raut cemas di wajah Lulu lalu mengarah pada jemari gadis itu yang masih gemetar di atas meja. Angga tahu betul trauma ketakutan yang dirasakan Lulu jika berada di tempat sepi dan gelap.
Angga menarik kursi kosong di sebelah kubikel Lulu lalu mendudukinya tanpa ragu membuat jarak di antara mereka terkikis makin tipis.
"Kerjakan dengan tenang.." Ujar Angga pelan namun tegas, suaranya terdengar lembut membelai kesunyian malam.
"Saya di sini....Jangan terburu-buru dan jangan sampai ada yang salah di ketik..."
"Eh... P..Pak?" Lulu membelalak kaget dan napasnya seolah terhenti sejenak.
"Bapak... nungguin saya?" Tanya Lulu dengan memastikan.
Mendengar hal tersebut, Angga menyandarkan punggungnya lalu memalingkan wajahnya sedikit ke arah lain untuk menyembunyikan getaran di dadanya sendiri yang tak kalah kencang.
"Dokumen itu tanggung jawab saya,.." elaknya dengan nada tenang yang dipaksakan.
"Biar saya periksa langsung begitu kamu selesai. Lagipula... saya nggak mau ada staf saya yang pingsan lagi di kantor cuma karena penakut.." Tambah Angga.
Mendengar Perkataan tersebut, pipi Lulu mendadak merona panas. Rasa canggung, gelisah, trauma dan getaran cinta terselubung bersatu padu di dalam dada Lulu. Di bawah temaramnya lampu kantor dan kesunyian malam, kehadiran Angga yang duduk tepat di sampingnya menjadi benteng perlindungan sekaligus sumber debaran paling hebat dalam hidupnya.
ayoo tetap teguhkan dendammu lho ya 😅