Indonesia
NovelToon NovelToon
Istri Manis Tuan Regan

Istri Manis Tuan Regan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Balas Dendam / CEO
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Romanova

Zara Adhitama, ia dijodohkan dengan seorang pria bernama Regantara Benedict. Seharusnya perjodohan itu dilakukan oleh saudari tiri Zara, yaitu Selene namun Selene menolak keras dengan alasan takut karena Regantara terkenal kejam. Pada akhirnya mau tak mau Zara lah yang dipilih untuk menikahi pria itu.

"Selamat datang, Nyonya Benedict." ucap Regantara saat itu.

Namun ternyata kehidupan baru tidak membuat Zara menjadi sosok yang lemah, saat Regantara pergi meninggalkannya di altar waktu itu dan tak terlihat di kediaman Benedict karena ia pergi melakukan perjalanan bisnis. Zara langsung memanfaatkan waktu kekosongan itu untuk membalas dendam pada Ibu tirinya dan tentu saja saudari tirinya yang tersayang.

Bagaimana kehidupannya Zara setelah ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Romanova, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 25

Tok tok tok

"Tuan, ada informasi dari Kakek Anda." suara Alaric terdengar mendesak dari balik pintu.

Kata Kakek yang keluar dari mulut Alaric bagai sengatan listrik di tubuh Regantara.

Ekspresi santai yang baru saja terlihat di wajah pria itu mendadak lenyap, tergantikan oleh aura dingin dan kaku.

Tanpa peringatan, Regantara langsung melepaskan lingkar tangannya dan mendorong Zara turun dari pangkuannya dengan kasar.

"Aah!" Zara meringis pelan saat tubuhnya terlempar ke samping.

Kakinya yang mengenakan stiletto melipat tak siap, hingga membuatnya hampir tersungkur mencium lantai yang keras jika tangannya tidak refleks berpegang pada tepi meja.

Kotak bekal di meja bahkan bergoyang, sendok peraknya terlepas dan berdentang di atas lantai.

Zara mendongak, rasa kaget dan kilatan rasa sakit terpancar di matanya yang bening.

Di hadapannya, Regantara sudah berdiri tegak sambil merapikan kemeja hitamnya.

Pria yang beberapa detik lalu menuntut perhatiannya kini telah lenyap, kembali menjadi jati dirinya yang arogan.

"Masuk, Alaric."

Regantara sama sekali tidak menatap ke arah Zara yang masih bersimpuh di samping kursinya.

Pintu terbuka, Alaric melangkah masuk. Matanya sempat melirik posisi Zara di lantai, namun wajah profesionalnya tak menunjukkan emosi apa pun.

"Zara, rapikan bekalmu dan keluar." ucap Regantara datar, nadanya begitu dingin seolah mereka berdua adalah dua orang asing yang tak pernah bersentuhan.

"Aku ada urusan keluarga yang tidak bisa diganggu."

Zara mengepalkan tangannya di lantai yang dingin, rasa hangat yang sempat menyusup ke dadanya beberapa saat lalu menguap seketika, digantikan oleh realita pahit yang menamparnya telak.

Di mata Regantara, ia tetaplah sebuah pion dalam papan catur yang sewaktu-waktu bisa dicampakkan begitu prioritas sesungguhnya datang.

"Baik."

Di lobby utama, suasana yang biasanya riuh dengan lalu lalang karyawan mendadak senyap total.

Semua staf dan petugas keamanan berdiri tegak dalam posisi sempurna, saat rombongan pria bersetelan serba hitam melangkah masuk.

Di barisan paling depan, seorang pria tua bertubuh tegap berjalan memimpin.

Meski rambutnya telah memutih sepenuhnya, aura kedisiplinan yang melekat selama puluhan tahun tak memudar sedikit pun.

Tuan Besar Jenderal Benedict, hadir tanpa pemberitahuan.

Sambil melangkah menuju lift eksekutif, Jenderal mendadak menghentikan langkahnya.

Pria tua itu melirik tajam ke arah Nakula.

"Bagaimanapun penampilanku, aku harus rapi. Katanya Regantara membawa istrinya ke kantor hari ini. Nakula, apa aku terlihat berwibawa?"

Pria tua itu langsung memasang ekspresi paling garang yang ia miliki, alis tebalnya menukik tajam dan rahangnya mengeras.

Nakula yang sudah melayani sang Jenderal selama belasan tahun menahan napas, berusaha keras menjaga wajah datarnya agar tidak mengumbar senyum.

Publik dan media kenal betul Jenderal Benedict sebagai sosok tak berhati yang paling ditakuti di dunia bisnis dan politik.

Namun, kenyataan bahwa pria ini secara rahasia merasa gugup hanya karena ingin memberikan kesan pertama yang menakutkan sekaligus sempurna di depan cucu menantunya adalah hal yang hanya diketahui sedikit orang.

"Anda terlihat sangat berwibawa dan mengintimidasi, Tuan Besar. Nyonya Muda dipastikan akan sangat terkesan dengan ketegasan Anda." sahut Nakula membungkuk hormat dengan nada amat serius.

"Hmph! Bagus." dengus Jenderal puas, ia membusungkan dadanya seraya melanjutkan langkah garangnya masuk ke dalam lift privat.

"Cucu sialanku itu selalu menyembunyikan istrinya dari keluarga. Hari ini aku mau lihat sendiri, wanita seperti apa yang sanggup membuat Regantara bertingkah seperti pria beristri!"

.

Di dalam kamar mandi lantai eksekutif, Zara berdiri di depan cermin, membiarkan air kran mengalir membasahi jemarinya.

"Hah..."

Ia mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih berdegup kencang akibat dorongan kasar Regantara tadi. Rasa panas di hatinya belum sepenuhnya padam, namun ketenangan alaminya perlahan kembali menguasai diri.

"Tenang, Zara. Tarik nafas lalu hembuskan, tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja." ucapnya.

Saat ia mematikan kran dan hendak mengeringkan tangan, mata Zara tidak sengaja melihat pantulan bagian belakang roknya.

Sebuah noda merah pekat berukuran kecil namun sangat jelas terlihat di sana.

Jantung Zara serasa berhenti berdetak seketika.

Darah?

Zara meremas tepi wastafel, kepalanya langsung berputar mencoba mengingat penanggalan.

Tanggal berapa sekarang? Saking padatnya konflik dengan Adhitama Corp, teror Roselin, dan manipulasi Regantara beberapa hari terakhir, ia sampai lupa bahwa siklus bulannya sudah tiba.

"Sial, bagaimana ini." bisik Zara pelan, suaranya bergetar menahan panik.

Warna roknya terlalu terang, hingga membuat noda itu mencolok.

Tidak ada jaket atau blazer yang ia bawa ke dalam kamar mandi.

Semua barang pribadinya, termasuk tas dan mantel, masih tertinggal di sofa ruang kerja Regantara.

Bagaimana mungkin ia bisa berjalan keluar dari kamar mandi ini, melintasi koridor yang penuh pengawal dan staf, lalu melewati Regantara, pria yang baru saja mencampakkannya dengan kondisi rok bernoda seperti ini?

Rasa malu dan harga dirinya yang sedang terluka makin menekan dadanya hingga terasa sesak.

"Apa yang harus aku lakukan..."

Zara berpikir keras.

Alaric, nama itu langsung terlintas di kepalanya.

Di antara semua orang, sekretaris kepercayaan Regantara itu adalah sosok paling profesional dan bisa diandalkan tanpa banyak bertanya.

"Ya, Alaric pasti bisa diandalkan."

Zara langsung meraba saku roknya, ia bernapas lega saat mendapati ponselnya masih ada di sana. Dengan jemari yang sedikit gemetaran, ia mencari kontak Alaric lalu mengirimkan pesan.

Alaric, bisakah kamu membantuku? Tolong ambilkan jas atau mantel apa saja di ruang kerja Regantara, lalu antarkan ke kamar mandi eksekutif. Tolong jangan beritahu Regantara.

Hanya butuh beberapa detik sampai status pesan berubah menjadi terbalas.

Alaric

Baik, Nyonya. Saya segera ke sana.

Zara menghela napas panjang, ia bersandar pada dinding kamar mandi sambil menunggu. Namun, keberuntungan tampaknya sedang tidak memihaknya.

Ting!

Pintu lift di ujung koridor lantai eksekutif berdenting terbuka.

Jenderal melangkah cepat menuju ruang kerja cucunya, sementara Alaric yang baru saja keluar dari ruangan Regantara sambil membawa jas hitam langsung membeku di tempat saat berhadapan langsung dengan sang Jenderal.

"Di mana Regantara?" gertak Jenderal, matanya yang tajam menatap Alaric lalu melirik jas hitam yang dipegang sang sekretaris.

"Dan di mana istri Regantara? Jangan bilang kamu menyembunyikannya dariku!"

Alaric yang memegang jas milik Regantara langsung berdiri tegak sempurna, tubuhnya kaku seperti tiang.

Senyum profesionalnya bertahan dengan sangat tipis di balik tekanan aura menakutkan yang dipancarkan oleh Jenderal Benedict.

"Tuan Besar." panggil Alaric sambil menundukkan kepala sangat dalam. "Tuan Regantara ada di dalam ruangan. Sedangkan Nyonya, beliau sedang ada urusan sebentar di area eksekutif."

"Urusan apa?!" dengus sang Jenderal tajam, alis tebalnya menukik tajam.

"Lalu untuk apa kamu membawakan jas Regantara seperti orang bingung begitu? Apa cucu sialanku itu menyuruhmu membuang bajunya?"

"Ini... Nyonya membutuhkan pelapis pakaian, Tuan Besar." jawab Alaric, memilih kata-kata paling aman tanpa harus membeberkan privasi Zara.

Namun Jenderal, jawaban Alaric yang mengambang itu justru membakar rasa ingin tahunya.

"Pelapis pakaian?" gumam Jenderal dengan mata menyempit.

Pria tua itu langsung menarik kesimpulan sendiri berdasarkan instingnya.

Ia menduga cucu menantunya sedang kecelakaan kecil atau diperlakukan tidak manis oleh Regantara, mengingat tabiat cucunya yang keras kepala dan dingin.

"Biar aku sendiri yang memberikan jas ini pada cucu menantuku!"

Jenderal langsung merebut jas hitam itu dari tangan Alaric.

"T-Tuan Besar, tapi Nyonya ada di—"

"Tunjukkan di mana dia sekarang! Jangan banyak alasan, Alaric!" suara Jenderal menggelegar membuat Nakula di belakangnya hanya bisa mengelus dada pasrah.

Sementara itu di dalam kamar mandi privat, Zara yang mendengar gema suara berat mendadak tegang.

Ketukan keras terdengar di pintu kamar mandi.

"Nyonya Muda Benedict! Ini Kakekmu! Buka pintunya, aku bawakan jas untukmu!"

Zara membelalakkan mata.

Kakek? Jenderal Benedict yang legendaris itu ada di luar kamar mandinya?

1
jenny
coba Zara dibawa sama kakek Sehari... kira² Regan kelabakan gak tuh?? 😄
Ipan Pratama
menarik
Ipan Pratama
lanjut dong thorr
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!