"Apa benar ini rumah yang dimaksud? "
wajah Raisa pucat pasif sambil membawa tasnya di pundaknya.
Raisa beberapa hari lalu mendapatkan warisan dari kakek pihak ayahnya sebuah rumah di pinggir kota, saat berada dirumah dekat hutan itu memang rumah mewah tapi suasananya aneh.
tapi Raisa tidak punya pilihan karena dia juga tidak punya tempat tinggal di kota, daripada dia menjadi tunawisma lebih baik tinggal di rumah hantu itu.
saat tinggal di dalam sana, kejadian aneh terjadi padanya.
dari mulai bayangan manusia hitam, setiap tengah malam.
saat tengah malam, Raisa dikejutkan dengan kenyataan ternyata dirinya hidup dengan makhluk halus dirumah ini dan pemimpin rumah itu adalah makhluk Banaspati bernama Arya.
Dan siapa Arya itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anastasia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 35.Kenangan masa lalu.
Matahari pagi baru saja mengintip malu-malu dari balik puncak pohon-pohon tinggi yang mengelilingi kediaman tua itu, menyebarkan cahaya keemasan yang lembut menyentuh dedaunan yang masih basah oleh embun. Bagi Raisa, pagi ini adalah hari yang paling ia nanti-nantikan sejak ia menginjakkan kaki di rumah ini. Jantungnya berdebar kencang bukan karena takut, melainkan karena antusiasme yang meluap-luap. Dengan seragam sekolah baru yang rapi, rambut yang diikat sederhana namun rapi, dan senyum yang tak lepas dari bibirnya, ia melangkah ringan menuju pintu depan. Di sana, Sekar sudah menunggu di samping mobil sedan tua peninggalan kakeknya yang masih tampak gagah meski usianya tak lagi muda, mesinnya sudah dinyalakan memancarkan suara dengung yang halus.
“Rai, sudah siap?” tanya Sekar tersenyum ramah sambil membukakan pintu penumpang depan.
“Sebentar lagi, Kar! Aku mau pamit dulu sama Arya di atas!” seru Raisa cepat. “Tunggu sebentar ya, jangan pergi duluan!”
Tanpa menunggu jawaban, Raisa segera berbalik dan berlari kecil menaiki tangga kayu yang berderit halus. Langkah kakinya begitu ringan, seolah beban hidup yang ia bawa selama ini terangkat sepenuhnya pagi ini. Namun saat ia baru saja sampai di pertengahan lorong lantai dua, ia berpapasan langsung dengan Jatmika yang sedang berdiri tegak seolah sedang berjaga di sana.
“Selamat pagi, Nona Raisa,” sapa Jatmika sopan, namun matanya tampak menyembunyikan sesuatu.
“Pagi, Jatmika. Arya ada di dalam kamarnya?” tanya Raisa sambil menoleh ke arah pintu kamar yang biasanya selalu tertutup rapat itu.
Jatmika menggeleng pelan. “Tuan Arya tidak ada di rumah, Nona. Beliau pergi sejak subuh tadi untuk menyendiri di tempat yang biasa beliau kunjungi saat ingin merenung.”
Raisa mengerutkan kening sedikit kecewa, namun tiba-tiba hidungnya yang peka menangkap bau asap samar yang bercampur bau gosong halus yang masih tersisa di udara lorong itu. Ia menatap sekeliling dengan curiga.
“Kenapa ada bau gosong begini? Apa yang terjadi kemarin malam? Apa Arya tidak sengaja membakar kamarnya?” tanyanya dengan nada cemas yang tulus.
Jatmika tampak ragu sejenak sebelum menjawab dengan hati-hati. “Bukan begitu, Nona. Hanya saja... Tuan sedang sedikit kesulitan mengendalikan kekuatan dalam dirinya semalam. Tidak ada kerusakan yang berarti, hanya sedikit panas yang meluap.”
Raisa menghela napas lega namun tetap merasa bersalah. “Maafkan aku ya, Jatmika. Kalau karena aku Arya jadi sulit mengendalikan dirinya... Tolong jaga dia baik-baik saat aku pergi sekolah ya? Jangan sampai dia terlalu memaksakan diri atau marah pada dirinya sendiri.”
Wajah Jatmika tampak bingung mendengar pesan itu. Mengapa aku yang harus menjaga Tuanku? Seharusnya dialah yang menjaga kami semua... batinnya, namun ia hanya mengangguk sopan. “Baik, Nona. Saya akan berusaha sebaik mungkin.”
Raisa pun melambaikan tangan dan bergegas turun kembali menemui Sekar. Mobil tua itu pun perlahan melaju membelah jalan setapak berumput, menuju bangunan sekolah sederhana namun bersih yang terletak di ujung desa Suka makmur.
Sementara itu, jauh di kedalaman hutan di balik tebing tinggi, air terjun yang airnya jatuh berderau deras memukul bebatuan karang tajam menjadi tempat yang sunyi. Di tengah guyuran air yang sedingin es itu, sosok Arya duduk bersila diam tak bergerak. Namun anehnya, tak setetes pun air itu menyentuh kulitnya. Setiap kali air mendekat, ia menguap seketika menjadi uap putih yang melayang ke udara, didorong oleh panas api yang menyala tak terkendali di dalam dadanya. Matanya terpejam rapat, namun benaknya melayang jauh melintasi waktu ratusan tahun silam.
Ia kembali melihat dirinya yang dulu: Arya sang Panglima Perang. Sosok yang gagah berani, tak pernah gentar menghadapi ribuan pasukan musuh, yang hidupnya hanya diisi dengan pedang, perisai, dan darah yang tertumpah demi kerajaan. Hingga suatu hari, dalam sebuah perjalanan pulang pasca pertempuran yang menewaskan banyak pasukannya, ia terluka parah dan terjatuh tak sadarkan diri di pinggir hutan. Saat terbangun, yang ia lihat adalah sosok wanita sederhana berpakaian pelayan, dengan wajah yang begitu lembut dan mata yang penuh kasih sayang merawat lukanya dengan ramuan hutan. Namanya Roro Ningsih.
Karena terpesona dan salah paham, Arya mengira wanita itu adalah putri dari Adipati setempat. Dengan hati yang bergetar, ia datang meminang putri Adipati itu, dan lamaran itu diterima dengan sukacita. Namun saat hari pernikahan tiba, ia baru menyadari kesalahannya—Roro Ningsih hanyalah pelayan, sedangkan istrinya yang sah adalah wanita yang sombong, egois, dan kejam. Arya tak bisa membatalkan janji yang sudah terucap di hadapan rakyat. Ia terpaksa menyembunyikan perasaannya yang tumbuh pada Roro Ningsih, meski hatinya selalu terasa perih setiap kali melihat wanita itu dipandang rendah.
Istrinya pun perlahan menyadari bahwa hati suaminya tak pernah miliknya, melainkan pada pelayan rendahan itu. Dengan dendam yang membara, sang istri menyuruh orang-orang kepercayaan ayahnya untuk membinasakan Roro Ningsih saat Arya sedang pergi menjalankan tugas kerajaan yang jauh. Tanpa ampun, Roro Ningsih diserang, direnggut kehormatannya, dibunuh dengan kejam, dan mayatnya dibuang ke sungai yang berarus deras.
Saat Arya kembali dan mengetahui kebenaran dari sahabat Roro Ningsih, dunia seakan runtuh di hadapannya. Rasa sedih berubah menjadi amarah yang meledak tak terkendali. Saat salah satu pelaku kejahatan itu mengakuinya dalam keadaan mabuk, Arya membunuh mereka semua dengan tangannya sendiri hingga tangannya penuh darah. Pulang ke istana, emosinya memuncak saat berhadapan dengan istrinya yang berusaha berkilah. Tanpa sadar, dengan satu ayunan tangannya yang masih bergetar amarah, ia memenggal leher istrinya sendiri.
Ketakutan akan apa yang telah ia lakukan membuatnya lari masuk ke dalam hutan terlarang. Di sana, ia berniat mengakhiri hidupnya dengan keris sakti warisan leluhur. Namun Jin Penunggu Hutan muncul, marah karena ketenangan wilayahnya terus diganggu oleh darah dan dendam. Jin itu mengutuknya, mengubah jiwa dan raganya menjadi makhluk Ba nas pati—penguasa api yang kekuatannya tak lagi bisa dikendalikan oleh akal sehat manusia. Dalam kemarahannya yang buta, Arya membakar habis kerajaan yang dulu ia lindungi dengan nyawanya sendiri.
Hingga akhirnya bertemu dengan leluhur pertama keluarga Margono menemukan dia yang terpuruk di sisa abu kehidupan, dan membuat perjanjian sakral yang mengikat mereka berdua. Kini, setiap kali perasaan itu bangkit kembali—perasaan yang sama persis seperti yang dulu ia rasakan pada Roro Ningsih, namun kini tertuju pada Raisa—api dalam dirinya kembali mengamuk, seolah menuntut keadilan yang belum tuntas.
Arya lalu membuka mata nya.
“Raisa, aku bisa mati karena mu. ”gumamnya pelan.
Arya lalu menghembuskan nafasnya kembali, dan sekarang dia mulai tenang tanpa harus meminta Raisa menenangkan dirinya.
Kembali ke masa kini, hari pertama sekolah Raisa berjalan jauh lebih indah dari bayangannya. Para siswa menyambutnya dengan ramah, tak ada yang menatapnya aneh atau menjauh hanya karena ia tinggal di rumah tua yang konon angker. Mereka berteman dengannya layaknya teman baru biasa, berbagi bekal, bercerita, dan tertawa bersama. Untuk pertama kalinya sejak pindah ke desa ini, Raisa merasa benar-benar diterima dan menjadi bagian dari kehidupan yang normal.
Saat bel pulang berbunyi nyaring, Raisa berjalan keluar dengan hati yang ringan. Namun langkahnya terhenti saat melihat sebuah mobil polisi berwarna putih berhenti tepat di samping mobil tua milik kakeknya. Seorang pria berseragam rapi dengan wajah tegas sedang berdiri menunggu. Itu adalah Agus.
Agus segera berjalan mendekat saat melihat Raisa keluar dari gerbang sekolah. “Permisi, maaf mengganggu sebentar. Saya ingin bertanya arah jalan menuju Desa Suka makmur, tepatnya kediaman keluarga Margono.”
Jantung Raisa seakan berhenti berdetak sejenak. Ia menatap seragam polisi itu, lalu menatap mata Agus yang penuh penyelidikan. Tanpa alasan yang jelas, instingnya berteriak agar ia jangan memberi tahu kebenaran. Jika orang-orang seperti Agus sampai ke rumah itu, bahaya akan datang bukan hanya pada dirinya, tapi juga pada Arya dan semua yang ia sayangi.
Raisa memasang wajah bingung yang dibuat-buat, lalu menggeleng pelan. “Keluarga Margono? Maaf Pak, saya belum pernah mendengar nama itu. Kalau Desa Suka makmur, saya rasa itu sudah lewat jauh ke arah hutan yang terlarang, katanya tidak ada jalan yang bisa dilewati orang biasa. Sebaiknya Bapak kembali ke jalan utama saja.”
Agus sedikit mengerutkan kening, merasa ada yang ganjil namun tak bisa memaksanya. “Baiklah, terima kasih atas informasinya.”
Tanpa menunggu lebih lama, Raisa segera melompat masuk ke dalam mobil. “Cepat jalan, Sekar! Kita harus segera pulang!”
Mobil tua itu pun melaju menjauh, meninggalkan Agus yang masih berdiri diam menatap punggung mobil yang menjauh. Semakin jauh mereka pergi, semakin kuat keyakinan Raisa bahwa keputusannya untuk membohongi penyidik itu adalah langkah yang tepat. Namun ia tahu, ini hanyalah awal. Jejak yang ditinggalkan kematian misterius itu perlahan tapi pasti akan membawa orang-orang yang berniat tahu kebenaran semakin dekat pada pintu rumah yang ia lindungi.