Yasmin Nayara, seorang gadis dengan albinisme yang membuatnya selalu menjadi sorotan negatif—dari orang-orang yang takut dan menghindar, hingga keluarga pamannya yang memperlakukannya begitu buruk. Bahkan, Yaya dijadikan pelunas hutang untuk dinikahkan dengan seorang juragan kaya yang memiliki banyak istri.
----------
Tak mampu menanggungnya, Yaya kabur di hari pernikahannya dan merantau ke kota dengan bermodalkan nekat.
Namun takdir punya jalan lain. Di hari pertamanya di kota, Yaya hampir diperkosa oleh seorang pria dalam pengaruh obat, yang ternyata adalah Baskara Narendra yang sedang dijebak rekan bisnisnya.
Baskara yang kalap menarik Yaya ke dalam mobilnya untuk melakukan sesuatu yang tidak semestinya. Namun aksi Baskara itu dipergoki Warga dan dipaksa menikah secara mendadak.
----------
Apa yang akan terjadi pada hubungan tak terduga ini di tengah perbedaan latar belakang dan masa lalu yang menyakitkan? Apa lagi Baskara terkenal dingin dan pemarah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon QueenMardhiah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kelembutan Dan Rasa Sakit Yasmin
Suara sendok yang beradu dengan piring terdengar lembut di dapur. Yasmin sedang menyusun hidangan di meja makan, wajahnya yang pucat terlihat jelas di bawah cahaya lampu dapur. Baskara berdiri di ambang pintu, menatap istrinya itu dengan pandangan yang tidak lagi dingin seperti biasanya.
"Kau belum makan sendiri?" tanya Baskara, suaranya lebih lembut dari yang pernah ia ucapkan sebelumnya.
Yasmin menoleh, terkejut sejenak namun segera tersenyum tipis. "Belum, Pak. Saya menunggu Bapak dulu. Silakan duduk, semuanya sudah siap."
Baskara berjalan mendekat dan duduk di kursinya. Ia menatap hidangan yang tersaji dengan rapi, lalu mengalihkan pandangannya ke wajah Yasmin. "Wajahmu terlihat pucat. Apakah kau sakit? Atau... masih lelah dari semalam?"
Pipi Yasmin memerah sedikit, ia menundukkan kepalanya. "Tidak apa-apa, Pak. Cuma kurang tidur sedikit, itu saja. Saya sehat-sehat saja, jangan khawatir."
"Jangan berbohong padaku," ucap Baskara, namun nada bicaranya tidak mengandung kemarahan. Ia meraih tangan Yasmin yang sedang memegang gelas. Tangan itu terasa dingin dan sedikit gemetar. "Lihat saja tanganmu. Kalau kau merasa tidak enak badan, katakan saja. Aku tidak akan marah."
Yasmin menatap mata Baskara dengan pandangan yang ragu, seolah tidak percaya dengan apa yang ia dengar. "Benar, Pak. Saya hanya butuh istirahat sebentar nanti setelah bapak berangkat kerja. Saya bisa melakukan semuanya, jangan khawatir."
Baskara menghela napas pelan, lalu mengeluarkan dompetnya dan mengambil selembaran uang berjumlah besar, meletakkannya di samping piring Yasmin. "Ambil ini. beli apa saja yang kau butuhkan untuk dirimu sendiri."
Yasmin segera mendorong uang itu kembali ke arahnya. "Tidak usah, Pak. Uang yang bapak berikan kemarin masih tersisa banyak, dan itu sudah cukup untuk keperluan dapur dan keperluan rumah. Saya tidak membutuhkannya untuk hal lain."
"Apakah kau tidak mendengarku? Ini untuk dirimu sendiri, bukan untuk keperluan rumah. Kenapa kau selalu menolak?" tanya Baskara, matanya menatap tajam namun tidak lagi menyakiti. "Wanita lain yang aku kenal, mereka akan segera menyambut uang itu dengan senang hati. Bahkan mereka akan meminta lebih banyak lagi."
Yasmin menunduk, suaranya terdengar pelan namun tegas. "Saya bukan mereka, Pak. Saya istri Bapak, meskipun hanya secara siri. Tugas saya adalah melayani suami dan menjaga apartemen ini dengan baik. Saya tidak membutuhkan hal-hal yang tidak penting. Kalau ada yang saya butuhkan, saya akan bilang. Tapi sampai saat ini, saya sudah cukup dengan apa yang ada."
Baskara terdiam. Kata-kata Ilham terngiang kembali di benaknya: "Dia berbeda dari semua wanita yang mendekati Bapak. Yang lain hanya menginginkan kedudukan dan uang, tapi Nona Yasmin tidak pernah meminta apa-apa. Bahkan uang yang bapak berikan, hanya dipakainya untuk keperluan bersama. Dia sudah menderita sejak kecil, jangan buat dia menderita lagi karena sikap kasar bapak. Saya tidak bermaksud menggurui bapak sebagai atasan saya, tapi bapak akan melihat keistimewaan Nona Yasmin jika Bapak berusaha menerimanya. Bapak tidak akan menemukan gadis sebaik dirinya jika bapak sampai menceraikannya dikemudian hari."
Suasana hening sejenak hanya diselingi suara detak jam dinding yang berirama teratur. Baskara menatap wajah Yasmin yang masih tertunduk, kalimat-kalimat nasihat Ilham terus berputar di kepalanya seolah sedang berbisik berulang kali. Ia meremas ujung serbet meja dengan pelan, lalu mengangkat kepala dan menatap mata Yasmin yang kini mulai berani menatap balik.
"Kau... benar-benar tidak pernah memikirkan untuk memanfaatkan kedudukanku ataupun Uangku?" tanya Baskara, suaranya terdengar lebih lembut dan penuh rasa ingin tahu, tidak lagi terdengar seperti perintah atau pertanyaan yang menuntut jawaban.
Yasmin menggeleng perlahan, ujung bibirnya tersenyum tipis namun penuh ketulusan. "Memanfaatkan apa, Pak? Dengan tinggal dan berlindung didalam apartemen ini saja, itu sudah lebih dari cukup bagi saya. Saya tidak menginginkan apa-apa lagi selain itu."
Baskara terdiam sejenak, lalu melanjutkan ucapannya dengan nada yang lembut, "Tapi uang ini untuk keperluan dirimu sendiri, beli hal-hal yang kau butuhkan untuk dirimu, bukan hanya untuk rumah atau Saya. Kenapa tetap menolak?"
Yasmin menundukkan wajahnya, jari-jarinya saling meremas dengan pelan. "Maaf Pak, sungguh saya tidak membutuhkannya. Selama bersama bapak, saya sudah merasakan nikmat yang tidak pernah saya rasakan sebelumnya. Saya bisa memasak makanan yang layak, makan dengan teratur dan enak setiap hari. Dulu, saat masih tinggal dengan Paman dan Bibi saya, hal itu hanyalah mimpi belaka."
Matanya berkaca-kaca, namun ia berusaha menahan air mata itu agar tidak tumpah. "Dulu, mereka hanya memberi makan sekali sehari, itupun biasanya makanan sisa yang sudah tidak layak dimakan. Kalau saya melakukan kesalahan sekecil apa pun, mereka bahkan tidak memberi saya makan sama sekali seharian penuh. Saya pernah terlelap tidur karena terlalu lapar, dan terbangun dengan perut yang terasa perih sekali."
Mendengar penuturan itu, dada Baskara terasa sesak, seolah ada benda berat yang menindihnya. Jantungnya berdenyut sakit mendengar penderitaan yang dialami wanita di hadapannya itu, namun ia berusaha menyembunyikan perasaannya karena gengsi yang masih menggunung. Ia hanya menatapnya dengan pandangan yang lebih lembut, menahan gejolak emosi yang mulai meluap di dalam hati.
"Sejak tinggal di sini, saya sudah bersyukur sekali," lanjut Yasmin, suaranya masih lembut namun tegas. "Setiap hari saya bisa memasak bahan makanan yang segar dan baik, saya bisa makan sampai kenyang, tidak pernah lagi merasakan lapar yang menyiksa seperti dulu. Semua itu sudah lebih dari cukup bagi saya. Uang yang Bapak berikan, cukup untuk keperluan rumah bahkan lebih. Saya tidak butuh apa-apa lagi. Perlindungan dan kebaikan yang bapak berikan itu, jauh lebih berharga daripada uang dalam jumlah berapa pun."
Kata-kata itu menembus langsung ke dalam hati Baskara. Dinding pertahanan yang selama ini ia bangun dengan susah payah, yang ia kira kokoh dan tidak akan pernah goyah, kini terasa runtuh perlahan satu per satu. Ia menyadari bahwa wanita di depannya ini tidak pernah mengharapkan harta atau keuntungan apa pun, ia hanya menginginkan tempat untuk berteduh dan rasa aman yang selama ini tidak pernah ia miliki.
Baskara mengulurkan tangannya, menggenggam tangan Yasmin dengan lembut. Tangannya terasa hangat, menyalurkan rasa sayang dan perhatian yang selama ini ia sembunyikan. "Saya... Saya tidak pernah menyangka kau pernah mengalami hal seberat itu. Maafkan saya, kalau selama ini malah menambah rasa sakitmu."