Kehidupan penduduk Kampung Surya Kencana, dimana sebagai besar penduduknya bekerja sebagai besar petani. Kampung ini kini gersang karena dilanda kekeringan.
Warga Kampung Surya Kencana bersifat, tradisional, sehingga sulit menerima perkembangan terutama dibidang pertanian. Pemerintah baik dari pusat, provinsi, kecamatan hingga Kampung sudah sering mengadakan Penyuluhan Pertanian agar pertanian masyarakat dapat meningkat, namun di tolak oleh sebagian besar penduduk yang bekerja sebagai petani.
Seorang pemuda bernama Harjo (pemeran utama) adalah salah seorang dari sedikit petani yang mau mengikuti arahan Penyuluh Pertanian. Dia gigih dan ulet dalam bertani serta cerdas dalam mengembangkan pertanian, sehingga hasil pertanian Harjo menjadi berbanding terbalik dengan hasil pertanian warga Kampung. Hasil pertaniannya melimpah sedang petani lainnya sering terkena hama dan gagal panen.
Banyak penduduk yang mulai tertarik dengan cara bertani Harjo yang terkadang diluar kebiasaan penduduk.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dini Sinaga, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
32. Berita Wati Pingsan Sampai ke Kapala kampung
Mulut Slamet menganga lebar, tidak percaya dengan yang di dengar oleh telinganya. Sinta ternyata saat ini sudah menyukai pria lain. Sinta memilih Harjo, bayangan ucapan Sinta masih terdengar jelas di dalam ingatannya.
"Saya, saya yang menyukai Harjo. Saya, saya yang bersedia menikah dengannya. Asal kamu tahu saja. Kapan pun Harjo mau, Aku besedia menikah dengannya." tutur Sinta berterus terang.
Kenapa, memangnya kenapa kalau Aku mencintainya, toh aku tidak merugikan orang lain. Lagi pula, Harjo pria ganteng, sukses dan baik hati, tidak seperti kamu, hanya berbekal pernah kuliah di kota saja, kalau tIdak karena bantuan orang tuaku, tidak mungkin kamu dapat di terima menjadi guru honor di sekolah itu. Bagaimana mungkin aku memilih mu?" Ungkap Sinta.
Slamet masih merasa prustasi dengan ucapan dari Sinta.
Di dalam hatinya Slamet tertekan, pikirannya dipenuhi perkataan Sinta dan terbentuk pusaran besar seperti spiral yang berputar-putar semakin kencang sekali.
Sinta pun kembali melanjutkan ucapannya.
Sesungguhnya, selama ini aku sudah mencintai Harjo, semenjak kecil. Kami bersekolah di sekolah yang sama, dengan ayahku sebagai kepala sekolahnya. Walaupun Slamet dan John sering mengungkapkan rasa cintanya, namun Aku selalu menolaknya, sebab seseorang sudah mengisi ruang cintaku, namun Aku belum berani mengungkapkannya. Aku hanya menanti dan terus menantikannya untuk sekali saja mengatakan suka kepada ku, tetapi hal itu belum pernah terjadi. Oleh sebab itu, waktu itu aku menerima kamu sebagai teman dekat dan kita hanya beberapa kali berbicara berdua atau pergi makan di pasar, sebenarnya hanya untuk mendekatkanku kembali dengan Harjo. Sebab Harjo lah pilihan hati ku, bukan kamu Slamet." pungkas Sinta mengeluarkan isi hatinya yang terpendam.
Beberapa gadis dan ibu-ibu serta semua yang berada di warung Widuri, merasa iba akan kisah hati Sinta, kecuali Slamet yang semakin terpukul dan Harjo yang juga merasa terkejut dan tidak menduganya.
"Jangan bermimpi kamu Slamet, Aku sudah memilih pria yang mengisi hatiku. Kamu hanya teman masa lalu yang dapat mendekatkan ku dengan pujaan hati ku." sambung Sinta.
"Bagaimana pun kamu tidak dapat membandingkan Harjo dan dIri mu. Sedikit pun tidak, kamu tidak sebanding dengan Harjo. Camkan itu!!!" Seru SInta dengan lebih serius lagi.
Slamet hanya terdiam dan meresapi setiap perkataan dari Sinta. Kini semua terbuka, mengapa dIrinya tak sanggup meraih cinta Sinta, bahkan John lelaki teman sekaligus saingannya itu untuk mendapatkan Sinta, selalu di dukungnya, sebab Jhon Anak Pak Kepala kampung yang kaya dan memiliki pengaruh yang kuat di masyarakat pun, tidak dapat meraih cinta Sinta. Slamet hanya dapat mengubur impiannya mendekati Sinta namun hanya untuk saat ini saja.
Widuri hanya bisa menahan dirinya sebab kini tanpa diduganya saingannya bertambah lagi. Perasaan hatinya kini bertambah gelisah, namun semuanya hanya bisa di pendamnya seorang diri saja.
Tak kalah dengan apa yang di rasakan oleh Wati, di dalam pikirannya kembali terlihat gambaran Harjo menikahi seorang perempuan berkebaya merah, namun dirinya sulit mengingat wajah perempuan itu.
"Siapakah dia? Apakah wanita ini yang kulihat dalam alam bawah sadar ku tadi?" tanya Wati yang kini kembali terduduk di kursi panjang warung Widuri.
Widuri mengira Wati sudah kelaparan sehingga segera bergegas kembali kedalam warungnya dan membuatkan nasi dengan berbagai lauk terbaik di warungnya. Dia tidak ingin Wati pingsan lagi karena kelaparan, dan kebetulan semua nasi hanya tersisa sepiring penuh porsi cukup besar sebab semuanya nasibnya juga sudah habis terjual.
Widuri tidak mempedulikan semua orang, dia segera bergegas membawakan makanannya ke hadapan Wati.
Wati awalnya merasa bingung, namun Widuri berkata,
"Kamu tidak perlu menghiraukan mereka, jagalah kesehatan kamu dengan sedikit makanan ini. Tentunya kau sudah lelah dan lapar sebab saat ini sudah lewat jam makan siang. Maaf nasi yang tersisa hanya ini saja." Bisik Widuri pelan kepada Wati.
Wati merasa terharu, sebab memang dirinya sudah mulai merasa kelaparan sebab semenjak pagi dirinya belum makan. Semuanya dikarenakan perasaannya kepada Harjo yang belum dapat diketahuinya. Kepada siapakah Harjo akan melabuhkan perasaan cintanya?
Wati yang telah kelaparan segera saja memulai acara makannya.
Slamet yang juga belum makan siang tentu saja segera melihat peluang ini. Nasi di piring yang disantap oleh Wati membuatnya bertambah kelaparan.
"Buatkan aku juga Mbak Wid, aku calon suami mu juga belum makan siang." bujuk Slamet dengan wajah tidak tahu dirinya.
"Tidak... Tidak bisa! Kau boleh pesan di warung lain saja." jawab Widuri yang merasa malas melayani Slamet saat ini.
"Jangan begitu dong Wid, aku sungguh sudah kelaparan sekali, dan Aku juga rindu nikmatnya masakan mu. Buatkan satu ya.." bujuk Slamet lagi, dengan gerakan yang sungguh menjijikkan bagi Widuri.
Slamet ingin orang melihat bahwa dirinya dekat dengan Widuri, walaupun Widuri sudah pernah beberapa kali menolak perasaannya, Slamet tetap saja mencoba menggodanya.
"Aku sudah katakan, TIDAK!!!" jawab Widuri sekali lagi.
"Kalau kau mau, kau boleh makan gorengan itu. Kali ini aku berikan gratis. Aku tahu diri mu saat ini kesulitan keuangan, jadi jangan mencoba mencari perhatian ku dengan berpura-pura begitu."sambung Widuri.
Karena terus di tolak oleh Widuri, maka Slamet pun akhirnya memutuskan memakan gorengan yang tersisa beberapa biji lagi, tanpa rasa malu.
"Gorengan pun jadilah, mumpung gratis," pikir Slamet di dalam hati sambil tersenyum.
"Ya sudah, ini pun tidak apa-apa lah, aku pun dapat memaklumi sebab suasana hatimu lagi sedikit buruk. Tetapi Aku yakin, kamu masih memiliki perasaan kepada ku." ungkap Slamet dengan penuh keyakinan sambil memakan gorengan dengan cepat, takut ada orang lain yang juga berminat dengan gorengan gratis itu.
Warga pun beberapa orang ada yang mulai mencibir kelakuan Slamet,
"Dasar lelaki tidak tahu malu, ditolak malah maksa," ungkapnya.
"Huft... Ogah aku kalau punya menantu seperti dIa." tutur yang lain lagi.
"Sudah putus itu urat malunya, dibongkar aibnya, ditolak cintanya, masih saja tidak pergi." kata seorang yang lain lagi.
Ocehan warga yang adalah wanita itu, semakin membuat suasana sedikit membentuk suara desas desus pada warung Widuri.
Slamet lebih dahulu, menyelesaikan acara makannya. Segera berdiri dengan bagian sekitar mulutnya penuh minyak goreng sebab disebabkan Slamet mamaksa memasukkan gorengan sebanyak dan secepat-cepatnya.
Dari arah Balai kampung, Kepala kampung dan Junaedi telah mendengar mengenai kelakuan Slamet di warung Widuri oleh warga yang kebetulan berpapasan dengan Junaedi yang keluar Balai kampung untuk membeli air kelapa muda di seberang kantor Balai kampung.
Junaedi pun melaporkan kejadian itu,
"Lapor Pak Kepala kampung, Slamet saat ini melakukan keributan di Balai kampung." ucap Junaedi sambil menyerahkan segelas air kelapa yang telah dibelinya.
Mendengar laporan Junaedi, Kepala kampung segera memberikan titahnya,
"Baiklah kita pergi kesana sekarang!" perintah Kepala kampung, setelah itu air kelapa segelas segera di teguknya sampai habis.
"Siap!!!" jawab Junaedi, walaupun dirinya belum selesai meminum air kelapanya.
"Sialan, si Slamet ini, selalu saja membuat masalah." runtuknya di dalam hati.
Mereka pun bergegas ke warung Widuri. Hendak memasuki warung Widuri, di saat yang sama, Slamet tengah menarik tangan ...
Tangan siapakah yang ditarik oleh Slamet?
Apakah yang akan terjadi?
👍
yuk diikutin dan di like
tema yang baru