Aku pikir tidak akan pernah jatuh cinta lagi setelah dikhianati oleh orang yang paling kupercaya. Namun kehadiran Juvan, seorang siswa SMA yang sederhana dan selalu memperlakukanku dengan tulus, perlahan mengubah semuanya. Di saat aku berusaha menganggapnya hanya sebagai adik, dia justru membuat hatiku berdebar dengan cara yang tidak pernah dilakukan siapa pun sebelumnya. Dan untuk pertama kalinya, aku takut mengakui bahwa aku mulai jatuh cinta pada berondong SMA. 🤍
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuni93, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Merayakan Ulang Tahun Dengan Orang Spesial
"Zara, Vivien, makasih banyak ya untuk hari ini. Aku happy banget," ucap Yena tulus saat mereka bersiap berpisah.
"Iya, Yen, sama-sama!" jawab Zara hangat.
"Haha harus happy dong ya! Selain dapet ucapan ulang tahun dari kita berdua, pasti kamu udah dapet ucapan ulang tahun dari brondong kamu tuh," celetuk Zara sambil tersenyum menggoda.
Wajah Yena seketika berubah murung. "Sayangnya enggak... dia juga belum tau kalau aku hari ini ulang tahun."
"Laah? Emang kamu gak bilang ke dia?" tanya Vivien kaget.
Yena menggelengkan kepalanya pelan. "Tapi nanti malam dia mau ajak aku ketemuan sih."
"Jujur, aku seneng banget, Yen, liat kamu yang sekarang — gak murung lagi kayak dulu," ucap Vivien lembut menatap sahabatnya.
"Harus dipertahankan ya, Yen. Kamu harus happy terus, jangan sedih-sedih lagi. Oke?" tambah Zara menepuk pelan punggung tangan Yena.
"Siap, Bos!" jawab Yena dengan senyum lebar.
Setelah mengobrol sebentar lagi, mereka pun berpisah. Sesampainya di rumah, Yena tersenyum lebar sambil memeluk erat hadiah dari kedua sahabatnya itu. Ia meletakkannya di meja belajar, lalu beristirahat sejenak — hingga tanpa sadar ia terlelap.
Saat terbangun, hari sudah mulai gelap. Langit berwarna ungu kemerahan, dan jam di dinding menunjukkan pukul 18:42.
"Astaga! Aku ketiduran!" Yena langsung melompat dari tempat tidur, panik. "Oh iya! Malam ini aku ada janji mau ketemuan sama Juvan!"
Ia segera merapikan diri, memakai gaun kasual berwarna krem yang sederhana namun cantik, serta sedikit riasan tipis. Belum selesai sepenuhnya, ponselnya berdering — Juvan menelpon, bilang ia sudah berada di depan rumah.
Yena keluar dengan terburu-buru, dan langkahnya terhenti seketika. Matanya membelalak melihat di depannya bukan motor, melainkan sebuah mobil sedan yang rapi.yena berjalan mendekat ke mobil di sana juvan sudah berdiri menunggu yena.
"Tumben bawa mobil? Motor kamu kemana?" tanya Yena.
"Hehe... ini mobil Ayah, aku pinjam bentar," jawab Juvan sambil menggaruk belakang lehernya yang tak gatal, wajahnya sedikit memerah malu. Tanpa banyak bicara, ia segera membukakan pintu mobil untuk Yena dengan sopan.
"Sudah siap, Sayang? Kita berangkat ya."
Mobil pun melaju membelah jalanan kota yang mulai diterangi lampu-lampu jalan. Juvan menyetir dengan tenang, sesekali melirik Yena yang duduk di sampingnya, senyum tak pernah lepas dari bibirnya. Yena masih bertanya-tanya dalam hati — ke mana sebenarnya mereka akan pergi? Dan kenapa Juvan terlihat begitu gugup namun bersemangat?
"Juvan, kita mau ke mana?" tanyanya akhirnya, penasaran.
Juvan tersenyum misterius, lalu menjawab lembut, "Ke tempat yang... semoga bikin Kakak merasa paling spesial malam ini."
Mobil itu akhirnya berhenti di sebuah taman yang tenang. Sebelum turun, Juvan mengambil selembar kain lembut dan tersenyum ke arah Yena.
"Sayang, sebelum turun, kamu tutup matamu dulu ya," pintanya lembut.
"Tutup mata? Emang ada apa sih?" tanya Yena penasaran.
"Nanti kamu juga bakalan tau kok," jawab Juvan misterius.
Ia pun mengikat kain itu pelan di mata Yena, lalu lebih dulu turun dari mobil dan membukakan pintu untuk kekasihnya. Tangannya menggenggam tangan Yena dengan lembut dan hati-hati, menuntunnya melangkah masuk ke taman itu. Siang tadi, Juvan sudah menyewa taman ini khusus untuk malam ini saja — dihiasi lampu-lampu kelap-kelip yang berkelap-kelip cantik di pepohonan, satu meja kecil dengan dua kursi, di atasnya kue ulang tahun yang sangat cantik, minuman, makanan lezat, dan di salah satu kursi tergeletak buket bunga besar berwarna putih — warna kesukaan Yena.
"Kamu sudah siap?" tanya Juvan pelan.
Yena mengangguk pelan. Juvan pun melepas ikatan kain itu. Yena perlahan membuka matanya, dan seketika matanya membelalak tak percaya.
"Happy birthday, sayangku!" ucap Juvan dengan senyum manisnya, lesung pipinya terlihat jelas membuat wajahnya semakin tampan di bawah cahaya lampu taman.
"Ka... kamu tau hari ini ulang tahunku?" Yena benar-benar kaget, matanya berkaca-kaca.
"Iya, Sayang. Kemarin Kenzo yang bilang ke aku," jawab Juvan lembut. Ia lalu mengambil buket bunga besar itu dan memberikannya pada Yena. "Kamu suka warna putih kan? Makanya aku belikan bunga warna putih ini."
Mendengar itu, Yena terdiam sejenak. Ingatannya melayang ke masa lalu — dulu Arga selalu memberinya bunga putih setiap ulang tahun. Namun kali ini, rasanya berbeda. Bunga dari Juvan terasa lebih tulus, lebih hangat.
"Kenapa, Sayang? Kamu kurang suka ya sama bunganya? Maaf ya, besok aku beliin yang baru lagi ya," Juvan tampak cemas.
"Enggak, aku suka kok! Suka banget! Makasih ya," Yena memeluk buket itu erat, senyumnya kembali merekah.
"Kalau gitu ayo, tiup lilin dulu. Jangan lupa sebelum tiup lilin, make a wish dulu ya."
Yena memejamkan mata sejenak, menyusun harapannya, lalu meniup lilin itu pelan hingga padam. Juvan yang duduk di hadapannya lalu berdiri, memindahkan kursinya ke samping Yena, dan duduk di sebelah gadis itu. Yena memotong sedikit kue, lalu menyuapkannya ke mulut Juvan. Begitu juga Juvan, memotong sedikit kue dan menyuapkannya ke Yena.
"Kuenya manis banget... tapi lebih manis senyum kamu," goda Juvan sambil tersenyum jahil.
Yena tertawa renyah. "Makin hari pacarku ini makin pintar aja ngegombal ya." Juvan tersenyum malu hingga pipinya memerah.
"Sayang, aku ada hadiah buat kamu," ucap Juvan tiba-tiba sambil mengambil sebuah kotak putih dari samping meja. "Ini buat kamu."
"Ini apa?" tanya Yena penasaran.
"Coba deh kamu buka."
Saat membuka kotak itu, mata Yena terbelalak kaget — di dalamnya melingkar sebuah gelang perak cantik dengan batu kristal yang berkilau mewah.
"Sayang... ini..."
"Itu buat kamu. Suka gak?"
"Tapi Juvan... ini pasti mahal banget..."
"Gak mahal kok, Sayang. Kalau untuk kamu, di dunia ini gak ada yang mahal." Suaranya begitu tulus dan tegas. "Sini, biar aku pasangin gelangnya."
Yena mengulurkan tangannya. Juvan mengambil tangan kanan kekasihnya dengan lembut, memasangkan gelang itu perlahan di pergelangan tangan Yena. "Wahh... ternyata pas banget di tangan kamu," ucapnya bahagia sambil tersenyum lebar.
Juvan lalu menggenggam erat tangan Yena, menatapnya dalam-dalam dengan penuh kasih sayang.
"Sayang, usia kamu udah bertambah satu tahun. Semoga kamu sehat terus, bahagia selalu, dipertemukan dengan orang-orang baik. Dan yang pasti... bertambahnya usia kamu, bertambah juga rasa sayangku padamu. Semoga kita selalu bersama... selamanya. Aku cinta kamu."
Air mata bahagia jatuh membasahi pipi Yena. Ia tak mampu berkata-kata, hanya langsung memeluk Juvan erat-erat, menyandarkan kepalanya di bahu remaja itu.
"Makasih... makasih banyak, Juvan. Ini ulang tahun terindah yang pernah aku rasakan. Aku juga cinta kamu... sangat cinta."
Malam itu, di bawah cahaya lampu taman yang berkelap-kelip, mereka berjanji satu sama lain — untuk selalu bersama, apa pun yang terjadi.
Juvan mengusap lembut kepala Yena dengan penuh kasih sayang.
"Udah, jangan nangis lagi ya. Nanti cantiknya hilang," goda Juvan pelan.
Yena mendongak sedikit, menatapnya dengan mata yang masih berkaca-kaca. "Jadi maksud kamu, kalau nangis gini mukaku jadi jelek?"
Juvan tersenyum lembut, matanya memancarkan ketulusan. "Aku cuma bercanda, Sayang. Di mataku, Kamu tetap paling cantik, kapan pun dan bagaimana pun."
Yena tersenyum mendengar itu, lalu menggenggam erat pergelangan tangan Juvan dan menyandarkan kepalanya di bahu kekasihnya dengan nyaman.
"Aku pengen hubungan kita terus seperti ini... dan aku harap suatu saat kamu gak akan bosan sama aku," ucapnya pelan, sedikit ragu.
Juvan langsung mengeratkan pelukannya, menatap Yena lekat-lekat. "Sayang, jangan bilang gitu. Aku gak akan pernah bosan sama Kamu. Aku mau terus-terusan sama Kamu— malam ini, besok, dan seterusnya... sampai maut memisahkan kita."
"Kak, aku udah janji sama diri aku sendiri. Aku akan terus bareng Kakak, buat Kakak bahagia, dan aku gak akan biarin Kakak bersedih dan merasa kesepian."batin Juvan dengan tekad yang bulat.
Yena perlahan melepaskan genggaman tangannya, lalu mengusap sisa air mata yang masih menempel di pipinya.
"Kamu makin hari makin ada perubahan ya," ucapnya tiba-tiba sambil tersenyum tipis.
"Perubahan apa?" tanya Juvan bingung, kepalanya sedikit miring.
Yena tertawa pelan. "Kamu yang dulu malu-malu banget buat panggil aku 'sayang', sekarang udah pro juga ya haha."
Pipi Juvan langsung memerah malu, ia menggaruk belakang lehernya yang tak gatal. "Hehe... awalnya emang gak terbiasa. Tapi lama-lama jadi terbiasa... apalagi kalau buat Kamu, rasanya gampang banget keluar kata itu."
Suasana hening sejenak, hangat dan damai. Lampu-lampu kelap-kelip di sekitar mereka seolah ikut tersenyum melihat kebahagiaan dua orang itu.
"Sayang, udah malam banget, mau pulang sekarang?" tanya Juvan lembut, matanya menatap lekat wajah kekasihnya.
Yena menggelengkan kepala pelan, semakin mendekatkan dirinya. "Aku belum mau pulang... aku mau masih sama kamu sebentar lagi. Gak apa-apa ya?"
Juvan tersenyum hangat, lalu mengeratkan genggaman tangan mereka. "Iya, gak apa-apa kok. Justru aku senang banget bisa berlama-lama sama Kamu."
Yena kembali menyandarkan kepalanya di bahu Juvan, merasa begitu tenang dan nyaman di sana. Siapa sangka, remaja yang usianya jauh lebih muda darinya bisa membuatnya merasa seaman dan senyaman ini — selalu memberi perhatian, selalu ada, dan tak pernah lelah memperjuangkannya. Tangan mereka masih saling bertaut erat, seolah tak ingin terpisah walau sedetik pun. Yena menikmati setiap detik momen itu, merasakan kehangatan yang menjalar dari genggaman tangan itu ke seluruh tubuhnya. Begitu juga Juvan, diam-diam berdoa agar waktu berhenti berputar, agar momen damai ini tak berakhir.
Angin malam berhembus lembut, membawa aroma bunga melati dari taman itu. Lampu-lampu kelap-kelip di sekitar mereka seolah ikut menjaga kehangatan dua hati yang sedang saling mengisi. Tak ada yang perlu dibicarakan, cukup berdampingan seperti ini sudah lebih dari cukup.
Namun perlahan, jam di pergelangan tangan Yena menunjukkan pukul 22:00. Ia menghela napas pelan, lalu mendongak menatap Juvan.
"Juvan... ayo pulang," ucapnya pelan, sedikit berat hati namun tahu harus begitu.
Juvan mengangguk paham, meski matanya juga menyiratkan hal yang sama — tak ingin berpisah. "Oke. Ayo, aku antar pulang."
Ia membantu Yena berdiri, merapikan kain baju kekasihnya dengan lembut, lalu menggenggam tangan itu kembali sembari berjalan menuju mobil. Sepanjang jalan menuju rumah Yena, tak banyak kata yang terucap, tapi kehangatan itu tak pernah pudar. Tangan mereka tetap saling bertaut, dan sesekali Juvan melirik Yena dengan senyum yang tak pernah hilang.
Sesampainya di depan rumah Yena, mobil berhenti pelan di halaman. Juvan lebih dulu turun, lalu membukakan pintu untuk Yena.
"Sudah sampai, sayang," ucapnya lembut.
Yena turun, tapi tak langsung masuk. Ia berdiri di sana, menatap Juvan di bawah cahaya lampu. "Makasih ya, sayang.... untuk semuanya. Malam ini benar-benar ulang tahun terbaik yang pernah aku rasakan."
Juvan tersenyum, lalu mengusap pelan puncak kepala Yena. "Sama-sama, Sayang. Selamat ulang tahun sekali lagi. Istirahat yang cukup ya, jangan begadang ya. "
Yena mengangguk, lalu mendekat dan memeluk Juvan erat sekali, seolah tak ingin melepaskan. "Kamu juga hati-hati di jalan ya... makasih udah bikin aku bahagia."
"Aku yang berterimakasih,karna kamu Udah mau jadi bagian dari hidupku," balas Juvan lembut, membalas pelukan itu sebelum melepaskannya perlahan. "Aku masuk dulu ya"
Yena melangkah mundur sedikit, masih menatapnya. "Hati-hati ya... sampai rumah kabarin aku."
Juvan mengangguk pelan.
Perlahan Yena berbalik dan melangkah menuju pintu rumah, sesekali menoleh ke belakang. Dan Juvan tetap berdiri di sana, memastikan pintu terbuka dan Yena masuk ke dalam, sebelum akhirnya ia kembali ke mobil dengan senyum bahagia di bibirnya — karena malam itu, ia berhasil membuat orang yang ia cintai merasa berharga.