“Dia cuma budak. Dia harus ngerasain gimana susahnya hidup kalau nggak nurut sama gue.”~Reja Alfarizi Bagaskara
Celin Amara Kusuma tak pernah menyangka utang ayahnya akan menyeretnya ke dalam keluarga Bagaskara—bahkan membuat hidupnya terikat pada Reja, pemuda arogan yang menganggapnya hanya sebagai jaminan.
“Nggak akan ada cinta di sini, Celin. Cuma ada gue sebagai tuan lo.”
Bagi Reja, Celin adalah hukuman atas kebebasan yang dirampas ayahnya. Namun semakin ia berusaha menghancurkan gadis itu, semakin sulit ia mengabaikan keberanian dan keteguhan Celin.
Ketika kebencian perlahan berubah menjadi rasa yang tak bisa dijelaskan, siapa sebenarnya yang akan menjadi babu dari perasaan mereka sendiri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
cuma Alat?..
Cukup lama Reja berdiri mematung di sana, hanya memperhatikan Celin yang masih terjebak dalam lamunannya. Sampai akhirnya, Celin menyadari keberadaan seseorang. Ia tersentak pelan dan menoleh.
Mata mereka bertemu. Manik mata cokelat Celin yang sayu bertemu dengan tatapan tajam dan intens milik Reja. Tidak ada kata-kata. Hanya ada keheningan yang menyesakkan di antara mereka.
Selama beberapa detik, waktu seolah berhenti. Reja bisa melihat kesedihan yang mendalam di mata Celin, sementara Celin melihat keangkuhan Reja yang sedikit goyah.
Celin adalah yang pertama memutuskan kontak mata itu. Ia menunduk, merapikan gaunnya, dan berdiri dengan kaku. Suasana seketika menjadi sangat canggung, hingga oksigen di ruangan itu terasa menipis.
Reja berdeham keras, mencoba menguasai dirinya kembali. Tanpa sepatah kata pun, ia memutar tubuhnya dan berjalan lebar menuju pintu depan, kunci mobil di genggamannya berbunyi gemerincing.
Celin hanya bisa menghela napas, mengikuti langkah lebar Reja dari belakang menuju mobil. Di bawah langit malam yang mulai gelap, mereka berdua berangkat menuju rumah utama Adrian membawa rahasia, dendam, dan kecemasan yang tersembunyi di balik penampilan mereka yang terlihat sempurna.
Di dalam mobil, keheningan terasa begitu pekat. Reja fokus menyetir dengan kecepatan di atas rata-rata, sementara Celin hanya menyandarkan kepalanya di kaca jendela, menatap lampu-lampu jalanan yang kabur karena kecepatan mobil.
Reja sesekali melirik ke arah Celin melalui spion tengah, namun setiap kali Celin bergerak sedikit, Reja langsung membuang muka ke arah jalanan.
"Jangan pasang muka kayak orang mau mati," celetuk Reja tiba-tiba, memecah kesunyian dengan nada kasar yang dipaksakan untuk menutupi kecanggungannya. "Lo mau Papa curiga?"
Celin tidak menoleh. "Gue bakal lakuin bagian gue. Lo tenang aja."
Begitu sampai di kediaman utama Adrian, suasana megah langsung menyambut mereka. Pelayan membukakan pintu mobil, dan Reja secara otomatis mengulurkan lengannya.
Celin ragu sejenak, namun ia ingat ancaman Reja. Ia menyambut lengan itu, berjalan berdampingan masuk ke dalam ruang makan mewah.
Adrian sudah menunggu di ujung meja panjang. Ia tersenyum lebar saat melihat pasangan itu masuk.
"Ah, kalian datang tepat waktu! Silakan duduk," sambut Adrian. Matanya beralih ke Celin dan binar kekaguman muncul di sana. "Celin, kamu terlihat sangat luar biasa malam ini. Reja, kamu beruntung memiliki istri yang tidak hanya cerdas, tapi juga anggun dan cantik."
Reja hanya tersenyum tipis, sebuah senyum formalitas yang sempurna. "Tentu, Pa."
Makan malam dimulai dengan hidangan pembuka yang mewah, namun bagi Celin, makanan itu terasa seperti pasir di mulutnya. Pikirannya terus tertuju pada ponselnya yang disita Reja. Apakah ada telepon dari rumah sakit?
"Tadi sore, Papa baru saja menandatangani surat akhir akuisisi perusahaan Gunawan," ujar Adrian sambil memotong steaknya.
"Besok, semua aset mereka resmi menjadi milik Bagaskara Group. Dan itu semua berkat analisis data dari Celin."
Adrian menatap Celin dengan intens. "Bagaimana menurutmu, Celin? Apa ada saran untuk langkah pertama kita di perusahaan itu?"
Celin teringat janjinya pada Reja untuk tidak bicara kecuali diizinkan. Ia melirik Reja di sampingnya. Reja memberikan anggukan kecil yang hampir tak terlihat, seolah memberi izin panggung untuknya.
"Celin rasa..." Celin berdeham, mencoba menstabilkan suaranya. "Langkah pertama adalah restrukturisasi total. Ada banyak kebocoran di manajemen lama. Jika kita tidak membersihkannya sekarang, mereka akan menjadi parasit bagi Bagaskara Group."
"Tepat sekali!" Adrian tertawa puas. "Reja, lihat ini. Kamu harus banyak belajar dari istrimu. Besok, Papa ingin kamu mulai masuk ke kantor. Dan Celin, Papa ingin kamu mendampingi Reja secara resmi sebagai konsultan pribadinya di sana."
Reja tersedak minumannya. Mendampingi secara resmi? Itu artinya ia akan terus diawasi oleh Celin bahkan di jam kerja.
Suasana di meja makan yang megah itu terasa begitu kaku, meski hidangan kelas atas tersaji dengan sempurna. Di sana, tidak hanya ada Adrian dan pasangan muda itu, tetapi juga Livia, istri Adrian yang sejak awal duduk dengan punggung tegak dan tatapan yang sedingin es.
Livia menggerakkan pisau dan garpunya dengan anggun, namun matanya terus melirik ke arah Celin. Ia membenci kenyataan bahwa gadis yang ia anggap anak peminjam hutang ini sekarang duduk satu meja dengannya sebagai menantu.
Namun, ia tidak bisa mengelak bahwa analisis Celin-lah yang menyelamatkan aset suaminya dari kerugian besar.
"Lihat ini, Livia," ucap Adrian sambil mengangkat gelas anggurnya ke arah Celin. "Gadis ini punya insting yang luar biasa. Kalau bukan karena ketelitian Celin melihat celah di laporan Gunawan, mungkin kita sudah membuang miliaran rupiah untuk perusahaan rongsokan itu."
Celin hanya menunduk dalam, mencoba tetap terlihat tenang. "Celin hanya melakukan apa yang seharusnya Celin lakukan, Pa."
"Jangan rendah hati. Reja, kamu harusnya malu," lanjut Adrian, menatap putranya dengan nada membandingkan. "Kamu sudah bertahun-tahun Papa persiapkan, tapi ketelitianmu masih kalah jauh dari Celin yang baru beberapa bulan mengenal bisnis ini."
Reja mengepalkan tangannya di bawah meja. Rasa lapar yang ia rasakan tadi pagi berganti menjadi rasa mual akibat rasa muak. Setiap pujian untuk Celin terasa seperti tamparan bagi harga dirinya.
Di matanya, Celin bukan lagi sekadar beban, tapi ancaman yang mulai menggeser posisinya di mata sang Papa.
Livia akhirnya meletakkan garpunya dengan denting yang cukup keras. "Sebenarnya anak Papa itu siapa? Reja atau Celin?" tanyanya dengan nada sinis yang tajam.
"Jangan terlalu memuji orang berlebihan, Pa. Nanti dia besar kepala dan lupa daratan. Kita belum tahu apa motivasi sebenarnya dia membantu kita."
Reja menyeringai tipis, merasa mendapat pembelaan dari Mamanya. "Benar, Pa. Mungkin dia cuma lagi beruntung."
Setelah acara makan malam yang mencekam itu berakhir, Livia berdiri dan menatap Celin. "Celin, ikut saya ke taman belakang. Ada hal yang perlu kita bicarakan antar perempuan."
Reja bangkit, mengikuti mereka dari jarak yang cukup dekat, ingin melihat pertunjukan apa yang akan diberikan Mamanya untuk ular kecil itu.
Di taman belakang yang sunyi, Livia berbalik dan menatap Celin dengan kebencian yang sudah tidak dibendung lagi.
"Kamu pikir kamu siapa, hah?" desis Livia. "Kamu pikir dengan sedikit bantuan data itu, kamu bisa mengambil hati suami saya dan menggeser posisi anak saya? Kamu itu cuma alat, Celin. Jangan pernah bermimpi untuk jadi ratu di rumah ini."
Bersambung...