Indonesia
NovelToon NovelToon
Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Hadiah Terakhir Untuk Suami Dan Keluarganya

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Identitas Tersembunyi / Penyesalan Suami
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: Asrial

Dianggap tak berguna dan diperlakukan seperti pembantu, Laras akhirnya melancarkan pembalasan manis pada suami dan keluarga mertuanya.

Selama tiga tahun, mereka tidak pernah tahu bahwa fasilitas mewah yang mereka nikmati sebenarnya berasal dari bisnis rahasia Laras.

Malam saat mereka pulang merayakan kenaikan jabatan Bagas, Laras sudah menarik seluruh asetnya, menyisakan rumah kosong, gunung utang, dan surat cerai yang siap menghancurkan kesombongan mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Asrial, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pemotongan Gaji Bagas

Keheningan malam di dalam kontrakan itu tidak bertahan lama. Fajar belum sepenuhnya menyingsing ketika suara deru mesin truk besar memecah kesunyian gang sempit yang biasanya tenang. Bagas terbangun dengan kepala berdenyut, sementara Ibu Melati dan Siska masih terkapar di lantai beralas tikar, napas mereka terdengar tidak beraturan karena kelelahan emosional.

Bagas bangkit perlahan, menyibak tirai jendela yang sudah berdebu. Matanya terbelalak melihat sebuah truk pengangkut barang berhenti di depan mulut gang, diikuti oleh dua pria berseragam petugas pengadilan yang turun dengan langkah tegap. Jantung Bagas kembali berdegup kencang, kali ini lebih cepat dari sebelumnya.

"Bangun! Mereka datang lagi!" seru Bagas sambil mengguncang bahu ibunya dengan kasar.

Ibu Melati tersentak, matanya terbuka lebar dengan kilatan ketakutan yang masih kentara. Ia segera memeluk tasnya yang kosong, seolah benda itu adalah nyawanya.

"Siapa lagi yang datang, Bagas? Apa lagi yang mereka mau? Ibu tidak punya apa-apa lagi!" teriak Ibu Melati dengan suara serak yang memilukan.

Siska ikut terjaga, wajahnya terlihat sembab dan pucat pasi. Ia merangkak mendekati pintu, mengintip melalui celah sempit di kayu pintu yang mulai lapuk.

"Ada truk besar di depan, Bu. Mereka membawa orang-orang berseragam. Apa mereka mau mengusir kita sekarang juga?" tanya Siska dengan suara bergetar hebat.

Bagas tidak menjawab, ia segera membuka pintu kontrakan dan melangkah keluar menuju lorong gang yang mulai dipadati warga penasaran. Pria berjas dari kantor hukum kemarin sudah berdiri di sana, didampingi oleh beberapa pria bertubuh kekar. Mereka membawa tumpukan dokumen yang tampak sangat resmi.

"Selamat pagi, Pak Bagas. Sesuai dengan perintah eksekusi yang sudah disetujui pengadilan, hari ini kami akan melakukan pembersihan total atas sisa aset yang masih terdaftar atas nama Ibu Laras," ucap pria berjas itu dengan nada sedingin es.

Bagas menelan ludah, tenggorokannya terasa tercekat. Ia berusaha menahan emosinya, meski tangannya gemetar hebat saat mengepal di sisi tubuhnya.

"Kalian tidak bisa melakukan ini! Kami sudah tidak punya tempat tinggal lain lagi. Apakah kalian tidak punya rasa kemanusiaan sedikit pun?" teriak Bagas, suaranya memantul di dinding-dinding gang yang sempit.

Pria itu hanya menatap Bagas dengan tatapan bosan, seolah teriakan itu adalah kebisingan yang biasa ia dengar setiap hari. Ia memberi isyarat kepada petugas untuk mulai memasuki kontrakan tersebut tanpa ragu.

"Hukum tidak mengenal rasa kasihan, Pak Bagas. Hukum hanya mengenal kebenaran hak milik. Silakan menepi agar pekerjaan kami tidak terhambat," jawab pria itu tegas.

Ibu Melati segera berdiri di depan pintu, merentangkan kedua tangannya seolah ingin menghalangi jalan masuk para petugas tersebut. Wajahnya merah padam karena amarah yang bercampur dengan rasa tidak berdaya.

"Jangan masuk! Ini rumah saya! Saya sudah membayar uang sewanya, kalian tidak punya hak untuk mengusir kami!" teriak Ibu Melati dengan suara melengking yang memekakkan telinga.

Salah satu petugas menatap Ibu Melati dengan dingin, lalu menunjukkan sebuah surat perintah yang ditandatangani oleh aparat setempat.

"Kami memiliki surat tugas resmi dari pihak berwenang. Jika Ibu menghalangi jalannya eksekusi, kami terpaksa harus menggunakan tindakan tegas sesuai prosedur hukum yang berlaku," ancam petugas tersebut dengan suara rendah yang mengintimidasi.

Siska mulai menangis histeris, ia terduduk di lantai sambil memegangi kakinya sendiri. Ia merasa dunianya benar-benar runtuh, hancur berkeping-keping tanpa ada lagi yang tersisa untuk dibanggakan.

"Kita benar-benar sudah berakhir, Bu. Laras benar-benar ingin kita mati di jalanan," rintih Siska di antara isak tangisnya yang sesenggukan.

Bagas menatap ke arah petugas yang mulai memindahkan beberapa barang milik keluarga mereka ke luar kontrakan. Piring plastik, panci tua, dan tumpukan baju kotor mulai dilempar begitu saja ke depan gang, mengundang bisik-bisik dari para tetangga yang berkumpul di pinggir jalan.

"Tolong, Pak. Beri kami waktu beberapa jam saja untuk mencari tempat berteduh. Kami mohon," ucap Bagas, suaranya kini memohon dengan sangat rendah.

Pria berjas itu menggelengkan kepalanya dengan tegas. Ia tidak tergerak oleh permohonan yang terdengar putus asa itu.

"Waktu tenggat sudah habis sejak kemarin malam, Pak Bagas. Saya hanya menjalankan perintah untuk segera mengosongkan tempat ini," balas pria itu tanpa perasaan.

Ibu Melati akhirnya mundur, tubuhnya lunglai saat ia melihat perabotan terakhirnya diseret keluar oleh para pria kekar tersebut. Ia merasa dikhianati oleh nasibnya sendiri, merasa dunia begitu kejam terhadap dirinya yang dulu selalu merasa berada di atas segalanya.

"Anak durhaka itu! Dia pasti tertawa sekarang melihat kita menderita seperti ini!" maki Ibu Melati dengan nada penuh kebencian yang mendalam.

Siska bangkit berdiri dengan susah payah, ia memunguti beberapa potong baju yang berserakan di debu jalanan. Setiap helai kain yang ia sentuh terasa seperti duri yang menusuk harga dirinya.

"Jangan sebut namanya lagi, Bu. Kita sudah tidak punya apa-apa lagi untuk dijual atau digadaikan," sahut Siska dengan nada datar, suaranya kosong dan tanpa emosi.

Bagas hanya berdiri mematung di samping kontrakan, menatap barang-barangnya yang kini menumpuk seperti sampah di bahu jalan. Tidak ada lagi rasa marah yang tersisa, hanya kekosongan yang sangat nyata memenuhi relung hatinya.

Ia melihat ke arah langit yang mulai terang, merasa bahwa dunia tampak asing dan menakutkan bagi mereka. Tidak ada lagi apartemen mewah, tidak ada lagi mobil, bahkan tidak ada lagi tempat untuk sekadar meletakkan kepala saat malam tiba.

Para petugas pengadilan akhirnya menyelesaikan tugas mereka. Mereka memastikan kontrakan itu sudah benar-benar kosong, bahkan menyapu lantai hingga tidak ada satu pun debu yang tersisa dari milik keluarga Bagas.

"Terima kasih atas kerja samanya. Mohon untuk tidak kembali ke properti ini karena statusnya kini sudah disegel kembali," ujar pria berjas itu sebelum berbalik pergi meninggalkan mereka bertiga.

Mobil truk dan kendaraan petugas perlahan melaju pergi, meninggalkan keluarga tersebut di depan kontrakan yang sudah tertutup rapat dengan garis segel resmi. Mereka terdiam di tengah gang, dikelilingi oleh tatapan sinis dan kasihan dari para warga sekitar.

Bagas merasakan napasnya semakin berat. Ia menoleh ke arah Ibu Melati dan Siska, menatap mereka satu per satu dengan sorot mata yang penuh dengan keputusasaan.

"Kita mau ke mana sekarang, Bagas? Katakan sesuatu!" bentak Ibu Melati sambil mengguncang lengan putranya dengan kasar.

Bagas melepaskan pegangan ibunya dengan gerakan pelan. Ia tidak lagi memiliki jawaban, tidak lagi memiliki rencana, bahkan tidak punya keberanian untuk memikirkan hari esok.

"Entahlah, Bu. Kita hanya perlu berjalan ke arah mana pun yang masih tersisa," jawab Bagas dengan suara yang nyaris tak terdengar.

Mereka pun mulai melangkah pergi menjauh dari kontrakan sempit itu, menyeret sisa-sisa barang yang tersisa di dalam kantong plastik hitam besar. Di bawah terik matahari yang mulai naik, mereka bertiga hanyalah bayang-bayang dari masa lalu yang kini benar-benar terhapus dari kehidupan kota.

Laras tidak ada di sana untuk melihatnya, namun Bagas tahu, setiap langkah berat yang ia ambil adalah konsekuensi dari kesombongan yang dulu pernah mereka banggakan. Kehancuran itu sempurna, menyisakan mereka sendirian di tengah keramaian kota yang tak peduli pada nasib mereka lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!