Silvana, seorang dokter dengan karir yang sangat bagus, terpaksa di kirim ke Wilayah Konflik karena menolak cinta dari putra salah satu Petinggi di Rumah Sakit tempatnya bekerja.
Tentu saja Silvana menolak, karena Pria itu tak hanya meminta cintanya, namun juga hampir melecehkannya.
Karena tak ingin berada di lingkungan toxic, ia pun sama sekali tak keberatan ketika di kirim ke Wilayah Konflik yang ada di Negaranya.
Disana, ia bekerja di sebuah Klinik Militer. Selain menangani Prajurit yang terluka, ia juga secara rutin datang ke desa-desa sekitar Markas Militer untuk melakukan pemeriksaan pada warga desa.
Siapa sangka, jika di tempat 'pengasingan' itulah ia justru bertemu dengan pria yang berhasil meluluhkan hatinya.
Bagaimana kisah cinta Silvana?
Apakah perjalanan cintanya berjalan dengan mulus?
Siapakah sosok pria yang berhasil meluluhkan hatinya?
Simak kisah dan keseruannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fernanda Syafira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
14. Distribusi Bantuan
Pagi-pagi sekali, Komandan Kaivan sudah berada di ruang penyimpanan bantuan bersama anggota TNI yang ada di Batalyon.
Mereka bersama-sama menyiapkan bahan makanan yang akan di distribusikan. Bahan makanan yang kemarin sudah di kemas oleh para anggota, kemudian di bawa dengan menggunakan mobil pickup milik Markas Batalyon.
Mobil itu mengantarkan bantuan ke sebuah lapangan yang berada di antara dua desa. Beberapa warga yang sudah mendapat kupon pembagian bahan makanan pun tampak berkerumun di lapangan itu.
Silvana turut datang kesana bersama Komandan Kaivan dan juga Miko serta Riki, dua orang yang memang selalu setia menemani Komandannya.
"Saya takut bantuan kloter pertama ini tidak cukup, Komandan." Ujar Silvana saat melihat banyaknya warga yang berkerumun.
"Warga sudah di bagikan kupon untuk mengambil bantuan oleh Kepala Desa masing-masing. Harusnya, bantuan itu cukup." Ujar Komandan Kaivan dengan yakin.
Silvana hanya bisa menghela nafas. Meski sudah mendengar penjelasan dari Komandan Kaivan, namun hatinya masih terasa resah.
Tak hanya pembagian bahan pangan, hari itu juga mereka melakukan pelayanan kesehatan untuk warga desa yang ingin memeriksakan kondisinya.
Meski tak semua orang mau memeriksakan kesehatan, namun Sisil bersyukur karena lebih dari sebagian orang yang datang mau memeriksakan kondisi kesehatan mereka.
Komandan Kaivan yang sedang mengawasi kegiatan, tampak sesekali mencuri pandang ke arah Dokter Silvana.
Dokter cantik itu tampak serius memeriksa kondisi pasiennya. Sesekali ia juga tersenyum dan tertawa bersama pasien juga dua asistennya, Maria dan Jopi yang memang suka bercanda.
Saat melihat Silvana tersenyum dan tertawa, tanpa sadar Komandan Kaivan pun turut mengulas senyuman tipis. Wajah cantik dan teduh Silvana, entah mengapa bisa menghibur hatinya yang selama ini sepertu membatu.
"Bu Dokter cantik ya, Ndan. Sampe bisa bikin Komandan tersenyum-senyum." Ujar Miko.
"Iya." Jawab Komandan Kaivan tanpa sadar. Sedetik kemudian, ia langsung mengatur ekspresinya sambil menatap tajam ke arah Miko yang menertawainya.
"Ya Tuhan! Lucu sekali Komandan ini kalau naksir perempuan. Bikin gemas saja." Kata Miko yang tertawa sambil mencubit pipi Komandannya.
"Kurang ajar sekali kamu, Miko! Sudah meledek saya, kamu tambah dengan mencubit pipi saya!" Omel Komandan Kaivan.
"Komandan terlalu menggemaskan. Saya tidak tahan kalau tidak menggoda Komandan." Sahut Miko.
"Dasar Ajudan laknat!" Gerutu Komandan Kaivan yang sudah berancang-ancang untuk menghajar Miko.
"Ampuun! Komandan!" Seru Miko sambil berlari menghindari Komandannya.
Belum selesai kegiatan di lapangan, Komandan Kaivan kembali melihat ke arah Sisil yang sedang membereskan tas kerjanya. Ia juga memasukkan beberapa obat-obatan ke dalam tas kerja itu.
Sisil kemudian berjalan ke arah Komandan Kaivan setelah berpamitan pada Maria dan Jopi yang masih memeriksa beberapa warga di sana.
Komandan Kaivan yang melihat gelagat kedatangan Dokter Sisil, langsung membuang pandangan ke arah lain, seolah-olah sedang sibuk memantau kegiatan lain di sana.
"Komandan." Panggil Dokter Sisil yang sudah berada di belakang Komandan Kaivan.
"Ya?" Jawab Komandan Kaivan yang kemudian memutar tubuhnya menghadap ke arah Silvana.
"Ada apa?" Tanya Komandan Kaivan.
"Saya mau mengunjungi Nenek yang kemarin saya kunjungi, boleh?" Tanya Dokter Sisil.
"Beliau butuh perawatan lanjutan. Lalu, di pos sudah ada Maria dan Jopi yang bisa menghandle warga yang tinggal sedikit." Kata Dokter Sisil.
"Silahkan. Biar kamu di antar salah satu anggota." Jawan Komandan Kaivan.
"Terima kasih, Ndan." Ucap Silvana sambil tersenyum ke arah Komandan Kaivan. Melihat senyuman Silvana, membuat Komandan Kaivan kembali salah tingkah.
Silvana kemudian di antar dengan salah satu anggota Batalyon menuju ke rumah si Nenek dengan menggunakan mobil yang tadi di pakai untuk membawa bantuan.
Andai jika Silvana pergi ketika giat ini selesai di laksanakan, sudah pasti Komandan Kaivan yang akan mengantarnya. Namun, saat ini Komandan Kaivan masih harus memantau giat yang mereka lakukan hingga selesai.
Sepanjang perjalanan, Silvana mengobrol banyak dengan anggota yang mengantarnya pria yang merupakan orang asli daerah tempatnya bekerja itu, memberitaukan banyak hal mengenai daerahnya, termasuk dengan akar masalah dari konflik yang terjadi.
"Jadi, sebagian orang di wilayah ini ingin mendapatkan kehidupan yang layak seperti orang-orang yang ada di wilayah lain. Maka dari itu, mereka melakukan pemberontakkan. Mereka juga bersengketa wilayah dengan pemerintah. Yang mereka tau, semua tanah yang ada di wilayah ini adalah tanah mereka, tidak ada tanah milik pemerintah." Kata Pria bernama Daniel itu.
"Jadi konflik dan pemberontakkan itu pecah karena hal itu?" Tanya Dokter Sisil yang di jawab anggukan oleh Daniel.
"Sebenarnya maksud mereka itu baik, Bu Dokter. Hanya saja cara mereka yang salah." Kata Daniel.
"Kami di sini juga selalu membantu untuk memperjuangkan kesejahteraan mereka semua. Tapi mau bagaimana lagi, pemerintahlah yang setengah-setengah dalam bertindak." Imbuhnya lagi.
Dokter Sisil hanya bisa mengangguk. Ia mengerti dengan situasinya. Para Pemberontak itu sebenarnya hanya ingin kehidupan yang layak dan adil untuk keturunan mereka selanjutnya. Hanya saja, Pemerintah di sana yang seolah menyepelekan keinginan masyarakat.
Saat sedang asyik mengobrol, tiba-tiba mereka di hadang oleh kerumunan orang yang membawa senjata tajam. Orang-orang itu tiba-tiba menghadang, hingga membuat Daniel menginjak pedal rem secara mendadak.
"Astaghfirullah!" Ucap Dokter Silvana saat mobil yang di tumpanginya berhenti mendadak hingga membuat dahinya terantuk di dashboard.
"Niel... Ini ada apa, Niel?" Tanya Dokter Silvana dengan panik ketika melihat lebih dari delapan orang mengacungkan senjata pada mereka.
"Bu Dokter sembunyi saja. Kunci pintu Bu Dokter." Ujar Daniel yang bergerak cepat mengunci semua pintu mobil yang ia kemudikan.
"Kamu jangan turun sendirian, Daniel! Berbahaya." Ujar Dokter Silvana sembari memegangi ujung baju Daniel agar Daniel tak nekat keluar dari mobil.
"Tak apa-apa, Bu Dokter. Saya ada pegang pistol." Ujar Daniel.
"Enggak, Niel! Kamu tetap di sini." Kata Dokter Silvana yang semakin erat memegangi ujung baju seragam Daniel.
Dokter Silvana pun menunduk untuk bersembunyi seperti perintah Daniel. Sementara itu, Daniel bersiaga dengan pistol yang ada di tangannya. Ia sangat ingin turun, namun Dokter Sisil memegangi ujung pakaiannya dengan erat.
Dengan tangan gemetar, Silvana meraih ponsel dan mencari nama Komandan Kaivan di ponselnya. Setelah ia menemukan nama Komandan Kaivan, Silvana segera menelfon nomor Komandannya.
Hingga tiga kali panggilan, barulah Komandan Kaivan mengangkat panggilan telfon dari Silvana. Sementara itu, orang-orang yang menghadang mulai memukuli mobil dan berusaha masuk ke dalam mobil sambil terus berteriak.
"Komandan..." Lirih Silvana dengan suara bergetar karena ketakutan.
"Ada apa, Sil?" Tanya Komandan Kaivan.
"Kami di cegat orang-orang bersenjata." Jawab Silvana yang berusaha menahan air mata karena rasa takut.
"Kalian dimana?" Tanya Komandan Kaivan. Suaranya terdengar mulai khawatir.
"Saya tidak tau, Komandan." Jawab Silvana dengan polosnya.
"Berikan ponselmu pada Daniel! Biar saya bicara dengan Daniel." Perintah Komandan Kaivan.
duh penasaran bin penisirin ini
Ayo komandan cpet datang...
jgn smpae ad prtumpahan darah y thor 😡😡😡
semangat untuk terus berkarya kak, selalu keren untuk ceritamu, semoga selalu diberi kesehatan agar selalu bisa berkarya 🫰
semangat Thor