Clyrine Elamora Rexander adalah putri manja pemilik Raxenswood Academy yang memilih menyembunyikan identitasnya dan menjalani kehidupan sebagai murid pemberontak yang gemar berkelahi demi melindungi mereka yang tertindas.
Namun, kehidupan palsunya mulai runtuh ketika ia berhadapan dengan Claire, saudari tirinya yang ternyata menyimpan sisi gelap, serta Jonathan Wright, pria yang ingin memanfaatkan perjodohan mereka untuk merebut Raxenswood.
Di tengah rahasia keluarga, pengkhianatan, dan ancaman yang semakin dekat, Clyrine harus berhenti bersembunyi dan menghadapi kenyataan bahwa menjadi pewaris Raxenswood berarti mempertaruhkan segalanya.
Sebab di balik semua kekacauan itu, ada seseorang yang diam-diam telah merencanakan semuanya dari balik bayangan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Xyfvxnyy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tiket Bioskop dan Dunia yang Asing
Hembusan udara sejuk beraroma vanila menyambut mereka begitu pintu kaca otomatis lobi mall terbuka lebar. Di lantai marmer mengkilap yang memantulkan deretan etalase butik internasional ternama, Damien masih menggenggam lembut pergelangan tangan Clyrine, menuntunnya melangkah dengan wibawa tenang yang menarik beberapa tatapan pengunjung lain.
Clyrine melirik deretan toko busana dan tas bermerek di lantai dasar. Sejujurnya, kepalanya masih terlalu berisik untuk diajak berkeliling memilih pakaian. Bayangan dua ciuman tanpa permisi di restoran tadi, rasa manis getir kopi hitam yang tertinggal di bibirnya, dan panggilan "aku-kamu" yang mendadak meluncur dari bibir pria itu membuat dadanya sesak oleh debaran tak menentu. Berkeliling di bawah terang lampu toko hanya akan memperjelas rona merah di wajahnya yang belum juga surut.
Ia butuh tempat yang gelap, bising, dan tidak menuntut mereka untuk saling menatap lurus.
Clyrine menahan langkahnya pelan, membuat tautan tangan mereka sedikit tertarik.
Damien menoleh, menatap gadis itu dengan tatapan bertanya. "Kenapa? Mau masuk ke toko yang mana dulu?"
Clyrine menggigit bibir bawahnya sejenak, lalu mendongak menatap rahang tegas pria di hadapannya. "Hmm... Kak, nonton aja dulu yuk. Belanjanya nanti aja pas udah sore."
Damien terdiam sejenak. Alisnya terangkat samar, matanya berkedip sekali seolah tengah mencerna permintaan yang terdengar ganjil di telinganya. Bagi seorang Damien Vance, hidupnya selama ini berputar di lingkaran yang sangat terukur: ruang kuliah fakultas bisnis, meja rapat kantor konsultan, perpustakaan riset, dan ring sasana tinju. Menghabiskan waktu dua jam hanya untuk duduk memandangi layar raksasa di bioskop bersama seseorang adalah hal yang tak pernah ada dalam jadwal kegiatannya sejak ia beranjak remaja.
"Nonton?" gumam Damien pelan, suaranya sedikit ragu—sesuatu yang teramat langka keluar dari bibir pria sedingin dirinya.
Clyrine mengerutkan kening, menangkap secercah kecanggungan dari ekspresi Damien. "Iya, bioskop di lantai empat. Masa Kakak nggak tahu bioskop?"
Damien berdeham pelan, menegakkan kerah kemejanya seraya memalingkan pandangan sejenak demi menutupi fakta bahwa ia memang belum pernah sekalipun menginjakkan kaki ke dalam bioskop komersial untuk menonton film rekreasi.
"Tahu," elak Damien datar, berusaha mengembalikan wibawa tenangnya. "Cuma... jarang. Terakhir kali waktu masih SD sama keluarga."
Mata Clyrine membelalak geli. Sebuah tawa kecil nyaris lolos dari bibirnya melihat sosok pria yang tadi begitu dominan dan angkuh di dalam mobil mendadak tampak kaku hanya karena urusan bioskop.
"Yaudah, mumpung di sini, kita nonton dulu," bujuk Clyrine, kini giliran dirinya yang sedikit menarik jemari Damien menuju eskalator. "Mau kan?"
Damien menghela napas pasrah, membiarkan dirinya ditarik oleh gadis itu menaiki eskalator kaca menuju lantai teratas. Kehangatan telapak tangan Clyrine yang kini menggenggam jemarinya secara sadar mengirimkan gelenyar hangat yang meredakan sisa-sisa ketegangannya sejak siang tadi.
"Hmm," gumam Damien singkat seraya melirik profil samping wajah Clyrine. "Mau film apa?"
Clyrine menoleh cepat, menyunggingkan senyuman menantang yang khas. "Action! Pokoknya yang ada tembak-tembakan, kejar-kejaran mobil, atau ledakan. Gue—maksudnya, aku lagi males nonton drama cinta-cintaan menye-menye yang bikin sakit kepala."
Sudut bibir Damien terangkat tipis mendengar slip panggilan dari gadis itu. Aku. Kata itu terdengar manis dan pas saat meluncur dari bibir Clyrine, jauh lebih baik daripada panggilan kasar yang biasa gadis itu gunakan saat mereka berdebat.
"Boleh," jawab Damien menyetujui tanpa banyak pertimbangan. "Pilih yang jam tayangnya paling dekat."
Lantai empat mall dipenuhi aroma semerbak jagung berondong karamel dan mentega hangat. Pendar lampu neon temaram berwarna ungu keemasan menghiasi lobi bioskop berkonsep premium tersebut. Karena hari masih menunjukkan awal siang di hari kerja, antrean di depan loket tiket tidak terlalu padat.
Damien berdiri di samping Clyrine di depan layar pemesanan mandiri berpanel sentuh. Layar menampilkan beberapa poster film laga luar negeri yang sedang tayang. Clyrine dengan lincah menunjuk sebuah film spionase dengan rating penonton dewasa yang menampilkan adegan baku tembak di poster utamanya.
"Yang ini aja, Kak! Mulainya sepuluh menit lagi di studio satu," tunjuk Clyrine antusias.
Damien melirik judulnya sekilas, lalu mengangguk patuh. "Pilih kursinya."
Clyrine menyentuh layar, memilih dua kursi di baris tengah yang posisinya paling nyaman untuk memandang layar. Namun sebelum Clyrine sempat merogoh sakunya, tangan Damien sudah lebih dulu terulur menempelkan kartu hitam tanpa batas miliknya ke mesin sensor pembayaran. Bunyi denting transaksi sukses berbunyi nyaring, disusul dua lembar tiket kertas yang keluar dari celah mesin.
"Duduknya jangan terlalu pinggir," gumam Damien seraya meraih tiket tersebut. Pandangannya kemudian beralih ke deretan stan makanan ringan di sebelah loket. "Mau popcorn?"
"Mau!" seru Clyrine tanpa ragu. "Yang rasa karamel campur keju ukuran besar, sama minumnya cola dingin."
"Siap, Tuan Putri," celetuk Damien dengan nada rendah yang terdengar begitu lembut, membuat semburat merah tipis kembali singgah di pipi Clyrine. Pria itu memesan paket camilan tersebut, menerima seember besar popcorn hangat dan dua minuman dingin, lalu menyerahkan wadah popcorn ke tangan Clyrine sementara ia memegang minumannya.
Saat petugas tiket merobek bagian tepi karcis mereka, pintu lorong studio satu terbuka. Hawa dingin penyejuk ruangan langsung menyelimuti kulit mereka, berpadu dengan keheningan lorong berkarpet tebal yang temaram.
Damien melangkah di samping Clyrine, menuntun gadis itu menaiki deretan anak tangga berlampu kecil menuju deretan kursi yang mereka pilih. Kursi beludru merah yang empuk menyambut mereka saat keduanya duduk berdampingan.
Studio masih cukup sepi, hanya ada beberapa pasang penonton lain di barisan paling atas yang duduk berjauhan. Layar raksasa di depan mereka masih memutar deretan cuplikan iklan dengan suara musik latar yang menggelegar halus.
Clyrine meletakkan wadah popcorn di antara sandaran tangan mereka, lalu menoleh menatap Damien yang tampak memperhatikan sekeliling ruangan dengan pandangan meneliti—seperti seorang konsultan keamanan yang tengah memeriksa denah darurat alih-alih seorang pemuda yang sedang berkencan santai.
"Kakak beneran kaku banget ya kalau di tempat kayak gini," bisik Clyrine terkekeh pelan, mengambil segenggam popcorn dan mengunyahnya renyah.
Damien menoleh, menatap Clyrine di bawah temaram pendar cahaya layar. Senyum tipis terukir di rahang tegasnya.
"Gue—aku terbiasa di tempat yang produktif, Cly," jawab Damien pelan, suaranya terdengar begitu dekat dan berat di antara kesunyian studio. "Bukan tempat gelap begini."
"Sesekali santai kenapa sih," dengus Clyrine seraya menyodorkan sebutir popcorn karamel ke arah bibir pria itu. "Nih, cobain. Enak tahu, jangan kaku-kaku banget kayak kanebo kering."
Damien menatap popcorn di jemari lentik gadis itu selama sedetik, lalu menatap lurus ke dalam manik mata oranye-tembaga Clyrine. Tanpa ragu, pria itu mencondongkan wajahnya sedikit dan menyambut popcorn tersebut langsung dari jari Clyrine, membiarkan bibir hangatnya sempat menyentuh lembut ujung telunjuk gadis itu.
Deg.
Sensasi sengatan listrik seketika menyengat jemari Clyrine, menjalar cepat ke seluruh pembuluh darahnya. Gadis itu buru-buru menarik tangannya, menelan ludah dengan susah payah seraya memalingkan wajah lurus ke layar yang mendadak menggelap total—menandakan film utama akan segera dimulai.
Damien mengunyah popcorn manis itu dengan santai, sudut bibirnya menyeringai puas melihat efek sentuhan kecilnya yang sukses membungkam sang gadis pembuat onar. Di dalam kegelapan studio yang dingin, pria itu menyandarkan punggungnya, lalu dengan tenang memindahkan tangan kirinya ke atas sandaran lengan, menyusupkan jemarinya di antara jemari Clyrine dan menggenggamnya erat di balik temaram cahaya film laga yang mulai meledak di layar depan.
"Jangan ajarin aku mesum ya, Kak!" bisik Clyrine galak bercampur panik, berusaha menarik jemarinya dari genggaman Damien di bawah sandaran tangan kursi bioskop. Namun, tautan jemari pria itu justru semakin mengunci erat, terasa hangat dan kokoh tanpa berniat melepasnya sedikit pun.
Damien menoleh, menatap wajah Clyrine yang diterangi pendar cahaya biru dari layar proyektor. Sudut bibirnya berkedut menahan senyum geli melihat rona merah yang masih tertinggal di pipi murid bimbingannya itu.
"Mau nikah muda?" celetuk Damien santai dengan intonasi baritonnya yang teramat tenang, sengaja memancing emosi gadis di sampingnya.
Mata Clyrine membelalak lebar. "Nggak!" tolaknya cepat tanpa ragu.
"Terus umur berapa?" kejar Damien lagi, nada suaranya terdengar begitu datar seolah sedang membahas jadwal les privat mingguan mereka.
"Diam!" semprot Clyrine setengah berbisik demi menahan volume suaranya agar tidak mengganggu penonton lain di baris atas. Gadis itu melotot kesal, menatap Damien dengan pandangan memperingatkan. "Nggak usah bahas-bahas nikah sama anak kecil! Fokus nonton sana!"
Damien terkekeh rendah, suara tawanya yang hangat teredam deru musik pembuka film laga di layar depan. Ibu jarinya bergerak perlahan mengusap punggung tangan Clyrine yang masih ia genggam erat. "Iya, iya, bercanda."
"Tonton tuh layarnya!" titah Clyrine lagi, membuang muka menghadap lurus ke depan, berusaha mati-matian menenangkan detak jantungnya yang bergemuruh liar di dalam dada.
"Iya," jawab Damien patuh.
Namun, alih-alih memusatkan perhatian pada adegan kejar-kejaran mobil dan rentetan tembakan di layar raksasa, pandangan Damien justru perlahan bergeser kembali ke samping.
Di dalam temaram cahaya studio bioskop, Damien memandangi profil wajah Clyrine dalam diam. Ia memperhatikan bagaimana alis gadis itu sesekali bertaut tegang saat tokoh utama di layar terpojok, bagaimana manik mata oranye-tembaganya memantulkan kilatan cahaya film, dan bagaimana helaian rambut kemerahannya jatuh lembut membingkai pipinya yang masih kemerahan.
Damien menarik napas dalam-dalam, lalu mengembuskannya perlahan dengan rasa sesak yang mendadak menghimpit rongga dadanya.
Sebentar lagi ia akan menghadapi sidang skripsi untuk menyelesaikan gelar sarjananya di bidang manajemen bisnis dan keuangan. Segala berkas pendaftarannya pun sudah disetujui; ia telah diterima di Harvard Business School di Boston, Amerika Serikat, untuk menempuh program Master of Business Administration (MBA). Kuliah magister di negeri Paman Sam itu umumnya memakan waktu selama dua tahun penuh.
Dua tahun. Jarak ribuan mil membelah samudra dan perbedaan zona waktu belasan jam.
Sebelum hari ini, rencana masa depannya selalu tersusun rapi, kaku, dan tanpa kompromi. Damien menganggap keberangkatannya ke Boston sebagai langkah logis untuk memegang kendali penuh atas konglomerasi keluarga Vance. Namun sekarang, saat jemarinya bertaut erat dengan jemari mungil gadis keras kepala berusia enam belas tahun di sampingnya, seluruh rencana matang itu mendadak terasa begitu berat.
Damien menatap bibir Clyrine yang beberapa saat lalu sempat ia sesap rasanya.
Ada rasa enggan yang teramat pekat mengakar di dasar hatinya. Ia tidak rela membayangkan harus pergi begitu jauh, meninggalkan gadis ini di Rexanswood Academy tanpa pengawasannya, tanpa bisa memastikan siapa saja pemuda seperti Adrian yang akan mendekat dan membuatnya tertawa lepas.
Genggaman tangan Damien tanpa sadar mengerat di atas pangkuan mereka, seolah berusaha menahan waktu agar tidak bergerak terlalu cepat membawa hari keberangkatannya tiba.