Indonesia
NovelToon NovelToon
Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Mata Dewa ; Jalan Sang Pangeran

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi / Reinkarnasi
Popularitas:2.1k
Nilai: 5
Nama Author: Irhab Hauzan

Mata Dewa: Jalan Sang Pangeran

Zhou Li, pangeran keempat Kerajaan Zhou yang lemah, tewas dicabik binatang buas di hutan terlarang—dan tubuhnya ditempati Zhou Chen, pemuda modern yang mati membaca buku di perpustakaan. Terjebak di istana asing, dikepung delapan saudara haus takhta, tanpa kekuatan atau sekutu, ia hanya ingin hidup tenang. Semua berubah saat Mata Dewa Analisis terbangun dalam dirinya, mampu menembus kelemahan, potensi, dan takdir tersembunyi, berdampingan dengan Kitab Langit Tanpa Akhir yang menyempurnakan setiap ilmu yang ia kuasai.

Dari mereka yang dianggap sampah dunia, ia membangun Pasukan Mata Langit—loyal hingga mati—dan perlahan menyeret Kerajaan Zhou keluar dari bayang-bayang, hingga tersingkap kebenaran: dunia ini hanyalah lapisan terendah dari semesta yang jauh lebih luas. Ia tak pernah mengejar takhta, tapi dunia akan bertekuk lutut di hadapan namanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Irhab Hauzan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35 — Bayangan di Istana

Gerbang ibu kota tampak di kejauhan pada senja hari keempat, temboknya yang kokoh berwarna kelabu keemasan diterpa cahaya matahari yang mulai turun. Zhou Chen merasakan campuran lega dan waspada yang aneh begitu melihatnya, lega karena perjalanan berbahaya itu akhirnya hampir berakhir, waspada karena kata-kata Zhou Han tentang pengkhianat di dekat Raja masih terngiang jelas di benaknya.

"Kita tidak boleh langsung mengumumkan apa yang dikatakan Han," katanya kepada Zhou Ming saat mereka mendekati gerbang. "Kalau pengkhianat itu benar-benar ada di lingkaran terdekat Ayahanda, dan kita menyampaikannya secara terbuka, ia akan segera tahu bahwa kedoknya mulai terbongkar."

Zhou Ming mengangguk setuju. "Kita sampaikan langsung kepada Ayahanda, hanya berdua saja, tanpa saksi lain kecuali orang yang benar-benar bisa dipercaya."

Kedatangan mereka di istana disambut dengan campuran kelegaan dan kekagetan. Raja Zhou Tian, begitu mendengar kabar bahwa Zhou Han tertangkap hidup-hidup, segera memerintahkan pertemuan pribadi di ruang kerjanya bukan di Aula Utama yang terlalu terbuka, melainkan di ruangan kecil tempat yang sama ia pernah memberi wewenang resmi kepada Zhou Chen berbulan-bulan lalu.

Hanya empat orang yang diizinkan masuk: Raja Zhou Tian, Zhou Chen, Zhou Ming, dan Menteri Song yang dipanggil khusus karena kesaksiannya tentang Zhou Yan di sidang sebelumnya.

Zhou Chen menceritakan semuanya tentang Formasi Penjara Awan, pertarungan di Kuil Awan Sunyi, luka dalam Zhou Han akibat terobosan yang dipaksakan, hingga akhirnya, dengan suara yang direndahkan meski ruangan itu sudah cukup tertutup, ia menyampaikan peringatan terakhir dari mulut Zhou Han sendiri.

Wajah Raja Zhou Tian mengeras mendengar bagian terakhir itu. "Seseorang dengan akses ke ruang pribadiku sendiri," ulangnya pelan, seolah mencoba mencerna kemungkinan itu satu per satu. "Itu berarti hanya segelintir orang yang mungkin dimaksud."

"Siapa saja yang memiliki akses itu, Ayahanda?" tanya Zhou Chen hati-hati.

Raja Zhou Tian terdiam lama, matanya menerawang jauh seolah menyusun daftar nama dalam kepalanya sendiri. "Kepala pelayan istana, Paman Rong—sudah mengabdi sejak masa mudaku. Tabib pribadi, Tabib Liu—dipercaya menangani kesehatanku selama belasan tahun. Dan..." Ia berhenti sejenak, wajahnya menunjukkan keraguan yang jarang terlihat. "Permaisuri sendiri, tentu saja, meski aku enggan mempercayai bahwa dialah yang dimaksud."

Zhou Ming, dengan kehati-hatian khasnya, mengangkat tangan sedikit meminta izin bicara. "Ayahanda, izinkan hamba menyelidiki ketiganya secara diam-diam, tanpa menimbulkan kecurigaan. Kalau kita bertindak gegabah dan salah satu dari mereka memang tidak bersalah, kita hanya akan merusak kepercayaan yang telah dibangun bertahun-tahun tanpa alasan yang jelas."

Raja mengangguk berat, meski jelas terlihat betapa sulit baginya untuk menerima kemungkinan bahwa salah satu orang terdekatnya selama puluhan tahun bisa jadi seorang pengkhianat. "Lakukan itu. Tetapi lakukan dengan cepat. Aku tidak ingin hidup dengan kecurigaan terhadap orang-orang di sekelilingku sendiri lebih lama dari yang diperlukan."

Penyelidikan dimulai malam itu juga. Zhou Ming mengerahkan mata-matanya yang paling terpercaya untuk mengawasi ketiga nama itu tanpa sepengetahuan mereka, sementara Zhou Chen menggunakan Mata Dewa secara diam-diam setiap kali kesempatan memungkinkan meski ia menyadari, mengingat pengalamannya dengan Zhou Han dan penjaga di rumah distrik lama, bahwa siapa pun yang cukup terlatih menyembunyikan diri bisa saja lolos dari analisisnya.

Hari pertama, tidak ada yang mencurigakan dari Paman Rong maupun Tabib Liu. Keduanya menjalani rutinitas mereka seperti biasa Paman Rong sibuk mengatur jadwal pelayan istana, Tabib Liu memeriksa kesehatan Raja dan beberapa pejabat senior lainnya.

Permaisuri sendiri, sejak kejatuhan Zhou Han dan pengungkapan dokumen Bubuk Sari Bulan, telah dibatasi ruang geraknya secara diam-diam atas perintah Raja, meski status resminya belum diubah secara terbuka demi menjaga stabilitas istana. Zhou Ming melaporkan bahwa ia jarang keluar dari kediamannya sendiri, dan tidak ada tanda-tanda komunikasi rahasia yang berhasil terdeteksi.

"Mungkin dia memang bukan dalangnya," kata Zhou Chen pada hari kedua, frustrasi mulai terlihat di wajahnya. "Mungkin dia benar-benar hanya wayang seperti dugaan awal kita, dikendalikan Zhou Yan tanpa benar-benar mengerti operasi yang lebih besar."

"Atau," jawab Zhou Ming pelan, "dia cukup pintar untuk tetap diam sepenuhnya sekarang, menunggu pengawasan mengendur sebelum bergerak lagi."

Titik terang baru muncul pada malam ketiga, dari arah yang paling tidak terduga Ah Fu, yang ditugaskan mengawasi dapur istana karena kedekatannya dengan beberapa pelayan lama, melaporkan sesuatu yang janggal.

"Yang Mulia, Tabib Liu memesan bahan obat yang aneh minggu ini," katanya, menyerahkan catatan kecil yang berhasil ia salin dari daftar pesanan dapur obat istana. "Akar Naga Tidur herbal langka yang biasanya dipakai untuk membuka meridian tingkat tinggi. Bukan obat yang dibutuhkan Ayahanda untuk kesehatannya."

Zhou Chen menatap catatan itu dengan seksama, mengingat kembali daftar herbal yang pernah ia pelajari dari Kitab Langit Tanpa Akhir. Akar Naga Tidur bukan obat penyembuh biasa itu herbal kultivasi tingkat tinggi, sangat mahal, dan sangat tidak lazim dipesan oleh seorang tabib istana untuk keperluan medis umum.

"Untuk siapa herbal seperti itu, kalau bukan untuk pengobatan Ayahanda?" gumamnya.

Ia mengarahkan Mata Dewa ke catatan itu sendiri, meski ia tahu benda mati seperti kertas jarang memberikan informasi berarti kecuali terkait langsung dengan seseorang.

Catatan pesanan. Tidak dapat dianalisis lebih lanjut tanpa objek atau subjek yang berkaitan langsung. Rekomendasi: amati langsung penerima herbal ini.

"Kita perlu tahu kepada siapa herbal ini benar-benar diberikan," kata Zhou Chen tegas. "Kalau Tabib Liu memesannya atas nama pengobatan Ayahanda, tetapi herbal itu berakhir di tangan orang lain, kita punya bukti nyata."

Malam itu juga, Ah Fu dan Yue Er bergantian mengawasi kediaman Tabib Liu dari kejauhan, menunggu kesempatan untuk melihat ke mana sebenarnya herbal langka itu akan dibawa.

Menjelang tengah malam, seorang sosok berjubah gelap keluar diam-diam dari pintu belakang kediaman Tabib Liu, membawa sebuah kotak kecil yang dijaga dengan sangat hati-hati. Yue Er, dengan indra pengamatannya yang tajam, segera mengenali gaya berjalan sosok itu bukan Tabib Liu sendiri, melainkan seseorang lain yang selama ini jarang diperhatikan siapa pun di istana.

Ia mengikuti sosok itu dari kejauhan hingga akhirnya tiba di sebuah bangunan kecil yang jarang dikunjungi, tersembunyi di sudut taman belakang istana yang jarang dijaga.

Ketika laporan itu sampai kepada Zhou Chen keesokan paginya, wajahnya memucat mendengar identitas sosok yang berhasil dikenali Yue Er malam itu seseorang yang selama ini tidak pernah sekalipun masuk dalam daftar kecurigaan siapa pun, karena kedudukannya yang terlalu dekat, terlalu dipercaya, dan terlalu tidak terlihat untuk dicurigai.

1
irawan muhdi
lanjut Thor 👍
irawan muhdi
mantap perbanyak upnya 👍
𝓐𝓡 𝓐𝓾𝓽𝓱𝓸𝓻 𝓘𝓼𝓽𝓲𝓶𝓮
semangat ya . semoga gif mawar ini menjadi semangat baru klo km . butuh temn masuk grup aku kita saling dukung
Irhab Hauzan: siap mampir 🙏
total 4 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!