Indonesia
NovelToon NovelToon
Reyna: Putri Asli Yang Kembali Untuk Balas Dendam

Reyna: Putri Asli Yang Kembali Untuk Balas Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Mengubah Takdir / Putri asli/palsu
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Aplolyn

Dibuang oleh keluarga sendiri. Dikhianati oleh orang yang paling ia percaya. Dan kehilangan segalanya karena ulah mereka.
Reyna pernah menjalani hidup seperti itu sampai kematian menjadi satu-satunya akhir yang tersisa.

Namun ketika membuka mata, ia justru kembali ke masa lalu. Kali ini, Reyna tahu siapa yang akan mengkhianatinya.

Mereka mengira Reyna masih gadis naif yang mudah dimanfaatkan, namun mereka salah.

Dengan ingatan dari kehidupan sebelumnya, Reyna akan merebut kembali apa yang menjadi haknya, melindungi orang-orang yang dulu gagal ia selamatkan, dan membongkar satu per satu kebusukan yang pernah menghancurkan hidupnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aplolyn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Fasilitas interogasi Bareskrim di kawasan Ciganjur tidak memiliki nama resmi. Di dalam institusi kepolisian, tempat ini hanya disebut sebagai "Ruang Besi"—sebuah bunker bawah tanah yang dibangun pada era Orde Baru untuk menginterogasi tahanan politik, kini dialihfungsikan untuk menangani kasus-kasus keamanan nasional tingkat tinggi.

Dindingnya terbuat dari beton bertulang setebal satu meter. Tidak ada jendela. Satu-satunya sumber cahaya adalah lampu neon putih yang berdengung konstan di langit-langit, menciptakan atmosfer steril yang membuat siapa pun di dalamnya merasa seperti tikus laboratorium.

Maya duduk di kursi baja yang dibaut ke lantai. Kedua tangannya diborgol di depan, dan kakinya dirantai ke kaki kursi. Seragam petugas kebersihannya telah diganti dengan pakaian tahanan berwarna oranye. Wajahnya yang tadi pucat karena gas neurotoksin kini kembali normal, namun ada memar ungu di pelipisnya akibat benturan saat ia jatuh.

Di balik kaca satu arah, Reyna berdiri dengan tangan terlipat di dada. Di sampingnya, Inspektur Arya dan Gavin Sterling mengamati tahanan itu dengan tatapan berbeda—Arya dengan kewaspadaan seorang penegak hukum, Gavin dengan mata dingin seorang mantan intelijen yang sedang menilai ancaman.

"Dia sudah sadar selama dua jam," lapor Arya pelan. "Tidak bicara sepatah kata pun. Tidak meminta pengacara. Tidak meminta air. Dia hanya duduk di sana, menatap dinding."

"Dia terlatih untuk menahan interogasi standar," ucap Gavin, matanya tidak lepas dari Maya. "Eks-operatif dengan level seperti Maya bisa bertahan berhari-hari tanpa bicara. Rasa sakit fisik tidak akan mempan padanya."

Reyna menatap Maya melalui kaca itu. "Dia tidak akan bicara untukmu, Inspektur. Dan dia tidak akan bicara untuk Gavin. Tapi dia akan bicara untukku."

Arya mengerutkan kening. "Nona Reyna, dengan hormat, interogasi tahanan tingkat tinggi ini adalah prosedur kepolisian. Anda tidak bisa...."

"Aku bukan interogator, Inspektur. Aku adalah korban yang dia coba bunuh tiga kali," potong Reyna datar. "Dan lebih penting lagi, aku adalah satu-satunya orang di ruangan ini yang memegang kartu yang bisa membuat Maya memilih untuk bicara daripada mati."

Tanpa menunggu izin, Reyna membuka pintu besi dan melangkah masuk ke ruang interogasi.

Suara langkah kakinya bergema di ruangan yang sunyi itu. Maya tidak mengangkat kepalanya. Ia tetap menatap dinding beton di hadapannya, seolah Reyna tidak ada di sana.

Reyna menarik kursi baja dan duduk tepat di hadapan Maya, jarak mereka hanya satu meter.

"Halo, Maya," sapa Reyna, suaranya tenang, hampir terdengar ramah. "Bagaimana tidurmu? Gas neurotoksin itu memang menyisakan sedikit sakit kepala. Tapi kau pasti sudah terbiasa dengan rasa sakit, bukan?"

Maya tidak merespons.

Reyna bersandar di kursinya, menyilangkan kakinya. "Aku tidak datang ke sini untuk menyiksamu, Maya. Aku juga tidak datang untuk memohon informasi darimu. Aku datang untuk memberimu sesuatu yang tidak pernah diberikan oleh Raka padamu."

Untuk pertama kalinya, mata Maya bergerak. Ia menoleh sedikit, menatap Reyna dengan tatapan yang sulit diartikan.

"Pilihan," ucap Reyna.

Maya tertawa pelan. Suara tawanya serak dan kering. "Kau pikir aku akan berkhianat pada Tuan Raka? Kau tidak tahu siapa dia. Kau tidak tahu apa yang bisa dia lakukan. Jika aku bicara, dia akan menemukan cara untuk membunuhku. Bahkan di dalam sel ini. Bahkan di dalam bunker ini."

"Mungkin," aku Reyna. "Tapi jika kau tidak bicara, aku akan memastikan kau menghabiskan sisa hidupmu di sel isolasi di Nusakambangan. Tanpa nama. Tanpa identitas. Kau akan menjadi hantu yang bahkan Raka pun tidak bisa temukan. Dan setiap malam, kau akan bertanya-tanya apakah Raka sedang minum anggur di pulaunya sambil melupakanmu."

Maya terdiam. Otot di rahangnya mengencang.

"Raka tidak peduli padamu, Maya," lanjut Reyna, suaranya turun menjadi hampir bisikan. "Kau adalah alat. Sama seperti Linda. Sama seperti Haryo. Sama seperti Julian. Ketika alat itu rusak, Raka membuangnya. Kau gagal membunuhku di Singapura. Kau gagal membunuhku di gedung Arland. Menurutmu, apa yang akan Raka lakukan ketika dia tahu kau ditangkap hidup-hidup?"

Maya menelan ludah. Untuk pertama kalinya, retakan kecil muncul di topeng dinginnya.

"Dia akan mengirim tim pembersih," bisik Maya, suaranya nyaris tak terdengar. "Mereka sudah dalam perjalanan. Raka tidak akan membiarkan aku hidup cukup lama untuk bersaksi."

Reyna mencondongkan tubuhnya. "Berapa lama?"

"Dua puluh empat jam. Mungkin kurang."

Reyna mengangguk pelan. "Kalau begitu, kita punya waktu yang sangat singkat. Bantu aku, Maya. Berikan aku koordinat pasti pulau Raka, jadwal rotasi penjaganya, dan kelemahan sistem keamanannya. Sebagai gantinya, aku akan memberimu perlindungan saksi penuh dari Interpol dan identitas baru di negara yang bahkan Raka tidak punya koneksi."

Maya menatap Reyna dalam diam selama hampir satu menit penuh. Di balik kaca satu arah, Gavin dan Arya menahan napas.

"Kenapa?" tanya Maya akhirnya, suaranya parau. "Kenapa kau menawarkan ini padaku? Aku membunuh ibumu. Aku mencoba membunuhmu tiga kali."

Reyna menatap Maya lurus-lurus. Matanya tidak menunjukkan kebencian. Tidak menunjukkan pengampunan. Hanya ada ketenangan yang dalam dan menyedihkan.

"Karena ibuku pernah menulis dalam suratnya bahwa kau awalnya hanya ditugaskan untuk memantau. Kau tidak membunuhnya karena kau ingin. Kau membunuhnya karena kau diperintah. Itu tidak memaafkanmu, Maya. Tidak akan pernah. Tapi aku sudah belajar bahwa membalas dendam pada alat tidak akan menghancurkan tangan yang menggerakkannya."

Reyna berdiri, meletakkan sebuah foto di atas meja baja di hadapan Maya. Foto itu menunjukkan seorang gadis kecil berumur sekitar tujuh tahun, sedang duduk di sebuah taman bermain di sebuah kota di Eropa Timur.

Maya menatap foto itu, dan untuk pertama kalinya, topengnya benar-benar hancur.

1
Susi Nugroho
Lanjut
Susi Nugroho
Lanjutannya di tunggu
Sribundanya Gifran
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!