IG: @hyacinthschia
Brooklyn dan Liam menikah karena perjodohan demi menyelamatkan keluarga Liam, meski hati pria itu tetap milik Helena. Selama beberapa tahun Brooklyn setia menjaga rumah tangga dengan cinta sendirian, hingga kembalinya Helena memicu perceraian di hari ulang tahunnya.
Brooklyn menghilang dan berubah menjadi agen rahasia, sementara Liam baru menyadari ketulusan Brooklyn serta kebohongan Helena setelah semuanya terlambat. Saat Liam diburu mafia, ia tak menyangka bahwa sosok yang ditugaskan melindunginya adalah mantan istrinya sendiri. Kini, di tengah bahaya yang mengintai, keduanya terpaksa berhadapan kembali dengan masa lalu yang belum selesai.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Hyacinthus Rainwood, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35: Jebakan (2)
Hari Senin yang telah lama dinanti akhirnya tiba. Liam berpamitan kepada Helena pagi itu dengan sandiwara yang begitu meyakinkan, memeluknya erat seolah benar-benar akan merindukan tiga hari kepergiannya ke Chicago, meski sesungguhnya ia hanya akan menginap di sebuah hotel yang tidak jauh dari penthouse mereka, memantau setiap gerak-gerik Helena melalui aplikasi pengawasan yang telah terhubung dengan kamera-kamera tersembunyi di ruang kerjanya.
"Jaga dirimu baik-baik, Helena," ucap Liam sambil mencium keningnya dengan lembut. "Aku akan meneleponmu setiap malam."
"Aku akan menunggu teleponmu," jawab Helena dengan senyum manis yang begitu meyakinkan, meski di balik senyum tersebut, Liam bisa melihat kilatan antisipasi yang tidak bisa sepenuhnya ia sembunyikan.
Begitu Liam benar-benar meninggalkan penthouse tersebut, ia segera menuju hotel yang telah ia pesan sebelumnya, membuka laptopnya dan memantau dengan seksama setiap pergerakan yang terekam dari kamera-kamera tersembunyi di ruang kerjanya melalui koneksi langsung yang telah disiapkan oleh perusahaan keamanan.
Selama dua hari pertama, tidak ada aktivitas mencurigakan yang terjadi. Helena tampak menjalani rutinitas normalnya, sesekali menerima panggilan telepon dari Liam yang ia jawab dengan begitu manis dan penuh perhatian, sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa ia sedang merencanakan sesuatu yang jauh lebih berbahaya di balik kepolosan yang ia tunjukkan.
Namun pada malam ketiga, tepat seperti yang telah diprediksi oleh Nathan berdasarkan percakapan yang berhasil ia rekam sebelumnya, layar laptop Liam menunjukkan pergerakan yang begitu jelas—Helena memasuki ruang kerjanya sekitar pukul sebelas malam, mengenakan sarung tangan tipis dan membawa selembar kertas kecil yang tampaknya berisi kombinasi angka yang telah ia coba pelajari selama beberapa minggu terakhir.
Liam mengamati dengan napas tertahan melalui layar laptopnya, menyaksikan Helena mendekati lukisan besar yang menutupi brankas tersembunyi tersebut, menggeser lukisan itu dengan hati-hati, lalu mulai memasukkan berbagai kombinasi angka yang tercantum dalam catatan kecilnya.
Setelah beberapa kali percobaan yang gagal, Helena akhirnya mencoba kombinasi baru yang secara sengaja telah Liam biarkan ia temukan melalui berbagai petunjuk kecil yang ia sisipkan selama beberapa hari terakhir—sebuah kombinasi palsu yang mengarah pada laci rahasia kedua yang berisi dokumen tiruan, sengaja dibuat begitu mirip dengan dokumen asli namun berisi informasi yang telah sepenuhnya diubah dan tidak memiliki nilai hukum apa pun.
Helena mengeluarkan berkas tersebut dengan tangan gemetar penuh kegembiraan, membacanya sekilas di bawah cahaya redup ruang kerja tersebut, sebelum akhirnya memasukkannya ke dalam tasnya dengan hati-hati dan segera meninggalkan ruangan tersebut, mengembalikan lukisan ke posisi semula dengan begitu rapi seolah tidak pernah ada yang terjadi.
Liam tersenyum tipis menyaksikan seluruh adegan tersebut melalui layar laptopnya, kepuasan yang begitu mendalam mengalir dalam dirinya menyaksikan betapa sempurnanya jebakan yang telah ia rancang berhasil termakan oleh Helena tanpa kecurigaan sedikit pun.
...***...
Keesokan malamnya, kamera pengawas yang telah Liam pasang secara tersembunyi di beberapa titik strategis lain di penthouse tersebut—termasuk di area lobi dekat pintu masuk—menangkap Helena yang bertemu dengan Marcus Kane secara diam-diam di sebuah mobil yang terparkir di garasi bawah tanah gedung tersebut.
Meski kualitas audio dari kamera tersebut tidak sejernih rekaman yang berhasil didapatkan Nathan sebelumnya, Liam masih bisa melihat dengan jelas ekspresi wajah Marcus yang berubah dari antusias menjadi begitu marah ketika ia memeriksa dokumen yang diberikan Helena dengan penuh kebanggaan tersebut.
Nathan, yang juga turut memantau situasi tersebut dari kejauhan sesuai instruksi Liam, segera mengirimkan laporan terperinci keesokan paginya, lengkap dengan rekaman audio tambahan yang berhasil ia dapatkan melalui perangkat penyadap yang telah ia pasang di mobil Marcus sebelumnya sebagai bagian dari investigasi yang lebih menyeluruh.
"Apa-apaan ini, Helena?!" terdengar suara Marcus yang begitu marah dalam rekaman tersebut. "Dokumen ini palsu! Nilai aset yang tercantum di sini bahkan tidak masuk akal, dan tanda tangan notarisnya terlihat begitu mencurigakan!"
"Itu tidak mungkin," jawab Helena dengan suara panik yang begitu jelas terdengar. "Aku menemukannya persis di tempat yang seharusnya, dengan kombinasi yang telah kupelajari selama berminggu-minggu!"
"Kau benar-benar bodoh, Helena!" bentak Marcus, kemarahannya semakin meluap tanpa terkendali. "Bagaimana bisa kau tidak memeriksa keaslian dokumen ini sebelum membawanya kepadaku? Apakah kau pikir aku akan mempertaruhkan reputasiku untuk sebuah kertas tidak berguna semacam ini?"
"Aku hanya mencoba membantu rencana kita," bela Helena, suaranya mulai bergetar antara ketakutan dan kebingungan yang begitu mendalam.
"Rencana kita sudah berantakan sekarang!" balas Marcus tajam. "Aku tidak bisa lagi mempercayaimu untuk menangani hal sepenting ini. Aku sudah muak dengan seluruh drama dan kecerobohanmu, Helena. Kita selesai."
Rekaman tersebut berakhir dengan suara pintu mobil yang dibanting keras, diikuti oleh isak tangis Helena yang begitu jelas terdengar dalam kesunyian garasi bawah tanah tersebut.
Marcus, yang ternyata hanya tertarik pada Helena karena potensi keuntungan finansial yang bisa ia dapatkan dari rencana licik mereka, dengan mudah meninggalkan wanita tersebut begitu menyadari bahwa rencana mereka telah gagal total.
...***...
Helena kembali ke penthouse malam itu dengan wajah pucat dan mata sembab, duduk sendirian di ruang keluarga dalam kesunyian yang begitu mencekam, pikirannya dipenuhi kepanikan dan keputusasaan yang begitu mendalam menyadari bahwa rencananya untuk mendapatkan kekayaan besar melalui Marcus telah hancur berantakan hanya dalam hitungan menit.
Ia mulai memikirkan kembali seluruh situasinya dengan lebih realistis. Marcus telah meninggalkannya tanpa ragu begitu rencana mereka gagal, membuktikan bahwa hubungan mereka sesungguhnya hanya didasarkan pada perhitungan keuntungan semata, tanpa ada ikatan emosional yang sesungguhnya berarti apa pun bagi keduanya.
"Mungkin aku memang seharusnya tetap bersama Liam," gumamnya pelan pada dirinya sendiri, mulai menghitung ulang berbagai pilihan yang tersisa baginya. "Meski dia tidak sekaya yang kubayangkan sebelumnya, setidaknya Whitmore Group telah kembali stabil. Hidup bersamanya masih jauh lebih baik dibandingkan harus mulai dari nol lagi tanpa jaminan apa pun."
Pikiran itu semakin menguat dalam benaknya, sebuah kalkulasi dingin yang sama sekali tidak melibatkan perasaan cinta yang sesungguhnya, melainkan murni pertimbangan praktis tentang kenyamanan finansial dan status sosial yang masih bisa ia pertahankan jika ia berhasil meyakinkan Liam untuk tetap bersamanya, tanpa pernah menyadari bahwa pria tersebut telah lama mengetahui seluruh kebenaran tentang kelicikannya.
Ketika Liam akhirnya kembali dari "perjalanan bisnisnya" ke Chicago pada hari Kamis malam, Helena menyambutnya dengan pelukan yang begitu erat dan air mata yang mengalir deras, berpura-pura begitu merindukannya selama tiga hari kepergiannya tersebut.
"Aku sangat merindukanmu, Liam," ucapnya sambil terisak dalam pelukan Liam, sama sekali tidak menyadari bahwa pria yang ia peluk tersebut telah mengetahui setiap detail dari rencana liciknya yang baru saja gagal total, serta seluruh percakapannya dengan Marcus yang begitu jelas mengungkap sifat aslinya yang penuh perhitungan dan tanpa perasaan.
Liam membalas pelukan tersebut dengan tenang, wajahnya menunjukkan kelembutan yang begitu meyakinkan, meski di dalam hatinya, ia hanya menunggu waktu yang tepat untuk akhirnya mengungkap seluruh kebenaran yang telah ia ketahui, memastikan bahwa Helena akan menghadapi konsekuensi penuh atas seluruh kebohongan dan manipulasi yang telah ia rencanakan dengan begitu licik sejak awal kembalinya ke dalam kehidupan Liam.
"Aku juga merindukanmu," bisik Liam pelan, kata-kata yang begitu kosong dan penuh sandiwara.