Indonesia
NovelToon NovelToon
Selir Favorit Sang Mafia

Selir Favorit Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Senja sastrala

Dijual oleh keluarganya demi melunasi utang, Aurora terperangkap dalam sangkar emas milik Gabriel Moretti—bos mafia paling dingin dan ditakuti di dunia bawah tanah. Meski hanya berstatus sebagai selir rahasia tanpa cincin di jarinya, Aurora menjadi satu-satunya wanita yang sanggup melunakkan kegelapan sang iblis. Di antara benturan bahayanya, ancaman musuh, dan obsesi Gabriel yang makin mengekang, Aurora harus memilih: menyerahkan hatinya secara utuh pada sang penguasa, atau bertaruh nyawa demi merebut kebebasannya kembali.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senja sastrala, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

30

Suara deru mesin mobil yang menghilang di balik kegelapan hutan pinus seharusnya menjadi penanda dimulainya celah pelarian bagi Aurora. Namun, saat gadis itu berdiri di balik tirai tebal lantai dua dengan mata elangnya yang cermat mengamati setiap sudut pelataran Puri Moretti, harapan yang baru saja mekar seketika gugur berantakan.

Perkiraan Aurora sepenuhnya meleset.

Kudeta yang terjadi di luar sana bukannya melonggarkan pengawasan puri, melainkan justru mengubah kediaman ini menjadi sebuah benteng baja yang sama sekali tak terembus. Marco, sebelum menyertai tuannya ke medan tempur, tampaknya telah menjalankan perintah proteksi posesif Gabriel dengan tingkat paranoia maksimal.

Di bawah pendar lampu sorot raksasa yang menyapu halaman, jumlah pengawal bersenjata laras panjang justru berlipat ganda. Setiap lima meter, anggota unit khusus berseragam taktis berdiri kaku bagaikan patung membatu. Mobil-mobil golf patroli bergerak tanpa henti mengitari perimeter perimeter, sementara anjing-anjing pelacak jenis Belgian Malinois menggonggong rendah di sepanjang garis pagar besi.

Aurora menggigit bibir bawahnya rapat-rapat hingga rasa asin darah samar-samar terasa di lidahnya. Kepalan tangannya di balik kain gaun mewahnya mengetat hebat.

Memang benar, ia tidak dikurung di dalam kamar. Secara teknis, Aurora masih memiliki kebebasan untuk melangkah keluar, menyusuri lorong-lorong batu tua, atau bahkan berjalan-jalan di halaman puri. Namun, apakah itu bisa disebut celah? Tidak sama sekali.

Setiap kali Aurora menggeser kakinya sejauh sepuluh langkah dari pintu kamar utama, setidaknya empat pengawal bertubuh tegap akan mengekor dari jarak aman dengan kesetiaan yang menakutkan. Tatapan mata mereka tidak pernah lepas dari gerak-gerik sang selir Don Moretti. Mereka tidak berniat menyakiti atau melarangnya bergerak, tetapi keberadaan mereka yang rapat bagaikan bayangan hitam itu adalah penegasan mutlak: tidak ada jalan keluar tanpa izin Gabriel.

"Sialan..." bisik Aurora dengan napas yang memburu pelan di dalam kamar yang sepi.

Rencana pelariannya malam ini kandas di tengah jalan. Sangkar emas ini ternyata dilengkapi dengan jeruji baja tak kasat mata yang teramat tebal. Gabriel tidak hanya meninggalkan pengawal untuk melindunginya dari serangan musuh, tetapi secara tidak langsung menguncinya rapat-rapat agar gadis itu tak bisa menggeser takdirnya selangkah pun.

Dengan dada yang dipenuhi keputusasaan dingin dan amarah yang tertahan, Aurora merosot duduk di tepi peraduan. Ia menatap kalung berlian blue sapphire yang tergeletak di atas meja hias hadiah mewah yang kini terasa seperti rantai pemberat yang dipasangkan tepat di lehernya. Ia menyadari satu hal: untuk menembus benteng ini, ia membutuhkan lebih dari sekadar paspor palsu. Ia butuh waktu yang tepat dan kewaspadaan yang tidak boleh meleset sedikit pun.

Sementara di belahan kota lain, di sebuah kompleks gudang pelabuhan yang terisolasi dari peradaban, malam itu tidak diselimuti oleh keheningan, melainkan oleh bau amis darah yang memabukkan dan jeritan keputusasaan yang memecah keheningan.

BANG! BANG! BANG!

Suara tembakan dari senapan berperedam suara bergaung rendah di dalam ruangan beton yang lembab. Tubuh-tubuh pria berjas rapi yang sebelumnya merasa tangguh saat merencanakan kudeta, kini berjatuhan satu per satu di atas lantai semen yang basah oleh genangan darah pekat.

Di tengah-tengah lautan pembantaian itu, Gabriel Moretti berdiri tegak bagaikan malaikat pencabut nyawa yang diturunkan dari neraka terkebal.

Kemeja putih mewahnya yang tadi pagi begitu bersih kini dipenuhi oleh cipratan darah merah tua yang mulai mengering. Lengan kemejanya digulung kasar hingga ke siku, mengekspos tato raksasa dan urat-urat menonjol di lengannya yang bersimbah cairan amis. Di tangan kanannya, sebuah pisau komando bergagang hitam terendam sepenuhnya oleh darah segar yang terus menetes teratur dari ujung bilahnya.

Gabriel membabi buta. Darah murni dinasti mafia Moretti yang mengalir deras di dalam jiwanya telah bangun sepenuhnya, membakar habis setiap sisa kelembutan yang baru saja ia perlihatkan di hadapan Aurora.

Bagi Gabriel, darah yang amis dan aroma mesiu bukanlah hal yang mengerikan. Di matanya, cairan merah yang membasahi lantai malam ini tak ada bedanya dengan air biasa sebuah konsekuensi dingin bagi siapa saja yang berani mengusik singgasana dan mengganggu kedamaian yang sedang ia bangun bersama wanita yang dicintainya.

Di sudut ruangan yang gelap, pimpinan faksi barat seorang pria setengah baya yang menjadi otak dari pengkhianatan ini terbaring tersungkur dengan kedua lutut yang telah hancur diterjang timah panas. Tubuhnya gemetar hebat, matanya terbelalak lebar menyaksikan seluruh anak buah elitnya dibantai tanpa rasa iba oleh Gabriel dalam kurun waktu kurang dari tiga puluh menit.

"Ga... Gabriel... tolong..." ratap pria itu dengan suara parau bercampur darah yang keluar dari mulutnya. "Kami... kami hanya menginginkan pembagian wilayah yang adil... ampunilah kami..."

Gabriel melangkah pelan mendekati pria itu. Suara hentakan sepatu pantofel mewahnya di atas genangan darah menciptakan bunyi yang berirama dingin dan mengerikan.

Puk... puk... puk...

Gabriel berhenti tepat di depan pria yang meratap itu. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun, ekspresi wajah sang Don benar-benar datar, kosong, dan dingin sebuah raut wajah tanpa emosi yang jauh lebih menakutkan daripada bentakan amarah.

Ia berjongkok pelan, mencengkeram rambut pimpinan pengkhianat itu dengan tangan kirinya, lalu menengadahkan kepala pria itu ke atas secara kasar.

"Kau tahu apa kesalahan terbesarmu?" bisik Gabriel dengan suara berbariton rendah yang begitu tenang, namun sanggup menghentikan detak jantung siapa pun yang mendengarnya.

Pria itu menggeleng cepat dengan air mata dan darah mengalir di pipinya. "A... apa...?"

"Kau mengganggu waktuku bersama Aurora," jawab Gabriel dingin.

Sebelum pria itu sempat memproses kalimat aneh tersebut, tangan kanan Gabriel bergerak dalam satu kilatan gerakan yang teramat cepat dan presisi.

SLASSSH!

Bilah pisau komando yang tajam menebas leher pria itu tanpa ragu sedikit pun. Darah segar menyembur keras, membasahi wajah dan kemeja Gabriel, namun sang Don bahkan tidak mengedipkan matanya sama sekali. Ia melepaskan cengkeramannya, membiarkan tubuh tanpa nyawa itu roboh menghantam lantai dengan dentuman keras.

Gabriel berdiri perlahan, membuang pisau komando yang telah tumpul itu ke atas mayat korbannya. Ia mengambil kain lap bersih yang disodorkan oleh Marco dari belakang, lalu menyeka noda darah yang menempel di jemari dan wajah tampannya dengan gerakan yang sangat santai, seolah-olah ia baru saja menyelesaikan pekerjaan kantor biasa.

"Selesaikan pembersihan," perintah Gabriel datar pada Marco. "Bakar seluruh tempat ini bersama dengan semua aset mereka. Pastikan tidak ada satu pun jejak pengkhianatan yang tersisa di kota ini sebelum fajar menyingsing."

"Baik, Tuan!" Marco membungkuk hormat, matanya memancarkan rasa takjub sekaligus gentar melihat betapa cepat dan buasnya sang Don meratakan seluruh kekuatan pemberontak hanya dalam hitungan jam. "Bagaimana dengan iring-iringan Anda?"

Gabriel melemparkan kain lap yang telah bersimbah darah itu ke atas lantai. Pandangannya menerobos kegelapan pintu keluar gudang, menatap ke arah selatan tempat Puri Moretti berdiri.

Kebuasan gila dan aroma pembantaian yang baru saja menyelimuti jiwanya seketika menguap, tergantikan oleh rasa dahaga yang teramat pekat akan sosok wanita yang sedang menunggunya di rumah. Pria yang baru saja membantai puluhan nyawa tanpa mengedipkan mata itu kini kembali berubah menjadi seorang pria yang merindukan pelukan hangat dari sang selir.

"Siapkan mobil," ujar Gabriel, suaranya kembali dipenuhi oleh obsesi yang mendalam. "Aku ingin pulang. Aku harus membersihkan darah ini sebelum menyentuh Aurora."

Dengan langkah yang mantap, sang penguasa mafia berjalan menembus lautan darah yang telah ia ciptakan sendiri, bersiap kembali ke sangkar emasnya membawa jiwa berdarahnya untuk kembali bertekuk lutut dan meminta kehangatan di atas peraduan sang ratu.

1
King Kas
👍🏻👍🏻
King Kas
lanjut kak....!!!
jennn
💪💪💪
jennn
💪💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!