Safira menyayangi Zaini, bocah manis berumur 4 tahun. Pipi tembem dari bocah yang terlantar akibat orang tuanya bercerai itu selalu Safira rindukan.
Safira pikir Zaini akan bersama dia selamanya, tapi tiba-tiba ayah kandung Zaini mengambil bocah malang itu. Membuat mental Zaini terguncang. Satu-satunya cara supaya Zaini bisa kembali normal adalah memiliki keluarga lengkap.
Pada akhirnya Safira dan Ashqar terpaksa menikah demi kesembuhan mental Zaini, akankah pernikahan itu akan menjadi obat ataukah racun untuk kehidupan mereka?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Zain Sakit
Hujan semakin menjadi ketika Safira sampai di depan rumah. Tanpa menggunakan jas hujan, Safira membiarkan tubuhnya didekap dinginnya air hujan sepanjang jalan. Alih-alih segera masuk dan berganti pakaian, kemudian menghangatkan diri dengan segelas teh lemon hangat, Safira justru membiarkan dirinya dibakar dingin.
Hingga tiba-tiba sebuah payung bertengger manis di atas kepala. Safira mendongak, lalu menoleh, mencari siapa gerangan yang memayunginya. Kemudian ketika netranya menemukan sosok itu, Safira tertegun.
“Kamu nggak malu, umur segini masih main hujan-hujanan?”
Safira masih terdiam, mengamati Ashqar yang entah datang dari mana, kini berdiri di sampingnya. Kemudian Safira tertawa. Penampilan Ashqar tidak lebih baik dari keadaannya, tetapi pria itu masih bisa mengomentarinya.
“Kamu ngapain di sini?” tanya Safira, masih mengamati Ashqar.
Ashqar yang biasanya terlihat rapih, saat ini terlihat berkebalikan. Matanya memiliki kantung, rambutnya sedikit acak-acakan, tapi entah bagaimana di mata Safira justru terlihat menarik, dan wajahnya terlihat letih.
“Bisa kita ngobrol di dalam? Memangnya kamu nggak kedinginan?”
Safira mengangguk, lalu memarkirkan motornya di depan rumah yang tidak memiliki pagar. “Silahkan duduk.” Safira mempersilakan Ashqar, lalu setelahnya perempuan itu berlalu ke kamar.
“Safira,” panggil Ashqar ketika ia melihat Safira membawa handuk marun. “Tolong bawa baju ganti sekalian,” lanjutnya.
Ashqar tidak ingin kejadian tempo hari terulang lagi, biar bagaimanapun dia juga laki-laki normal yang memiliki hasrat. Tetapi lebih dari itu, Ashqar memiliki etika laki-laki dewasa yang menghormati wanita.
Wajah Safira memerah. Dengan agak sembarangan dia kembali ke kamar dan memilih setelan baju yang bisa ia raih dengan mudah, dan setelahnya berlari kecil ke kamar mandi.
Setengah jam kemudian, Safira baru ke luar kamar mandi. Lalu dia menatap heran ketika mendapati Ashqar yang sudah tertidur di atas karpet ruang tamu. “Memangnya aku mandi lama banget, ya?” monolognya pada diri sendiri, berjalan ke arah dapur untuk membuatkan dua gelas minuman hangat.
Safira kembali dari dapur dengan dua gelas teh lemon hangat. Meletakan gelas di sisi luar karpet, Safira memandangi wajah terlelap Ashqar. “Kayaknya dia capek banget, bangunin nggak, ya?” monolog Safira, merasa ragu untuk membangunkan Ashqar.
Namun, tiba-tiba Ashqar membuka mata. “Kelamaan,” komentar Ashqar, menegakan tubuh dari berbaring. “Kalau niat bangunin, ya, bangunin aja dari tadi.”
Safira terkejut, tubuhnya terdorong ke belakang dengan posisi duduk. “Kamu ngagetin!”
Ashqar tidak berkomentar. Dia menyandarkan punggung di dinding dan memejamkan mata. Indra pengelihatannya terasa berat, tetapi masih ada hal yang harus ia lakukan.
“Ini, di minum dulu.” Safira menyodorkan gelas pada Ashqar yang diterima dengan ringan. “Kamu udah dari tadi bangun? Atau sebenernya kamu nggak tidur?”
Ashqar menyesap teh. “Barusan, denger suara kamu bikin sakit telinga.”
Safira mencebik. “Dasar nggak sopan,” gerutu Safira dalam hati. “Terus ada perlu apa lagi ke sini?”
Ashqar menghembuskan napas kasar. “Zain sakit.”
Safira terkesiap. “Zain, sakit?”
“Iya, aku ke sini mau jemput kamu.”
“Zain sakit apa?” Safira tidak bisa menyembunyikan rasa khawatirnya.
“Demam, dari pagi tadi.”
“Terus kenapa kamu malah mau jemput aku? Seharusnya yang kamu jemput itu dokter. Aku mana bisa nyembuhin orang sakit.”
Kepala Ashqar tiba-tiba berdenyut mendengar ocehan Safira. Penatnya kian keruh. “Karena dia terus mengigau panggil-panggil mamahnya!” bentak AShqar tanpa sadar.
Safira kembali terkesiap, tetapi dengan alasan yang berbeda. “Tapi aku bukan mamahnya Zain,” cicit Safira.
Ashqar mengusap wajahnya gusar. “Aku tahu. Aku bahkan heran anak itu terus memanggil dan mengira kamu mamahnya padahal kamu sama sekali nggak ada mirip-miripnya dengan dia.”
Safira tertunduk. Ada bagian dari hatinya yang tercubit mendengar perkataan Ashqar yang walaupun bernada rendah tapi terdengar seperti memandang rendah dia dibandingkan dengan mantan istrinya.
Diam-diam Safira mengangkat satu sudut bibirnya. “Aku juga tahu kalau nggak mungkin kebetulan aku sangat mirip dengan perempuan itu. Tapi bukan salahku jika Zain terus-terusan menganggap aku mamahnya. Padahal perempuan itu yang meninggalkan Zain, tapi kenapa sekarang seolah-olah aku yang lebih salah di sini?” gerutu Safira dalam hati.
♪♫•*¨*•.¸¸❤¸¸.•*¨*•♫♪
Nara Corner :
Ada yang kebayang gak rumahnya Safira?
Semacem rumah di perumahan KPR tapi versi lebih minimalisnya lagi 🤭 kalau gak salah namanya, mungkin yang udah punya keluarga paham
Aku masukin juga visualisasi tokoh di IG story, tapi siapanya silahkan cek sendiri (~‾▿‾)~