"Arman itu sekarang makin tidak perhatian sama Ibu," tulis pesan dari Ibu Lestari dalam tangkapan layar tersebut. "Setiap bulan uang belanja selalu berkurang. Pasti uangnya dipakai untuk hal-hal yang tidak jelas. Beda sekali sama Yoga. Tapi Yoga juga sama saja, makin ke sini makin tunduk sama Isma. Apa-apa selalu Isma yang didahulukan, sampai-sampai ibunya sendiri sering dilupakan."
Pesan berikutnya memperlihatkan balasan dari Aini yang terkesan memprovokasi, "Sabar ya, Bu. Aini sama Mas Arman selalu usahakan yang terbaik buat Ibu. Kalau Mas Yoga mungkin repot karena harus mengurus Kak Isma juga."
Dan balasan terakhir dari Ibu Lestari membuat napas Isma tertahan: "Repot bagaimana? Anak saja belum punya sampai sekarang. Sudah lima tahun menikah tapi belum ada tanda-tanda. Ibu ini makin tua, ingin menimang cucu dari anak sulung. Tapi kalau rahimnya memang mandul, mau bagaimana lagi. Kasihan Yoga, hidupnya habis cuma buat membiayai perempuan yang tidak bisa memberikan keturunan."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
DI BALIK PINTU YANG TERKUNCI
"Silahkan makan apa yang ada. Jika Ibu tidak mau, silahkan belanja sendiri," ucap Isma datar namun penuh penekanan.
Tanpa menunggu balasan dari ibu mertuanya yang terpaku dengan bibir terkatup rapat, Isma berbalik arah. Ia melangkah tenang meninggalkan area dapur dan meja makan yang dipenuhi hawa ketegangan. Di belakangnya, ia bisa mendengar sayup-sayup gerutuan Aini yang mengeluh serta nada bicaranya yang memprovokasi Ibu Lestari, tetapi Isma tak lagi peduli. Ia sudah cukup lelah mengalah demi menjaga perasaan orang-orang yang terus menindasnya.
Begitu melangkah masuk ke dalam kamar, Isma segera memutar kunci dan membiarkan keheningan ruangan menyambutnya. Rasa lelah di dada perlahan terangkat saat ia menarik kursi dan duduk di depan meja kerja. Di sudut meja itu, laptop tipisnya yang selalu setia menampung tiap bait imajinasi telah menyala tenang.
Isma membuka peramban dan masuk ke dalam dasbor penulisnya serta aplikasi mobile banking. Di sana, deretan angka di rekening pribadinya berkilat dengan jelas. Saldo tabungan ratusan juta rupiah yang terus bertambah saban bulan dari royalti penulisan novel maratonnya, penjualan hak adaptasi digital, hingga bonus bestseller berdiri kokoh sebagai bukti kerja kerasnya. Tidak ada satu pun orang di rumah ini—bahkan Mas Yoga sekalipun—yang tahu bahwa menantu yang selalu mereka sepelekan dan anggap sebagai beban finansial ini sebenarnya memiliki ketahanan finansial yang jauh melampaui seluruh penghuni rumah tersebut.
Isma meletakkan jemarinya di atas papan ketik. Suara ketukan tombol berirama mulai memenuhi kamar. Menulis bukan sekadar sarana baginya untuk menghasilkan uang yang melimpah, melainkan tempat ia memegang kendali penuh atas hidupnya sendiri. Di dunia nyata, mereka boleh saja mengucilkan dan meremehkannya, namun di balik layar ini, Isma adalah sosok berkuasa yang mampu menentukan alur jalannya sendiri.
Sambil merangkai bab baru untuk novel terbarunya yang sedang hangat dibicarakan jutaan pembaca di internet, Isma menyunggingkan senyum tipis. Ia akan tetap menyimpan rahasia besar ini rapat-rapt sampai saat yang tepat tiba—saat di mana mereka semua harus menyadari siapa sosok yang sebenarnya selama ini mereka injak-injak.
Suara denting sendok yang bertabrakan secara kasar dengan piring kaca meng Menggema di ruangan tengah. Dengan wajah yang dilipat masam, Ibu Lestari akhirnya menarik kursi kayu di ujung meja makan. Di sampingnya, Aini mengekor dengan bibir cemberut sambil melempar pandangan jijik ke arah mangkuk berisi tumis kangkung dan piring penuh potongan tempe goreng yang mulai dingin.
"Benar-benar tidak punya sopan santun," gerutu Ibu Lestari seraya menyendok nasi ke atas piringnya dengan kasar. "Masa mertua sendiri disuruh makan makanan seperti ini? Kalau tahu begini, tidak akan aku biarkan Yoga menikahi perempuan tidak berguna itu dulu."
Aini menaruh sepotong tahu bacem ke piringnya dengan enggan, lalu menyenggol lengan mertuanya pelan. "Iya, Bu. Aini juga kaget. Biasanya kan Kak Isma selalu masak enak, ada rendang atau minimal ayam goreng. Sekarang malah cuma dikasih ginian. Sepertinya Kak Isma sengaja mau balas dendam karena Mas Yoga kasih uangnya ke Ibu."
"Biarkan saja! Dia pikir dia siapa mau mengancam Ibu?" balas Ibu Lestari tajam, meski jemarinya tetap menyuapkan nasi dan tempe goreng itu ke dalam mulutnya. Rasa lapar yang tak bisa ditahan memaksa gengsiannya runtuh. "Lihat saja nanti kalau Yoga pulang. Ibu bakal adukan perbuatan istrinya ini. Supaya Yoga makin sadar kalau Isma itu bukan cuma mandul, tapi juga menantu yang durhaka dan tidak bisa menghormati orang tua!"
Aini tersenyum puas mendengar omongan mertuanya. Dalam hatinya, ia merasa berada di atas angin. Semakin buruk citra Isma di mata Ibu Lestari, semakin besar peluang dirinya dan Arman untuk menguasai perhatian serta aset di rumah ini. Aini lalu menyuap makanannya seraya terus mengipasi amarah mertuanya dengan berbagai sindiran halus.
Sementara itu dari balik pintu kamar yang terkunci rapat, Isma bisa mendengar sayup-sayup perbincangan mereka dari meja makan. Jemarinya sempat terhenti sejenak di atas papan ketik laptop, namun senyum dingin mengembang tipis di paras cantiknya. Isma tidak merasa sedih ataupun gentar lagi. Biarlah mereka mengadu pada Yoga, biarlah mereka menyebar kebencian sesuka hati.
Isma kembali memfokuskan pandangannya ke layar monitor, melanjutkan ketukan jemarinya untuk merangkai kisah novelnya. Setiap kalimat yang ia tulis kini dipenuhi energi dan ketegasan baru. Ia tahu, masa-masa menjadi Isma yang penurut dan serba mengalah telah berakhir.