Naik jabatan menjadi sekretaris CEO Adrian Dewangga (33) harus dibayar mahal oleh Nayla Safira (27). Ayahnya tewas usai menyelamatkan orang tua Adrian dalam kecelakaan maut. Demi melunasi utang nyawa dan menjalankan wasiat terakhir sang ayah, Adrian dan Nayla terpaksa menikah secara rahasia.
Awalnya, Adrian menyetujui pernikahan rahasia ini karena baginya pernikahan tersebut murni sebuah bentuk tanggung jawab, bukan karena cinta. Di sisi lain, Nayla yang bertubuh gemuk memilih bersembunyi karena minder dan tak ingin dituduh memanfaatkan keadaan. Namun, setahun hidup berdampingan membuat rasa tanggung jawab Adrian perlahan menjelma menjadi cinta yang dalam. Ia muak terus berpura-pura asing.
Saat mereka akhirnya sepakat untuk membuka hati, status pernikahan itu justru terbongkar ke publik. Kejamnya dunia menghantam Nayla dengan tuduhan paling menyakitkan, ia dianggap tega menukar nyawa ayahnya demi posisi mewah di samping sang CEO.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 05 - Memulai kehidupan Baru
Sinar matahari pagi menerobos masuk melalui celah gorden kamar di lantai dua. Nayla terbangun tepat pukul lima pagi. Kebiasaan bertahun-tahun hidup mandiri bersama almarhum ayahnya membuat tubuhnya secara otomatis terbangun tanpa perlu alarm.
Setelah membersihkan diri, Nayla melangkah turun ke lantai bawah. Di dapur bersih bernuansa modern serba putih itu, ia melihat seorang wanita paruh baya berseragam rapi sedang sibuk merapikan peralatan makan.
Mendengar langkah kaki mendekat, wanita paruh baya itu memutar tubuhnya dan tersenyum hangat.
"Eh, Non Nayla ya?! Selamat pagi," sapa wanita itu penuh kesopanan seraya membungkuk pelan. "Perkenalkan, saya Bi Sumi yang setiap hari bantu-bantu bersih-bersih di sini. Beberapa hari lalu Den Adrian memberitahu saya kalau beliau akan menikah dan istrinya akan tinggal di sini. Selamat datang di rumah ini ya, Non."
Nayla sempat tertegun sejenak. Dada gadis itu berdesir hangat mengetahui Adrian ternyata mengabarkan keberadaannya secara terhormat pada ART-nya. Nayla mengulas senyum tulusnya. "Iya, Bi Sumi. Terima kasih banyak ya, Bi."
"Non Nayla butuh apa? Mau bibi siapkan sarapan?" tawar Bi Sumi sigap.
"Eh, nggak usah, Bi. Biar saya saja yang masak sarapan pagi hari ini. Saya ingin masak nasi goreng. Bi Sumi bisa kerjakana yang lain saja," jawab Nayla halus.
Bi Sumi membelalakkan matanya heran. "Aduh, Non... Den Adrian itu nggak biasa sarapan berat seperti nasi atau mi di pagi hari. Beliau biasanya cuma minum kopi hitam sama roti bakar. Nanti kalau Non repot-repot masak nasi, malah nggak dimakan..."
Nayla tertawa kecil, suara khasnya yang hangat seketika mencairkan suasana dapur. "Nggak apa-apa, Bi Sumi. Dari dulu saya memang terbiasa masak sendiri. Saya mau buatkan nasi goreng bumbu desa favorit saya, nanti kalau Mas Adrian nggak mau makan, biar saya yang habiskan."
"Baiklah non, kalau begitu bibi permisi mau lihat cucian di belakang."
Melihat ketulusan dari wajah lembut Nayla, Bi Sumi akhirnya mengalah dan pamit menuju area belakang.
Dengan lihai, Nayla mulai memotong bahan-bahan makanan. Bobot tubuh 80 kilogram yang kerap membuatnya minder di luar, sama sekali tak menghalangi kelincahannya di dapur. Hanya dalam waktu tiga puluh menit, aroma harum nasi goreng bumbu desa dan ayam goreng sudah memenuhi ruang makan. Tak lupa, Nayla meracik segelas kopi hitam dengan sedikit gula. Minuman kesukaan Adrian yang takaran sempurna manis pahitnya sudah Nayla hafal luar kepala.
Tepat pukul setengah tujuh, langkah kaki yang mantap terdengar turun dari tangga.
Adrian melangkah masuk ke area dapur dengan kemeja abu-abu gelap yang rapi dan jas hitam terlipat di lengannya. Pria itu sempat menghentikan langkahnya sejenak saat menghirup aroma bumbu tumisan yang tajam, aroma yang sangat asing di rumah ini.
"Selamat pagi... Mas," sapa Nayla pelan, memaksakan panggilan kaku itu keluar dari bibirnya seraya meletakkan cangkir kopi panas.
Adrian berdehem singkat. "Pagi."
Adrian menarik kursi dan duduk. Pandangannya berganti antara cangkir kopi hitam dan piring berisi nasi goreng bumbu desa berhias telur mata sapi. Pria itu termenung sejenak, memandangi piring di hadapannya tanpa menyentuh sendoknya sama sekali.
Sejujurnya, Adrian tidak biasa mencerna makanan berat di pagi hari. Namun, saat tatapannya bergulir pada Nayla yang berdiri canggung di dekat meja makan, benak Adrian berbisik pelan. Gadis ini sudah bangun pagi-pagi sekali dan susah payah menyajikan sarapan ini untuknya. Kalau ia menolak, Nayla pasti akan merasa makin canggung dan minder. Tugasnya di sini adalah membahagiakan Nayla dan membuatnya nyaman, bukan membuatnya makin merasa sendiri di rumah ini.
Nayla yang memperhatikan Adrian tak kunjung menyentuh sendoknya mulai merasa panik dan tidak enak hati.
"M-Mas... maaf," potong Nayla cemas. "Tadi Bi Sumi sebenarnya sudah memberi tahu saya kalau Mas Adrian tidak suka makan nasi di pagi hari. Kalau Mas tidak mau makan, tidak apa-apa kok. Sisanya biar saya bawa sebagai bekal ke kantor saja, saya buatkan roti..."
"Tidak perlu, Nayla. Duduklah dan nikmati sarapanmu," sela Adrian tenang, memotong kalimat panik istrinya. "Saya bisa memakan ini."
Adrian menyambar sendok dan garpunya, lalu mulai menyendok nasi goreng bumbu desa itu ke dalam mulutnya. Pria dingin itu mengunyahnya pelan. Rasanya ternyata sangat lezat dan gurih di lidah. Tanpa mengeluh sedikit pun, Adrian melahap porsi nasi goreng itu sampai habis tak tersisa.
Nayla menatap piring bersih itu dengan binar mata bahagia dan senyum manis yang mengembang di bibirnya. Rasa lega yang luar biasa memenuhi dadanya.
Usai sarapan, Nayla berdiri dan beranjak ingin membawa piring-piring kotor ke dapur.
"Biar dikerjakan Bi Sumi," tahan Adrian seraya melirik jam tangannya. "Ini sudah jam tujuh lewat. Bersiaplah untuk ke kantor, saya tunggu di depan."
Nayla meremas jemarinya canggung. "Emm... Mas, saya berangkat sendiri saja naik taksi. Saya tidak mau orang kantor curiga atau bertanya-tanya kalau melihat kita tiba di kantor dalam satu mobil yang sama, ya... meski status saya sekretaris kamu."
Adrian menatap Nayla sejenak, lalu mengangguk paham. "Baiklah kalau begitu. Saya berangkat dulu."
Namun, Adrian tidak langsung melangkah pergi. Pria itu mengeluarkan ponsel dari saku celananya dan mengutip sesuatu di layarnya dengan cepat sebelum berjalan keluar rumah.
Ting!
Ponsel Nayla di atas meja berbunyi, menampilkan notifikasi transferan masuk.
"Itu untuk membayar taksi kamu. Saya berangkat dulu," pamit Adrian singkat lalu melangkah keluar.
Nayla yang belum sempat melihat nominal di layar ponselnya hanya mengangguk sopan. "I-iya Mas, terima kasih..."
Begitu Adrian sudah benar-benar pergi, Nayla membuka layar ponselnya. Saat matanya menangkap angka di layar, matanya seketika membelalak sempurna hingga hampir melompat keluar.
[Transfer Masuk: Rp 50.000.000 dari Adrian Dewangga]
"Lima puluh juta untuk uang taksi?!" pekik Nayla tertahan, menutup mulutnya dengan kedua tangan.
Namun, tidak ada waktu untuk merenungi saldo fantastis yang tiba-tiba masuk ke rekeningnya itu. Jam terus berdenting. Nayla bergegas berlari ke lantai atas untuk berganti pakaian formal kantor.
....
Empat puluh lima menit kemudian, tepat pukul delapan pagi Nayla sudah melangkah masuk ke dalam lobby megah Dewangga Group yang sibuk.
Saat berjalan menuju deretan lift, langkah Nayla mendadak terhenti. Ia menepuk jidatnya pelan. Astaga, cincin!
Nayla hampir saja lupa melepas cincin pernikahannya. Dengan gerakan cepat dan sigap sebelum ada pasang mata yang menyadari, Nayla menarik cincin emas putih itu dari jari manisnya, memasukkannya ke dalam dompet kecil, lalu menyimpannya aman di dasar tas kerjanya.
"DORR!"
"Ayam!" Nayla tersentak kaget sampai hampir menjatuhkan tasnya.
Ia memutar tubuhnya dan mendapati Mira sedang berdiri di belakangnya dengan cengiran lebar tak berdosa.
"Nayla! Akhirnya kamu kembali bekerja!" seru Mira heboh seraya merangkul bahu Nayla erat. "Kamu sudah baik-baik saja, kan? Ya ampun, aku kangen banget sama kamu!"
Nayla mengelus dadanya yang berdebar katan seraya tertawa kecil. "Aku sudah baik-baik saja, Mir. Kaget tau!"
"Eh Nay, aku kemarin ke kosan kamu loh!" cecar Mira bersemangat seraya berjalan beriringan menuju deretan lift. "Tapi kok kata Ibu Kos kamu sudah pindah? Kan kamu bilang dua hari lalu sampai di Jakarta, eh kemarin aku datangi nggak ada, kamu juga nggak balas chat aku. Aku pikir kamu resign terus balik ke Bandung lagi tau!"
Nayla tersenyum canggung, menyusun kalimat bohong seaman mungkin. "Enggak kok, Mir. Aku memang pindah tempat tinggal."
"Pindah di mana? Tempatnya enak nggak? Kalau enak aku ikut deh, apa masih ada kamar kosong?" tanya Mira penuh rasa penasaran.
Nayla terdiam seribu bahasa. Mana mungkin ia memberi tahu sahabatnya bahwa ia kini tinggal di rumah mewah milik bos mereka sendiri karena statusnya yang sudah resmi menjadi istri Adrian Dewangga.
"A-aku tinggal di... apartemen kantor. Iya..." sahut Nayla mengarang cerita.
Mata Mira seketika berbinar heboh. "Jadi kamu tinggal di mess khusus staf jabatan tinggi itu ya?! Wah, seru banget! Aku mau main ke sana, boleh kan?"
Nayla tersentak panik. "Ah, maaf Mir... tapi peraturan di sana sangat ketat. Nggak boleh ada tamu luar selain penghuni di sana."
Raut wajah Mira seketika berubah merengut kecewa. "Yahh... Padahal aku pengen tahu isinya biar makin semangat meraih prestasi kerja, biar bisa naik jabatan dan dapat fasilitas itu juga."
'Maafkan aku ya, Mira... Aku terpaksa bohong sama kamu,' ringis Nayla menjerit dalam hati, menatap sahabatnya dengan rasa bersalah yang dalam.
Ting!
Pintu lift staf di hadapan mereka terbuka. Nayla dan Mira melangkah masuk. Namun, tepat saat pintu lift hendak mengatup tertutup, sebuah tangan menahan sensor pintu hingga kembali terbuka lebar.
Rio berdiri di luar lift bersama sosok pria tegap berjas hitam rapi dengan aura mahal yang amat mereka kenal.
Lift khusus yang biasa dinaiki Adrian rupanya sedang mengalami kendala teknis dan dalam perbaikan rutin, memaksa sang CEO harus menggunakan lift staf pagi ini.
Aura dingin berwibawa seketika memenuhi kabin lift. Semua staf yang ada di dalam lift, termasuk Nayla dan Mira seketika menegakkan tubuh dan menunduk penuh hormat.
"Selamat pagi, Pak Adrian," sapa Nayla dan Mira serentak dengan suara padu yang segan.
Adrian melangkah masuk dengan wajah datarnya yang legendaris, disusul oleh Rio di sampingnya. Mata tajam Adrian sempat bergulir singkat, menatap sekilas ke arah Nayla yang berdiri menunduk di sudut lift.
Di dalam lift yang mendadak hening dan tegang itu, jantung Nayla berdegup tak beraturan. Jarak di antara mereka begitu dekat, namun dinding rahasia besar di antara mereka terasa begitu tebal.
....
Satu jam kemudian, Nayla melangkah masuk ke dalam ruang kerja CEO membawa tumpukan dokumen yang perlu ditandatangani. Adrian sedang duduk tegap di kursi kebesarannya, menatap layar monitor.
"Ini dokumen rekapitulasi anggaran minggu ini, Pak Adrian," ujar Nayla formal seraya meletakkan berkas itu di meja.
Adrian menghentikan ketikannya. Matanya menatap berkas itu, lalu berpindah menatap jari manis tangan kanan Nayla yang kini polos tanpa cincin pernikahan mereka. "Mana cincin kamu?"
Nayla tersentak pelan. "S-saya simpan di dompet, Pak... Maksud saya, Mas," jawab Nayla jujur. "Saya takut orang-orang di kantor curiga dan mulai bertanya-tanya kalau melihat saya tiba-tiba pakai cincin."
Adrian menatap Nayla dalam keheningan selama beberapa detik. Pria itu manggut-manggut pelan, memahami jalan pikiran sekretarisnya yang logis.
Tanpa diduga, Adrian justru menjangkau jari manis tangan kirinya sendiri. Dengan gerakan santai, pria itu melepas cincin emas putih yang senada dari jarinya, lalu memasukkannya ke dalam saku kemejanya.
"Oh, benar juga," sahut Adrian tenang dengan suara beratnya. "Kalau begitu, saya juga akan melepas cincin ini selama di kantor."
Nayla membelalakkan matanya, terkejut dengan tindakan impulsif namun sangat adil dari suaminya.
Adrian menatap wajah Nayla dengan ekspresi datarnya yang biasa. "Tapi usahakan saat kita berada di depan Mama dan Papa, cincin itu tetap dipakai ya. Saya tidak mau membuat mereka cemas atau berpikir yang tidak-tidak."
Nayla menarik napas lega, rasa hangat yang samar merayapi dadanya. "Baik, Mas. Di depan Papa-Mama pasti selalu saya pakai."
"Bagus," jawab Adrian singkat. Pria itu menarik kursi kebesarannya dan membuka laptop. "Ketik ulang laporan rapat kemarin dan berikan pada saya sebelum makan siang."
"Baik, Pak. Permisi."
Nayla berbalik, menarik gagang pintu kayu jati tebal itu dan melangkah keluar. Di balik dinding kaca tebal yang tirainya belum ditutup penuh, Nayla melirik singkat sosok Adrian yang sudah fokus menatap layar monitor.
Pernikahan ini memang dimulai tanpa cinta, penuh rahasia, dan dibatasi oleh dinding profesionalisme yang sangat kaku.
best suka ama ceritanya
❤❤
👍👍👍👍👍
👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻👏🏻
❤️❤️❤️❤️❤️