Alantta, gadis cantik yang bekerja sebagai Sekertaris CEO di perusahan Adwinata Group harus menerima kenyataan pahit di tinggalkan kekesih nya dalam kecelakaan tunggal.
Rendra Putra Adwinata, adalah seorang CEO muda Putra tunggal dari keluarga Adwinata,
laki laki yang berparas tampan memiliki tubuh kekar itu selalu mendapat perhatian dari para wanita, kenangan pahit bersama mantan kekasih nya membuat Rendra sulit menjalin Asmara kembali.
Akankah Rendra dan Alantta mampu keluar dari masalalu nya, Dan membuka lembaran baru..??
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuum, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 06 Mencoba Melepaskan
Alantta menatap dirinya dalam cermin wajah putihnya terlihat sangat pucat, tangannya melepaskan sebuah cincin yang melingkar di jari manisnya. perempuan itu terdiam ia menghembuskan nafas berat.
cincin itu hadiah dari Ariel saat mereka merayakan anniversary hubungannya yang pertama, sudah satu tahun laki-laki itu meninggalkan nya memberikan kenyataan pahit yang harus Alantta hadapi.
Alantta meletakan cincin itu kedalam laci, ia ingin melepaskan semua ikatan yang membuatnya terus berkubang dari bayang-bayang Ariel.
***
Alantta masuk kedalam apartemen Rendra ia meletakkan tas nya di atas sofa.
"Kau terlambat Alantta"
Alantta terperanjat mendengar suara itu, terlihat Rendra yang baru saja keluar dari dalam kamar menghampirinya, laki-laki itu memperlihatkan jam tangan nya kearah wajah Alantta.
"Kau terlambat lima belas menit Alantta dan kau lihat, Aku sudah rapi"
"Ya.. maafkan aku, tadi sedikit macet kau tau kan pengendara mobil tidak akan bisa menghindari macet" jawab Alantta sambil berjalan kearah dapur.
semenjak kepergian Ariel Alantta menjadi lebih pendiam wanita itu lebih banyak melamun, bahkan Rendra sering melihat wanita itu menangis sendian.
Melihat perubahan sikap Alantta Rendra merasa kasihan ia ingin membantu perempuan itu keluar dari kubangan masalalunya. Rendra mulai memberi perhatian pada Alantta, ia tau perempuan itu butuh seseorang untuk menguatkan dirinya mengingat perempuan itu hanya sendirian di kota ini. sesekali Rendra mengajak Alantta pergi bersama bahkan laki-laki itu menyuruh Alantta untuk memanggilnya dengan sebutan Nama agar terdengar lebih akrab, Awalnya Alantta ragu tapi dengan seiring berjalannya waktu Alantta bisa melakukannya, itu cukup baik, Alantta bisa menganggap Rendra sebagai teman sekaligus atasannya, tapi itu semua tidak mengurangi rasa hormat Alantta terhadap Rendra sebagai Bosnya.
Rendra duduk di kursi meja makan, ia mperhatikan Alantta yang tengah menyiapkan sarapan, hingga selang beberapa menit wanita itu sudah menghampirinya dengan membawa sepiring nasi goreng dan air putih yang diletakan di hadapannya perempuan itu lalu berdiri di samping Rendra.
Rendra sedikit tersenyum lalu ia mulai melahap nasi goreng itu.
"Ada yang berbeda dari dirimu" ucap laki-laki itu yang masih melahap nasi goreng.
Alantta mengerutkan dahinya menatap Rendra. "Apa ?"
laki-laki itu melirik sekilas jari tangan Alantta, lalu melanjutkan aktivitas nya kembali.
Alantta mengerti maksud dari pertanyaan Rendra, perempuan itu terdiam sejenak lalu menghembuskan nafas berat.
"Aku ingin melepaskan semua tali yang mengikat ku" ucapnya lirih.
tidak bisa ia pungkiri meski sudah satu Tahun,tapi setiap membahas tentang Ariel selalu terasa nyeri di dadanya.
Rendra hanya mengangguk tidak menjawab lagi, laki-laki itu tau Alantta belum sepenuhnya bisa melupakan Ariel dia hanya sedang berusaha.
***
"Ngapain loe kesini" Rendra menatap Reno yang baru saja masuk keruangan nya.
"ketus banget loe, kaya cabe-cabean yang lagi rebutan cowok" jawab Reno sambil mendudukkan tubuhnya di hadapan Rendra.
Rendra mendengus, ia menyandarkan punggungnya di kursi kebesarannya sambil melipatkan tangan di dadanya.
"Ada apa" tanya Rendra
Reno tersenyum menatap Rendra, sahabatnya itu memeng tidak pernah suka basa-basi.
"sekertaris loe udah punya gebetan baru blom, kalo belom gw mau mendaftar" ucap Reno sambil cengengesan.
"loe keruangan gue cuma mau nanyain itu doang ?. sebelum loe masuk keruangan gue loe ngelewatin meja kerjanya dulu, kenapa gak loe tanya ajah langsung ke orang nya" jawab Rendra dengan sedikit ketus.
"Sensi amat loe kalo gue nanya-nanya tentang Alantta" Reno menghentikan ucapan nya sejenak ia mendekatkan wajahnya kearah Rendra. "Jangan-jangan loe juga suka sama dia" lanjutnya
Rendra sedikit salah tingkah mendengar ucapa Reno, laki-laki itu menghidupkan komputer nya untuk menghindari tatapan Reno.
"Jangan ngaco loe kalo ngomong, kalo gue suka sama dia udah dari tiga tahun yang lalu gue pacarin" ucap Rendra tanpa memalingkan wajahnya dari layar komputer.
Reno tersenyum curiga, matanya terus menatap Rendra yang masih fokus menatap layar komputer.
"Bagus lah. kalo gitu gue gak perlu Taku bersaing dengan sahabat sendiri" laki-laki itu beranjak dari duduknya.
"Do'akan gue semoga gue berhasil" lanjutnya sambil membuka pintu.
Rendra terdiam menatap punggung Reno yang sudah menghilang di balik pintu, tangannya mengetuk-ngetuk meja entah kenapa dia merasa terganggu dengan perkataan Reno.
Laki-laki itu menggeleng kan kepalanya, mungkin ia hanya hawatir dengan Alantta mengingat Reno adalah seorang playboy cap kapak. dia hanya kasihan jika Alantta hanya akan di permainkan.
Setelah keluar dari ruangan Rendra, Reno menghampiri meja Alantta. laki-laki itu duduk di kursi didepan Alantta.
"Hay" Reno tersenyum menatap Alantta dengan melipatkan kedua tangannya di atas meja.
"Hay juga pak Reno" ucap Alantta melihat Reno sekilas lalu kembali fokus dengan pekerjaannya lagi.
"Lagi sibuk ya"
"Iya nih pak, lagi banyak kerjaan"
"Sama. aku juga banyak banget pekerjaan sampai numpuk"
Alantta menyerengit mendengar ucapan Reno.
"Em_Aku kesini habis membicarakan laporan tahunan sama Rendra" Reno merasa bodoh sekali di hadapan Alantta, bagaimana mungkin ia mengaku banyak kerjaan sedangkan dia duduk di sini hanya menggoda perempuan itu.
***
"Apa Reno menghampirimu setelah keluar dari ruangan ku" laki-laki itu melirik Alantta yang duduk di samping nya.
"Iya" Alantta mengangguk.
Rendra termenung sejenak."Apa yang dia katakan"
Alantta menyerengit bingung "Tidak ada. dia hanya seperti biasa menyapa ku"
"Memangnya ada apa ?"
"Em_tidak apa-apa. lupakan" Peria itu mengusap tengkuknya.
Pak Jono memarkirkan mobil di depan apartemen Alantta.
"Terimakasih" Alantta tersenyum. tapi saat hendak membuka pintu mobil Rendra mencekal lengannya.
"Mulai besok kau tidak perlu menyiapkan kebutuhan ku lagi" Rendra melepaskan cekelan itu.
"Kau memecat ku" Alantta menatap Rendra dengan wajah yang bingung.
Rendra tersenyum, laki-laki Kitu menatap manik hitam milik Alantta.
"Tidak. Aku tidak memecatmu kau masih menjadi sekertaris ku" Rendra melonggarkan dasinya ia melihat wajah Alantta yang semakin kebingungan.
"kau tidak perlu repot-repot lagi datang ke apartemen ku untuk menyiapkan kebutuhan ku, kau bisa menyiapkan sarapan ku di pantry kantor saja atau kau bisa menyuruh OG"
"Kau tidak puas dengan pekerjaan ku"
Rendra berdecak seraya tersenyum "Aku sangat puas dengan pekerjaan mu Alantta. hanya saja Aku terlalu memporsir pekerjaan mu"
"Mulai besok kau bisa langsung datang ke kantor saja, kau tidak perlu lagi bangun terlalu pagi karna harus mengurus keperluan ku. Mengerti" pria itu mengusap rambut Alantta.
Alantta merasa gugup mendapat perlakuan itu, ya..selama beberapa bulan ini memeng Rendra menyuruh Alantta untuk berbicara lebih santai dengannya agar terasa lebih akrab. tapi perempuan itu benar-benar tidak menyangka Bosnya yang sangat kaku terhadap wanita bisa berubah 180 derajat jika dengannya.
Setelah mengantar Alantta Rendra menyuruh pak Joko untuk mengantarkan nya ke sebuah cafe, ia mendapat pesan dari Reno untuk menemuinya di cafe Cafino.
Rendra masuk kedalam cafe, matanya melihat sekeliling mencari keberadaan Reno.
"Draa" Reno melambaikan tangannya.
Rendra menghampiri Reno, laki-laki itu sudah duduk bersama Andre teman kampusnya, mereka bertiga memang bersahabat saat masih kuliah. berbeda dengan Rendra dan Reno yang sudah berteman dari mereka sekolah menengah keatas. dengan Andre mereka baru berteman saat pertama kali masuk kuliah.
"Wih.. CEO muda datang. Apa kabar ?" Tanya Andre sambil memeluk Rendra dengan gaya laki-laki.
"baik, loe sendiri gimana ? semenjak kawin susah banget di ajak ngumpul" saut Rendra yang sudah mendudukkan tubuhnya.
"yah.. loe tau kan gue tinggal di Bandung, istri gue gak bisa ninggalin ibunya sendirian"
"Dia lagi jadi menantu idaman Draa" sahut Reno dengan tertawa " gue juga lagi nyari calon istri orang Bandung biar bisa deketan sama loe" lanjutnya membuat Andre tertawa.
"gue gak percaya playboy kaya loe mau nyari calon istri"
"Bener Dre, loe tau. hampir semua kariawan gue dia modusin"
"gak semuanya kali Draa, Bu Yuli gak gue modusin" Bu Yuli adalah wanita yang bertubuh gempal dengan suara yang cempreng tapi belum menikah di usianya yang sudah berkepala empat.
Mereka mengobrol dengan penuh canda tawa, sudah lama sekali memang mereka tidak berkumpul seperti itu, ini sangat mengurangi rasa penat Rendra setelah mengurus kantor, dua sahabatnya itu memang memiliki sifat yang berbeda. Reno yang sedikit somplak laki-laki itu sangat minim jika diajak berbicara serius dan Andre yang lebih dewasa laki-laki itu paling bisa mengimbangi sifat Rendra dan Reno.
bersambung...
smgt trusss u/ othoorrr, & suksdlm berkarya ya😊😊
krn seseorang itu akan terasa berharga stlh dia prgi..