Zara, gadis sederhana dan polos, dipersatukan dengan Adrian Romanov — pria dingin berkuasa yang membuat hidupnya benar-benar menderita. Dituduh, disakiti, dikucilkan, ia terbelenggu takdir kematian yang mengikatnya erat, selalu membayangi setiap langkahnya.
Namun sebutir nyawa kecil yang tumbuh di dalam rahimnya yang memberi alasan untuk bertahan. Namun di balik semuanya tersembunyi rahasia besar. Nanti saat kebenaran terkuak, akankah ia lepas dari belenggu itu… atau justru terjerat makin dalam?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon PUTRI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
di ujung keputusasaan
Dokter masuk lebih dulu, lalu duduk di kursi di belakang meja kerjanya yang luas dan rapi — terdengar bunyi halus saat ia menyusun berkas, napasnya tenang namun penuh kesungguhan. Aku ikut duduk di hadapannya, terpisah jarak yang terasa jauh dan dingin; kursi besi itu terasa keras menopang tubuhku yang sudah terasa lemas sejak tadi.
“Maaf, hubungan Anda dengan pasien?” tanyanya lembut namun tegas, pena berhenti sejenak di atas berkas sebelum mulai menulis pelan dan teratur.
“Kakaknya,” jawabku pelan, suaraku lemah nyaris tak terdengar, seolah berat sekadar mengucapkan dua kata itu — bibirku terasa kaku dan kering.
Dokter mengangguk perlahan, menatapku penuh pertimbangan serta simpati yang tak bisa disembunyikan; matanya yang tenang seakan sudah tahu betapa berat kabar ini bagiku. “Begini, Anda beruntung. Meski sempat terjadi pendarahan hebat, adik Anda selamat dan kondisinya perlahan membaik. Namun operasi harus segera dilakukan. Benturan keras di kepala mengganggu fungsi otak, dan ia kehilangan banyak darah. Keadaannya sangat berbahaya; kalau terlambat sedikit saja, nyawanya bisa terancam sewaktu‑waktu.”
Mataku terbelalak tak percaya, napas tertahan di kerongkongan — udara tiba‑tiba terasa habis. “Berapa… berapa kira‑kira biayanya, Dok?” jantungku berdebar kencang, berharap angka yang masih bisa kujangkau.
“Enam ratus juta rupiah.”
Seketika dunia seolah berhenti berputar. Langit runtuh di atas kepalaku. Aku terpaku diam — tak bernapas, tak berkedip, tak bergerak sedikit pun — detak jantung berpacu begitu kencang hingga dadaku terasa sesak dan nyeri, rasanya akan pecah berkeping‑keping. Enam ratus juta… angka yang tak pernah kubayangkan ada dalam satu kalimat — angka yang tak mungkin kumiliki dalam seumur hidup, apalagi dalam waktu singkat. Kata‑kata itu bergema berulang kali di kepalaku, menenggelamkan segala hal lain.
Melihatku terguncang hebat, wajahku pucat tanpa darah serta tanganku gemetar tak terkendali, dokter segera menenangkan suaranya agar makin lembut: “Saya paham beban ini sangat berat untuk Anda tanggung sendirian. Ambil waktu sebentar, tenangkan diri dulu — kami belum akan memaksanya saat ini juga.”
Aku bangkit perlahan, melangkah keluar lalu menutup pintu pelan‑pelan dari luar — bunyi ‘klik’ halus terasa seperti penutup harapan terakhir. Kakiku terasa berat seolah terikat timah, nyaris terhuyung saat berjalan menuju ruang perawatan Aslan; setiap langkah terasa memakan waktu selamanya. Hatiku diremas perih, namun aku segera menyeka air mata yang mulai menetes dengan punggung tanganku yang kasar, menarik napas dalam‑dalam berkali‑kali untuk menguatkan hati yang gemetar, lalu melangkah masuk seolah tak ada beban berat yang baru saja kudengar — senyum tipis kupaksakan muncul meski di dalamnya rasanya hancur berkeping‑keping.
Ruangan itu terang namun terasa dingin, bau obat tercium lembut namun menusuk hidung; terdengar bunyi berirama datar dari alat pemantau: tit… tit… tit… Di tengah ruangan, Aslan terbaring diam di atas ranjang, terpisah tirai biru tipis yang bergerak pelan ditiup angin dari arah pasien lain. Tubuhnya terlihat begitu kecil dan rapuh, hilang di balik selimut putih yang bersih namun dingin dan kaku.
Tiba‑tiba kepalanya bergerak pelan di atas bantal. Matanya yang sayu dan berat berusaha terbuka perlahan, bulu matanya bergetar — menatap ke arahku dengan pandangan yang masih kabur namun lembut, penuh rasa percaya yang tak tergoyahkan.
“Kak… kita di mana? Kenapa seluruh tubuhku terasa sakit sekali… rasanya demam naik turun… kadang dingin, kadang panas…” suaranya lemah, nyaris berbisik, seolah setiap kata yang diucapkannya menyakitkan, napasnya pun terasa pendek dan berat.
Aku mendekat ke tepi ranjang, duduk pelan di kursi pinggir tempat tidur, berusaha keras menahan suaraku agar tak bergetar, agar tak terdengar sehancur apa yang kurasakan di dalam — agar ia tak tahu betapa hancurnya kakaknya saat ini. “Di rumah sakit, Dik. Bagian mana yang paling sakit? Katakan pada Kakak, ya?” tanganku menyentuh jari‑jarinya yang terasa hangat namun lemas.
Dia mencoba tersenyum lemah — senyum yang nyaris tak terlihat, namun tetap ada, tetap tulus, tetap mampu meredakan sedikit rasa perih di hatiku. “Tidak apa‑apa, Kak… rasanya sudah agak berkurang. Tapi Kakak… Kakak tidak apa‑apa? Tidak terluka? Di mana Ayah dan Ibu?”
Aku hanya mengangguk cepat berkali‑kali, takut kalau aku berbicara air mata akan tumpah membanjiri wajahku. Tak lama kemudian aku keluar sebentar, menutup pintu sangat pelan agar ia bisa beristirahat dengan tenang, tanpa tahu bahwa di balik pintu itu kakaknya hancur berkeping‑keping.
Aku duduk bersandar tepat di depan pintu, menatap lantai keramik licin yang memantulkan bayanganku yang terlihat rapuh dan kecil. Pikiran berputar kacau tak menentu. Bagaimana caraku mendapatkan uang sebanyak itu? Enam ratus juta… dari mana aku bisa mencarinya dalam waktu sesingkat ini? gumamku dalam hati, penuh keputusasaan yang perlahan merayap ke setiap sudut jiwaku.
Semakin kusut dan tak tahu harus berbuat apa, akhirnya aku bangkit perlahan, berjalan tanpa arah, mataku melirik ke sana kemari tanpa sadar sampai kakiku membawaku ke pintu keluar rumah sakit.
Malam kota terang benderang. Lampu jalan berderet rapi, gedung‑gedung tinggi berkilauan cahayanya, orang lalu‑lalang sibuk dengan urusan masing‑masing — tak satu pun yang tahu bahwa di antara mereka ada dua anak yang sudah kehilangan segalanya, nyaris tak punya tempat berpijak. Aku meremas ujung bajuku yang kotor, berdebu, dan lusuh — pakaian yang dulu bersih, dulu milik gadis kecil yang bahagia tinggal di lembah yang tersembunyi. Lalu aku menguatkan hatiku sekuat tenaga — demi nyawa Aslan, apa pun akan kulakukan. Tak ada hal apa pun yang takkan kucoba.
Aku memberanikan diri menghadang orang yang lewat, suaraku gemetar namun penuh ketulusan. “Maaf mengganggu… mohon bantuannya. Adikku butuh operasi segera, biayanya enam ratus juta rupiah. Aku berjanji akan membayarnya kembali sekuat tenaga nanti… aku akan bekerja, apa saja yang kau minta…”
Orang itu menatapku angkuh dan penuh jijik, lalu membentakku dengan suara keras dan tajam seolah aku adalah sampah yang ada di kakinya. “Hei anak tidak tahu diri! Pengemis kotor yang bau! Berani‑beraninya menipu orang! Pergi sana, gila!”
Hatiku terasa ditusuk berkali‑kali oleh pisau tajam, namun aku mencoba lagi pada orang berikutnya. Hasilnya selalu sama: ditolak mentah‑mentah, dimaki dengan kata‑kata yang menyakitkan, didorong secara kasar, dianggap penipu yang hanya ingin mencari keuntungan. Tak jauh dari situ, seorang anak kecil menunjuk ke arahku sambil berbicara pada ibunya dengan suara yang sengaja diperkeras.
“Ibu, lihat! Dia terus memaksa minta uang pada semua orang yang lewat! Dia pasti penipu!”
Ibunya melirik sekilas penuh jijik dan meremehkan, lalu menarik tangan anaknya menjauh dengan cepat seolah takut tertular penyakit dariku. “Sudah jangan dilihat, Nak. Dia itu penipu saja. Lihat bajunya kotor, pasti baunya tidak enak. Ayo kita jalan cepat, nanti dia mendekat ke kita.”
Aku berdiri kaku dan diam saja di trotoar yang ramai, menahan isak tangis yang hampir meledak dari tenggorokanku. Setiap kata yang mereka ucapkan menancap di dadaku seperti anak panah beracun. Setiap tatapan mereka terasa seperti api yang perlahan membakar kulitku.
Setetes demi setetes air mata jatuh membasahi pipiku yang sudah mulai kering karena tiupan angin malam. Rasanya ingin menyerah pada kenyataan yang begitu kejam ini, rasanya ingin jatuh dan tak bangkit lagi — tapi belum. Tekadku untuk menyelamatkan Aslan belum padam sedikit pun. Aku memandangi tubuh dan pakaianku: penuh debu, noda lumpur, serta sisa darah kering yang tak sempat kuhapus. Wajar jika mereka tak percaya padaku. Wajar jika mereka menjauhiku.
Kakiku membawaku kembali masuk ke dalam rumah sakit, menuju kamar mandi umum yang ada di sudut lorong yang sepi. Di depan cermin bersih yang terang, kulihat wajahku kusam dan berantakan — mataku bengkak, pipiku terlihat cekung, rambutku kusut tak teratur. Aku menyalakan keran air, membasuh wajah dan tanganku dengan air dingin yang menusuk hingga ke tulang — sejuk, sekaligus menyakitkan, seolah membangunkan kesadaran yang mulai kabur. Aku menyeka debu dan noda di bajuku sekuat tenaga, merapikan rambutku hanya dengan jari — belum rapi sempurna, tapi setidaknya tak seberantakan tadi. Setidaknya… tak terlihat seperti orang yang baru saja lari dari neraka.
Kembali ke halaman depan, sekali lagi aku menghadang siapa saja yang lewat, memohon bantuan sekuat hatiku meski rasa malu terasa membakar dadaku. Tak peduli lagi rasa malu itu, ini semua demi nyawa adikku. Namun lama‑kelamaan jalan makin sepi, tak ada lagi orang yang lewat. Akhirnya aku duduk sendirian di bangku beton tepat di depan pintu, dan pertahanan hatiku runtuh sepenuhnya.
“Ibu… Ayah… di mana kalian? Apa yang harus kulakukan sendirian? Aku kakak yang tidak berguna, hanya bisa menangis tanpa daya…”
Namun perlahan aku mengangkat kepalaku yang terasa berat, menyeka air mata dengan punggung tanganku yang masih gemetar. “Selama aku masih bernapas dan memiliki tenaga, aku takkan membiarkan hal buruk menimpa Aslan. Apa pun akan kulakukan. Apa pun.”
Aku bangkit kembali, menatap gedung‑gedung tinggi yang berkilauan di kejauhan — jendela‑jendelanya bercahaya hangat, tempat di mana orang‑orang duduk makan, tertawa, menjalani hidup tanpa tahu bahwa di bawah sana ada dua anak yang sedang berjuang sekadar agar tetap bisa hidup. Langkah kakiku menyusuri jalan yang makin dingin, sampai akhirnya berhenti tepat di depan gedung besar beralaskan dinding kaca bening — restoran termewah yang pernah kulihat. Dari luar terlihat orang‑orang duduk tenang menikmati hidangan, berbicara lembut satu sama lain, tertawa pelan. Aku sempat ragu sejenak, tapi tetap memberanikan diri melangkah mendekat — belum sempat aku bicara, dua penjaga sudah menghadangku dengan kasar.
“Pergi sekarang! Bukan tempat pengemis sepertimu!”
Belum sempat aku jelaskan maksud kedatanganku, mereka sudah mendorongku menjauh dengan kasar hingga aku hampir terjatuh. Ke gedung sebelah pun halnya sama: diusir tanpa ingin tahu alasannya. Di tempat mewah lain yang tak kukenal, aku berbicara secepat mungkin sebelum sempat diusir, suaraku bergetar penuh harap:
“Mohon dengarkan sebentar! Aku bukan meminta sedekah, aku ingin melamar pekerjaan! Apa saja sanggup kukerjakan! Mencuci piring, membersihkan lantai, apa saja!”
Tak ada satu pun yang mau mendengarkan. Penjaga tetap mengusirku dengan kasar dan tidak sopan, seolah keberadaanku sendiri adalah sebuah pelanggaran.
Aku mundur perlahan, menatap gedung megah itu dengan hati yang penuh keputusasaan, lalu berjalan pergi tanpa tujuan yang jelas. Toko‑toko mulai tutup satu per satu, lampu‑lampu padam satu demi satu, hatiku makin terasa sedih dan sepi. Terus berjalan jauh tanpa arah, sampai sadar aku sudah berada sangat jauh dari rumah sakit — sangat jauh sekali. Di sana hanya ada lorong panjang yang gelap dan sepi, tak ada rumah atau bangunan di sekitarnya. Hanya tembok tinggi serta bayang‑bayang yang memanjang di tanah. Aku menoleh ke kiri dan ke kanan dengan perasaan takut, mencari jalan kembali. Namun tepat saat aku berbalik arah, napasku tercekat di kerongkongan.
Tiga pria dewasa berdiri diam tepat di belakangku. Tak tahu sejak kapan mereka ada di sana — tak bersuara, tak bergerak, namun kini mereka menghalangi jalan pulangku sepenuhnya. Mata mereka menatapku tajam, penuh niat jahat yang tak bisa disembunyikan. Jalan ke belakang tertutup tembok tinggi. Jalan ke depan tertutup ketiga sosok itu.