Sebagian besar cerita berdasarkan kisah nyata.
(SERI KE 6 DARI UNIVERSE NOVEL TIRAKAT)
Perjalanan hidup seorang lelaki bernama Zaki tak semulus dan semudah kelihatannya. Semenjak kematian kedua orang tua kandungnya, Zaki menjalani kehidupan yang cukup berat. Dirinya haru melanjutkan hidup sebagai seorang lelaki yang normal. Namun di sisi lain, dirinya juga hidup dalam TIRAKAT yang tak biasa. Sampai akhirnya takdir membawanya berjumpa dengan tambatan sejati hatinya.
Bagaimana kisah hidup Zaki?
Dan siapakah tambatan hati Zaki yang sejati itu?
SELAMAT MEMBACA...
🥰🥰🥰🥰🥰🥰🥰
.
.
.
DISCLAIMER‼️
Apabila ada kesamaan nama tokoh, latar tempat, agama, ritual, budaya, dan laku tirakat tertentu dengan para pembaca sekalian, harap dimaklumi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DENI TINT, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7 "MAKA AKU AKAN MEMBUNUHMU..."
Sekar Mayang terdiam.
Ia menatap dalam-dalam ke dasar kornea mata tuannya.
Zaki dan perewangan-nya itu saling beradu pandang dalam keheningan yang perlahan memancarkan hawa dingin. Suasana tegang dan pusaran energi gaib di dalam kamar masa kecil Zaki berangsur-angsur surut, kembali normal.
Sebuah senyum penuh arti akhirnya tersungging di bibir Sekar Mayang. Ia melepaskan diri dari rangkulan tuannya dengan luwes.
Tubuh gaibnya berbalik anggun menghadap jendela, membiarkan wajah cantiknya diterpa cahaya matahari dari luar, sementara Zaki masih berdiri menatap wajahnya.
"Hihihihi... Inilah yang membuatku selalu menyukaimu, Zakiku sayang... Kau selalu tangguh dan tak pernah goyah oleh godaanku...."
Dengan anggun dan aura magis yang telah terkendali sepenuhnya, Sekar Mayang mengungkapkan kekaguman yang ia rasakan selama menjadi sosok pendamping pemuda itu.
"Namun... ada satu rahasia yang harus kuberitahu padamu, Zaki..." tambah Sekar Mayang seraya menoleh pelan.
"Apa?" tanya Zaki.
"Mungkin kau belum tahu satu aturan gaib yang mengikat diriku dengan takdirmu... Sebuah aturan mutlak yang kelak bisa menghancurkan masa depanmu."
Zaki mengerutkan kening.
"Maksudmu apa, Sekar Mayang?"
"Jika kelak kau memutuskan untuk melabuhkan isi hatimu pada seorang wanita dari bangsamu, maka kau harus benar-benar melepaskan ikatanku."
"Kenapa? Apa kau cemburu? Bukankah kau lelembut yang ditugaskan untuk terus melindungiku?"
Atmosfer di antara mereka mendadak terasa lebih berat. Nuansa menggoda yang sedari tadi mendominasi, kini menguap tak bersisa, dan berganti dengan keseriusan yang terasa mencekam dan menekan kuat.
"Iya, aku memang bangsa gaib yang bisa terus mendampingimu, Zaki... Tapi, kodrat gaibku akan menolak kehadiran manusia lain di sisimu. Jika kau mencintai wanita dari bangsa manusia tanpa melepasku, maka energi gaibku lah yang kelak akan menjadi kutukan penyebab kegagalan cintamu," jelas Sekar Mayang.
Sepasang bola mata merah cerahnya kini meredup, memancarkan pendar merah pekat yang menyiratkan kesungguhan absolut.
Mendengar penjelasan itu, Zaki langsung memahami konsekuensinya.
Pemuda itu membuang napas berat, lalu mengalihkan pandangannya ke arah luar jendela kamar.
"Begitu, ya..." respons Zaki singkat, suaranya terdengar dingin.
"Iya, Zakiku sayang...."
"Baiklah, aku paham."
"Tapi..." Sekar Mayang menjeda kalimatnya.
"Aku akan memberitahumu rahasia tentang wanita itu sekarang. Rahasia yang tadi sempat tertahan saat aku menggodamu...."
Zaki kembali menoleh, menatap lekat wajah perewangan-nya itu, menunggu kelanjutan kalimatnya.
"Aku akan tetap bisa berada di dekatmu, jika kelak kau memang ditakdirkan bersama wanita itu," ucap Sekar Mayang dengan nada penuh keyakinan.
"Mbak Nisa maksudmu?"
"Tentu...."
"Bagaimana caranya? Kamu barusan bilang sendiri, kan? Jika aku mencintai wanita dari bangsa manusia, aku harus melepasmu," sanggah Zaki mengulang peringatan sebelumnya.
"Benar... Tapi sepertinya dirimu sedikit melupakan sesuatu tentang wanita itu, Zakiku sayaaang...."
"Lupa? Lupa apa?" Zaki mendesak.
Tanpa menjawab, Sekar Mayang kembali mengayunkan langkah mendekati tuannya.
Kali ini, tak ada sedikit pun niat untuk menggoda. Ia murni hanya ingin mengalirkan pesan takdir yang ia ketahui.
Sekali lagi, Sekar Mayang mengalungkan kedua lengannya di leher Zaki.
Wajah mereka berada dalam jarak yang sangat intim, hingga ujung hidung mereka saling bersentuhan.
Kedua bibir mereka hanya berjarak satu sentimeter.
Hawa dingin dari tubuh gaibnya menguar, terlebih saat sepasang payudaranya yang kencang sengaja ia tempelkan ke dada Zaki.
Lalu... Sekar Mayang berbisik...
"Wanita itu didampingi oleh Dayang Putri... Dan kau didampingi oleh diriku... Benar, kan?"
Zaki mengangguk pelan.
"Jika nanti kau memang ditakdirkan untuk kembali bertemu dengan wanita itu, dan kau memutuskan untuk mencintainya... maka aku akan tetap bisa berada di dekatmu, Tuanku sayang...." Suara Sekar Mayang mengalun lembut, membuai gendang telinga Zaki.
"Lalu? Katakan lagi semuanya, Sekar Mayang," titah Zaki.
"Aku pun menyukai wanita itu," jawab sang perewangan.
"Maksudmu?"
Alih-alih menjawab dengan kata-kata, jari jemari Sekar Mayang mulai membelai tengkuk dan membelai mesra helaian rambut tuannya.
Sebuah sentuhan intim, namun anehnya, tanpa diiringi kilatan merah menyala di matanya.
Lewat sentuhan itu, Zaki bisa merasakan bahwa manuver Sekar Mayang kali ini murni merupakan wujud kasih sayang dan naluri perlindungan yang tulus untuknya.
"Jika kau melepasku kelak... maka aku akan menyeberang dan mendampingi Dayang Putri. Melindungi wanita itu... selamanya," ungkap Sekar Mayang.
"Kamu mau jadi perewangan kedua buat Mbak Nisa? Itukah maksudmu?"
Sebagai jawaban, Sekar Mayang melancarkan satu manuver terakhir yang tak terduga.
Ia memajukan wajahnya, lalu mengecup bibir Zaki dengan sangat lembut.
Hanya satu kecupan singkat.
Namun bagi Zaki, sentuhan dingin dari bibir perewangan-nya itu tak terasa erotis sama sekali, melainkan terasa bagai sebuah segel janji gaib yang menancap sangat dalam di jiwanya.
"Iya... Aku akan menjadi perewangan kedua untuk wanita itu. Dengan begitu, aku akan bisa terus berada di dekatmu juga. Hanya saja, tugasku melindungimu akan usai, karena baktiku akan berpindah sepenuhnya untuk menjaga wanita itu."
Pikiran Zaki langsung tercerahkan. Ia mengerti sekarang.
Jika kelak Nisa benar-benar menjadi pelabuhan hati terakhirnya, maka ia harus melepas ikatan Sekar Mayang seutuhnya.
Keputusan itu adalah jalan tengah terbaik—sebagai bentuk perlindungan ekstra untuk Nisa, bentuk kasih sayang sang perewangan yang tak ingin berpisah jauh dari tuannya, sekaligus cara agar energi gaib Sekar Mayang tidak merusak hubungannya dengan Nisa di masa depan.
Zaki tersenyum lega.
Masih dalam rangkulan mesra sang lelembut, di mana embusan napas mereka masih saling bertubrukan, Zaki melontarkan satu pertanyaan.
"Memangnya kau tahu, kalau di masa depan nanti aku akan bertemu lagi dengan Mbak Nisa?"
Sudut bibir Sekar Mayang tertarik membentuk senyuman misterius.
"IYA... TEPAT DI SAAT WANITA ITU MENGINJAK USIA 31 TAHUN."
Zaki refleks mengerutkan dahinya.
"Jangan sok tahu kamu. Masa iya penglihatanmu sudah bisa sejauh itu?" bantah Zaki meragukan ucapan perewangan-nya.
"Hihihihi... Dasar, kau memang tuanku yang sangat polos!" kekeh Sekar Mayang geli.
Kekehannya mereda, berganti dengan sorot mata yang menajam.
"Tapi ingat, jika nanti aku sudah menjadi perewangan kedua untuk wanita itu, aku hanya minta satu hal padamu, Zakiku sayaaang...."
"Apa?" tanya Zaki.
"Jangan pernah kau menyakiti hatinya... Jika kau berani melakukan itu, maka...."
Sekar Mayang sengaja menggantung kalimatnya, membiarkan Zaki menunggu dalam ketegangan yang membesar.
Namun, sebelum untaian kata itu tuntas, Sekar Mayang kembali meraup bibir tuannya.
Kali ini, ciumannya jauh lebih dalam dan lama.
Begitu ciuman dingin itu terlepas, Sekar Mayang menatap lekat-lekat wajah Zaki.
Tatapannya menembus hingga ke dasar kornea mata pemuda itu, memancarkan keseriusan yang mematikan dan menekan seluruh titik energi gaib Zaki.
Dan...
Sang perewangan menjatuhkan titah terakhirnya...
Menggema dengan aura gaib yang sangat mencekam di ruangan itu...
"JIKA KAU BERANI MENYAKITI HATI WANITA ITU, MAKA AKU SENDIRI YANG AKAN MEMBUNUHMU, TUANKU SAYANG...."
Zaky ke jakarta bwt menghapus trauma masa lalu.
Dan Yuli ke kota udang bwt memupuk dendam.
aku yg tau kota itu, msh suka kaget klo ngomong sama orang sana, intonasi nya tinggi trs klo ngomong
Jangan jangan Yuli turun mobil nya di terminal harjamukti.
Selamat Datang di Cirebon Yuli.
semangat yul💪💪
seperti itu ya orang klo udah ketutup dendam. sumpah serapah nya ngerii
yuli juga jngn terlalu menjudge zaky biar gimana pun zaky juga yg paling sangat terluka dan trauma, Zaky udah kna Karma nya. jangan ditambah lgi dgn saksi kmu yull
( duhh aku komen apa sihh) next aja ya