Indonesia
NovelToon NovelToon
EZARD

EZARD

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Dikelilingi wanita cantik / Reinkarnasi / Berbaikan / Light Novel
Popularitas:11.9k
Nilai: 5
Nama Author: OrangAsing27_

Pemalas dan beban.

Reyasa sudah kenyang dikatai seperti itu di tempatnya menempuh pendidikan.

Aneh.

Keluarganya saja tidak mempermasalahkan hal itu. Tapi entah kenapa teman sekelasnya justru mengatainya seolah merekalah yang paling dirugikan dari sifat pemalasnya.

__________

Ezard.

Reyasa adalah Ezard.

Mahluk yang diberkati sayap dan kekuatan oleh Tuhan.

...

Terbiasa tidur dan santai dalam menghadapi masalah, apa yang harus Reyasa lakukan saat masalah itu menyangkut dengan keluarganya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon OrangAsing27_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PART 8

"Berdasarkan jumlah nilai dari ujian dan keseharian, posisi Onezard diduduki oleh ... kelompok Matheo."

Ekspresi kecewa tak dapat disembunyikan dari wajah para Ezard di sana. Setelah berusaha mati-matian, hingga lukanya belum sembuh sampai saat ini, kelompok Matheo tetap menduduki posisi Onezard.

"Tenanglah. Masih ada waktu sebelum kalian lulus. Kalian bisa berusaha lebih baik lagi," ucap Errol. "Untuk kelompok Matheo, selamat! Kalian berhasil mempertahankan posisi kalian untuk yang kesekian kalinya."

Matheo tersenyum bangga. Tentu saja. Luka yang ia dapat lebih parah dari sebelumnya, jadi ia merasa pantas mendapatkan posisi Onezard ... lagi. Selain itu, posisi Onezard kali ini diperjuangkan oleh seluruh anggota kelompoknya, tidak seperti sebelumnya yang hanya mengandalkan dirinya dan ketiga saudaranya, sedangkan Reyasa memilih untuk tidak berusaha keras.

"Baiklah. Kalian sudah bisa pulang," ujar Errol. "Kalian masih terluka, jadi sebaiknya kalian beristirahat."

Setelahnya, para Ezard mulai berpencar dari ruang kesehatan.

Ya, pengumuman posisi Onezard dilakukan di ruang kesehatan, karena para Ezard masih terluka. Hanya Reyasa dan Ravel yang tidak terlihat kesakitan.

"Apa kita akan pulang?"

Matheo menoleh ke arah sumber suara. Ia mendapati ekspresi bingung dari Reyasa. "Tentu saja. Kau ingin kami bermalam lagi di sini?"

Reyasa menggeleng. "Bukan begitu."

"Sudahlah, ayo pulang!" sela Savian. "Kulihat lukamu langsung sembuh dalam semalam. Bagaimana bisa?"

Reyasa menatap sekilas tangan kirinya yang memang tidak memiliki luka sedikit pun. "Entahlah. Aku tidak tau. Lukanya hilang secara tiba-tiba," jawabnya.

"Kita bicara di rumah saja, aku sudah tidak tahan ingin segera istirahat," tukas Navaro. "Sialan! Julian membuat kakiku sulit bergerak."

"Tapi kau juga membalasnya lebih parah," balas Matheo.

Kelima saudara itu berjalan beriringan dengan sedikit kesusahan akibat luka yang diderita di kaki---kecuali Reyasa. Tatapan tak suka mereka dapatkan dari pada Ezard yang masih ada di ruang kesehatan. Namun, tentu saja mereka tidak peduli. Toh, mereka juga berusaha untuk mendapatkan posisi Onezard.

Setelah tiba di halaman depan Ferezard, mereka segera memunculkan sayap mereka dan terbang menjauh dari tempat itu.

"Ada apa denganmu?" tanya Azura kala matanya menatap Reyasa yang tampak mengernyit setiap mengepakkan sayapnya.

Reyasa yang terbang di samping kanan Azura hanya menggeleng, tanpa mengatakan apa pun.

Azura berdecak. "Aku butuh jawaban dari mulutmu," ketusnya. "Ada apa?"

"Punggungku sakit," jawab Reyasa. "Sepertinya karena aku sempat terbanting ke tanah beberapa kali."

Azura tak membalas. Ia mengingat kembali kejadian kemarin. Sebelum dibawa ke ruang kesehatan, ia melihat Reyasa hampir dikalahkan oleh lawannya dari kelompok 7. Berkali-kali, Reyasa terbanting ke tanah dengan posisi berbaring. Jika yang lain hanya sesekali terbanting ke tanah atau pohon di sekitar, Reyasa cukup sering mengalaminya saat ujian kekuatan kemarin. Sepertinya, wajar jika punggung Reyasa merasakan sakit lebih dari pada yang lain.

"Kau tidak meminta diobati?"

Reyasa menggeleng. "Punggung adalah area pribadi. Tidak mungkin aku meminta petugas kesehatan mengobatiku," balasnya. "Ah, sudahlah. Nanti pasti sembuh dengan sendirinya."

"Kau bisa meminta Ibu untuk mengobatimu," ujar Azura.

"Tidak. Aku tidak perlu diobati. Ini hanya luka kecil, kalian yang harus diobati."

"Ya sudah, terserahmu saja. Jangan merengek, jika kau kesakitan nanti," tukas Azura.

Keduanya terdiam hingga sampai di depan rumah. Sambutan selamat datang langsung mereka dapat dari Jason dan Helena yang sudah menunggu di halaman depan.

"Astaga! Luka kalian lebih banyak dari sebelumnya," ujar Helena. "Ayo masuk! Kalian harus segera beristirahat."

Reyasa terdiam di tempatnya. Ia menatap kepergian saudara dan orang tuanya.

"Kenapa kau tidak masuk?" tanya Reyya bingung.

Reyasa menoleh ke gerbang. Ia merasakan sesuatu. Namun, tidak ada siapa pun di sana. "Ada yang aneh," gumamnya. "Seperti ada yang memanggilku."

"Coba mendekat sedikit! Jaraknya terlalu jauh, aku tidak bisa merasakan apa pun," ucap Reyya yang langsung dituruti oleh Reyasa. Ia menoleh ke kanan ke kiri, tapi tidak ada siapa pun. Jalanan di depan rumahnya sangat sepi.

"Masuk, Reya! Ada seseorang di sekitar sini. Energinya berbeda dari Ezard pada umumnya. Masuk cepat!"

Reyasa segera melangkahkan kakinya untuk memasuki rumah. Ekspresi kebingungan tidak dapat ia sembunyikan dari keluarganya yang tengah duduk di sofa.

"Reya, ada apa?" tanya Helena. "Kau baik-baik saja?"

"Aku ... itu---ah, tidak. Tidak ada apa-apa." Reyasa menggelengkan kepalanya. "Aku ingin ke kamar," katanya sambil berlalu pergi, meninggalkan keluarganya yang menatap punggungnya dengan tatapan bingung sekaligus khawatir.

"Apa dia baik-baik saja?"

***

"Bulan merah akan tiba sepekan lagi."

Reyasa yang tengah membaca buku bersampul coklat yang sempat ia ambil dari perpustakaan di rumahnya seketika menghentikan fokusnya. "Sepekan lagi?"

"Iya."

Suara Reyya terdengar lemah. Itu membuat Reyasa sedikit merasa bersalah, mengingat ia selalu mengulur waktu untuk membantunya. "Memangnya buku yang kita cari isinya apa?"

"Buku itu ... menyimpan sebagian besar kekuatanku yang berarti sebagian besar jiwaku juga ikut terperangkap di sana."

"Lalu, bagaimana cara agar kau bisa mengembalikan kekuatanmu? Memakan buku itu?" tanya Reyasa.

Reyya berdecak. "Ada caranya di buku itu," jawabnya. "Apa kau lupa? Kau pernah datang ke Vardzone dan mendengarkan percakapan para Vardz sialan itu."

Reyasa mengerjap bingung. "Benarkah? Kapan aku ke sana?"

"Beberapa hari sebelum kau mengetahui elemenmu," balas Reyya. "Kau sungguh tidak ingat?"

Reyasa terdiam sejenak. Mencoba untuk mengingat kembali kejadian-kejadian sebelumnya. "Ah, iya!" serunya. "Untung saja aku tidak ketahuan."

"Kau ingat apa yang mereka katakan?"

Reyasa mengangguk. Mengingat setiap percakapan yang terjadi di Vardzone saat ia menyelinap ke sana.

"Sebentar lagi bulan merah. Kau yakin dia tidak dapat kembali ke Vardzone?" tanya salah satu perempuan di sana. Reyya tidak mengatakan siapa namanya.

Laki-laki dengan mata merah menjawab, "Aku sudah mengurung sebagian besar kekuatannya di buku."

"Sebagian? Kenapa tidak semuanya?" tanya laki-laki dengan bola mata berwarna biru tua.

Ada 6 Vardz di sana. Tengah duduk mengelilingi sebuah meja bundar. Rambut mereka sama-sama berwarna putih. Yang membedakan adalah bola mata. Ada 4 laki-laki dan 2 perempuan di sana. Dikarenakan Reyasa jarang sekali mengikuti pelajaran di Ferezard, ia jadi tidak tau nama-nama dari para Vardz itu. Ia bahkan tidak tau nama Vardz yang menumpang di tubuhnya.

"Apa kau yakin sebagian kekuatannya yang lain tidak akan membalas dendam pada kita?" tanya perempuan dengan mata berwarna biru.

Laki-laki bermata merah berdecak. "Tenang saja. Kekuatannya tidak akan mampu bangkit. Aku yakin."

"Bulan merah sebentar lagi akan tiba," cetus perempuan bermata kuning. "Itu artinya tepat sepuluh ribu tahun dia menghilang."

"Bagaimana jika dia meminta bantuan pada Ezard atau ... Crideos?" tanya laki-laki bermata hijau terang.

"Tidak mungkin. Sebagian besar jiwanya sudah terkurung di dalam buku dan sebagian kecil jiwanya tidak mungkin menemukan di mana buku itu," jawab laki-laki bermata merah.

"Apa ada cara mengeluarkannya?" tanya perempuan bermata biru yang langsung mendapat tatapan tak mengenakan dari Vardz yang ada di sana. "Maksudku, jika di buku itu ada cara mengeluarkannya, bisa saja dia meminta bantuan untuk mencari buku itu."

"Ada. Buku itu menyimpan cara mengeluarkan makhluk-makhluk yang ada di dalamnya, termasuk dia," jawab laki-laki bermata merah. "Tidak ada tempat seburuk buku itu untuk mengurung kekuatan."

"Memangnya kau mengurung dia di buku apa?" tanya laki-laki bermata biru tua.

"Buku ... Mikaela Caitlin."

"Andai saja mereka mengatakan di mana buku itu," gumam Reyasa. "Besok aku akan mencarinya."

"Terima kasih sudah mau membantuku."

Reyasa bergumam pelan. "Aku ingin kembali membaca. Jadi, kau harus diam."

"Hmm."

Kekuatan Ezard berasal dari batu yang tersimpan apik di tempat yang tidak dapat dijangkau siapa pun. Sampai saat ini, tidak ada yang tau di mana sebenarnya batu itu.

Batu tersebut bernama Lucy Iris. Tak hanya satu, tapi ada 8 batu yang menjadi sumber kekuatan para Ezard. Setiap batu memiliki warnanya masing-masing, sama seperti rambut Ezard yang memiliki warna berbeda-beda.

Ada batu berwarna merah, untuk para Ezard yang terlahir dengan rambut berwarna merah. Batu berwarna jingga, untuk para Ezard berambut jingga. Batu kuning, untuk para Ezard berambut kuning. Batu hijau, untuk para Ezard berambut hijau. Batu biru, untuk para Ezard berambut biru. Batu biru tua, untuk para Ezard berambut biru tua. Batu ungu, untuk para Ezard berambut ungu. Yang terakhir, batu berwarna putih. Batu warna putih dikenal sebagai batu paling kuat, tapi kekuatannya itu terbagi untuk seluruh Ezard yang terlahir tanpa 7 warna yang disebutkan.

"Aku baru tau hal ini," gumam Reyasa.

"Padahal itu hal umum. Bisa-bisanya kau tidak tau."

Reyasa berdecak. "Diamlah! Aku akan lanjut membaca."

Berbeda dengan para Ezard yang mendapatkan kekuatan dari batu Lucy Iris, para Vardz mendapatkan kekuatan jika mempelajarinya sendiri melalui buku-buku yang ditinggalkan para Vardz terdahulu.

Tanpa belajar, Vardz tidak akan mendapatkan kekuatan apa pun.

"Untung aku lahir sebagai Ezard," gumam Reyasa. "Tanpa belajar pun aku sudah punya kekuatan."

"Jika kau lahir sebagai Vardz dengan sifat pemalasmu itu, kau pasti akan dicaci maki dan disisihkan oleh para Vardz."

"Benarkah?"

"Ya. Kau pasti akan menjadi Vardz terlemah, jika kau lahir sebagai Vardz pemalas."

"Hmm ... merepotkan sekali."

***

"Apa kau yakin buku yang kau maksud ada di Ferezard?" Reyasa memelankan suara langkah kakinya ketika memasuki area Ferezard. Ini kedua kalinya, ia masuk ke Ferezard di malam hari. "Bagaimana jika ternyata buku itu ada di Vardzone?"

"Tidak. Aku yakin sekali, buku itu ada di Ferezard," jawab Reyya. "Buku itu tidak hanya menyimpan kekuatanku. Ada beberapa musuh Ezard dan musuh Vardz di sana. Jadi, tempat paling aman untuk menyimpannya  adalah Ferezard."

"Musuh?" ulang Reyasa. Selama 10 ribu tahun hidup, rasanya ia tidak pernah menjumpai satu pun musuh Ezard, selain kaum Ezard itu sendiri.

"Kau tidak tau?"

Reyasa menggeleng.

"Ezard dan Vardz memiliki musuh yaitu Crideos. Mereka serupa dengan kita, tapi mereka bisa berubah menjadi monster," jelas Reyya. "Di buku itu, ada beberapa Crideos yang dikurung, karena mereka sulit dilenyapkan."

"Aku baru tau ada mahluk bernama Crideos," gumam Reyasa.

"Saat ini, Crideos diduga sudah punah. Jika ada pun, mereka terkurung di dalam buku yang sama denganku. Tapi entahlah, bisa saja mereka bersembunyi," tambah Reyya. "Sebenarnya ada yang lebih menakutkan dari Crideos."

"Apa?"

"Razura. Mereka seperti Crideos. Tapi mereka lebih berbahaya," jawab Reyya. "Yang aku tau, Razura itu selalu membuat perjanjian dengan Ezard atau Vardz. Razura akan memberikan sedikit kekuatannya pada Ezard atau Vardz yang sudah membuat janji dengannya. Setelah itu, Razura akan menyedot habis seluruh kekuatan Ezard atau Vardz itu hingga mati."

Reyasa tiba-tiba berhenti berjalan. Terkejut mendengar penjelasan Reyya, sekaligus terkejut melihat ada seseorang di perpustakaan.

"Siapa itu?"

Reyasa menggeleng. "Aku tidak tau. Wajahnya tidak terlihat," bisiknya.

Reyasa segera bersembunyi di balik rak buku saat seseorang yang ada di sana menoleh. Ia sedikit mengintip untuk melihat siapa kira-kira yang malam-malam seperti ini berada di perpustakaan?

"Mata itu ...."

Reyasa kembali bersembunyi, saat seseorang itu berjalan ke arahnya, tepatnya ke arah pintu. Setelah memastikan semuanya aman, Reyasa segera berjalan menuju tempat seseorang itu berdiri tadi. Namun, ia tidak menemukan apa pun, tidak ada yang aneh di sana.

"Kau tau siapa dia?"

"Jika dilihat dari matanya, hanya ada satu Ezard dengan mata ungu yang aku tau," jawab Reyasa. Ia mengotak-atik beberapa buku di rak tempat seseorang itu berdiri.

"Siapa?"

"Pak Aldrich."

"Aldrich?" ulang Reyya. "Namanya tidak asing. Dia ... dia Ezard kepercayaan Asher!"

"Asher? Siapa Asher?" tanya Reyasa.

"Vardz bermata merah yang kau lihat saat menyelinap ke Vardzone."

"Ah, iya. Aku ingat---eh?" Reyasa mengerjap kaget melihat rak buku di depannya yang tiba-tiba saja bergeser, hingga menampilkan sebuah ruangan yang sama gelapnya dengan perpustakaan. "Aku menyentuh apa?"

"Ada suara langkah kaki. Sembunyi!" seru Reyya yang langsung dituruti oleh Reyasa.

Benar saja. Seseorang bermata ungu kembali masuk ke perpustakaan.

"Untung saja aku kembali, pintunya ternyata masih terbuka."

Reyasa mengintip dari balik rak buku. Keadaan yang gelap membuat persembunyiannya aman, meski posisinya sangat dekat dengan seseorang itu.

"Kenapa aku ceroboh sekali? Hampir saja aku meninggalkan kunci dan pintunya terbuka."

Terdengar gerutuan dari seseorang bermata ungu itu.

"Hhh ... kenapa juga harus aku yang memegang kunci ini? Merepotkan."

Bersamaan dengan seseorang itu yang keluar dari perpustakaan, Reyasa turut keluar dari persembunyiannya.

"Dari suaranya, aku yakin itu Pak Aldrich," ujar Reyasa. "Apa yang dia sembunyikan di ruangan rahasia itu?"

"Aku jadi semakin yakin buku itu ada di sini."

Reyasa mengangguk. "Aku akan mencari kuncinya besok," balasnya. "Ini sudah tengah malam, jadi aku harus pulang. Tidak masalah, 'kan?"

"Tentu. Kita perlu beristirahat."

1
Na Na Chan
saya klik karena penasaran sama cover nya dan setelah saya membaca sinopsis 2 2 novel anda, ternyata anda author yang unik..2 2 novel nya sinopsis nya bagus, cerita nya berbeda dari yg lain..jadi ku follow kamu thor. semangat ya salam kenal saya juga author pemula, tapi saya rasa anda lebih hebat..👍 saya dukung anda thor..Lanjutkan 💪
Na Na Chan: sippphhh😁 👍👍👍👍👍👍
total 2 replies
Erni Karolina Be Surbakti
bagus
Orang Asing: Wah! Makasih😍 seneng banget rasanya
total 1 replies
ahok wijaya
Hebat banget, thor ini pintar bikin pembaca penasaran!
Rowan
Penasaran setengah mati.
Kieran
Jangan berhenti sampai mencapai akhir cerita yang epik ini! 🚀
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!