Di tengah cemoohan keluarga dan stigma sebagai produk gagal bangsawan Pendragon, Wiliam Pendragon menyembunyikan kenyataan bahwa dirinya adalah seorang jenius Level 12 pencipta Pernapasan Pedang Kegelapan sekaligus pemilik Domain Expansion yang ditakuti. Menjalani kehidupan ganda sebagai murid biasa demi menjaga kedamaian ibunya, Wiliam berubah menjadi "Hantu Topeng" saat malam tiba—sosok vigilante bertopeng bertanduk dan berjubah gelap yang membantai kejahatan tak tersentuh hukum secara dingin tanpa memedulikan pahlawan atau villain. Namun, aksinya yang menyisakan jejak sihir unik mulai mengguncang tatanan politik benua, memicu perburuan massal dan menarik perhatian empat entitas Level 20 terkuat di dunia yang mempertanyakan apakah Hantu Topeng adalah pelindung atau justru bom waktu yang siap membumihanguskan tatanan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lucius Aurelius, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 8
Bab 8: Warisan Takdir, Nyala Api Jiwa, dan Penglihatan Seribu Tahun
Tiga hari berlalu dalam ritme yang tenang namun penuh kewaspadaan di Akademi Sihir Kerajaan. Bagi orang-orang di luar sana, keheningan Distrik Bawah selama beberapa malam terakhir merupakan misteri besar yang memicu puluhan spekulasi konyol. Namun bagi Wiliam, tiga hari tersebut adalah masa penyesalan dan konsolidasi kekuatan setelah dirinya berhasil menembus ambang Level 13 dan menguasai Eye of the Void.
Ketika malam ketiga akhirnya menjatuhkan tirai kegelapan pekat di atas garis langit ibu kota, Wiliam melangkah keluar dari mansion Pendragon. Dengan jubah hitam lamanya yang sudah sedikit lusuh, ia menyelinap menembus lorong-lorong sempit Distrik Bawah menuju bengkel pandai besi milik Jeck.
Aroma uap besi, jelaga, dan panas membara dari tungku api langsung menyambut Wiliam saat ia mendorong pintu kayu tebal bengkel tersebut. Di tengah ruangan yang dipenuhi percikan api, Jeck berdiri seraya mengelap keringat di dahi lebarnya dengan sepotong kain kumal. Di atas meja tempa raksasa di sampingnya, terbentang beberapa perlengkapan baru yang ditutupi kain beludru hitam.
"Kau tepat waktu, Hantu Topeng," kekeh Jeck dengan suara serak khas Dwarf, melemparkan kain kumalnya ke atas kursi kayu. "Seorang pengrajin sejati tidak pernah terlambat memenuhi janjinya."
Wiliam melangkah mendekati meja tempa, pandangannya tertuju pada bentuk perlengkapan di bawah kain tersebut. "Jadi... semuanya sudah selesai?"
"Tentu saja sudah!" jawab Jeck bangga seraya menepuk dadanya yang kekar. Namun, sudut bibir Dwarf tua itu mendadak terangkat, menyunggingkan senyuman jahil yang sangat mengganggu. "Tapi, yah... sejujurnya aku harus berterima kasih pada 'penyokong dana rahasiamu'. Tanpa bantuan tambahan darinya, senjata ini tidak akan bisa selesai dalam tiga hari."
Wiliam memicingkan matanya. "Penyokong dana rahasia? Apa maksudmu, Jeck?"
Jeck tertawa terbahak-bahak hingga janggut merah tebalnya bergetar kencang. "Dua hari yang lalu, seorang wanita bergaun mewah dengan aura yang sangat mengerikan datang ke bengkel kumal ini. Nona Anastasia sendiri yang melangkah masuk ke sini, Bocah! Dia membawakan kristal Void Ore tingkat tinggi dan beberapa serat benang sutra kosmik murni untuk melengkapi bahan-bahanmu!"
Wiliam tertegun kaku. "Anya... datang ke sini?"
"Bukan hanya datang!" potong Jeck seraya mencondongkan tubuhnya, menatap Wiliam dengan mata menyipit penuh nada mengejek dan menggoda. "Dia memberikan bahan-bahan sisa itu padaku seraya tersenyum sangat manis. Kau tahu apa yang dikatakannya sebelum pergi? Dia berpesan: 'Tolong buatkan perlengkapan ini dengan sangat cepat dan sempurna, Paman Dwarf... agar calon suamiku bisa segera mendapatkan mainan barunya.' Hahaha! Calon suami, Bocah! Calon suami!"
Wajah Wiliam yang biasa dingin dan pucat seketika meledak memerah padam hingga ke ujung-ujung telinganya. Rasa panas menyergap pipinya secara mendadak.
"K-Kau... apa yang kau bicarakan, Jeck?!" tangkis Wiliam gagap, memalingkan wajahnya kencang-kencang seraya mengepalkan tangannya. "Dia... dia hanya bicara asal-asalan! Jangan mendengarkan bualannya!"
Jeck tertawa makin keras hingga terbatuk-batuk, menepuk-nepuk meja tempa dengan telapak tangannya yang keras. "Aduh, aduh! Lihat wajahmu! Merah seperti buah tomat matang! Sungguh, aku tidak menyangka Nona Anastasia yang diagungkan sebagai Wanita Suci dan pilar dunia itu ternyata memiliki selera pria yang sangat aneh! Bagaimana bisa dia memilih bocah tengil sepertimu?!"
"Kau yang aneh, Jeck!" potong Wiliam kencang dengan nada defensif yang sangat tidak biasa baginya. "Tutup mulutmu dan tunjukkan saja barang-barangnya!"
"Baik, baik, Tuan Muda yang sedang jatuh cinta!" tawa Jeck seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
Dengan satu gerakan mantap, Jeck menarik kain beludru hitam yang menutupi meja tempa. Pendar energi kegelapan murni dan kilau perak keemasan seketika menyeruak, memantul di dalam manik mata Wiliam.
Di atas meja, terbaring tiga perlengkapan utama yang telah ditempa ulang secara sempurna:
Pertama adalah Topeng Baru. Berbeda dari topeng kayu polos lamanya, topeng baru ini ditempa dari paduan Void Ore dan kristal kegelapan. Warnanya hitam legam dengan ukiran garis-garis keemasan tipis yang dibentuk dari darah Elf murni. Bentuknya meliuk tegas menyudut di bagian pipi dan dahi, memancarkan aura yang jauh lebih dingin, dominan, dan sangat mengintimidasi siapa pun yang menatapnya.
Kedua adalah Jubah Overcoat. Jubah lama Wiliam yang pendek telah digantikan oleh sebuah overcoat panjang berwarna hitam pekat yang menjuntai hingga ke mata kaki. Jubah ini ditenun dari benang sutra kosmik pemberian Anya dan disusupi serat pelindung kegelapan. Jubah ini tidak hanya ringan dan tahan terhadap tebasan sihir, tetapi juga mampu menyerap gelombang aura pengagum di sekitar penggunanya.
Dan yang terakhir, mahakarya utama di tengah meja: Pedang Ramping Panjang (Rapier Void). Bilah pedangnya dibuat sangat halus, tipis, namun memanjang presisi. Permukaan bilahnya berwarna hitam keperakan dengan pendar benang emas cair dari darah Elf yang mengalir di sepanjang alur tengah pedang. Gagang pedangnya diukir indah dengan pelindung tangan berbentuk sayap burung raksasa yang melengkung sempurna.
Wiliam terpana. Ia melangkah maju dan mengulurkan tangannya, menggenggam gagang pedang baru tersebut.
WUSH!
Seketika itu pula, keselarasan sempurna terjadi di antara aliran mana kegelapan Level 13 milik Wiliam dengan esensi pedang tersebut. Pedang itu terasa sangat ringan, seolah-olah menjadi perpanjangan murni dari lengan kakinya sendiri. Dinding pelindung mana di dalam ruangan bahkan bergetar halus menyambut kebangkitan pedang itu.
"Luar biasa..." bisik Wiliam takjub, jemarinya meraba permukaan bilah pedang yang dingin namun memancarkan denyut kehangatan murni.
"Tentu saja luar biasa," kata Jeck seraya tersenyum bangga, menyilangkan kedua tangannya. "Darah Elf murni melunakkan kepadatan Void Ore, membuat pedang itu sanggup membelah dan menyerap struktur sihir musuh secara langsung. Senjata itu dinamai Void Eclipse olehku. Pakailah dengan bijak, Hantu Topeng."
Wiliam menyarungkan pedang panjang itu di pinggang kirinya, lalu mengenakan overcoat hitam barunya yang pas melingkupi tubuh tegapnya. Terakhir, ia mengambil topeng barunya dan memasangkannya ke wajahnya.
Aura yang dipancarkan Wiliam seketika berubah total. Ia tidak lagi terlihat seperti murid akademi yang lemah atau Hantu Topeng biasa—ia terlihat bagaikan sesosok penguasa kegelapan sejati yang keluar dari jurang maut.
"Terima kasih, Jeck," ucap Wiliam dari balik topeng barunya, suaranya kini bergema lebih dalam dan teredam secara sempurna. "Emas pembayaranmu ada di kantong meja."
"Pergilah, Bocah! Dan sampaikan salamku pada 'calon istrimu' itu!" teriak Jeck tertawa konyol saat Wiliam melompat keluar menyatu dengan bayang-bayang malam.
Untuk menguji batas kekuatan barunya, Wiliam bergerak cepat meninggalkan wilayah ibu kota menuju ke arah Pegunungan Kelabu di perbatasan timur—sebuah area terlarang yang dipenuhi oleh lorong-lorong jurang kuno dan dungeon liar yang belum tereksplorasi secara resmi.
Wiliam mendarat di depan sebuah celah gua raksasa yang memancarkan pendar sihir merah kehitaman yang pekat: Dungeon Jurang Jiwa Abadi—sebuah dungeon tingkat bahaya tinggi berlevel rekomendasi 15 ke atas.
Tanpa rasa ragu sedikit pun, Wiliam melangkah masuk ke dalam kegelapan gua.
Di dalam dungeon yang dipenuhi oleh batuan kristal merah dan reruntuhan pilar batu purba, puluhan monster jenis Ghouls bernapas racun dan Blood Golems berukuran lima meter langsung menyadari kehadirannya. Monster-monster itu meraung keras, melompat menyerbu ke arah Wiliam dari segala penjuru.
Wiliam menarik Void Eclipse dari sarungnya. Bilah pedang hitam keperakan itu memancarkan dentang halus.
Wiliam menarik napas dalam-dalam, menyelaraskan paru-parunya dengan siklus ritme Pernapasan Pedang Kegelapan.
"Bentuk Pertama: Tebasan Bayangan Kehampaan!"
SRET!
Satu ayunan lurus ke depan menghasilkan gelombang tebasan hitam pekat yang meluncur secepat kilat, memotong lima Blood Golems menjadi dua bagian secara presisi sebelum mereka sempat mengayunkan tinjunya!
Wiliam tidak berhenti. Ia berputar di udara seraya mengalirkan mana kegelapan ke seluruh serat otot kakinya.
"Bentuk Kedua: Pusaran Malam Gemerlap!"
Gaya putaran tubuhnya menciptakan badai tebasan lingkaran kegelapan sejauh 360 derajat. Belasan Ghouls yang melompat di udara terbelah berkeping-keping dalam sekedip mata!
"Bentuk Ketiga: Tusukan Bintang Jatuh!"
"Bentuk Keempat: Bayangan Cermin Seribu Jurang!"
"Bentuk Kelima: Tarian Senja Kelabu!"
"Bentuk Keenam: Pelindung Kegelapan Abadi!"
"Bentuk Ketujuh: Eksekusi Takdir Kehampaan!"
Satu per satu, Wiliam meragakan seluruh 7 bentuk dasar Pernapasan Pedang Kegelapan dengan kecepatan dan presisi yang jauh melampaui masa lalunya. Setiap tebasan meluncur lebih padat, lebih tajam, dan tidak membuang mana secara percuma berkat konduktivitas pedang Void Eclipse. Puluhan monster tingkat tinggi musnah menjadi debu hitam hanya dalam hitungan menit!
Namun, Wiliam tidak puas hanya dengan menguji bentuk yang sudah ada. Berdiri di tengah aula besar dungeon, Wiliam mengingat pertarungannya dengan Bangsawan Iblis dan kehangatan energi kosmik murni milik Anya.
"Jika kegelapan biasa hanya memotong materi fisik... bagaimana jika aku memadatkan gesekan mana kegelapan dengan siklus pernapasan ekstrem hingga menciptakan reaksi pembakaran murni?" gumam Wiliam di balik topengnya.
Wiliam menutup matanya. Ia menarik napas hingga batas maksimal paru-parunya, memompa mana kegelapan Level 13 ke dalam titik pusat intinya, lalu menekannya hingga ke tingkat kepadatan yang belum pernah ia coba sebelumnya. Mana hitam itu bergetar kencang, memicu gesekan molekuler yang sangat hebat di sepanjang bilah Void Eclipse.
CRACKLE!
Bilah pedangnya mendadak diselimuti oleh nyala api cair berwarna hitam pekat dengan inti perak menyala. Tidak ada hawa panas yang terpancar ke udara—sebaliknya, suhu di sekitar ruangan mendadak merosot drastis hingga membeku! Ini bukan api termal biasa, melainkan Api Hitam Pembakar Jiwa (Void Inferno)—sebuah api destruktif murni yang membakar esensi jiwa dan mana target, dan tidak akan pernah padam oleh air atau sihir apa pun kecuali dimatikan secara sengaja oleh sang penggunanya!
"Eksperimen ini... berhasil," bisik Wiliam, menatap pendar api hitam yang menari-nari liar di ujung pedangnya.
Namun, sebelum Wiliam sempat menguji api hitam itu lebih jauh, tanah di bawah kakinya bergetar dahsyat. Dinding-dinding gua runtuh, dan dari dalam ruang terdalam dungeon, sesosok monster raksasa melangkah keluar.
Bos Dungeon: Raja Penguasa Jiwa - Balor (Level 18).
Monster itu berbentuk raksasa bertanduk empat dengan tubuh bertatahkan zirah batu obsidian, memegang sebuah kapak perang raksasa berapi merah, dan memiliki tiga mata berdarah di dadanya. Aura membunuh yang dipancarkannya begitu masif hingga membuat udara di dalam gua terasa sangat berat dan beracun.
ROAAARRRRRR!
Balor meraung keras, mengayunkan kapak perang raksasanya ke arah Wiliam dengan kecepatan yang tak sebanding dengan ukurannya!
BAMMMMM!
Wiliam melompat mundur tepat waktu, namun gelombang kejutan dari sabetan kapak itu menghantam dada Wiliam hingga tubuhnya terlempar membentur dinding batu!
"Kgh...!" Wiliam meringis, darah segar menetes dari sudut bibirnya di balik topeng. Perbedaan tingkat Level 13 dan Level 18 sangatlah nyata. Ketahanan fisik dan kepadatan mana milik Balor berada di tingkat yang sepenuhnya berbeda!
Balor menyerang bertubi-tubi. Kapak raksasanya menciptakan badai api merah yang membakar seluruh lorong. Wiliam terdesak hebat, memaksa dirinya melakukan manuver Bentuk Keempat untuk menciptakan bayangan ilusi guna menghindari tebasan-tebasan mematikan. Overcoat barunya menyerap sebagian besar radiasi sihir musuh, mencegah tubuh Wiliam hancur oleh gelombang kejutan.
"Aku harus menembus pertahanan obsidiannya dalam satu serangan!" batin Wiliam kencang seraya menancapkan pedangnya ke tanah untuk menahan serbuan angin api.
Balor melompat tinggi ke udara, mengangkat kapaknya dengan kedua tangan untuk memberikan tebasan penghancur akhir.
Di detik-detik kritis tersebut, Wiliam memfokuskan seluruh sisa mana Level 13 miliknya ke bilah pedang. Ia memicu Void Inferno hingga api hitam menyelimuti seluruh bilah Void Eclipse, dipadukan dengan siklus Pernapasan Bentuk Ketujuh.
"Teknik Gabungan: Tebasan Api Hitam Kehampaan!"
WUSH-BOOOMMM!
Wiliam melesat ke atas bagaikan bayangan hitam membelah badai api merah. Bilah pedang Void Eclipse milik Wiliam bertabrakan langsung dengan kapak perang raksasa milik Balor di udara!
KRRRRAAACK!
Api hitam pembakar jiwa seketika menjalar, membakar kapak batu obsidian tersebut hingga retak dan hancur berkeping-keping! Tidak berhenti di sana, api hitam itu merayap masuk ke dalam tubuh Balor, membakar inti mana dan jiwa sang bos dungeon dari dalam!
ROAAAAAARRRRRGGGHHH!
Balor meraung histeris dalam kesakitan murni yang tak tertahankan saat jiwa spiritualnya digerogoti oleh nyala api hitam yang tidak bisa dipadamkan. Tubuh raksasanya jatuh terhempas ke tanah, berguling-guling hingga akhirnya perlahan-lahan hancur menguap menjadi abu hitam tanpa sisa!
Wiliam mendarat di tanah dengan bertumpu pada satu lututnya, tersengal-sengal hebat. Baju di dalam overcoat-nya basah oleh keringat, dan mananya terkuras hampir habis. Namun, senyuman puas terukir di wajahnya—ia telah berhasil mengalahkan bos Level 18 seorang diri.
Saat abu tubuh Balor menghilang dipukul angin, sebuah portal sihir melingkar berwarna keemasan dan biru tua mendadak terbuka di bekas tempat berdirinya sang bos dungeon.
Wiliam mengerjap, mengusap sisa darah di bibirnya, lalu berdiri tegak. Penasaran, ia melangkah masuk menembus portal tersebut.
Seketika itu pula, pemandangan gua yang gelap berganti total. Wiliam kini berdiri di atas sebuah altar batu putih yang melayang di tengah-tengah ruang hampa udara yang dipenuhi oleh ribuan bintang-bintang kosmik. Di ujung altar tersebut, terduduk sesosok pria berambut emas dengan jubah kebangsawan kuno dan mahkota cahaya yang meredup di kepalanya.
Pria itu mendongak, menatap Wiliam dengan mata emasnya yang bijaksana namun sarat akan jejak usia yang tak terhitung.
"Selamat datang, Anak Muda dari era masa depan," ucap pria itu dengan suara yang bergema mulia di seluruh ruang hampa.
Wiliam memasang kuda-kuda waspada, memegang gagang pedangnya. "Siapa kau?"
Pria itu tersenyum lembut, melambaikan tangannya perlahan. "Aku adalah Raja Pertama—pendiri dari Kerajaan Manusia Pertama yang memimpin Perang Besar seribu tahun yang lalu. Yang kau lihat saat ini hanyalah sisa kesadaran jiwaku yang menanti seseorang yang layak menerima warisanku."
Wiliam membelalak kaget dari balik topengnya. "Raja Pertama... Pendiri Kerajaan?!"
"Benar," kekeh Raja Pertama pelan. "Kau telah membuktikan kelayakanmu dengan mengalahkan Balor menggunakan kekuatan kegelapan dan kehendak murni yang tak tergoyahkan. Namun sebelum aku memberikan warisanku padamu... ada sesuatu yang harus kau ketahui tentang sejarah duniaku."
Raja Pertama mengangkat jari telunjuknya. Seketika itu pula, ruang hampa di sekitar mereka berubah menjadi sebuah proyeksi ilusi raksasa—menampilkan pemandangan medan perang seribu tahun yang lalu!
Langit di dalam ilusi itu berwarna merah darah, tanah membara oleh lautan api, dan jutaan makhluk mengerikan saling bertabrakan dalam pertempuran dahsyat. Di antara kerumunan pasukan tersebut, Wiliam terperanjat hebat saat melihat sesosok gadis Elf berambut perak dengan gaun perang yang robek-robek, bertarung dengan gigih menggunakan pedang sihirnya di barisan depan.
"Anya..." bisik Wiliam takjub.
"Ah, kau mengenalnya?" tanya Raja Pertama seraya menatap proyeksi gadis Elf tersebut dengan nada penuh penghormatan. "Seribu tahun yang lalu, Anastasia masih berada di tingkat Level rendah—ia adalah seorang ksatria muda yang belum mencapai puncak kekuatannya sebagai pilar dunia. Namun keberaniannya di medan perang perbatasan adalah salah satu kunci keselamatan ras mortal."
Raja Pertama mengibaskan tangannya, mengarahkan proyeksi ke dua jenis makhluk kegelapan yang berbeda.
"Perhatikan baik-baik, Wiliam," jelas Raja Pertama dengan nada serius. "Banyak orang di eramu yang mencampuradukkan antara Demon dan Devil, padahal mereka adalah dua entitas yang sepenuhnya berbeda."
Raja Pertama menunjuk ke arah makhluk-makhluk berupa binatang buas berkulit merah dengan tanduk liar yang menyerbu tanpa kendali. " Demon adalah iblis tingkat rendah hingga menengah yang tidak memiliki akal budi murni. Mereka hanya bergerak berdasarkan insting membunuh, keserakahan, dan rasa lapar akan daging. Mereka adalah prajurit kasar di medan perang."
Kemudian, proyeksi bergeser menunjuk ke arah sosok-sosok humanoid bergaun hitam mewah, bertanduk indah, dengan paras tampan dan cantik yang berdiri di atas benteng melayang.
"Sedangkan Devil..." lanjut Raja Pertama dengan mata memicing tajam, "...adalah para bangsawan iblis sejati. Mereka memiliki kecerdasan luar biasa, peradaban kaku, tatanan hierarki, dan sihir kuno yang sangat rumit. Kekuatan seorang Bangsawan Devil tingkat tinggi bahkan sanggup melampaui Level 20—sebuah tingkat kekuatan yang mampu meruntuhkan benua dalam satu malam!"
Wiliam mendengarkan setiap detail penjelasan itu dengan cermat, menyimpan seluruh pengetahuan sejarah terlarang itu di dalam benaknya.
"Perang seribu tahun lalu belum sepenuhnya usai, Anak Muda," kata Raja Pertama seraya melangkah mendekati Wiliam. "Para Devil sedang tertidur di dalam segel kehampaan, menanti saat yang tepat untuk bangkit kembali. Dan untuk menghadapi mereka... kau membutuhkan elemen yang sanggup menembus pertahanan absolut mereka."
Raja Pertama mengangkat telapak tangannya. Di atas tangannya, muncul sebuah bola cahaya biru keperakan yang meletup-letupkan kilatan petir murni yang sangat rumit dan padat.
"Ini adalah esensi dari Sihir Petir Purba (Ancient Lightning Magic)—elemen sihir paling rumit, paling cepat, dan paling destruktif yang pernah diciptakan. Elemen ini bergerak di frekuensi ekstrim yang sanggup merusak saraf sihir musuh sebelum mereka sempat mengalirkan mana."
Raja Pertama mendorong bola petir keperakan itu ke dada Wiliam!
KRRRRAAAAGGGHHH!
Seketika itu pula, gelombang listrik purba meledak di dalam tubuh Wiliam! Saluran sihirnya yang baru saja diperluas oleh Level 13 bergetar hebat, menyerap dan mengintegrasikan esensi Sihir Petir Purba ke dalam inti intinya. Kilatan-kilatan petir biru keperakan menari-nari di sekitar kulit dan overcoat hitam milik Wiliam!
Wiliam menggertakkan giginya, menahan rasa sakit dari integrasi elemen baru tersebut hingga akhirnya seluruh petir masuk dan menyatu sempurna di dalam jiwa mananya.
Sosok bayangan Raja Pertama mulai memudar perlahan-lahan, tersenyum hangat menatap Wiliam.
"Gunakan kekuatan kegelapan, api hitam, dan petir ini untuk melindungi apa yang kau sayangi, Wiliam Pendragon..." bisik Raja Pertama sebelum akhirnya tubuhnya menguap menjadi pendar cahaya kosmik yang indah. "...dan jagalah Anastasia. Jiwa tua itu telah sendirian terlalu lama."
SWOOSH!
Ruang hampa kosmik pecah, dan Wiliam mendadak kembali berdiri di tengah aula dungeon yang sepi dan hancur.
Wiliam mengepalkan tangan kanannya. Percikan petir biru keperakan bercampur dengan pendar api hitam melingkupi jemarinya secara sempurna—sebuah kombinasi kekuatan baru yang sangat mengerikan dan tak terduga.
Wiliam membalikkan tubuhnya, melangkah keluar dari dungeon menyusuri jalanan malam Pegunungan Kelabu. Dengan topeng baru, pedang Void Eclipse, overcoat hitam, serta warisan petir dari Raja Pertama, Hantu Topeng telah siap melangkah ke babak pertarungan yang sesungguhnya di kegelapan benua.