Indonesia
NovelToon NovelToon
MENANTANG PARA DEWA

MENANTANG PARA DEWA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Budidaya dan Peningkatan
Popularitas:702
Nilai: 5
Nama Author: Kausafiksi.id

​"Jika menyelamatkan dunia harus mengorbankanmu... maka akan kubakar seluruh langit hingga menjadi debu!"

​Lima ratus tahun lalu, Bencana Langit merobek Benua Tianlan. Di tengah reruntuhan yang membara, Mo Xie hanya bisa menyaksikan tangan Chu Yurou—gadis yang dicintainya—hancur memudar menjadi serpihan cahaya. Janji polos masa muda mereka hancur, berganti menjadi dendam yang membakar jiwa.

​Berbekal Pedang Kehampaan yang terlarang dan Inti Es Purba di Dantiannya, Mo Xie bangkit dari abu kehancuran. Bersama Xue Qingyue—Peri Es dari Sekte Es Abadi—ia menelusuri batas dimensi demi mengumpulkan kembali serpihan jiwa yang hilang.

​Bagi para Dewa, ia hanyalah serangga fana yang menantang takdir. Namun bagi Mo Xie, selama jiwanya belum padam, takhta langit adalah sasaran berikutnya.

​"Dunia ini tidak lagi butuh penyelamat. Yang mereka butuhkan... adalah pembalasan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kausafiksi.id, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8: INTI ES ABADI DAN TUGAS PERTAMA

​Lalu, tiba-tiba seutas cahaya biru pekat melesat masuk ke dalam mata kiri Mo Xie.

​Benturan energi mendadak itu membuat Mo Xie terdorong mundur beberapa langkah. "Apa ini?!" ucapnya terkejut.

​Xue Qingyue yang melihat hal itu seketika membelalak. "Kau... itu Inti Es Abadi! Apa yang kau lakukan?!"

​"Aku tidak melakukan apa pun. Benda itu sendiri yang melesat masuk ke dalam mataku," ucap Mo Xie sembari memegangi bagian sekitar mata kirinya.

​"Kau..." Xue Qingyue tertegun, kehabisan kata-kata.

​Namun bagi Mo Xie, mata kirinya yang mendadak berubah warna menjadi biru es murni atau hilangnya Inti Es dari dasar kawah bukanlah persoalan besar, selama hal itu tidak menghalangi langkahnya untuk menuntaskan dendam.

​Selama ia masih sanggup mengepalkan tangan dan menjadi lebih kuat, ia akan menerima perubahan bentuk apa pun pada tubuh fisiknya—bahkan jika pada akhirnya ia harus berubah menjadi iblis sekalipun.

​"Lalu sekarang apa lagi?" tanya Mo Xie. Suaranya memecah kesunyian lorong batu yang membeku saat mereka berjalan kembali menuju Aula Agung.

​Xue Qingyue melirik sekilas melalui sudut matanya. Sikap keras kepala Mo Xie dan ketidakpedulian pemuda itu terhadap ancaman bahaya yang baru saja ia ciptakan benar-benar berada di luar batas akal sehatnya.

​Namun, di dalam lubuk hatinya, ada bagian dari diri Xue Qingyue yang perlahan mulai terbiasa dengan ketidakwarasan pemuda di sampingnya ini.

​"Sekarang, kau harus menunjukkan hasil ujianmu langsung di hadapan Ketua Agung," jawab Xue Qingyue datar sembari menekan pintu gerbang es raksasa yang tertutup di hadapan mereka. "Dan setelah itu... kau akan menerima tugas pertamamu. Sekte kami tidak pernah menampung parasit yang hanya menumpang hidup tanpa kontribusi nyata."

​Saat sepasang pintu gerbang es raksasa itu terbuka sepenuhnya, sosok Han Wuyan masih setia berada di atas takhta batu yang membeku.

​Namun kali ini, sang Ketua Agung tidak lagi menopang dagunya dengan santai. Begitu Mo Xie melintasi ambang pintu, sepasang mata biru terang milik Han Wuyan yang berkilat bagai bintang musim dingin langsung terkunci rapat pada mata kiri Mo Xie.

​Tekanan udara di dalam aula mendadak melonjak secara drastis, membuat atmosfer ruangan terasa begitu pekat dan berat. Dinding-dinding es di sekeliling mereka mulai mengeluarkan suara berderit tajam, tertekan oleh gelombang keberadaan sang pemimpin sekte.

​"Xue Qingyue..." suara berat Han Wuyan bergema, memecah keheningan aula dengan nada yang jauh lebih rendah, pekat, dan berbahaya dibanding sebelumnya.

​"Jelaskan padaku, mengapa hawa keberadaan Inti Es Abadi dari dasar Kawah Refleksi kini bersemayam di dalam rongga mata anak ini?"

​"Ketua Agung, mohon maafkan saya..." Xue Qingyue segera melangkah cepat ke depan, menjatuhkan satu lututnya ke atas lantai es untuk menjelaskan situasi tak terduga itu dengan nada serasional mungkin. "Saat berada di dalam kawah—"

​"Aku tidak mengambilnya. Benda itu yang memilihku," potong Mo Xie cepat.

​Ia melangkah maju menyalip posisi Xue Qingyue tanpa memedulikan etika protokoler atau tata krama penghormatan Sekte Es Abadi.

​Xue Qingyue mendongak seketika, matanya melebar terkejut mendengar kelancangan Mo Xie yang memutus penjelasannya secara sepihak tepat di hadapan penguasa tertinggi wilayah utara.

​Mo Xie berdiri tegak dengan dagu terangkat, menatap lurus pada sepasang mata bercahaya milik Han Wuyan yang kini dipenuhi kilat ketidaksenangan. Mata kiri Mo Xie yang baru saja berubah warna menjadi biru gletser membalas tatapan membunuh itu tanpa ada satu pun keraguan, gentar, atau rasa bersalah di dalamnya.

​Meski Mo Xie tahu ia bagai debu di hadapan kekuatan mutlak orang tua ini.

​"Benda itu melesat sendiri dan masuk ke mata kiriku saat aku berada di dasar kawah," lanjut Mo Xie dengan nada tenang, menunjuk wajahnya sendiri. "Jika sektemu menganggap aku telah mencurinya, silakan coba ambil kembali benda ini dari dalam kepalaku. Tapi jika kau tidak bisa... berhentilah meributkan hal yang sudah terjadi dan katakan apa yang harus kulakukan sekarang."

​Suasana di dalam Aula Agung seketika membeku hingga ke titik paling ekstrem. Hawa dingin yang melumpuhkan merayap dari sudut-sudut pilar es.

​Xue Qingyue mengepalkan tangannya rapat-rapat di atas lantai, menahan napas, bersiap jika saja amukan badai es dari sang Ketua Agung meledak dan menghancurkan tubuh mereka berdua menjadi debu dalam sekejap karena kelancangan tanpa batas pemuda fana ini.

​Bocah ini benar-benar tidak punya rasa takut... batin Xue Qingyue cemas.

​Han Wuyan terdiam di atas takhtanya. Ia menatap Mo Xie dalam keheningan yang mencekam selama beberapa detik yang terasa sangat panjang.

​Namun perlahan, cengkeraman tangannya pada lengan takhta mengendur, dan tatapannya yang dingin mulai menembus kubah langit-langit aula.

​"Dipilih oleh Inti Es Abadi tepat setelah kau menundukkan kegelapan..." Han Wuyan berdiri perlahan dari tempat duduknya.

​Aura kekuatannya kini menekan Mo Xie dengan cara yang berbeda—sebuah pengujian mental yang teramat berat dan tajam. Hal itu membuat Mo Xie perlahan merasakan tekanan masif yang siap menghancurkan keberadaannya. Keringat dingin mulai menetes di dahinya.

​"Sungguh menarik. Dua kekuatan agung yang saling bertolak belakang kini mengalir di dalam satu wadah fana yang rapuh. Jika kau tidak hancur dalam tiga hari ke depan, maka kau mungkin memang takdir yang dikirimkan untuk meruntuhkan langit."

​Ketua Agung itu menghentikan langkahnya di undakan tangga teratas, menatap Mo Xie dengan pandangan tajam yang dipenuhi oleh kalkulasi dan rencana baru.

​"Karena kau tampak sangat tidak sabar untuk bergerak, aku akan segera memberikan tugas pertamamu," ucap Han Wuyan, suaranya menggelegar dingin memenuhi setiap sudut ruangan.

​"Celah dimensi di perbatasan selatan baru saja terbuka. Utusan langit dan makhluk-makhluk void mulai merayap masuk dari sana. Pergilah bersama Xue Qingyue, bersihkan celah tersebut, dan tunjukkan padaku bagaimana kau akan menggunakan kekuatan es dan kegelapan barumu untuk bertahan hidup!"

​Mo Xie hanya menatap datar ke arah sang Ketua Agung.

​Meski ia memasang wajah tenang di hadapan pemimpin sekte tersebut, di dalam lubuk hatinya yang paling dalam, Mo Xie menyadari sebuah kenyataan mengganggu yang telah mengusik pikirannya sejak berada di kawah.

​Inti Es Abadi itu memang telah memilihnya dan bersarang di balik mata kirinya—namun ia sama sekali tidak merasakan adanya aliran kekuatan baru di dalam mata atau Dantiannya.

​Tidak ada Hukum Es yang meluap-luap, tidak ada peningkatan pasokan Qi yang drastis; yang tersisa hanyalah rasa dingin yang sunyi dan membisu di rongga matanya, seolah kekuatan purba itu sengaja mengunci dirinya rapat-rapat di balik kesadarannya.

​Namun, Mo Xie memilih untuk mengubur rapat kebingungan itu, menolak memperlihatkan celah kelemahan apa pun di depan Han Wuyan.

​"Celah dimensi di selatan..." Mo Xie mengulang ucapan Han Wuyan dengan suara yang merendah.

​Tanpa memberikan penghormatan formal atau membungkukkan badan sedikit pun, Mo Xie membalikkan badannya begitu saja, melangkah lebar memunggungi takhta sang Ketua Agung.

​"Akan kubersihkan tempat itu."

​"Mo Xie, tunggu!" Xue Qingyue segera bangkit berdiri, memberikan penghormatan cepat dan tegas pada Ketua Agung sebelum berbalik mengejar langkah lebar Mo Xie yang sudah lebih dulu melintasi pintu gerbang Aula Agung.

​Han Wuyan berdiri membisu, menatap punggung keduanya yang perlahan menghilang di balik kepulan uap es putih. Sinar di sepasang matanya menyipit penuh misteri. Sang Ketua Agung memendam sebuah rahasia kuno mengenai Inti Es Abadi yang kini bersarang di dalam kepala Mo Xie—sebuah rahasia yang sengaja ia simpan sendiri demi menyaksikan bagaimana benang takdir akan mempermainkan hidup pemuda fana tersebut.

​Begitu mereka keluar dari area Aula Agung dan melintasi koridor batu yang membeku menuju pintu gerbang luar benteng, Xue Qingyue langsung bergerak cepat memotong jalur jalan Mo Xie.

​Ia berdiri tepat di hadapan pemuda itu, menatapnya dengan raut wajah yang sangat serius dan menekan.

​"Kau benar-benar tidak paham dengan apa yang telah kau perbuat, bukan?" desis Xue Qingyue tajam.

​Matanya menatap lekat pada mata kiri Mo Xie yang berwarna biru gletser—sebuah mata yang tampak berkilau indah namun terasa mati.

​"Inti Es Abadi bukanlah sekadar benda yang bisa kau perah kekuatannya sesuka hatimu. Jika kau tidak merasakan lonjakan kekuatan apa pun sekarang, itu karena ia sedang menguji kelayakan jiwamu. Benda itu menolak untuk bangkit sebelum kau membuktikan mampu mengendalikannya seimbang dengan kegelapan di tangan kananmu!"

​Mo Xie hanya terdiam, tidak memotong perkataan Xue Qingyue.

​"Dan benda itu adalah Artefak Surgawi yang lahir dari kehendak langit," lanjutnya.

​"Artefak Surgawi..." ucap Mo Xie pelan, sebelum tangannya mengusap mata kirinya yang terasa dingin.

​Xue Qingyue membalikkan tubuhnya. "Ya, kau harus ingat itu," ucapnya sebelum melangkah, bersiap menuntun jalan menuju luar benteng utama.

​"Ayo bergerak. Celah selatan tidak akan menunggu kita," lanjut Xue Qingyue tanpa berpaling. "Di sana, di tengah kobaran medan pertempuran yang sesungguhnya... kita akan menyaksikan apakah mata kirimu itu akan menjadi penyelamat nyawamu, atau justru menjadi jalan pintas menuju kematianmu."

1
Septiana Athorid
Bagus dan menarik
Day Chuk
Novel yang Rekomen
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
Pena Quality
keren
Kausafiksi: terimakasih 🙏
total 1 replies
Kausafiksi
best
Kausafiksi: terimakasih
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!