Maya Maheswari adalah CEO muda, anggun, dan dingin yang memimpin konglomerat terbesar di Indonesia. Sementara Leo, suami yang dinikahinya lewat perjanjian kontrak, hanyalah mantan prajurit berpenampilan santai yang bekerja sebagai pengawal pribadinya. Dianggap sebelah mata oleh keluarga besar Maheswari, Leo selalu diam dan berdiri tegap satu langkah di belakang sang istri.
Namun, di balik sikap tenangnya, Leo menyimpan identitas rahasia sebagai pendiri jaringan keamanan dan intelijen global yang memegang kendali atas data rahasia para elite dunia. Saat intrik pengkhianatan dari dalam perusahaan mulai mengancam nyawa dan takhta Maya, Leo perlahan membuka topengnya. Demi melindungi wanita yang dicintainya, sang pengawal siap mematahkan setiap konspirasi membuktikan pada dunia siapa penguasa sebenarnya di balik bayangan Sang Ratu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aldolado, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
lanjut bab 8
Jarak di antara mereka terkikis, membuat rona hangat di pipi Maya mendadak terasa makin intens. Maya bisa menghirup aroma maskulin khas perpaduan sabun mandi dan ketegasan dari tubuh suaminya. Pria ini begitu tenang, seolah batas antara hidup dan mati yang mereka lalui beberapa jam lalu di basement hanyalah bagian dari rutinitas harian biasa.
"Saya tidak berpikir apa-apa, Maya," sahut Leo lembut, suaranya seperti bisikan halus namun mantap di tengah keheningan penthouse. "Tapi alasan Anda sangat masuk akal secara prosedur keamanan."
Maya menelan ludah keras-keras, mencoba menguasai kontrol atas dirinya sendiri. Sebagai pimpinan tertinggi Maheswari Group, ia terbiasa mendominasi di setiap ruang rapat. Namun di depan Leo pria yang secara sah menyandang status suaminya dalam kontrak rahasia semua gertakan dan pertahanan dingin Maya menguap tanpa bekas.
"Jadi?" desak Maya pelan, mencoba mempertahankan nada bicaranya agar tetap terdengar formal.
"Jadi, saya akan ambil bantal dan selimut tambahan dari kamar sebelah untuk tidur di sofa kamar utama Anda," jawab Leo dengan senyum tipis yang hangat. Ia menatap mata Maya lurus-lurus. "Tugas menjaga istri memang harus dilakukan dari jarak terdekat, bukan?"
Maya membuang muka sejenak ke arah jendela raksasa penthouse, berusaha menyembunyikan senyum yang hampir terbit di bibirnya. Rasa cemas dan trauma dari insiden penyerangan di basement tadi perlahan luruh, tergantikan oleh ketenangan asing yang sangat nyaman.
"Terserah kamu," gumam Maya pelan seraya berbalik dan berjalan menuju koridor kamar utama. "Jangan lupa pastikan kuncian pintu balkon."
"Sudah terkunci rapat sejak sepuluh menit yang lalu, Boss," panggil Leo dari belakang dengan nada santai khasnya.
Sepuluh menit kemudian, kamar utama yang luas itu diterangi cahaya temaram dari lampu tidur di samping ranjang king size. Bau harum aromaterapi lavender memenuhi udara, menyerap kehangatan ruangan. Maya sudah berganti pakaian dengan piyama sutra longgar berwarna krem. Ia bersandar pada tumpuan bantal, memangku laptopnya untuk memeriksa kembali berkas digital RUPS besok pagi.
Pintu kamar berdenting pelan saat Leo melangkah masuk. Pria itu sudah berganti pakaian santai kaus hitam polos yang pas di tubuhnya dan celana kain panjang. Di tangannya, ia membawa bantal dan selimut tebal. Tanpa banyak bicara, Leo merebahkan selimutnya di atas sofa panjang yang terletak di dekat sudut jendela kamar, persis di posisi strategis yang memiliki sudut pandang langsung ke arah pintu masuk dan ranjang Maya.
Maya melirik dari balik layar laptopnya. Pria yang baru saja melumpuhkan lima penjahat taktis dengan gerakan mematikan beberapa jam lalu kini sedang merapikan bantal di sofa dengan telaten.
"Leo," panggil Maya memecah keheningan.
Leo mendongak dari sofanya, menatap Maya lurus-lurus. "Ya, Maya?"
"Draf pemecatan Paman Hendra sudah siap. Besok di depan seluruh pemegang saham, aku akan membacakan bukti transaksi penggelapan dananya secara terbuka." Maya menghentikan jemarinya di atas keyboard laptop, lalu menatap suaminya dengan raut serius. "Menurutmu... apakah dia akan nekat mengacaukan pemungutan suara?"
Leo menyandarkan punggung tegapnya pada kepala sofa. Sorot matanya melunak saat menangkap sisa-sisa kecemasan di wajah cantik istrinya.
"Dia pasti akan mencoba, Maya," jawab Leo tenang namun penuh penekanan. "Orang seperti Hendra kalau sudah terdesak di sudut ruangan akan melakukan segala cara untuk bertahan. Tapi besok situasi sudah berbeda."
"Berbeda bagaimana?"