Amelia seorang gadis muda yang cerdas, berbakat dan cantik. Kejadian tidak mengenakkan di sebuah kamar hotel membuatnya mengalami jatuh bangun dalam kehidupannya. Banyak peristiwa yang harus dialaminya karena dendam lama Ratih. Kehilangan mahkotanya, keluarga bahkan hampir kehilangan cintanya. Bersamaan dengan itu, cinta menyapa Amelia tanpa diduga. Pria yang seharusnya dia benci, malah membuatnya jatuh cinta. Akankah Amelia mempertahankan cintanya? Atau memilih meninggalkannya?
Ikuti kisah lengkapnya di Fate Love.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DewiOmega, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9 Lembaran Baru
Pagi ini adalah pagi yang baru bagi Amelia Candra sebagai Emily Sandra. Kata-katanya di tepi jembatan semalam memang dia buktikan. Dia bangun dengan badan yang segar, perasaan dan identitas baru. Selesai mandi dan berkemas, Emily turun ke bawah sambil membawa dua koper besar. Semua sedang berkumpul di meja makan menikmati sarapannya masing-masing.
“Selamat pagi, Sayang.” Mama Sonya yang melihat Emily turun, menyapanya.
“Selamat pagi semua,” sahutnya.
“Apa kamu akan berangkat sekarang, Mel?” tanya Ratih antusias.
“Iya Kakakku sayang, setelah sarapan aku akan langsung berangkat. Pa, apa Papa sudah menyiapkan semua seperti yang Amel minta?” tanya Amel beralih ke papanya.
“Apa perlu sampai segitunya, Mel?” tanya papanya keberatan.
“Iya, Pa. Amel ingin memulai semuanya benar-benar dari awal. Amel mohon Papa ngerti,” matanya memohon.
Pak Candra hanya bisa mengangguk dan melanjutkan makannya. Ratih yang tidak mengerti apa yang dua orang itu bicarakan, hanya mengerutkan kening penasaran. Amel memandangnya dengan senyum puas. Tenang Ratih…ini baru awalnya. Ya, masih awal.
Setelah menyelesaikan makannya, Amel dan bik Sumi berpamitan pada semua.
“Bik…jaga Amel baik-baik ya,” pesan Mama Sonya.
“Iya, Bu. Saya akan menemani dan menjaga Neng Amel,” sahut bik Sumi mengangguk.
Pak Candra melepas kepergian putrinya dengan pandangan sedih dan haru. Keputusan Amel merubah namanya menjadi nama gadis mamanya selama bekerja di kantor cabang membuatnya merasa semakin tersentuh. Tekad Amel untuk memulai hidup barunya sangat kuat, hingga pak Candra harus menahan diri memperkenalkannya sebagai putrinya di kantor cabang.
Di dalam mobil, Amel mengemudi dengan santai dan riang. Bibirnya bersenandung mengikuti alunan lagu dari audio mobilnya. Bik Sumi yang duduk di sampingnya tersenyum memandang majikannya itu.
“Neng Amel lagi seneng ya?” tanya bik Sumi.
“Iya, Bik. Sudah lama sekali aku gak merasa seringan ini. Oh iya, nanti di rumah baru jangan panggil Amel ya. Bibi panggil Emily. Ya?” tanya Amel mengingatkan.
Banyak yang ingin ditanyakan, namun bik Sumi hanya mengangguk, “Iya, Neng.”
Setelah menempuh empat jam perjalanan, sampailah mereka di sebuah rumah mungil dan asri. Rumah itu sengaja dibeli oleh Papanya saat mempersiapkan kepindahan Amel, sesuai dengan permintaan Amel. Rumah yang tidak mencolok, pesannya saat itu.
“Rumahnya bagus, Neng. Bibi sudah merasa betah melihat halamannya yang asri,” tukas bik Sumi senang. Amel hanya tersenyum sambil mengeluarkan kopernya dari bagasi.
Melangkah memasuki halaman rumah barunya, Amel disambut dengan taman bunga dan ayunan kayu di tepi halaman dekat pintu masuk. Rumah satu lantai bergaya modern klasik bernuansa putih dan pastel itu terlihat
mungil namun elegan. Di halaman belakang terdapat kolam ikan dengan air mancur di bagian tengahnya.
Puas berkeliling dibagian luar rumah, Amel dan bik Sumi memutuskan untuk masuk. Amel memilih untuk membersihkan badan dan segera mengisi perutnya yang lapar. Selesai membereskan barangnya, Amel keluar kamar dan hendak pergi ke swalayan di dekat rumah untuk berbelanja keperluan dapur.
“Bik, Mel keluar dulu ya. Mau belanja bentar,” pamitnya.
“Apa tidak sebaiknya Neng Mel makan dulu? Ini Bibi memasak nasi dan lauk yang Bibi bawa dari rumah,” cegah bik Sumi.
“Wahh…Bibi bawa bekal ya? Memang luar biasa Bibi ini,” katanya sambil mengacungkan kedua jempolnya.
****
Hotel Metro Kota M
“Selamat pagi Direktur Emily Sandra, perkenalkan saya Ardiansyah Wijaya manajer HRD di sini. Saya ucapkan selamat datang dan selamat bergabung dengan kami,” sambut seorang pria tampan dengan postur tubuh ideal
seorang model.
“Selamat pagi, Pak Ardi. Terima kasih sambutannya,” ucap Mily sambil mengangguk.
“Mari saya antarkan ke ruang kerja ibu,” tawarnya.
“Tidak perlu, bila tidak merepotkan saya ingin berkeliling dulu sebelum menghadiri rapat inagurasi,” kata Mily berjalan memasuki pintu masuk.
“Baik, mari saya antarkan ibu melihat-lihat suasana hotel ini,” kata Ardi menyilakan.
Satu jam kemudian mereka berdua sudah selesai berkeliling. Ardi menunjukkan setiap sisi hotel tanpa ada yang terlewat sembari melaporkan detail masalah yang sedang terjadi di hotel ini. Laporan yang diberikan membantu Mily mulai merancang kerangka kerja yang akan dia sampaikan pada rapat inagurasi siang nanti.
“Selama kursi direktur kosong, sudah ada tiga proyek besar yang lepas dari kita. Pak Rustam direktur yang lama memiliki banyak koneksi diberbagai lini, sayangnya setelah beliau meninggal banyak kolega yang berpindah ke lain hati karena sosok yang selama ini mereka percaya tidak bersama kita,” jelas Ardi panjang lebar.
“Bagaimana bisa?” tanya Mily. “Apa beliau tidak punya sekretaris?”
“Pak Rustam mempunyai sekretaris namun hanya menangani masalah administrasi di kantor. Untuk hubungan dengan kolega, almarhum tidak mengikutsertakan sekretarisnya,” Papar Ardi.
“Maaf saya tanya. Apa ada aroma penyelewengan di sini?” selidik Mily.
“Lebih tepatnya ada usaha pengalihan kepemilikan secara perlahan dan tersembunyi oleh direktur terdahulu,” ucap Ardi mengakhiri penjelasannya.
“Oke. Saya paham permasalahannya. Intinya saya harus memulai dari bawah lagi seperti membangun kantor baru. Baik, terima kasih perjelasannya Pak Ardi,” tukas Mily sembari tersenyum ke arah lawan bicaranya.
Saat rapat inagurasi berlangsung, Emily memperkenalkan dirinya sekaligus rencana kerjanya ke depan. Dia meminta seluruh karyawan dari berbagai lini bekerjasama agar permasalahan hotel segera teratasi dan tidak
sampai terjadi krisis. Semua yang hadir mengangguk-angguk setuju dan mengagumi pemikiran direktur barunya.
Emily menerapkan kerja keras dan kerja cerdas dalam pola kepemimpinannya, seluruh staf hotel kagum dan hormat kepadanya. Usianya yang masih muda berbanding terbalik dengan kemampuannya dalam memimpin. Dalam waktu lima bulan, hotel Metro yang dia pimpin berhasil memenangkan 2 proyek besar dalam bidang pariwisata.
Sebuah panggilan masuk dari Pak Candra menghentikan aktivitas makan siang Emily.
“Halo Papa, apa kabar?” sapa Emily lebih dulu.
“Halo Sayang, kabar Papa baik. Kamu apa kabar?” tanya pak Candra.
“Mel baik. Maaf ya, Mel belum bisa pulang. Banyak yang harus Mel kerjakan di sini,” katanya menjelaskan.
Papanya tertawa bangga, “Kamu memang luar biasa, Sayang. Papa sudah baca laporan yang kamu kirimkan. Terima kasih banyak atas kerja kerasmu selama ini. Gimana? Betah di sana?” tanya Pak Candra.
“Iya Pa, Mel betah di sini. Terima kasih juga sudah percayakan urusan hotel Metro ke Mel,” ucapnya senang. Mereka berbincang lama, saling menanyakan dan melepas rindu, hingga sebuah ketukan di pintu mengakhiri percakapan bapak anak itu.
Tok…tok…tok…pintu terbuka dan Risa sekretarisnya masuk membawa sebuah map.
“Maaf Bu, saya mengganggu jam makan siangnya,” kata Risa meminta maaf.
“Iya Risa tidak apa. Ada apa?” tanya Mily.
“Ini ada fax masuk dari kantor Walikota. Isinya penawaran proyek kerjasama beberapa hotel di sini untuk memajukan pariwisata, diwujudkan dalam sebuah acara. Hotel dengan ide menarik yang memenangkan proyek
akan menjadi penanggung jawab penyelenggaraan acara tersebut,” jelasnya panjang lebar.
“Mmmm…oke. Ini bisa kita pakai untuk mempromosikan hotel kita lebih luas lagi. Tolong kamu umumkan pada semua divisi agar merancang ide-ide menarik. Lusa kita rapat untuk mendengarkan ide dan memutuskan yang terbaik untuk kita ajukan ke kantor Walikota,” perintah Mily pada sekretarisnya.
“Oh iya Ris, apa nanti malam kamu ada acara?” tanya Mily.
“Tidak ada Bu, ada yang bisa saya bantu?”
“Bisa kamu temani saya keluar nanti malam? Sejak saya pindah lima bulan lalu ke kota ini, belum pernah sekali pun saya menikmati suasana malam kota M,” ucap Mily.
“Baik Bu, saya akan temani ke manapun,” senyum Risa mengembang.
Risa dan Mily menjadi teman dekat sejak sebulan lalu. Saat di kantor mereka bersikap profesional antara direktur dan sekretaris. Namun saat jam kerja usai, terutama saat malam minggu, mereka akan jadi sahabat yang saling curhat dan menyemangati. Dua gadis cantik yang sama-sama jomblo menikmati malam minggu berdua, begitu biasanya mereka bercanda.
“Kita ke mana malam ini, Ris?” tanya Mily sambil memegang kemudi.
“Ke café Amour aja gimana? Suasananya enak, ada live music dan yang terpenting makanannya enak,” papar Risa.
“Café? Gak ada tempat nongkrong lain? Aku gak gitu suka café, ada pengalaman buruk tentang café,” cerita Mily.
“Kenapa? Pernah naksir cowok ganteng di café tapi ternyata dia sudah bawa gandengan ya?” tebaknya sambil tertawa.
“Hahaha…tau aja kamu,” balas Mily sambil tertawa.
“Udahlah Mel…khan tiap café punya takdirnya masing-masing. Kalau dari namanya semoga memang café penebar cinta,” ucap Risa mengkhayal.
“Oke bawel, tunjukkan jalannya,” Mily memutuskan mengikuti kemauan Risa.
****
Café d’Amour
Suasana café ini memang berbeda dari café yang pernah Mily kunjungi selama ini. Lebih seperti pekarangan rumah megah yang sedang menggelar pesta barbeque. Pengunjung bisa memilih ingin memasak makanannya sendiri atau menikmati menu yang sudah disediakan. Di pojok taman, sebuah band menghibur pengunjung dengan alunan lagu-lagu hits di jamannya.
“Bener katamu Ris, enak suasananya. Bikin betah ya,” kata Mily sambil mengedarkan pandangan ke sekitar.
“Nah khan, yuk kita cari tempat kosong,” ajaknya.
Mily mengikuti langkah Risa, tanpa dia sadari sepasang mata sedang memperhatikan gerak-geriknya.
“Kita duduk sini aja ya, biar gak terlalu berisik. Mau pesan apa, Mel?” tanya Risa sambil menyodorkan daftar menu yang diantar oleh pelayan café.
“Aku mau steik medium rare, summer salad sama jus alpukat,” pesan Mily.
“Oke. Aku sama deh, jus alpukatnya ganti jus jeruk ya mbak,” katanya disambut anggukan dan senyuman pelayan.
Sambil menunggu pesanan mereka diantar, Risa menyanyikan sebuah lagu diiringi band café. Mily menikmati suasana itu hingga tidak menyadari seorang pria telah berdiri di samping mejanya. Pria dengan penampilan menarik menggunakan celana jeans dan kemeja kotak-kotak tersenyum ke arahnya.
“Malam, boleh gabung?” tanya pria tak dikenal.
“Maaf, saya sedang bersama teman,” jawab Mily tidak tertarik.
“Kalau kenalan boleh dong?” tanya pria itu tidak menyerah. Sambil mengulurkan tangannya dia menyebutkan namanya, “Prasetyo Kurniawan.”
Mily dibuat jengah dengan sikap pria itu, dengan malas dia menyambut tangannya dan mengenalkan diri, “Clarisa Mendez.”
Menyadari keengganan wanita di depannya membuat Prasetyo memutuskan untuk mengakhiri percakapan. “Sampai ketemu lain kali. Semoga saat itu kita bisa ngobrol lebih banyak,” ucapnya sambil undur diri dan berlalu meninggalkan meja.
Pras yakin, wanita ini adalah Amelia Candra, wanita yang dia jebak dan Pras berhutang banyak permintaan maaf kepadanya. Pras telah bersumpah akan menebus dosanya dan ternyata Tuhan mempertemukannya dengan orang yang pantas menerima pertobatannya.
Makanan yang mereka pesan telah sampai di meja bersamaan dengan Risa yang sudah duduk kembali di depan Mily sambil cengar-cengir. “Dapet gebetan ganteng nich ceritanya…” sindirnya.
“Gebetan apaan? Orang ngajak kenalan kok. Btw…maaf ya, tadi aku ngakunya pakai nama kamu,” Mily mengaku sambil senyum-senyum.
“Hhaahh…? Kok bisa? Emang kenapa? Gak masuk kriteria kamu?” cecar Risa.
“Bukan. Hanya sedang tidak berminat dekat dengan pria,” sahut Mily sekenanya.
“Yaelah Mil, ganteng gak? Kalau ganteng sich gapapa. Kamu kasih nomorku gak?” tanya Risa penasaran.
“Ish, kamu tuh ya. Udahlah, kita makan dulu. Ngobrolnya tar aja di rumah.” Risa cemberut.
Acara makan malam dua wanita jomblo berjalan lancar. Selesai menghabiskan makanan, mereka bergegas pulang karena malam sudah semakin larut. Namun saat berjalan menuju mobil, mereka melihat seorang pria sedang
dihajar oleh pria lainnya.
“Ya ampun…apa-apaan itu?!” kata Risa histeris. Hendak berjalan mendekat, namun tangannya dipegang oleh Mily.
“Udah…kita pulang aja. Gak usah ikut campur,” katanya sambil menarik Risa menuju mobil. Saat akan berlalu dari tempat parkir, sekali lagi Mily menoleh melalui kaca spion. “Lho…itu kan Prasetyo,” menghentikan laju mobilnya.
“Emangnya kamu kenal Mel?” tanya Risa ikutan menoleh ke belakang.
“Pria yang ngajakin aku kenalan tadi. Aahhh...!” teriaknya saat Prasetyo jatuh tersungkur ke tanah bersimbah darah. Tanpa pikir panjang Mily keluar dari mobil dan bergegas menghampiri Prasetyo.
"Mel, kamu mau ngapain sich?!" teriakan Risa tidak digubris oleh Mily.
“Hei…! Apa yang kalian lakukan?! Menghajar orang seenaknya!” Mily menghardik dua pria berjas hitam.
“Maaf Nona, ini bukan urusan anda. Sebaiknya jangan ikut campur,” kata pria berbadan gempal.
“Mel, kamu gila ya?! Ayo pergi dari sini!” Risa menarik tangan Mily menjauh.
Tanpa menjawab Mily melangkah mundur sambil memperhatikan wajah dua pria yang dengan sigap membawa Prasetyo masuk ke dalam sebuah mobil van warna hitam.
“Kamu apaan sich, Mel? Katanya gak tertarik sama Prasetyo, kok ikut campur urusan dia? Tumben banget kamu heroik,” Risa mulai menyelidiki.
“Bukan gitu, aku tuh kasian aja. Kebetulan tadi sempat kenalan dan kejadiannya di depan mata,” jelas Mily sambil mengangkat bahu dan fokus mengemudi.
“Baru kenal juga…mana itu lawannya gempal banget badannya seperti tentara bayaran,” Risa bergidik.
“Hehehe...iya, mana tampangnya juga serem,” Mily terkekeh.
Mereka mengalihkan topik pembicaraan, membahas strategi dalam mengerjakan proyek Walikota kota M. Segera saja bahasan mengenai Prasetyo teralihkan.
****
Hai, Smart Readers.
Sudahkah kalian Like,
Komen dan Vote? Episode-episode berikutnya bakalan lebih seru nich. Tunggu
update cerita selanjutnya ya…
tankyou penulis,sdh membuat karya yg bikin pembacamu terhanyut dgn alur cerita yg kamu buat.sukses terus