Arien Riena Ridwanto menyembunyikan identitas sejatinya Kaisar Arbella J. Milea Inesh, penguasa Vinesha. Ratusan tahun ia hidup terpisah dari enam saudaranya, terus bereinkarnasi menggunakan segel sihir Mata Elang — menjadi bayangan mereka karena rasa bersalah masa lalu.
Di kehidupan ke-17 ini, ia hanya wanita biasa, istri dan ibu yang mencintai keluarga kecilnya. Namun ancaman terhadap Alan dan Arumie memaksanya membuka rahasia yang akan mengguncang dunia!
"Akulah asal mula semua yang telah terjadi. Akulah sang Pengendali...! sang Segel Elang…! Kaisar Suci Vinesha...! Kaisar Arbella!"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Arni Arlinawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 9
Aula utama seketika pecah oleh kegaduhan yang luar biasa. Jamuan makan malam ke-13 yang seharusnya berlangsung formal bagi para pemegang saham, mendadak berubah mencekam. Penyebabnya hanya satu: kedatangan Rael Efero secara tiba-tiba. Kehadiran pria itu di tengah-tengah mereka layaknya sebuah badai yang siap menggulung siapa saja.
Tanpa memedulikan kasak-kusuk dan tatapan tegang dari puluhan pasang mata, Rael melangkah dengan aura intimidasi yang pekat. Pria itu langsung membawa Vano, Eren, Liu, beserta Matteo untuk pergi bersamanya. Mereka melangkah meninggalkan aula, menuju sebuah ruangan khusus yang hanya diperuntukkan bagi para penguasa tertinggi di dalam gedung tersebut.
Semua kekacauan ini bermula hanya beberapa menit yang lalu sebelum Rael membawa mereka ber empat pergi bersama nya....
Di dalam aula, sebelum ketegangan memuncak, Matteo berdiri tegap di samping Rael. Rael sendiri tampak duduk tenang di sebuah kursi mewah yang sebenarnya disediakan khusus untuk Matteo. Namun, di tempat ini, tampaknya hierarki kekuasaan telah bergeser. Matteo kini secara mendadak bertindak sebagai juru bicara sang penguasa.
Setelah menerima bisikan pelan dari Rael yang menanyakan siapa pengelola tempat ini, Matteo langsung mengambil napas dalam-dalam. Ia mengedarkan pandangan tajam ke seluruh penjuru ruangan, lalu berteriak lantang.
Who is the owner of this building?
"Siapa pemilik gedung ini?"
Pertanyaan itu menggelegar, melempar keheningan yang mencekam ke hadapan semua orang. Mendengar teriakan Matteo, pandangan para pemegang saham serentak tertuju ke satu titik yang sama: Liu.
Merasa menjadi pusat perhatian dan tahu persis siapa yang sedang berdiri di depan sana, Liu langsung bangkit dari tempat duduknya. Tanpa membuang waktu untuk bertanya, ia melangkah cepat menghampiri Rael.
"I am, Sir! I am the organizer of this banquet!"
(Saya, Tuan! Saya penyelenggara perjamuan ini!) jawab Liu tegas. Suaranya terdengar jelas, berusaha menunjukkan rasa hormat tertinggi kepada sang pemilik saham inti.
Rael tidak langsung merespons Liu. Pria itu kembali menoleh ke arah Matteo, lalu membisikkan sesuatu sembari mengarahkan telunjuknya ke sudut ruangan. Jari Rael mengarah tepat ke salah satu tempat duduk paling ujung di barisan belakang—tempat yang ditempati oleh Vano, dengan Eren yang berdiri siaga di belakangnya.
Matteo yang menangkap isyarat itu langsung menyambar dengan suara keras agar didengar oleh targetnya.
You over there! The 13th seat!
"Kau yang di sana! Kursi ke-13!" ucap Matteo lantang.
Seketika itu juga, seluruh pasang mata di dalam aula beralih menatap ke arah ujung meja. Vano dan Eren yang terkejut setengah mati langsung mematung di tempat. Jantung mereka berdegup kencang, sama sekali tidak menyangka nama mereka akan diseret oleh Matteo secara langsung.
Vano refleks mengerutkan kening.
“...!”
Me?!
"Aku?!" gumam Vano lirih penuh keraguan.
Pikirannya berkecamuk. Tidak mungkin orang sekelas Rael menunjuk kursinya. Vano sempat mengira Matteo salah melihat arah tangan Rael saat memberikan isyarat tadi. Namun, dugaan Vano langsung patah ketika Rael sendiri yang membuka suara, memperjelas keputusannya dengan nada dingin yang mutlak.
I am pointing at you, the 13th representative, Vano!
"Aku menunjukmu, perwakilan ke-13, Vano!"
Begitu nama Vano meluncur langsung dari bibir Rael, kegaduhan yang hakiki benar-benar pecah. Satu ruangan langsung riuh oleh bisik-bisik dan gunjingan para pemegang saham. Atmosfer ruangan dipenuhi rasa penasaran yang luar biasa. Mereka semua dipenuhi tanda tanya, bingung sekaligus iri mengapa orang-orang biasa seperti mereka dipanggil langsung oleh sang penguasa tertinggi.
Begitu semua orang yang ditunjuk telah berkumpul dan berdiri di hadapannya, Rael bangkit dari duduknya. Ia menatap mereka satu per satu, bersiap untuk membawa mereka keluar dari aula.
Alright! Liu, Vano, and you?
"Baiklah! Liu, Vano, dan kau?" Rael menggantung kalimatnya saat pandangannya jatuh pada sosok pria di belakang Vano. Ia menunjuk pria itu dengan tatapan menyelidik.
I am Eren, Sir! Vano's deputy in the company.
Saya Eren, Tuan! Wakil Vano di perusahaan." jawab Eren cepat, berusaha menjaga suaranya agar tetap terdengar profesional meski keringat dingin mulai membasahi tengkuknya.
Rael melangkah mendekat. Secara mengejutkan, ia mendaratkan telapak tangannya di pundak Eren. Bersamaan dengan sentuhan itu, Rael sengaja menekan udaranya, memancarkan aura yang halus. Sembari menyunggingkan senyum tipis yang penuh arti misterius, Rael berbisik pelan, tepat di dekat telinga Eren.
"Ah... You're Vano's half-brother right? The Elano family...
"Ah ... Kau adik-tiri Vano, ya? Keluarga Elano..."
Kalimat Rael yang menggantung itu seketika meninggalkan tanda tanya besar yang menghantam dada Eren. Ada maksud tersembunyi yang sangat gelap di balik penjabaran nama yang di ucapkan nya tersebut.
Namun, Rael tidak memberikan waktu sedetik pun bagi Eren untuk mencerna keterkejutannya. Pria itu langsung berbalik badan, melangkah memimpin jalan seraya berseru kepada mereka semua.
Alright everyone, follow me!
"Baiklah semuanya, ikut aku!"
Liu, Vano, dan Eren akhirnya menyadari sebuah kenyataan, sosok di hadapan mereka adalah sang Penguasa Aura. Bagaimana mungkin mereka tak menyadari nya, Tekanan masif yang sempat membuat seisi ruangan sesak napas—seolah-olah leher mereka dicekik oleh tangan tak kasat mata—jelas bukan berasal dari pengguna Aura biasa. Itu adalah tanda mutlak kekuasaan Rael.
Kendati benak mereka dipenuhi jutaan pertanyaan, ketiganya memilih bungkam. Jangankan mereka, Matteo yang dikenal angkuh saja mendadak tunduk dan hanya diam. Namun, Rael tampaknya belum selesai menguji mental mereka.
You guys can go in first!
"Kalian boleh masuk duluan!" ucap Rael dingin kepada Vano, Eren, dan Liu. Ia sengaja mengisyaratkan Matteo untuk tetap bertahan di posisi belakangnya.
Saat melangkah mengekor di belakang ketiga pemuda itu, Rael mendadak melepaskan jubah energinya.
Wuuussshhh!
^^^Bersambung...^^^
liat gekagatnya arien yg sefrustrasi itu cincin hilang aku jadi ikutan ngeri, takut suaminya galak 😭
tapi ini konteks nya benda sakral .. seharusnya mending di jadiin kalung atau simpen di rumah .. jadi repot kan kalau ilang begini ... beda cerita kalau emng cincinnya yang bisa teleportasi 🤭