Raka nekad syuting di Kampung Pitu meski dilarang Laras dan karena ia merasa ada kekuatan gaib yang memilih tempat itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Gemini 75, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Halaman yang Terbuka Kembali
Langkah kaki mereka perlahan mendekati rumah kedelapan. Pagi itu cahaya matahari sudah cukup terang, menyinari seluruh bagian depan rumah yang berdiri kokoh di sana, namun rumah itu tetap terasa dingin dan sunyi, seakan cahaya matahari tak mampu menghangatkan dinding-dindingnya yang sudah lama menyimpan kesedihan. Pintu depan yang kemarin mereka tutup rapat, kini terlihat sedikit terbuka lagi sekitar sejengkal, seakan ada seseorang yang baru saja keluar, atau seakan rumah itu sendiri yang membukanya untuk menyambut kedatangan mereka untuk kedua kalinya.
Di antara rombongan itu berdiri Dimas, anak kandung Bu Wiyati yang lahir dan tumbuh besar di kampung ini sebelum ikut pamannya ke Jakarta untuk bersekolah. Ia berjalan di samping Raka, matanya menatap rumah itu dengan tatapan yang sulit diartikan ada rasa rindu pada tanah kelahirannya, namun juga ada rasa takut yang tak bisa ia sembunyikan. Sebagai orang yang lahir di sini, ia lebih tahu daripada siapa pun tentang aturan-aturan yang tak boleh dilanggar di kampung ini.
"Rumah itu... selalu membuatku tidak tenang setiap kali lewat," ucap Dimas pelan, suaranya rendah namun jelas terdengar di samping Raka. "Dulu saat aku masih kecil, warga selalu berpesan jangan pernah mendekati rumah itu. Katanya, rumah itu bukan milik siapa pun. Rumah itu menunggu."
"Mengapa kamu ikut dengan kami masuk ke sini, Dimas?" tanya Raka lembut, menatapnya sekilas. "Kamu bisa menunggu di rumah Bapak Suryo."
Dimas menggeleng pelan. "Karena aku merasa aku harus ada di sini. Sebagai orang kampung ini, sebagai anak Bu Wiyati. Aku ingin memastikan kalian aman. Dan... aku ingin tahu juga. Apa yang sebenarnya terjadi di rumah itu bertahun-tahun yang lalu."
Mereka berhenti sejenak di depan pintu itu, saling berpandangan. Raka merasakan detak jantungnya kembali berdebar kencang, namun kali ini bukan karena rasa takut melainkan karena rasa tanggung jawab yang berat. Ia melangkah maju sedikit, lalu mendorong pintu itu perlahan hingga terbuka lebar. Udara di dalam rumah itu masih sama dingin, lembap, bercampur bau debu dan kayu tua, namun kali ini tidak ada rasa terkejut yang berlebihan. Mereka sudah siap. Mereka sudah tahu sedikit tentang kisah yang tersimpan di dalam sana.
"Masuklah pelan-pelan," bisik Raka kepada seluruh kru. "Hati-hati dengan setiap langkah. Jangan menyentuh apa pun yang tidak perlu. Kita mulai dari ruang tengah dulu, lalu naik ke lantai dua."
Dimas berjalan di belakang Raka, matanya terus mengawasi setiap sudut ruangan dengan waspada. Ia merasa asing namun juga akrab dengan tempat ini dulu dari kejauhan ia sering melihat keluarga Candra Wijaya beraktivitas di beranda rumah itu, terutama Ardita yang sering melambai padanya saat ia masih kecil. Namun kini rumah itu sunyi, seakan tak pernah dihuni siapa pun.
Ruangan itu tampak sama persis seperti kemarin meja kayu besar yang tertutup debu, jam dinding yang berhenti berputar, lemari kayu yang tertutup rapat. Namun ada satu hal yang berbeda. Di atas meja ruang tengah itu, tepat di tengah-tengah, terdapat sebuah benda kecil yang kemarin tidak ada di sana. Sebuah bunga kering berwarna putih pudar, yang kelopaknya sudah mulai rapuh, tergeletak rapi di atas permukaan meja yang berdebu. Seakan diletakkan di sana dengan sengaja, sebagai tanda selamat datang atau tanda peringatan.
"Kalian lihat itu?" tanya Laras pelan, menunjuk ke arah bunga itu dengan matanya, tanpa berani mengulurkan tangan. "Itu tidak ada di sini kemarin. Aku yakin."
Semua orang mengangguk pelan, termasuk Dimas. Ia menatap bunga itu dengan wajah yang berubah pucat. "Itu... bunga melati putih yang tumbuh di halaman rumah Ibu. Aku tahu bunganya. Tidak tumbuh di tempat lain di sekitar sini."
"Maksudmu... dari rumah Bu Wiyati?" tanya Bu Sari dengan suara rendah.
"Ya," jawab Dimas perlahan. "Dan bunga itu baru dipetik. Tidak kering karena lama, tapi karena diletakkan di tempat yang dingin dan lembap. Seseorang memetiknya dari rumah Ibu, lalu membawanya ke sini dan meletakkannya di tengah meja itu."
"Siapa yang bisa melakukannya?" tanya Tika gemetar. "Tidak ada yang tahu kita akan datang pagi ini, kan?"
"Kita berangkat pagi-pagi sekali," ucap Eko pelan. "Tidak ada yang tahu rencana kita hari ini."
"Apakah ada yang masuk ke sini setelah kita pergi kemarin?" tanya Bu Sari pelan, matanya mengamati sekeliling ruangan dengan waspada. "Bapak Suryo? Bu Wiyati?"
"Kalau mereka masuk, pasti ada jejak di debu lantai," jawab Raka perlahan. "Lihatlah lantai ini masih bersih dari jejak kaki baru. Semua jejak yang ada di sini adalah jejak kaki kita kemarin. Tidak ada orang lain yang masuk ke sini setelah kita pergi."
"Kecuali..." Dimas berhenti sejenak, menelan ludah. "Kecuali orang yang tidak butuh menyentuh tanah untuk meninggalkan jejak."
Keheningan menyelimuti ruangan itu seketika. Tidak ada yang berani melanjutkan kalimat itu. Di dalam rumah itu, di antara dinding-dinding yang menyimpan masa lalu, ada sesuatu yang bergerak. Sesuatu yang tidak terlihat, namun meninggalkan jejak. Sesuatu yang tahu bahwa mereka akan datang kembali.
"Jangan disentuh," ucap Raka tegas namun lembut. "Biarkan bunga itu tetap di tempatnya. Kita rekam saja apa adanya. Mungkin itu pesan. Mungkin itu tanda. Tapi kita tidak boleh mengganggunya."
Budi dan Eko mengarahkan kamera ke bunga itu, merekamnya dari dekat maupun dari jauh. Cahaya lampu sorot jatuh lembut di atas kelopak bunga itu, menampakkan keindahannya yang sederhana namun kini terasa begitu mencekam bunga yang berasal dari rumah Bu Wiyati, yang entah bagaimana caranya sampai ke tengah rumah kedelapan ini.
"Kita naik ke lantai dua," ucap Raka setelah mereka selesai merekam ruang tengah. "Di sana ada buku harian itu. Dan aku merasa... buku itu mungkin sudah menunggu untuk kita baca lebih lanjut."
Dimas ikut berjalan menuju tangga di sudut ruangan, melangkah naik di belakang Laras. Ia merasakan hawa yang semakin berat semakin tinggi mereka naik, seakan udara di lantai itu lebih padat, lebih sulit dihirup. Suara langkah kaki mereka di atas papan kayu tangga itu terdengar berirama dan berat, bergema ke seluruh ruangan. Semakin naik ke lantai dua, semakin terasa hawa yang sunyi dan hening, seakan seluruh isi rumah itu menahan napas saat mereka mendekati kamar di ujung lorong kamar dengan jendela besar yang menghadap ke luar.
Sesampainya di depan pintu kamar itu, Raka berhenti sejenak. Ia menarik napas panjang, lalu mendorong pintu itu perlahan hingga terbuka. Dan di saat itu, semua orang yang berada di belakangnya termasuk Dimas menahan napas serentak.
Buku harian yang kemarin mereka temukan terbuka di meja itu kini halamannya sudah berubah.
Bukan lagi halaman yang mereka lihat kemarin. Buku itu kini terbuka di halaman yang baru, halaman yang belum pernah mereka lihat sebelumnya. Dan di atas kertas itu, tulisan tangan yang sama rapi, halus, namun kini terlihat lebih tergesa-gesa, seakan ditulis dengan tangan yang gemetar karena takut.
Laras melangkah maju perlahan, matanya tak mampu berkedip menatap tulisan itu. Ia tidak mendekat untuk menyentuhnya, hanya berdiri di tepi meja, membaca pelan-pelan setiap kata yang tertulis di sana. Dan perlahan, kata-kata itu mulai terucap dari bibirnya dengan suara yang hampir berbisik, namun terdengar jelas di ruangan yang sunyi itu.
"Mereka bilang rumah ini tidak boleh ada. Tapi rumah ini sudah ada. Dan sekarang aku tahu rumah ini bukan milik kami. Kami yang menjadi miliknya. Ia tidak pernah tidur. Ia selalu melihat. Dan setiap malam, ia berjalan di antara kami, menunggu saat yang tepat untuk mengajak salah satu dari kami ikut bersamanya."
Laras berhenti sejenak, menelan ludah dengan susah payah. Matanya melanjutkan membaca baris berikutnya, dan saat itu suaranya benar-benar bergetar.
"Ibu bilang kita harus pergi sebelum bulan purnama datang. Ayah bilang kita tidak perlu takut. Tapi aku tahu sudah terlambat. Karena ia sudah memilih. Dan malam ini, ia akan datang untukku."
Di bawah baris terakhir itu, tertulis satu kalimat lagi yang membuat bulu kuduk seluruh kru berdiri tegak. Kalimat itu ditulis dengan tinta yang terlihat lebih gelap, seakan ditulis dengan tangan yang gemetar hebat di bawah cahaya yang sangat redup.
"Jika siapa pun menemukan buku ini tolong beritahu aku... apakah aku sudah pergi? Atau aku masih di sini, menunggu seperti yang lain?"
Keheningan yang begitu berat menyelimuti ruangan itu. Tidak ada yang bergerak, tidak ada yang bernapas. Tulisan itu apakah mungkin halaman itu berubah dengan sendirinya sejak kemarin? Atau... ada seseorang yang menulisnya kembali semalaman, di dalam rumah yang terkunci dan sepi itu?
"Itu tidak mungkin," bisik Eko, suaranya penuh ketidakpercayaan. "Buku itu tertutup. Tidak ada yang masuk ke sini. Tidak ada yang bisa mengubah halamannya dan menulis hal baru."
Dimas mendekat perlahan, matanya menatap tulisan itu lekat-lekat. "Itu tulisan tangan Ardita. Aku ingat sekali. Dulu kadang aku melihatnya menulis di beranda rumahnya. Cara ia menulis huruf 'a' dan 'i' sama persis. Tidak ada yang bisa meniru tulisannya seakurat ini."
"Kecuali..." Tika tidak berani menyelesaikan kalimatnya.
Raka berdiri terpaku di tempatnya, matanya menatap buku itu dengan tatapan yang sulit diartikan. Ada begitu banyak pertanyaan yang muncul di kepalanya, namun tidak ada satu pun yang bisa dijawab dengan logika. Satu hal yang ia tahu dengan pasti mereka tidak sedang berhadapan dengan sekadar cerita masa lalu. Mereka sedang berhadapan dengan sesuatu yang masih hidup di rumah itu. Sesuatu yang masih menunggu.
"Kita tidak boleh membalik halaman berikutnya dulu," ucap Raka akhirnya, suaranya tegas namun penuh hormat. "Kita rekam halaman ini, kita catat, lalu kita tutup buku itu perlahan. Kita tidak boleh memaksa apa pun yang belum ingin terungkap. Kita harus menghormatinya."
Namun saat Raka perlahan mengulurkan tangan untuk menutup buku itu, angin tiba-tiba berhembus kencang melalui celah jendela yang sedikit terbuka, meniup halaman buku itu dengan kuat. Halaman itu terbalik dengan sendirinya, menampakkan baris terakhir yang tertulis di bagian bawah halaman sebelumnya — baris yang sebelumnya tersembunyi.
Dan di sana, tertulis tanggal yang membuat darah mereka semua membeku di tempat.
17 September — Malam Bulan Purnama
Tanggal itu — adalah tanggal hari ini.
Dimas mundur selangkah, punggungnya menabrak dinding di belakangnya. "Malam ini bulan purnama," bisiknya dengan wajah pucat pasi. "Dan buku itu... buku itu menulisnya untuk hari ini." bisik Dimas yang semakin pucat.