Bagi Amanda Millen, patah hati terburuknya bukanlah saat melihat tunangannya berselingkuh di depan mata. Patah hati itu hanyalah awal mula dari sebuah bencana yang jauh lebih gelap. Dalam pelariannya mencari pelampiasan di kelab malam paling terlarang di kota, Amanda melakukan satu kesalahan fatal: ia menampar pria yang salah.
Pria itu bukan mantan kekasihnya yang brengsek. Pria itu adalah Aldebaran Hendrick.
Pemimpin The Iron Crown, klan mafia paling kejam, berdarah dingin, dan tak tersentuh oleh hukum mana pun. Malam itu, di bawah pengaruh alkohol dan keputusasaan, Amanda menyerahkan dirinya pada sang iblis. Pagi harinya, ia terbangun sendirian dalam kehampaan, hanya ditemani memori kabur, sebuah kartu platinum tanpa limit, dan cincin berkepala tengkorak yang dingin di atas bantal.
Lima tahun berlalu. Amanda mengubur malam gila itu dalam-dalam, menganggapnya sebagai musibah yang tak akan pernah terulang. Ia membangun hidup baru, menyembunyikan Lily—buah dari benih sang penguasa ke
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kholifah Lifah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
22
Sinar matahari pagi menembus celah gorden berbahan beludru hitam tebal, menyapu wajah Amanda yang terlelap di atas ranjang king size berseprai sutra emas. Aroma musk dan kayu-kayuan—wangi khas yang begitu mengintimidasi sekaligus memabukkan—menguar dari bantal yang ia tiduri, seketika menariknya dari alam bawah sadar.
Mata Amanda terbuka lebar. Ia terkesiap, bangkit dengan napas memburu.
Ini bukan apartemen kumuhnya. Ruangan ini terlalu luas, terlalu megah, dan terlalu gelap untuk disebut kamar biasa. Ornamen gotik, perabotan dari kayu mahoni berukir rumit, dan lampu gantung kristal di langit-langit langsung menghantam ingatannya. Semalam bukan mimpi buruk. Aldebaran Hendrick benar-benar telah menyeretnya masuk ke dalam sangkar emas ini.
"Lily!"
Kepanikan menyergap. Ranjang di sebelahnya kosong. Amanda melempar selimut sutra itu dengan kasar, melompat turun dengan kaki telanjang yang tenggelam di atas karpet bulu tebal. Ia berlari keluar kamar, menyusuri lorong marmer yang sepi bak labirin istana, jantungnya berdegup kencang meronta di rongga dada.
Hingga akhirnya, langkah panik Amanda terhenti di ambang pintu ganda sebuah ruang makan raksasa yang berdinding kaca, menghadap langsung ke arah hutan pinus pribadi.
Pemandangan di depannya membuat napas Amanda tercekat di tenggorokan. Kakinya seolah dipaku ke lantai pualam.
Di ujung meja makan panjang beralaskan taplak renda putih, duduk sang monster berdarah dingin. Namun, pria itu sama sekali tidak terlihat seperti bos mafia yang semalam mendobrak pintunya. Aldebaran hanya mengenakan kemeja katun hitam dengan tiga kancing teratas terbuka, lengan bajunya digulung hingga siku, memperlihatkan tato yang merambat di lengannya.
Dan di pangkuan pria itu, duduklah Lily.
Gadis kecilnya tampak begitu nyaman, mengenakan gaun tidur sutra berukuran mungil yang entah dari mana asalnya. Lily sedang tertawa berderai—tawa paling bahagia dan lepas yang pernah Amanda dengar seumur hidupnya—saat Aldebaran dengan telaten menyuapkan sepotong kecil pancake berlumur sirop maple ke mulutnya.
"Enak?" Suara bariton Aldebaran yang biasanya berat dan mematikan, kini terdengar begitu rendah, serak, dan penuh dengan kelembutan yang nyaris tak masuk akal.
"Uhm! Enak sekali!" Lily mengangguk antusias, pipi gembulnya menggembung saat mengunyah. Gadis kecil itu mendongak, menatap lekat-lekat wajah tegas pria yang memangkunya. Jari mungil Lily yang bernoda sirop terulur, menyentuh rahang kokoh Aldebaran tanpa rasa takut sedikit pun. "Mata Paman... hitam dan tajam. Sama seperti mata Lily kalau Lily bercermin. Paman ini siapa? Paman penyihir seperti Paman Alan, ya?"
Mendengar nama Alan disebut, rahang Aldebaran sempat mengeras selama sepersekian detik. Kilat membunuh melintas di matanya, tapi dengan cepat ia redam. Tangan besar Aldebaran yang biasanya digunakan untuk mencabut nyawa tanpa berkedip, kini terangkat, menghapus sisa sirop di sudut bibir Lily dengan ibu jarinya secara luar biasa lembut.
"Aku bukan penyihir, Principessa," bisik Aldebaran. Pandangan pria itu begitu dalam, menatap Lily seolah gadis kecil itu adalah satu-satunya berlian paling berharga di seluruh alam semesta. "Aku adalah orang yang selama ini kau cari setiap kali kau melihat anak-anak lain di taman."
Mata Lily mengerjap, membulat polos. "Ayah...?" cicitnya ragu, suaranya bergetar penuh harap.
Aldebaran mengangguk pelan. Ada emosi yang tak terbaca bergumul di mata sang mafia saat ia merengkuh tubuh kecil itu, mengecup puncak kepalanya dengan posesif dan protektif. "Ya. Aku ayahmu, Lily. Dan mulai detik ini, tidak akan ada satu pun manusia di dunia ini yang berani menyakitimu, atau membuatmu menangis. Ayah janji."
"Ayah!" Lily memekik girang, melingkarkan lengan kecilnya di leher tegap Aldebaran, memeluk pria itu dengan seluruh cinta yang selama ini ia pendam. "Lily punya ayah! Ayah sangat tampan dan kuat!"
Di sudut ruangan, Dante dan Flop yang berdiri bersiaga saling bertukar pandang dengan wajah pias dan tak percaya. Bos mereka—Raja Iblis dari klan The Iron Crown—baru saja tersenyum tulus. Sebuah anomali yang lebih mengerikan daripada melihatnya menggorok leher musuh.
Sementara itu, di ambang pintu, air mata menetes membasahi pipi Amanda. Hatinya hancur sekaligus menghangat dalam waktu yang bersamaan. Ia benci pria itu, ia takut setengah mati padanya, tapi melihat putrinya akhirnya mendapatkan sosok yang ia dambakan... membuat pertahanan Amanda goyah.
"Jauhkan tanganmu dari putriku," desis Amanda. Suaranya serak, memecah momen emosional itu.
Aldebaran menoleh. Sisa-sisa kelembutan di wajahnya perlahan menguap, digantikan oleh seringai arogan yang memuakkan saat matanya menyapu seluruh tubuh Amanda yang hanya berbalut gaun tidur tipis. Pria itu menepuk punggung Lily pelan.
"Dante," titah Aldebaran tanpa mengalihkan pandangannya dari Amanda. "Bawa putriku ke ruang bermain. Biarkan dia memilih mainan apa pun yang dia mau hari ini."
"Baik, Tuan." Dante mendekat, menunduk hormat sebelum menggendong Lily yang tersenyum riang. "Ayo, Nona Kecil."
Setelah pintu ganda ditutup, meninggalkan mereka berdua dalam ruangan raksasa itu, keheningan yang mencekik perlahan merayap. Udara seketika terasa lebih berat.
Amanda menelan ludah, melangkah mundur secara insting saat melihat predator itu bangkit dari kursinya. Aldebaran berjalan mendekat dengan langkah pelan dan terukur, layaknya singa yang sedang memojokkan mangsanya.
"Kau pikir kau bisa mengurungku di sini?" desis Amanda, mendongak menantang tatapan elang pria itu, meski kakinya gemetar hebat di bawah gaun. "Aku bukan barang yang bisa kau culik seenaknya, Aldebaran! Biarkan kami pergi!"
"Pergi ke mana, Sayang?" Aldebaran memiringkan kepalanya, senyum miring yang berbahaya terukir di bibirnya. Dalam satu gerakan kilat, pria itu mengikis jarak di antara mereka. Lengannya yang sekeras baja melingkari pinggang Amanda, menarik tubuh mungil itu hingga menabrak dada bidangnya. "Kembali ke apartemen kumuhmu yang semalam nyaris diserbu oleh pasukan The Dragon Black? Kembali ke pelukan Alan, si bajingan yang menggunakan anakku sebagai umpan?"
Napas Amanda tercekat. Jarak mereka terlalu dekat. Hidungnya dipenuhi oleh aroma maskulin pria itu. Panas tubuh Aldebaran menembus piyama tipisnya, membakar kulitnya. "A-aku tidak tahu apa yang kau bicarakan! Alan itu orang baik!"
"Oh, begitu?" Mata Aldebaran menggelap, cengkeramannya di pinggang Amanda mengerat hingga membuat wanita itu mendesis tertahan. "Alan adalah kepala klan mafia pembunuh, Amanda. Dia mendekatimu hanya untuk menghancurkanku. Kalau aku terlambat sepuluh menit saja semalam, kau dan Lily sudah tinggal nama."
Amanda mematung. Otaknya mencerna informasi gila itu dengan lambat. Orang kantoran yang baik hati itu... mafia? Persis seperti monster yang kini memeluknya?
Melihat keterkejutan di mata wanita itu, seringai Aldebaran mereda. Tangan besarnya terangkat, menyelipkan anak rambut Amanda yang berantakan ke belakang telinga, tepat di atas tanda lahir merah yang selama lima tahun ini menghantui pikirannya. Sentuhan Aldebaran begitu halus, sangat kontradiktif dengan kekuatan brutal yang ia miliki. Panca indra Amanda serasa disengat aliran listrik ribuan volt.
"Lepaskan aku," bisik Amanda parau. Ia mendorong dada pria itu dengan kedua tangannya, tapi tenaganya sama sekali tak berarti. Taktik tarik-ulur ini mulai mengacaukan kewarasannya. Tubuhnya bereaksi terhadap sentuhan pria ini, persis seperti malam gila lima tahun lalu, dan ia membenci dirinya sendiri karena itu.
"Tidak akan pernah," balas Aldebaran rendah, suaranya menggesek tepat di telinga Amanda, membuat bulu kuduk wanita itu meremang hebat. Hidung mancung pria itu mengendus lekuk leher Amanda dengan posesif, menghirup aroma vanila yang manis dari kulit wanitanya.
"Lima tahun kau menyembunyikan darah dagingku, Amanda," geram Aldebaran pelan, bibirnya nyaris menyapu kulit leher Amanda yang berdenyut kencang. "Kau merampas lima tahun waktu berhargaku bersamanya. Untuk itu, kau harus membayarnya dengan sangat mahal."
"A-apa maumu?" Amanda memejamkan mata, menggigit bibir bawahnya untuk menahan desahan yang nyaris lolos dari tenggorokannya saat ibu jari Aldebaran membelai lembut rahangnya.
"Kalian berdua adalah milikku. Titik." Aldebaran menunduk, memaksa Amanda menatap sepasang mata kelamnya yang menyala oleh gairah dan kepemilikan absolut. "Kau akan tinggal di sisiku. Membesarkan putri kita bersamaku. Dan sebagai gantinya, aku akan menaruh dunia, beserta seluruh kepala musuh-musuhku, tepat di bawah kakimu."
Amanda menatap nanar. Ada amarah, ketakutan, namun juga sesuatu yang asing berdesir di dasar perutnya. "Kau gila. Aku tidak sudi menjadi tawananmu."
Aldebaran tertawa pelan, sebuah suara yang menggetarkan dada bidangnya tempat tangan Amanda berpijak. Ia menjauhkan sedikit wajahnya, memberikan ruang bagi Amanda untuk bernapas, tapi lengannya tetap mengunci tubuh wanita itu rapat-rapat.
"Kita lihat saja nanti, Sayang," bisik Aldebaran penuh percaya diri, matanya berkilat penuh kemenangan. "Kau boleh melawan, kau boleh berteriak, dan kau boleh terus mencoba lari. Tapi pada akhirnya, kau tahu persis ke mana kau akan pulang."
Tanpa peringatan, Aldebaran menunduk, mengecup sudut bibir Amanda dengan gerakan yang sangat cepat namun meninggalkan sengatan panas yang bertahan lama di kulit wanita itu. Ia lalu melepaskan pelukannya, berbalik menuju pintu dengan langkah tegap, meninggalkan Amanda yang berdiri mematung dengan lutut lemas, napas terengah, dan hati yang semakin terjebak dalam pusaran pesona sang Raja Kegelapan yang tak bisa ia hindari.
kejam banget
kenapa Lily yg harus pergi😭