Indonesia
NovelToon NovelToon
Pewaris Dalam Sangkar Emas

Pewaris Dalam Sangkar Emas

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / CEO / Penyesalan Suami
Popularitas:3.4k
Nilai: 5
Nama Author: Heresnanaa_

Pernikahan Alana Adhijaya (23 tahun ) dan Kenzo Elard ( 30 tahun ) hanya berlandaskan transaksi bisnis dan ancaman kebangkrutan. Di rumah megah bagai sangkar emas, mereka hidup sebagai dua orang asing yang dipaksa melahirkan putra pewaris tunggal dalam waktu satu tahun.

​Berulang kali diuji dengan tekanan mertua, tes kehamilan bulanan, dan fitnah mantan kekasih Kenzo, Alana menelan semua air mata sendirian. Hingga pada akhirnya, ia memilih berhenti berharap.

​Alana tetap bertahan di rumah itu hanya demi janinnya, tetapi hatinya telah mati. Saat Kenzo akhirnya menyadari kesalahannya, segalanya sudah terlambat—wanita yang dulu mendambakan perhatiannya kini menatapnya tanpa rasa sedikit pun.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heresnanaa_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab. 9

***

Sinar matahari pagi yang menembus celah tirai sutra kamar utama Mansion Elard terasa amat menyengat. Cahayanya menyiram ranjang king-size yang masih berantakan, membintangi sisa-sisa pergulatan malam sebelumnya. Di atas kasur itu, Alana berbaring menyamping dengan selimut tebal menutupi dadanya hingga sebatas leher. Wajahnya yang pucat pasi nampak kian tirus, dengan lingkaran hitam samar yang membingkai sepasang matanya yang redup.

Rasa nyeri di bagian bawah tubuhnya belum juga mereda, bertubrukan dengan rasa mual dan perih di lambung yang masih menyisa dari efek racikan ramuan herbal kemarin. Setiap kali ia mencoba menggeser tubuhnya sedikit saja, sengatan nyeri langsung menusuk hingga ke persendiannya.

Klek.

Suara engsel pintu kamar mandi utama terbuka. Kenzo melangkah keluar dengan handuk putih tersangkut di lehernya. Pria itu sudah mengenakan celana bahan hitam dan kemeja sutra berwarna abu-abu gelap yang kancing bagian atasnya masih terbuka. Rambut hitamnya yang basah diusapnya santai dengan handuk.

Kenzo menghentikan usapannya sejenak ketika matanya menangkap Alana yang masih terbaring kaku. "Kamu belum bangun?" tanya Kenzo dengan suara berat khas bangun tidur, bernada datar tanpa empati.

Alana mencoba memutar kepalanya pelan, menatap suaminya dengan pandangan hampa. "Saya... tubuh saya sangat lemas, Mas Kenzo..." bisiknya parau, tenggorokannya terasa kaku.

Kenzo melangkah mendekati meja rias, mengambil jam tangan mewahnya lalu memasangnya di pergelangan tangan kiri. "Segera mandi dan rapi-rapi. Pukul delapan tepat Dr. Maya dan Ibu akan datang ke kamar ini untuk melakukan pemeriksaan pasca-penyatuan semalam. Kamu mendengar sendiri instruksi Kakek kemarin."

Alana memejamkan matanya rapat-rapat. Selapis air mata yang panas menyengat pelupuk matanya. Pemeriksaan pasca-penyatuan. Istilah medis yang terdengar begitu dingin itu seolah menjadi stempel resmi bahwa martabatnya sebagai seorang wanita telah dilucuti sepenuhnya di rumah ini.

"Haruskah... haruskah diperiksa sekarang juga, Mas?" tanya Alana dengan suara bergetar, menahan rasa malu yang membakar batinnya. "Apakah kehidupan pribadi kita harus dijabarkan secara detail di depan dokter dan Ibu?"

Kenzo menghentikan gerakannya memasang kancing lengan kemeja. Pria itu menoleh, memberikan tatapan mata yang dingin dan menusuk.

"Pribadi?" Kenzo terkekeh sinis, sebuah tawa hampa yang tak tersentuh emosi. "Tidak ada hal yang bersifat pribadi di antara kita, Alana. Pernikahan ini adalah investasi bisnis bernilai puluhan miliar. Kakek Hendra butuh laporan medis formal yang valid untuk memastikan bahwa benih yang saya tanam semalam berada di posisi yang tepat di dalam rahimmu. Jadi, jangan bertingkah dramatis."

Sebelum Alana sempat merespons, ketukan kaku di pintu kamar utama memecah keheningan.

Tok! Tok! Tok!

Pintu kamar terbuka tanpa menunggu izin. Nyonya Helena melangkah masuk dengan anggun namun berwajah kaku, didampingi oleh Dr. Maya yang membawa tas medis berukuran besar serta seorang asisten perawat yang membawa nampan berisi instrumen medis dan botol-botol sampel.

"Selamat pagi, Kenzo," sapa Nyonya Helena singkat. Matanya beralih menatap Alana yang masih berada di atas ranjang. "Alana, kenapa kamu masih berbaring? Dr. Maya sudah siap melakukan pemeriksaan evaluasi siklus biologis dan keberadaan cairan kesuburan pasca-penyatuan semalam."

Alana meremas selimut sutra di bawah dadanya. Buku-buku jarinya memutih. Rasa malu yang teramat sangat membuat dadanya sesak hingga sulit bernapas.

"Ibu... apakah saya boleh ke kamar mandi sebentar untuk—"

"Tidak boleh," potong Dr. Maya dengan nada profesional yang amat dingin. "Pemeriksaan post-coital harus dilakukan sebelum Anda membersihkan diri, Nyonya Alana. Kami harus mengambil sampel cairan dan memeriksa kondisi serviks serta dinding rahim Anda secara langsung untuk mencatat tingkat keasaman dan mobilitas sperma Tuan Kenzo di dalam sana."

"Dengarkan dokter, Alana," tegur Nyonya Helena tegas. "Singkirkan selimutmu. Kita tidak punya waktu seharian hanya untuk menunggumu mengatasi rasa canggung yang tidak berguna."

Di bawah tatapan mata ibu mertuanya, Dr. Maya, perawat, serta Kenzo yang masih berdiri di dekat meja kerja sambil memandangnya datar, Alana terpaksa menelan bulat-bulat harga dirinya yang tersisa. Dengan jemari gemetar, ia menyibak selimut tebal itu, membiarkan gaun tidurnya disingkirkan dan membiarkan instrumen medis yang dingin menyentuh kulitnya.

Selama lima belas menit pemeriksaan yang terasa bagaikan siksaan neraka bagi Alana, Dr. Maya melakukan pengecekan mendetail, mencatat setiap data biologis di atas papan klip digital.

"Kondisi ketebalan dinding rahim Nyonya Alana cukup baik pagi ini, Nyonya Helena," lapor Dr. Maya seraya melepaskan sarung tangan medisnya. "Penetrasi Tuan Kenzo semalam berada pada kedalaman yang optimal. Saya sudah mengambil sampelnya untuk dianalisis di laboratorium pribadi mansion. Hasilnya akan langsung diserahkan kepada Kakek Hendra siang ini sebagai bukti kepatuhan eksekusi jadwal."

Nyonya Helena mengangguk puas. "Bagus. Pastikan dosis suplemen pembentuk hormon tetap diberikan siang nanti." Wanita paruh baya itu menoleh pada Kenzo. "Kenzo, pastikan kamu mematuhi jadwal penyatuan berikutnya lusa malam. Jangan ada alasan lembur di kantor."

"Saya paham, Bu," sahut Kenzo singkat.

Setelah Nyonya Helena dan tim medis meninggalkan kamar utama, keheningan yang menyesakkan kembali menyelimuti ruangan besar itu.

Alana merosot di tepi kasur, menutupi tubuhnya dengan jubah tidur. Ia tidak menangis. Tak ada lagi raungan atau aliran air mata yang membasahi pipinya. Matanya hanya menatap kosong ke arah lantai marmer, seolah jiwanya telah terbang meninggalkan raga yang baru saja diperiksa bagaikan hewan pembibitan.

Kenzo yang sedang merapikan dasinya di depan cermin besar mendadak menghentikan gerakannya. Melalui pantulan cermin, ia memperhatikan ekspresi istrinya. Ada sesuatu dari kebisuan Alana yang terasa amat mengganggu pikirannya.

Biasanya, seorang wanita akan memohon, menangis, atau setidaknya menunjukkan raut wajah kesal dan menuntut rasa iba setelah melewati proses yang merendahkan martabat seperti tadi. Namun Alana sama sekali tidak bereaksi. Wanita itu seperti patung porselen yang dingin dan hampa.

Kenzo membalikkan badannya, melangkah mendekati Alana. Pria itu mengulurkan tangannya, niat hati hendak menangkup bahu Alana—sebuah dorongan impulsif yang bahkan tak dipahami oleh Kenzo sendiri.

Namun, tepat sebelum jemari Kenzo menyentuh kulit bahunya, Alana refleks menggeser tubuhnya sedikit ke samping. Gerakan menghindar itu sangat halus, namun amat jelas: Alana menolak sentuhan Kenzo di luar jadwal penyatuan mereka.

Tangan Kenzo mengambang di udara. Rahang pria itu seketika mengeras. Iris mata hitamnya berkilat tajam oleh kejengkelan yang mendadak membakar dadanya.

"Apa maksud sikapmu ini, Alana?" tanya Kenzo dengan suara berat yang menekan.

Alana tidak mendongak. Suaranya keluar dengan amat pelan, datar, dan tanpa intonasi emosi sedikit pun. "Pemeriksaan medis sudah selesai, Mas Kenzo. Dokter dan Ibu sudah mendapatkan laporan yang mereka inginkan."

Kenzo menyipitkan matanya, mengikis jarak hingga bayangan tubuh tingginya menutupi Alana. "Saya bertanya tentang sikapmu! Kenapa kamu menghindar saat saya mau menyentuhmu?"

Alana perlahan mengangkat wajahnya, menatap lurus ke dalam manik mata Kenzo. Pandangan mata Alana begitu jernih, namun benar-benar hampa—tak ada ketakutan, tak ada kesedihan, tak ada pula rasa benci. Hanya ada ruang kosong yang dingin.

"Bukankah Mas Kenzo sendiri yang menegaskan aturan mainnya semalam?" ujar Alana dengan nada tenang yang menusuk. "Mas bilang, tubuh saya hanya milik kontrak di atas ranjang ini untuk tugas penyatuan dan pemuas candu fisik Mas. Di luar kepentingan itu dan di luar jadwal resmi keluarga Elard, saya hanyalah orang asing yang Mas beli."

Alana berdiri tertatih, merapatkan tali jubah tidurnya tanpa sedikit pun memutuskan pandangan matanya dari Kenzo.

"Saya hanya sedang menjalankan peran saya sesuai dengan batas yang Mas tetapkan," lanjut Alana pelan. "Saya melayani Mas saat dibutuhkan, dan saya tidak akan mengganggu atau mengharapkan sentuhan Mas di luar jam tugas saya. Apakah ada yang salah dengan sikap saya, Mas Kenzo?"

Kata-kata tenang namun menghantam itu telak mengenai gengsi dan keangkuhan Kenzo. Pria yang biasa mengendalikan segala hal di dalam hidupnya itu mendadak merasa terdesak oleh benteng mati rasa yang didirikan oleh istrinya sendiri.

Kenzo mengepalkan tangannya di samping tubuh, meremas kain celananya. Ada rasa terasing dan tidak terima yang aneh merayapi dadanya melihat betapa Alana kini benar-benar telah memutus seluruh keterikatan emosional dengannya.

"Bagus kalau kamu sadar diri," sahut Kenzo dingin, memaksakan senyum sinis untuk menutupi gejolak asing di batinnya. "Tetaplah seperti itu. Jangan pernah berharap lebih dari saya."

Tanpa menunggu balasan dari Alana, Kenzo menyambar kunci mobil dan ponselnya dari atas meja, lalu melangkah lebar keluar dari kamar utama dengan langkah kaku dan sarat akan emosi yang tertahan.

Brak!

Pintu kamar dibanting keras dari luar.

Alana berdiri sendirian di tengah kamar megah yang dingin itu. Ia memalingkan pandangannya ke arah jendela luar, menatap dedaunan taman yang berguguran. Di dalam sangkar emas yang membelenggunya, Alana menyunggingkan senyum tipis yang amat pahit—sebuah senyuman dari jiwa yang telah sepenuhnya beku di balik pintu Mansion Elard.

Bersambung....

1
merry
bisa jdi raga Alana nolak bayi mu zo,, krn bnci kmu fan kluarga mu yg ud kyk iblis yg kluar dari kerak bumi 🤭🤭🤭ap lg kakekmu dh aki aki itu nuntut hrs cwo lgg siapa yg gk tertekan cbb,,, yg blm hamil dtynin kpn hmil ajj bisa stress ap lg itu di tuntu hrs cwo lg
Mia Camelia
alana pasti lelah banget jiwa dan raga nya, tapi ngliat kenzo yg tulus pingin berubah , semoga aja alana mulai membuka diri😂
Mia Camelia
semoga kenzo beneran tulus mencintai alana, 😔
merry
cwe cwo mn bisa klian tentu knn,, ank kn dr Tuhan diksh alhamdulillah klo ngk y hrs sabar kan,, cwe cwo jg tergantung dr yg ksh emng bkin donat 🍩🍩🍩🍩😆😆😆😆bisa jdi cwe cwo
merry
Tuhan bukn dgrin doa manusia jht klian tp ank itu dtg untuk membela ibu y yg klian tindas 🤭🤭🤭🤭moga Alana hamil nyushin org yg ud bkin dia jiwa hbs tak tersisa 🤭🤭🤭
Siskasuryaningsih
buat mati aja thor alananya, kasian di buat gitu, habis cerita, 🤣🤣,, 🙏🙏🙏
guest1053527528
jangan dong thor semoga Alana bisa membuat Kenzo bangkit lagi dan bisa memimpin perusahaan dan sukses
merry
buktiin jg al klo mmpu beresin mslh perusahaan biasa kyk di novel cwe bangkit setelah hncur menjdi tangguh bisa segala y selain bkin ank biar kluarga bangke itu mingkep al
merry
klo cinta knp bgtu sm Alana zo skrg nyesel syurin biar kapok kmu,,, moga ank y kmbe cwo semuanya nakal pula🤣🤣🤣🤣🤭🤭🤭🤭
merry
in lg adik latnat zo ksh tau mutiara tp hati y gk sebagus nm y mutiaray dr biaya sekolah bju bju dan mkn sehari-hari ya,, biar tau biar jaga mulutnya wlpun gk bs kembalikan jiwa msa depn alana
merry
klo perlu Alana hamil kembar cwo semuanya kek tres nakal y minta ampun buat ngerjai para manusia tengik itu Thor tp nurut sm mm ya 🤭🤭🤭kan ngebet minta ank demi harta kn ywd ksh kembar genius biar hancurin saham dan hrga diri mrkk,, dikira buat ank kyk buat donat x ya
merry
moga ada yg dgr y klo dr maya melakukan malapraktik hampir buat nyawa org lain melayang biar di pecat trs mertua y Alana jdi mertua plg kejam krn memaksakan mantu y hamil demi saham,, moga ad yg dgr dr bocorin ke media biar kapok,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!