Alya menjalani pernikahan perjodohan dengan Arga, pria kaya yang tidak pernah benar-benar menerimanya sebagai istri. Saat Alya berusaha mempertahankan rumah tangga mereka, Arga justru masih menjalin hubungan dengan kekasih lamanya dan mengabaikan kesetiaan istrinya.
Diam-diam, Alya menahan penyakit parah dan luka hati yang semakin dalam. Hingga suatu hari, ia memilih pergi tanpa meminta apa pun lagi.
Arga mengira Alya akan kembali. Namun ketika hari berganti dan rumah terasa semakin sunyi, ia mulai menyadari bahwa perempuan yang selalu ia abaikan adalah satu-satunya orang yang tulus mencintainya. Saat Alya akhirnya ditemukan dalam keadaan kritis, penyesalan Arga telah datang terlalu terlambat.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pintu yang Tertutup
Pintu kamar rumah sakit itu tertutup perlahan di belakang Arga.
Bunyinya tidak keras.
Hanya sebuah klik kecil dari gagang pintu yang kembali pada tempatnya. Namun bagi Alya, suara itu terdengar seperti sesuatu yang jauh lebih besar—seperti penanda bahwa sekali lagi, ia ditinggalkan untuk menghadapi ketakutannya sendiri.
Ia membuka mata dan menatap pintu tersebut cukup lama.
Di luar sana, Arga mungkin sedang berbicara dengan Keisya. Mungkin perempuan itu menangis. Mungkin Keisya marah karena panggilannya tidak segera dijawab. Mungkin ia bertanya mengapa Arga berada di rumah sakit, dan Arga akan menjelaskan bahwa istrinya sedang sakit.
Istrinya.
Kata itu terdengar sah.
Namun tidak selalu berarti dicintai.
Alya membalikkan tubuh ke arah jendela. Gerakan kecil itu membuat punggungnya terasa nyeri. Ia menarik selimut hingga ke dada, mencoba mencari kehangatan dari kain tipis yang tidak mampu menenangkan apa pun.
Di meja samping ranjang, gelas air yang tadi dibawa Arga masih utuh. Roti isi telur pun belum disentuh. Alya merasa mual hanya dengan mencium aromanya.
Beberapa menit kemudian, seorang perawat masuk untuk memeriksa infus.
“Bu Alya, ada yang sakit?” tanyanya ramah.
Alya menggeleng. “Tidak.”
“Kalau mual atau sesak, langsung tekan tombol panggil, ya.”
“Iya.”
Perawat itu memeriksa cairan infus, menulis sesuatu di papan catatan, lalu melirik ke arah pintu.
“Suami Ibu keluar?”
“Iya. Ada urusan.”
“Oh.” Perawat tersenyum kecil. “Tadi beliau kelihatan khawatir sekali, lho. Dari pagi tanya banyak hal ke dokter.”
Alya tidak menjawab.
Ia tidak ingin orang lain berusaha meyakinkannya tentang kepedulian Arga. Karena masalahnya bukan apakah Arga khawatir atau tidak. Masalahnya adalah Arga selalu memiliki seseorang yang menjadi alasan untuk pergi, bahkan ketika Alya sedang sangat membutuhkan dirinya.
Setelah perawat keluar, Alya kembali sendirian.
Ponselnya bergetar di atas meja.
Pesan dari Dinda.
**Dinda:** *Aku sudah di lobi rumah sakit.*
Alya terkejut. Ia langsung mengambil ponsel dan membalas.
**Alya:** *Din? Aku kan sudah bilang nggak usah datang.*
**Dinda:** *Aku tahu. Tapi kamu juga tahu aku nggak akan tenang kalau cuma duduk di rumah setelah tahu kamu dirawat.*
Air mata Alya kembali menggenang.
Ia tidak ingin terlihat lemah, tetapi kehadiran seseorang yang datang tanpa diminta justru membuatnya sadar betapa lama ia bertahan dengan perasaan sendiri.
**Alya:** *Kamar 712. Tapi jangan lama-lama, ya.*
Tidak sampai sepuluh menit kemudian, pintu terbuka.
Dinda masuk dengan langkah cepat sambil membawa kantong plastik berisi buah dan satu tas kecil. Rambutnya masih terikat seadanya, wajahnya terlihat lelah seolah ia langsung berangkat setelah pulang kerja.
Begitu melihat Alya di atas ranjang dengan infus di tangan, wajah Dinda langsung berubah.
“Ya Allah, Ly.”
Dinda mendekat, lalu memeluk Alya hati-hati.
Alya sempat menahan diri. Namun beberapa detik kemudian, ia membalas pelukan sahabatnya dengan tangan yang tidak terpasang infus. Bahunya bergetar.
“Jangan nangis,” bisik Dinda.
“Aku takut, Din.”
“Aku di sini.”
Hanya tiga kata.
Tetapi kali ini, Alya percaya.
Dinda menarik diri sedikit dan memandang wajah sahabatnya. “Dokter bilang apa?”
Alya menatap jemarinya. “Hasil darahku nggak bagus. Mereka mau rujuk aku ke hematologi. Mungkin harus ada pemeriksaan sumsum tulang.”
Wajah Dinda memucat. “Kamu sudah bilang ke Arga?”
“Dia tahu.”
“Terus dia di mana?”
Pertanyaan itu membuat Alya menoleh ke pintu.
“Keluar.”
“Keluar ke mana?”
“Keisya telepon.”
Dinda terdiam.
Rahangnya mengeras. Ia terlihat ingin mengatakan banyak hal, tetapi menahan semuanya agar tidak membuat Alya semakin sedih.
“Dia meninggalkan kamu di sini?” tanyanya akhirnya, suaranya rendah.
“Dia bilang cuma mau angkat telepon.”
“Dan sudah berapa lama?”
Alya tidak menjawab.
Dinda melihat jam di dinding, lalu kembali menatap Alya. “Ly, kamu nggak bisa terus membela dia.”
“Aku nggak membela.”
“Kamu selalu membela dia.” Dinda duduk di sisi ranjang. “Setiap kali aku tanya kenapa kamu sedih, kamu bilang Arga sibuk. Setiap kali aku bilang kamu pantas mendapatkan lebih, kamu bilang dia sebenarnya orang baik. Tapi lihat kamu sekarang. Kamu sakit, kamu ketakutan, dan dia masih bisa pergi karena perempuan lain memanggilnya.”
Alya menggigit bibir.
“Dia semalam ada di sini,” katanya, seolah itu bisa menjadi alasan.
Dinda memejamkan mata sebentar. “Alya, satu malam dia duduk menemani kamu tidak akan menghapus tiga tahun kamu merasa sendirian.”
Kata-kata itu tepat.
Terlalu tepat.
Alya menunduk. Air mata kembali jatuh satu per satu ke atas selimut.
“Aku tahu,” bisiknya. “Aku tahu semuanya. Tapi kenapa masih sakit, Din?”
Dinda menggenggam tangan Alya. “Karena kamu mencintai dia.”
Alya tidak menyangkal.
“Mencintai orang yang tidak memilih kita memang sakit,” lanjut Dinda. “Tapi kamu tidak boleh membiarkan cinta itu menghancurkan kamu.”
Alya tersenyum pahit. “Mungkin sudah terlambat.”
“Belum.” Dinda menatapnya tegas. “Selama kamu masih bisa memilih, belum terlambat.”
***
Di koridor lantai tujuh, Arga berdiri di dekat jendela besar yang menghadap area parkir rumah sakit.
Ponselnya masih menempel di telinga.
“Keisya, aku tidak bisa bicara lama,” katanya.
Di ujung sambungan, suara Keisya terdengar kesal. “Dari kemarin kamu bilang begitu. Aku telepon berkali-kali, kamu tolak. Kamu bahkan nggak datang ke kantor. Arga, sebenarnya kamu ada di mana?”
“Rumah sakit.”
“Rumah sakit?” Nada Keisya berubah. “Kamu sakit?”
“Bukan aku. Alya.”
Hening beberapa detik.
“Alya sakit apa?”
“Belum tahu.”
“Lalu kamu di sana sejak kapan?”
“Sejak kemarin.”
Keisya mengembuskan napas. “Arga, aku ngerti dia istri kamu. Tapi acara dengan investor siang ini penting. Semua orang nyariin kamu. Aku harus jawab apa ke mereka?”
“Kamu bisa tangani.”
“Selama ini aku memang yang menangani banyak hal. Tapi untuk proyek sebesar ini, kamu harus ada.” Suara Keisya melunak. “Aku juga perlu bicara sama kamu. Tentang kita.”
Arga menatap lantai.
Tentang mereka.
Dulu, setiap kali Keisya mengatakan dua kata itu, Arga selalu merasa ada tempat pulang yang tidak dimiliki siapa pun selain perempuan itu. Keisya mengenalnya sejak lama. Keisya ada ketika ia membangun perusahaan bersama ayahnya. Keisya tahu ambisi, kemarahan, dan sisi rapuh yang tidak pernah ia tunjukkan kepada orang lain.
Atau setidaknya, itu yang selama ini Arga yakini.
Namun pagi ini, saat Alya berkata bahwa ia selalu pergi ketika istrinya mulai berharap, sesuatu terasa berubah.
Ia teringat wajah Alya ketika menyuruhnya menjawab telepon Keisya.
Tidak ada amarah di sana.
Hanya lelah.
Lelah yang begitu dalam hingga perempuan itu bahkan tidak lagi berusaha menahannya.
“Aku akan ke kantor kalau sudah selesai,” kata Arga.
“Sudah selesai apa?”
“Alya stabil.”
Keisya terdiam.
“Arga,” katanya kemudian, kali ini jauh lebih pelan. “Jangan bilang kamu mulai merasa bertanggung jawab lebih dari seharusnya.”
Arga mengernyit. “Dia istriku.”
“Kamu menikah karena keluarga. Kamu sendiri yang bilang begitu.”
“Aku tahu kenapa aku menikah.”
“Lalu kenapa sekarang kamu terdengar seperti—”
“Keisya.” Arga memotong dengan suara tegas. “Aku telepon nanti.”
Tanpa menunggu jawaban, ia mengakhiri panggilan.
Arga menurunkan ponselnya.
Dada lelaki itu terasa berat. Ia tidak suka cara Keisya menyebut Alya—seolah istrinya hanya kewajiban yang harus ditoleransi, bukan manusia yang sedang terbaring lemah di dalam kamar rumah sakit.
Namun bukankah selama ini ia sendiri yang membuat Keisya berpikir demikian?
Dialah yang selalu berkata bahwa pernikahan dengan Alya hanya formalitas.
Dialah yang tetap memberi ruang untuk Keisya, bahkan setelah akad pernikahan selesai.
Dialah yang membiarkan istrinya menunggu sendirian di rumah setiap malam.
Rasa bersalah datang perlahan.
Tidak meledak seperti badai.
Justru lebih buruk—merayap diam-diam dan membuatnya sulit mengabaikan semua hal yang selama ini ia anggap biasa.
Saat hendak kembali ke kamar, ponselnya berbunyi lagi.
Sebuah pesan dari Keisya.
**Keisya:** *Aku datang ke rumah sakit. Kita harus bicara langsung.*
Arga menatap pesan itu cukup lama.
Lalu ia mengetik balasan.
**Arga:** *Jangan ke lantai tujuh.*
Pesan itu dibaca hampir seketika.
**Keisya:** *Kenapa? Kamu takut Alya lihat?*
Arga tidak segera menjawab.
Akhirnya ia mengetik:
**Arga:** *Aku tidak mau membuatnya semakin terluka.*
Setelah pesan itu terkirim, Arga terdiam.
Ia sendiri terkejut membaca kalimat yang baru ia tulis.
Selama ini, ia selalu tahu Alya terluka. Ia hanya memilih untuk tidak memikirkannya terlalu dalam. Sebab jika ia mengakui luka itu, ia harus mengakui bahwa dirinya adalah penyebabnya.
Dan Arga belum pernah siap melihat dirinya sebagai lelaki yang kejam.
***
Ketika Arga kembali ke kamar, ia berhenti di depan pintu.
Dari balik kaca kecil, ia melihat Alya sedang bersama seorang perempuan yang ia kenal dari foto-foto lama di media sosial—Dinda, sahabat Alya.
Dinda duduk di samping ranjang sambil memegang tangan Alya. Wajah Alya basah oleh air mata.
Arga tidak langsung masuk.
Untuk beberapa saat, ia hanya berdiri diam di luar.
Ada rasa asing ketika melihat istrinya menangis di hadapan orang lain. Selama ini, Alya selalu menahan tangis di depannya. Selalu berkata tidak apa-apa. Selalu memilih diam daripada membuatnya merasa bersalah.
Mungkin itulah sebabnya Arga tidak pernah memahami betapa buruk keadaan mereka.
Atau mungkin ia memahami.
Ia hanya tidak mau mengakuinya.
Pintu tiba-tiba dibuka dari dalam.
Dinda berdiri di hadapannya.
Wajah perempuan itu berubah dingin begitu melihat Arga.
“Mas Arga,” sapanya datar.
“Dinda.”
Dinda melirik ke arah Alya yang berbaring di dalam, lalu kembali memandang Arga. “Saya mau ambil minum.”
Arga bergeser memberi jalan.
Namun sebelum berjalan pergi, Dinda berhenti tepat di sampingnya.
“Saya nggak tahu hubungan Anda dengan Alya selama ini seperti apa,” katanya pelan, tetapi tajam. “Tapi kalau Anda memang nggak bisa ada untuk dia, jangan beri dia harapan setengah-setengah.”
Arga terdiam.
Dinda tidak menunggu jawaban. Ia pergi menuju ujung koridor.
Arga tetap berdiri di tempatnya.
Kalimat itu terasa seperti tamparan.
*Jangan beri dia harapan setengah-setengah.*
Selama ini, ia pikir perhatian kecil sudah cukup. Membawakan bubur. Duduk semalaman di sisi ranjang. Menggenggam tangan Alya beberapa menit. Menolak telepon Keisya sekali atau dua kali.
Namun mungkin bagi Alya, hal-hal kecil itu justru lebih menyakitkan jika setelahnya Arga kembali pergi.
Arga membuka pintu kamar perlahan.
Alya buru-buru mengusap pipinya ketika melihatnya masuk. Namun mata merahnya tidak bisa disembunyikan.
“Kamu nangis?” tanya Arga.
Alya menggeleng. “Nggak.”
“Kamu bohong.”
Alya tersenyum tipis. “Mas tadi juga bilang jangan bohong.”
Arga mendekat ke ranjang. “Aku minta maaf.”
“Untuk yang mana?”
Pertanyaan itu membuat langkah Arga berhenti.
Untuk meninggalkannya di rumah sakit?
Untuk membiarkan Keisya terus menjadi bagian dari pernikahan mereka?
Untuk selama tiga tahun?
Arga tidak tahu bagaimana menjawabnya.
“Untuk semuanya,” katanya akhirnya.
Alya memandangi suaminya. “Kalau Mas minta maaf terus, apa semuanya bisa berubah?”
“Tidak.” Arga duduk di kursi dekat ranjang. “Tapi aku bisa mulai berubah.”
Alya tampak ingin tertawa, tetapi tidak jadi.
“Mas pernah bilang begitu?”
“Tidak.”
“Berarti ini pertama kali?”
“Iya.”
“Dan Mas yakin?”
Arga menatap Alya tepat di mata.
Tidak ada jawaban mudah untuk pertanyaan itu. Tidak ada cara untuk menghapus Keisya dari hidupnya hanya dengan satu kalimat. Tidak ada cara untuk membuat Alya percaya setelah bertahun-tahun ia sendiri yang merusaknya.
Namun untuk pertama kalinya, Arga tidak ingin memberi jawaban kosong.
“Aku belum tahu bagaimana caranya,” katanya jujur. “Tapi aku tahu aku tidak bisa terus begini.”
Alya menunduk.
Air matanya kembali menggenang, tetapi kali ini ia tidak membiarkannya jatuh.
“Mas masih mau ketemu Keisya?” tanyanya.
Arga menarik napas.
“Iya.”
Alya mengangguk kecil, seakan sudah menduga.
“Tapi bukan untuk seperti dulu,” lanjut Arga. “Aku harus bicara. Aku harus menyelesaikan sesuatu.”
Alya tidak mengatakan apa-apa.
Arga menunggu, berharap istrinya akan bertanya apa yang ingin ia selesaikan. Namun Alya justru memalingkan wajah ke arah jendela.
“Mas lakukan saja apa yang Mas anggap benar,” katanya.
Jawaban itu tidak terdengar seperti restu.
Jawaban itu terdengar seperti seseorang yang sudah tidak punya cukup tenaga untuk memperjuangkan apa pun lagi.
Dan anehnya, justru itu membuat Arga merasa lebih takut daripada jika Alya marah.
***
Dinda kembali membawa dua botol air mineral. Ketika melihat Arga duduk di sisi ranjang Alya, ia tidak berkata apa-apa. Namun sorot matanya jelas menunjukkan bahwa ia belum sepenuhnya percaya.
Arga berdiri.
“Aku keluar sebentar,” katanya kepada Alya.
Alya tidak menoleh. “Iya.”
“Aku benar-benar cuma sebentar.”
Kali ini, Alya tersenyum tipis. “Mas tidak perlu menjelaskan.”
Arga menatapnya beberapa saat sebelum akhirnya keluar.
Di lorong, ponselnya kembali berbunyi.
Pesan dari Keisya.
**Keisya:** *Aku sudah di kafe lantai dasar.*
Arga mengetik singkat.
**Arga:** *Aku ke sana.*
Sebelum melangkah ke lift, ia menoleh sekali ke arah kamar 712.
Pintu itu tertutup.
Di baliknya, ada seorang perempuan yang selama ini ia abaikan, sedang berusaha bertahan melawan tubuh yang mulai lelah.
Dan untuk pertama kalinya, Arga menyadari bahwa mungkin ia tidak hanya takut Alya akan pergi.
Ia takut perempuan itu berhenti menunggunya sama sekali.