Terjebak dalam novel yang pernah dibacanya, Lina terbangun sebagai pelayan istana di Kerajaan Valdoria sebuah dunia modern yang dipenuhi teknologi canggih namun tetap dikuasai oleh sistem monarki absolut. Sebagai wanita yang sangat mata duitan, tujuan Lina sederhana: kumpulkan uang sebanyak mungkin lalu kabur untuk hidup bebas. Sayangnya, rencana kabur itu terhambat ketika ia terus terseret intrik istana dan berhadapan langsung dengan Putra Mahkota Lucien. Pangeran dingin dan disegani itu secara misterius hanya bisa mendengar isi hati Lina sebuah keanehan khusus yang tidak berlaku pada orang lain. Di saat Lina berakting sopan dan penurut di luar, batinnya terus menggerutu, sibuk menghitung uang, dan merencanakan kabur. Lucien yang lelah dengan kebohongan orang-orang di sekitarnya justru merasa terhibur dengan suara hati Lina yang jujur dan serakah, membuat sang pangeran sengaja mengikat Lina di sisinya agar tak bisa pergi ke mana-mana.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mejiku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
10
Sinar matahari sore menerobos celah-celah daun pohon ek di taman belakang kediaman istana, membiaskan cahaya keemasan di atas rerumputan hijau yang terawat rapi. Suasana di bagian dalam area ini begitu tenang, sangat kontras dengan ketegangan mencekik yang biasanya menyelimuti koridor-koridor utama.
Eliana atau Lina sedang duduk bersandar santai di atas bangku kayu ukir di bawah naungan pohon. Kedua kakinya disilangkan, sementara jemarinya sibuk memutar-mutar sebuah ranting kecil. Seusai kehebohan di luar tadi dan kepulangannya ke istana, ia memanfaatkan waktu senggangnya untuk menyendiri.
"Huuuh... Gimana caranya gue bisa keluar dari novel bangsat ini, ya?" gumam Lina lirih. Suaranya hampir tenggelam oleh desir angin sore.
Ia memiringkan kepalanya, menatap langit biru yang membentang luas di atas benteng batu istana. Pikiran praktisnya yang biasa dipakai untuk bertahan hidup sebagai mahasiswa pemungut rupiah mulai bekerja memetakan opsi terbaik.
"Atau gue kabur aja sekalian?" gumamnya lagi, matanya berbinar sebentar. "Iya, kabur! Kumpulin duit dikit lagi dari sisa gaji, cari kota kecil di pinggiran Kerajaan Valdoria yang gak terjangkau sama konflik politik, terus buka usaha toko kue atau warkop. Selesai masalah!"
Namun, baru saja bayangan indah tentang kehidupan damai itu melintas, sekilas ingatan tentang rupa Lucien mendadak membayang di benaknya. Rupa pria tegap berjas hitam yang matanya berkilat hancur di depan kedai matcha tadi. Pria yang dikelilingi oleh musuh berkedok keluarga, kekasih, dan pelindung. Pria yang ditakdirkan mati mengenaskan dengan cap pengkhianat.
Lina menggelengkan kepalanya kuat-kuat, meremas ranting kayu di tangannya sampai patah menjadi dua.
"Gak, gak, gak! Fokus, Lina, fokus!" bentaknya pada diri sendiri dalam bisikan tegas. Ia menepuk kedua pipinya pelan. "Ingat, lo itu cuma rakyat biasa! Di dunia nyata lo cuma mahasiswa semester lima yang sibuk nyari uang demi makan besok. Di sini lo cuma Eliana, pelayan figuran yang tabungannya bahkan gak cukup buat beli sepatu bagus! Pikirin diri sendiri dulu!"
Ia menyandarkan punggungnya kembali ke sandaran bangku, menatap pecahan ranting di telapak tangannya. Ada rasa sesak yang aneh mengganjal di dadanya. Ada rasa bersalah yang menusuk pelan karena ia tahu persis bagaimana setiap tokoh di istana ini akan menemui ajal mereka satu per satu. Ia tahu alurnya, ia tahu siapa pembunuhnya, dan ia tahu tanggal mainnya.
"Gue emang kasihan sama tuh Pangeran galak," bisiknya pelan, matanya menerawang menembus deretan pilar taman. "Tapi gue bukan pahlawan super. Gue gak punya sihir, gak punya pasukan, gak punya kekuasaan. Kalau gue sok-sokan ikut campur tangan, yang ada gue malah mati duluan sebelum cerita klimaks dimulai."
Lina menghela napas panjang, menghembuskannya perlahan seolah membuang seluruh simpati yang tersisa di dadanya.
"Mulai besok, tutup mata, tutup telinga. Murni kerja sebagai pelayan, kumpulin uang, terus angkat kaki. Gak usah mikirin orang lain lagi. Biarin jalan ceritanya mengalir sesuai novelnya," putusnya bulat, meski jauh di lubuk hatinya, ada keraguan tipis yang masih enggan padam.
Di dalam kamar pribadi Pangeran Mahkota yang megah namun dingin, remang cahaya lilin membias di atas meja kayu mahoni. Lampu gantung kristal di langit-langit sengaja dimatikan, membiarkan sudut-sudut ruangan diselimuti bayangan tebal. Di luar, angin malam berembus kencang menampar kaca jendela yang tinggi, seolah membawa pertanda buruk yang belum terungkap.
Lucien berdiri mematung di dekat jendela besar, mengenakan kemeja putih longgar dengan lengan yang digulung hingga siku. Tatapannya lurus menembus kegelapan malam, namun sorot matanya yang biasa sedingin es kini memancarkan gejolak emosi dan kehancuran yang sangat dalam. Kata-kata dari suara batin Eliana tadi siang terus bergema di benaknya, menghancurkan fondasi kepercayaan yang telah ia bangun sepanjang hidupnya.
Di belakangnya, berdiri seorang pria tegap berstelan seragam militer gelap tanpa tanda pangkat. Pria itu adalah Kenneth asisten pribadi sekaligus komandan pengawal kepercayaan Lucien yang sudah mendampinginya sejak mereka masih kanak-kanak. Hanya Kenneth satu-satunya orang di istana ini yang kesetiaannya tidak pernah Lucien ragukan.
"Yang Mulia," panggil Kenneth dengan suara berat dan tertahan, menundukkan kepala hormat. "Anda memanggil saya di jam seperti ini tanpa mengikutsertakan pengawal istana yang lain. Apakah ada ancaman mendesak?"
Lucien tidak langsung menjawab. Ia berbalik perlahan, menatap Kenneth dengan raut wajah yang amat serius dan tegang.
"Kenneth," ucap Lucien, suaranya terdengar serak. "Aku ingin kau melakukan sebuah tugas khusus. Sangat rahasia. Jangan sampai ada satu pun orang di istana ini yang tahu, termasuk Perdana Menteri Oberon maupun Ayahanda Raja."
Alis Kenneth bertaut tajam. Mendengar nama Raja dan Perdana Menteri disebut dalam satu kalimat peringatan membuat naluri prajuritnya mendadak waspada. "Tugas apa, Yang Mulia? Saya siap melaksanakannya."
Lucien melangkah mendekati meja kerjanya, menopangkan kedua tangannya di atas permukaan kayu yang dingin. Ia menatap Kenneth lurus ke dalam matanya.
"Penyelidikan ulang," ujar Lucien pelan, hampir menyerupai bisikan. "Buka kembali berkas rahasia tentang kematian Ibunda Ratu belasan tahun yang lalu."
Kenneth tersentak kaget. Matanya sedikit membelalak. "Kematian Sang Ratu terdahulu? Bukankah... bukankah mendiang Ratu wafat karena penyakit komplikasi paru-paru yang parah? Seluruh dokumen medis dan tabib istana saat itu telah mengonfirmasinya."
"Itu yang selama ini kita semua percayai," potong Lucien dengan nada dingin yang menusuk. "Tapi aku ingin kau mencari tahu kebenaran yang sesungguhnya. Cari tahu apakah beliau benar-benar meninggal karena sakit... atau ada campur tangan orang lain di dalamnya."
Kenneth membeku. Sebagai pria yang terlatih di dunia intelijen militer, ia langsung menangkap arah pembicaraan ini. "Yang Mulia... apakah Anda mencurigai adanya racun atau tindakan kejahatan?"
"Cari kembali seluruh catatan medis asli yang mungkin disembunyikan," instruksi Lucien dengan rahang mengeras. "Lacak keberadaan para tabib dan pelayan pribadi yang merawat Ibunda Ratu sebelum beliau wafat. Jika ada di antara mereka yang mendadak dipindahtugaskan, diasingkan, atau menghilang secara misterius setelah kematian Ibunda... temukan mereka."
Lucien mengepalkan tangannya di atas meja hingga buku-buku jarinya memutih. Bayangan tentang pengkhianatan sang Ayah dan kecurangan Perdana Menteri Oberon membuat dadanya terasa sesak bergetar.
"Lakukan semuanya secara diam-diam, Kenneth," tegas Lucien dengan aura intimidasi yang pekat. "Gunakan jaringan intelijen pribadi kita di luar istana. Jangan gunakan prajurit resmi kerajaan. Jika rumor tentang penyelidikan ini bocor sedikit saja... nyawamu dan nyawaku berada dalam bahaya."
Kenneth menyatukan kedua tangannya di depan dada, membungkuk sangat dalam dengan raut wajah penuh keseriusan mutlak. Ia menyadari bahwa perintah ini bukan sekadar tugas biasa, melainkan langkah awal dari badai besar yang siap mengguncang takhta Kerajaan Valdoria.
"Perintah diterima, Yang Mulia," jawab Kenneth tegas. "Saya akan bergerak malam ini juga dan membawa kebenarannya pada Anda."