Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

SISTEM PINTAR MENJADI SUPERSTAR

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:7.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Stevan Alvaro kehilangan segalanya dalam semalam ketika sebuah konspirasi menghancurkan pita suaranya dan merenggut mimpinya menjadi penyanyi besar, yang disusul oleh pengkhianatan kekasihnya yang memilih pergi meninggalkannya di titik terendah. Namun, di saat dunia seakan runtuh, sebuah suara misterius dari Sistem Pintar bangkit di dalam benaknya, memberinya kemampuan absolut dalam komposisi, produksi, dan penguasaan alat musik meski tanpa suara.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10

Dentingan keyboard mekanikal yang sangat cepat memenuhi sebuah ruangan gelap beraroma asap rokok.

Seorang pria kurus bermata panda sedang menatap dua layar monitor yang dipenuhi dengan barisan kode rumit.

"Tenang saja, Bos Dion. Melacak alamat IP pengunggah lagu indie seperti ini adalah pekerjaan kacangan bagiku," ucap pria itu sambil menyalakan rokok di mulutnya.

Ia adalah Toni, salah satu peretas lepas yang sering disewa oleh orang-orang dari industri hiburan untuk melakukan pekerjaan kotor di dunia maya.

Di ujung sambungan telepon, suara Dion terdengar mendengus dengan angkuh.

"Bagus, jangan sampai ketahuan. Begitu kau dapat nama atau alamat aslinya, langsung kirimkan padaku," perintah Dion.

"Label akan memberimu bonus besar jika pekerjaan ini selesai sebelum jam makan siang."

Toni menyeringai lebar mendengar kata bonus.

Ia mengetikkan serangkaian perintah serangan pada terminal komputernya untuk menembus lapisan pelindung situs Nusantara Music.

"Sistem keamanan situs lokal ini ibarat pagar kayu busuk, aku bisa masuk ke basis data mereka dalam hitungan menit," gumam Toni sambil menghembuskan asap rokoknya.

Di saat yang bersamaan, di dalam ruang studio kumuh sayap barat kampus.

Stevan sedang duduk diam menyandarkan punggungnya di kursi kayu.

Ia baru saja selesai menuliskan beberapa baris lirik tambahan untuk proyek lagu kedua mereka.

Tiba-tiba, sebuah layar peringatan berwarna merah berkedip dengan sangat terang di sudut pandangannya.

[TING!]

[PERINGATAN! Deteksi aktivitas anomali pada alamat IP samaran milik tuan rumah.]

[Seseorang sedang mencoba membongkar enkripsi jalur unggahan lagu Bayangan Bisu dari server pusat.]

Mata Stevan yang awalnya terlihat malas seketika berubah menjadi setajam pisau.

Ia segera menarik laptop usangnya mendekat dan membuka antarmuka keamanan yang baru saja ia dapatkan dari sistem semalam.

Sebuah radar digital virtual langsung muncul di layar laptopnya, menunjukkan titik merah yang mencoba menembus pertahanan jaringannya.

"Cepat sekali mereka bergerak, Dion pasti menggunakan anjing suruhannya untuk melacak kita," batin Stevan tersenyum sinis.

Stevan tidak langsung memblokir serangan itu.

Ia membiarkan peretas itu masuk sedikit lebih dalam ke jebakan yang sudah ia siapkan.

Jari-jemari Stevan mulai menari di atas keyboard dengan kecepatan yang sangat luar biasa, jauh melampaui kemampuan manusia normal.

Tak... tak... tak...

Hanya butuh waktu kurang dari tiga menit bagi Stevan untuk melacak balik lokasi asli sang penyerang.

[Alamat IP asli penyerang berhasil diidentifikasi.]

[Lokasi: Warnet kumuh di pinggiran kota, bilik nomor 4.]

"Mari kita beri anak nakal ini sedikit pelajaran berharga," batin Stevan dengan kilatan berbahaya di matanya.

Ia mengetik barisan kode virus penghancur sistem, lalu menyisipkannya ke dalam paket data palsu yang seolah-olah berisi informasi identitas akun Zero.

Di sisi lain kota, mata Toni terbelalak kegirangan melihat sebuah file terbuka perlahan di layarnya.

"Dapat kau, musisi amatir bodoh! Enkripsimu berhasil kutembus!" seru Toni dengan penuh kemenangan.

Ia segera meraih ponselnya untuk menelepon Dion kembali.

"Halo, Bos! Aku sudah menembus lapis pertahanannya, file identitas aslinya sedang kuunduh seka—"

Ucapan Toni terhenti seketika di tengah jalan.

Layar monitor utamanya tiba-tiba berkedip-kedip tidak karuan.

Barisan kode yang ia banggakan mendadak berbalik arah, menyerang sistem operasi komputernya sendiri seperti badai tornado digital.

"A-apa yang terjadi?! Kenapa sistemku malah membaca perintah format ulang?!" panik Toni sambil menekan sembarang tombol di keyboardnya.

Namun terlambat, layar komputernya seketika berubah menjadi hitam legam selama dua detik, sebelum akhirnya menampilkan sebuah gambar putih.

Gambar itu berupa sebuah topeng hantu yang tersenyum sangat mengerikan.

Di bawah topeng tersebut, terdapat sederet kalimat singkat yang diketik dengan huruf merah darah.

"Kemampuanmu menyedihkan. Katakan pada tuanmu, jika dia menggangguku lagi, aku akan menghancurkan karirnya sebelum dia sempat berdiri."

Mata Toni membelalak sempurna, keringat dingin sebesar biji jagung mulai menetes dari dahinya.

"H-halo? Toni? Ada apa? Apa kau sudah dapat namanya?!" teriak Dion dari ujung sambungan telepon yang mulai tidak sabar.

"B-bos... kita sedang berhadapan dengan monster," gagap Toni dengan suara bergetar hebat.

"Sistemku hancur... dia meretas balik komputerkuku dan menghapus semua data pekerjaanku dalam waktu kurang dari lima menit!"

Dion terdiam kaku mendengar laporan anak buahnya itu.

"Apa maksudmu?! Kau kan peretas paling ahli yang kukenal!" bentak Dion dengan suara tertahan.

"Maafkan aku, Bos. Tapi tingkat keamanannya bukan kelas amatiran, ini setara dengan pertahanan militer! Aku tidak mau ambil risiko lagi," ucap Toni langsung mematikan sambungan telepon.

Dion menatap layar ponselnya yang mati dengan pandangan kosong.

Ketakutan mulai menyusup perlahan ke dalam relung hatinya.

"Siapa sebenarnya Zero ini?" gumam Dion dengan tangan yang sedikit gemetar.

Sementara itu, di dalam studio kumuh, Stevan menutup jendela peretasannya dengan senyuman puas.

Satu ancaman kecil telah berhasil ia singkirkan tanpa perlu beranjak dari tempat duduknya.

Krieeet...

Pintu studio terbuka perlahan, menampilkan sosok Clara yang masuk dengan napas terengah-engah.

Ia masih mengenakan hoodie besarnya, tapi kali ini ia membawa setumpuk brosur kertas di tangannya.

"Kak Stevan! Lihat ini!" seru Clara sambil meletakkan brosur itu ke atas meja.

Stevan melirik brosur tersebut dengan sebelah alis terangkat.

[Pendaftaran Audisi Terbuka: Festival Musik Nusantara Ke-10]

"Festival ini adalah ajang pencarian bakat terbesar yang diadakan tiga tahun sekali, Kak!" ucap Clara dengan semangat yang meluap-luap.

"Pemenang utamanya akan mendapatkan modal produksi satu miliar rupiah dan hak penuh untuk mendirikan label rekaman independen tanpa campur tangan agensi besar."

Mendengar kata "mendirikan label independen", mata Stevan seketika menyipit tajam.

Ini adalah jalan pintas yang paling sempurna untuk menghancurkan Mega Bintang Sejahtera dari dalam pasar industri yang sama.

Stevan mengambil brosur itu dan membacanya dengan saksama.

Ia mengetik balasan di layar ponselnya lalu menunjukkannya kepada Clara.

"Kapan batas akhir pendaftaran dan audisi pertamanya?" bunyi tulisan di layar ponsel Stevan.

"Bulan depan, Kak! Tepat saat Dion dan Natasha melakukan debut perdana mereka di televisi nasional," jawab Clara cepat.

Sudut bibir Stevan melengkung ke atas di balik maskernya membentuk senyuman yang sangat mengerikan.

Waktu audisi yang bersamaan dengan debut musuhnya bukanlah sebuah kebetulan, ini adalah takdir balas dendam yang diatur oleh semesta.

"Kita akan mendaftar dengan nama grup The Zeros," ketik Stevan dengan tegas.

"Kau akan tampil sebagai vokalis utama menggunakan topeng penuh, dan aku akan berada di belakangmu memainkan instrumen."

Clara mengangguk mantap tanpa keraguan sedikit pun kali ini.

Terapi mental semalam telah menumbuhkan keberanian baru di dalam hatinya yang selama ini pengecut.

"Aku siap, Kak. Aku akan bernyanyi sekeras yang aku bisa untuk menghancurkan mereka semua," ucap Clara dengan sorot mata yang penuh tekad.

Stevan mengangguk puas melihat api semangat di mata gadis itu.

Ia lalu menunjuk ke arah bilik rekaman dengan jarinya.

"Tapi sebelum kita bertempur, kita butuh senjata yang lebih mematikan dari Bayangan Bisu," ketik Stevan lagi.

"Masuk ke dalam, kita akan merekam lagu kedua yang akan meruntuhkan mental musuh-musuh kita mulai hari ini."

Clara tersenyum lebar dan langsung melangkah masuk ke dalam bilik rekaman tanpa rasa takut.

Perang dingin di dunia maya mungkin telah usai, namun perang sesungguhnya di atas panggung industri hiburan baru saja akan dimulai.

1
Rifqy Channel
nah gini dong 😭🙏🤣🤣
Rifqy Channel
tolong dong itu the zeros mereka harus ungkap identitas biar supaya mereka shock itu. jangan pelit dengan hadiah nya lah.
Nissa Safira: Sabar yaa kak🤣🙏
Aku mau mereka shocknya pas lagi di atas tahta, bukan pas masih di tangga. Tunggu final, hadiahnya bukan cuma identitas yang kebuka, tapi satu industri yang runtuh. Janji deh gak bakal pelit hadiahnya🤣🤣🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!