Malam hari yang indah bertabur bintang bagi insan yang di mabuk kepayang.
Tapi tidak dengan Anggraini, terbaring lemah di atas ranjang rawat inap rumah sakit dengan beberapa alat bantu untuk dapat bertahan di tambah lagi wangi parfum obat yang sangat menyengat di hidung sudah menjadi hal biasa bagi Anggraini.
Dari sejak mengandung anak kedua, buah cintanya dengan sang suami Reymond, Anggraini sudah di beri pilihan oleh dokter yang merawat kesehatannya..
Saat Raymond mengenang masa fonis kehamilan sang istri..
"Istri anda harus memilih antara kandungannya, atau nyawanya.. karena jika ibu Anggraini tetap mempertahankan kandungannya, maka akan sangat membahayakan nyawanya." ujar sang dokter pada Reymond saat berada di ruang dokter.
Bagai tersambar petir di siang bolong.. saat Reymond mendengar penuturan dari dokter.
"Apa tidak bisa di pertahankan keduanya, dok?" tanya Reymond.
"Maaf pak, tidak bisa. Jika kandungannya tetap di pertahankan, saya takutnya nyawa bu Anggraini dalam bahaya.
Dari sejak saat itu pula, Anggraini sering keluar masuk rumah sakit untuk menjalani pengobatan karena tetap ingin mempertahankan kandungannya.
Hingga bayi mungil berjenis kelamin laki-laki terlahir, bayi mungil yang di beri nama Apriyansyah.
Anggraini hanya 2 kali memberikan asi dan selebihnya untuk tetap menjaga kesehatan Anggraini, di tambah kondisi kesehatan Anggraini yang tidak memungkinkan, bayi Apri harus menyusu susu formula.
Setelah bayi Anggraini lahir, bayinya di asuh oleh Nima (kaka kandung Anggraini), Ina (anak Nima), Soriyah (ibu kandung Anggraini).
Selama Anggraini di rawat di rumah sakit, Anggraini di jaga oleh suaminya dan juga Nima serta kakak tertua Naya yang senantiasa bergantian menjaga Anggraini.
Pagi itu, entah dapat kiriman dari siapa.. saat Ina membawa bayi mungil dalam dekapannya hendak menjemur bayi mungil di bawah sinar matahari pagi yang katanya baik untuk bayi.
Kreeek... pintu di buka Ina..
Ina meraih setangkai bunga mawar hitam yang tergeletak di depan pintu..
"Bunga ini indah, tapi siapa yang menaruhnya disini?" ucap Ina.
"Kamu sedang apa Ina?" tanya nenek Soriyah yang melihat Ina termangu di depan pintu.
"Ini nek, ada yang menaruhnya di depan pintu." ucap Ina.
Nenek Soriyah merebut setangkai mawar hitam yang di pegang Ina dan membuangnya jauh-jauh.
"Kenapa di buang, nek?" tanya Ina bingung dengan reaksi dari sang nenek.
"Laen kali, kamu langsung buang.." ujar nenek Soriyah.
Ina berusaha melupakan sikap nenek Soriyah, namun di hati tetap berkecamuk bingung apa yang terjadi.
Pukul 10 pagi,
"Owa owa owa owa mama mama owa owa.." tangis Apri pecah.
Ina langsung meraih dan membawa Apri dalam dekapannya dan memberikan botol susu yang berisi susu formula. Ina berusaha menghentikan tangis Apri dengan menimangnya, namun tetap nihil, Apri terus menangis dan semakin kencang.
"Owa owa owa mama owa owa mama owa owa." tangis Apri yang di dengar Ina dan nenek Soriyah.
"Allah huakbar.. pertanda apa ini." hati Ina sedih mendengar Apri menyebut kata 'mama', karena seharusnya di usia Apri sedang berada dalam dekapan kasih sayang ibunya namun tidak untuk Apri, terpisah jarak.
"Apri panggil mama? doain mama kamu ya sayang, sehat selalu, biar bisa kumpul lagi bersama dengan kamu." ucap nenek Soriyah.
Kring.. kring.. kring.. bunyi suara telepon.
Nenek Soriyah pun meraih gagang telepon dan menempelkannya di daun telinga kanannya..
"Assalamualaikum, ----" ucap nenek Soriyah, dan tidak lama gagang telepon yang berada di tangan kanannya terlepas dan jatuh..
Nenek Soriyah yang merasa lututnya lemas pun terjatuh tak berdaya bersandar pada dinding dengan air mata yang tak bisa di bendung.
"Innalilahi wainnailaihi rojiu... Anggraini.." ucap nenek Soriyah..
hanya memanggil nama Anggraini yang mampu di ucapkan nenek Soriyah..
"Nene.. nenek kenapa? kenapa dengan tante Anggraini?" tanya Ina yang sudah menghampiri nenek Soriyah.
merasa tidak ada jawaban dari nenek Soriyah, Ina pun meraih gagang telepon yang terjuntai ke bawah.
"Halo, maaf ini dengan siapa? ada apa dengan tante Anggraini?" tanya Ina dengan rasa sesak di dada.
"Ini mama nak.. Ina.. tante kamu.. sudah di panggil yang maha kuasa.." ucap Nima lewat sambungan teleponnya.
kata bunga mawar yang memiliki arti keindahan namun di selipkan kata hitam.. yang berarti duka.
mungkin Ina baru mengerti maksud nenek Soriyah akan bunga mawar hitam. duka yang menyelimuti keluarga atas kepergian Anggraini dan bahagia di kala ada Apri yang harus di besarkan dengan penuh cinta meski tanpa ibu kandung.