Kebohongan memanglah bukan suatu hal yang baik. Namun, pernakah kalian mendengar bahwa kebohongan bisa menyelamatkan hubungan persahabatan yang hampir hancur. Ini adalah Kisahku dengan kedua sahabatku.
Semua itu berawal ketika aku duduk di bangku kelas dua Sekolah Menengah Atas atau yang biasa disebut sebagai SMA. Sebuah masa masa yang sangat indah bagiku. Masa yang terkadang ingin aku ulang kembali.
Mereka bilang aku adalah gadis yang jujur dan tidak pernah berbohong. Tapi, ada satu rahasia yang masih kusimpan sampai sekarang. Rahasia bahwa aku juga pernah berbohong.
Saat itu aku mempunyai dua orang sahabat bernama Karin dan Lisa. Lisa dikenal sebagai gadis yang periang sedangkan Karin merupakan gadis yang tegas dan cenderung sedikit kaku.
Kami sudah bersahabat semenjak kelas satu. Ketika kami bersama kami sering kali disebut orang orang sebagai 'Trio Sejati'. Itu karena persahabatan kami yang bisa dibilang cukup bertahan lama.
Suatu ketika aku merasa bahwa persahabatan kami mulai merenggang. Tak hanya aku bahkan orang orang disekitarku juga ikut merasakan nya. Pada hari itu aku tengah bersama dengan Lisa, kami bersama untuk menikmati jajanan di kantin. "Lis, kenapa gak ajak Karin?" tanyaku memulai pembicaraan. Lisa dan Karin merupakan teman sekelas berbeda dengan ku yang merupakan anak kelas lain.
Lisa hanya diam lalu menghela nafas wajahnya nampak berubah menjadi kesal begitu aku menyebut nama Karin. "Udahlah, percuma juga ngajak dia. Toh dia gak akan bisa, orang pintar kayak dia gak butuh teman kayak kita" ucap Lisa dengan lidah tajamnya yang membuatku terkejut.
Aku berhenti berjalan membuat Lisa juga ikut berhenti. Aku menatap Lisa lalu berkata "memangnya Karin bilang kalau dia gak mau temenan sama kita?" Tanyaku yang hanya dibalas diam oleh Lisa. "Ya engga sih, tapi dia itu setiap aku ajak selalu bilang gak bisa lagi sibuk mau kerja kelompok lah ini lah aku aja walaupun ada tugas kelompok masih bisa luangin waktuku" Lisa beranggapan bahwa harusnya Karin bisa meluangkan waktu untuk mereka bersama. Lisa sama sekali tidak berfikir bahwa Karin berusaha untuk menyelesaikan pekerjaan nya secepat mungkin agar tidak terbebani.
Pemikiran Lisa memang cenderung dangkal. Ditambah dengan rasa insecure nya yang tinggi terhadap Karin yang selalu menjadi juara kelas. Membuatnya merasa bahwa mungkin Karin sudah tidak membutuhkan sahabat yang bodoh sepertinya. Itulah yang dapat aku tangkap dari sosok Lisa. Bagaimana pun aku hanya diam mencari jawaban yang dapat memperbaiki hubungan diantara kita bertiga. Aku menyaring setiap kata kata dalam pikiran ku. Takut bahwa tanggapan ku yang terlalu cepat mungkin dapat membuat suasana menjadi semakin memburuk.
Setelah mencari jawaban yang cocok aku merangkul Lisa lalu kembali berjalan sembari berkata "Lis, kamu tau gak Karin itu bangga punya temen kayak kamu. Aku juga bangga punya temen kayak kamu. Standar pertemanan itu tidak diukur dari pintar atau tidaknya orang itu. Aku lihat Karin emang lagi sibuk sih, ya aku gak tau situasi kelas kalian gimana tapi mungkin Karin ingin cepat cepat menyelesaikan pekerjaan nya biar bisa kumpul bareng kita" aku berkata dengan lembut, karena aku tau bahwa menyalahkan Lisa jika bisa memperburuk keadaan. Jadi lebih baik aku mencoba menyadarkan nya dengan cara yang lembut.
Walaupun aku sadar bahwa dalam kata kataku ada kebohongan. Aku tidak tau apakah Karin bangga dengan Lisa. Namun, aku mengatakan nya agar situasi menjadi membaik. Aku sadar bahwa itu bohong namun aku hanya bisa meminta maaf kepada tuhan dalam batin ku.
Saat aku sibuk meminta maaf kepada tuhan dalam hatiku, aku melihat raut wajah Lisa yang berubah. Wajah kesal itu menjadi sedih. Sepertinya Lisa sudah menyadari kesalahan nya. "Kamu benar, sepertinya aku harus minta maaf kepada Karin. Aku mungkin kurang memahaminya, aku jadi malu sama kamu. Padahal Karin sudah mau jadi temen ku tapi aku kok begini ya? Aku.. aku harus bilang kalau aku bangga juga punya temen kayak Karin!!" Lisa kembali bersemangat. Pada akhirnya Lisa yang tidak enak dengan Karin pun meminta maaf kepada Karin begitu ia sampai di kelas. Sejak saat itu persahabatan kami terus berlanjut.
"Dahlia!!" Suara cempreng berhasil menyadarkan ku dari lamunan ku. Ah, rupanya daritadi aku asik mengenang kejadian itu. Hatiku menjadi tidak enak karena sampai sekarang aku masih menyimpan kebohongan itu. "Jangan melamun nanti kalau kesambet gimana? By the way kamu udah gak ada kelas kan?" Tanya seorang wanita yang sampai saat ini masihlah periang. Dialah Lisa, sahabatku yang satu kampus dengan ku sekaligus sahabat SMA yang membuatku tenggelam dalam lamunan.
Sebuah notif membuat Lisa melihat ke arah ponselnya "Eh, Karin udah nyampe nih" Lisa berkata dengan panik dan menggenggam lengan ku untuk menarikku pergi. Aku tersenyum lalu bergumam "Maaf.." ya, walaupun pada akhirnya Lisa tidak mendengar ucapan ku. Tapi setidaknya aku ingin hatiku terasa lega.