Satu-satunya hal yang diingat Arga sebelum mati adalah rasa pahit.
Bukan pahit kehidupan.
Bukan pahit cinta.
Bukan pula pahit karena belum menikah.
Rumput.
Rumput liar.
Ia sedang bekerja sebagai tukang kebun di sebuah taman kota ketika melihat tanaman kecil tumbuh di antara batu.
“Hmm.”
Arga berjongkok.
Sebagai tukang kebun, ia tahu banyak tanaman.
Sebagian bisa dimakan.
Sebagian tidak.
Masalahnya, hari itu otaknya sedang entah pergi ke mana.
Ia memetik sehelai daun.
Menciumnya.
“Kayaknya—”
Ia menggigitnya.
Tiga detik kemudian ia mengernyit.
“...Pahit.”
Lima detik.
“Wah.”
Sepuluh detik.
“Kayaknya...”
Dunia berputar.
“...ini bukan rumput biasa.”
Kemudian semuanya gelap.
Begitulah Arga meninggal.
Tidak heroik.
Tidak dramatis.
Tidak ada kata-kata terakhir.
Tidak ada keluarga yang menangis di samping ranjang.
Hanya seorang tukang kebun yang terlalu penasaran terhadap rumput.
Namun ketika membuka mata lagi...
Arga mendapati dirinya sedang berbaring di atas ranjang.
Langit-langit kayu.
Ruangan asing.
Bau obat.
Dan seorang pria berteriak,
“Dia sadar!”
Arga bangun dengan panik.
“Di mana aku?”
Semua orang di ruangan itu menatapnya aneh.
Kemudian seseorang memanggilnya dengan nama yang bukan miliknya.
“Kapten Willem!”
Arga membeku.
“Siapa Willem?”
Tidak ada yang menjawab.
Ia bangkit.
Berjalan ke depan cermin.
Dan hampir pingsan lagi.
Wajah yang menatapnya bukan wajahnya.
Seorang pria muda.
Rahang tegas.
Rambut pirang kecokelatan.
Mata biru kelabu.
Tubuh tinggi dan tegap.
Seragam militer melekat sempurna di tubuhnya.
Arga menatap cermin lama.
“...Ganteng.”
Seorang prajurit di belakangnya mengernyit.
“Tuan?”
Arga berdeham.
“Maksudku...”
Ia menyentuh wajahnya.
“...sangat tragis.”
Beberapa hari kemudian, ia akhirnya mengetahui kebenarannya.
Ia berada di Hindia Belanda.
Di tubuh seorang prajurit bernama Willem van Aarden.
Dan yang lebih mengejutkan...
Willem ternyata ditugaskan menjaga sebuah perkebunan milik keluarga Belanda.
Arga menerima tugas itu dengan malas.
Sampai ia melihat kebunnya.
Ia langsung lupa bahwa dirinya adalah prajurit.
“Siapa yang merawat ini?”
Pelayan mengangkat bahu.
“Tidak ada yang khusus, Tuan.”
Arga menatap semak mawar yang layu.
“Tidak ada?”
“Tidak, Tuan.”
Arga berjalan mendekat.
Mengangkat satu daun.
“Tanahnya terlalu padat.”
Ia memeriksa batang.
“Pemangkasan salah.”
Kemudian melihat saluran air.
“Drainasenya buruk.”
Pelayan itu menatapnya.
“Tuan... Anda seorang prajurit.”
Arga mengangguk.
“Iya.”
“Kenapa Anda tahu soal kebun?”
Arga berpikir.
“Karena...”
Ia teringat kehidupan lamanya.
“...aku suka tanaman.”
Sejak hari itu, kebun berubah.
Arga menggemburkan tanah.
Memperbaiki saluran air.
Memindahkan tanaman.
Memangkas cabang mati.
Menanam bibit baru.
Ia bahkan membuat kompos sendiri.
Dan perlahan...
kebun yang sebelumnya kusam mulai hidup.
Bunga-bunga bermekaran.
Burung kembali datang.
Udara menjadi lebih segar.
Namun ada satu bagian yang paling ia sukai.
Mawar.
Setiap pagi, ia selalu memeriksa mawar-mawar itu.
Memangkas duri yang berlebihan.
Membersihkan daun.
Memeriksa tanah.
Kadang berbicara sendiri.
“Jangan terlalu banyak air.”
“Yang ini kurang matahari.”
“Kamu kenapa layu?”
Ia bahkan pernah terlihat mengomeli bunga.
Suatu sore, seseorang memperhatikannya dari balkon.
Seorang wanita muda.
Nona Isabella van Aarden.
Putri keluarga pemilik perkebunan.
Ia sudah beberapa kali melihat prajurit itu menghabiskan waktu di taman.
Hari itu, ia akhirnya turun.
“Kapten Willem.”
Arga menoleh.
“Nona Isabella.”
Isabella berjalan mendekati hamparan mawar.
“Saya ingin bertanya sesuatu.”
“Tentu.”
“Kenapa Anda begitu peduli pada mawar?”
Arga diam.
Ia melihat bunga di tangannya.
Kemudian tersenyum kecil.
“Karena mawar tidak pernah berjanji untuk hidup selamanya.”
Isabella terdiam.
Arga memutar bunga itu perlahan.
“Namun meskipun tahu waktunya singkat, ia tetap mekar.”
Tatapannya melembut.
“Menurut saya... itu indah.”
Isabella menatapnya.
Arga melanjutkan.
“Manusia sering takut kehilangan sesuatu sebelum sempat menikmatinya.”
Ia menatap bunga itu.
“Kita takut seseorang pergi, sehingga lupa menikmati saat mereka masih di samping kita.”
Angin sore bergerak pelan.
Kelopak mawar bergoyang.
“Jadi saya ingin merawatnya.”
Isabella bertanya pelan,
“Supaya ia tidak mati?”
Arga tersenyum.
“Bukan.”
Ia menggeleng.
“Supaya selama ia hidup... ia bisa mekar seindah mungkin.”
Isabella tidak menjawab.
Ia hanya menatap pria di depannya.
Mata biru kelabu itu tidak lagi terlihat seperti milik seorang prajurit.
Ada sesuatu yang lembut di sana.
Sesuatu yang membuat dada Isabella terasa aneh.
Arga kemudian menyerahkan satu mawar kepadanya.
“Untuk Anda.”
Isabella menerimanya.
“Kenapa?”
“Karena Anda bertanya.”
Ia tersenyum.
“Dan karena saya rasa bunga ini lebih cocok berada di tangan seseorang yang menghargainya.”
Wajah Isabella memerah.
Sejak hari itu, Isabella mulai sering datang ke kebun.
Awalnya hanya untuk melihat bunga.
Kemudian belajar merawatnya.
Kemudian berbicara dengan Arga.
Dan akhirnya...
ia menyadari bahwa setiap kali pria itu tersenyum kepadanya, jantungnya berdebar.
Mereka menikah beberapa tahun kemudian.
Arga tidak pernah kembali ke zaman modern.
Ia tidak pernah menemukan cara untuk pulang.
Namun anehnya...
ia tidak lagi ingin pulang.
Karena rumahnya sekarang adalah kebun itu.
Dan perempuan yang setiap pagi duduk di sampingnya sambil membawa secangkir teh.
Bertahun-tahun kemudian, kebun tersebut menjadi salah satu kebun paling terkenal di daerah itu.
Orang-orang datang untuk melihat mawar.
Mereka mengatakan bunga-bunga itu indah karena dirawat dengan penuh kasih.
Arga hanya tertawa.
“Tanaman juga makhluk hidup.”
Isabella yang sudah menjadi istrinya tersenyum.
“Kau mengatakan itu setiap hari.”
“Karena benar.”
“Kau bahkan bicara dengan pohon.”
“Mereka pendengar yang baik.”
Isabella tertawa.
Suatu sore, mereka duduk di bawah pohon besar.
Isabella menyandarkan kepala di bahu suaminya.
“Kalau kau tidak datang ke sini...”
Arga menoleh.
“Hmm?”
“Apa yang akan terjadi?”
Arga memandang kebun.
Kemudian menggenggam tangan istrinya.
“Mungkin aku tetap akan mencari tempat untuk menanam sesuatu.”
Isabella tersenyum.
“Kau benar-benar mencintai tanaman.”
Arga tertawa kecil.
“Dulu aku bahkan mati gara-gara tanaman.”
Isabella mengernyit.
“Apa?”
Arga terdiam.
“...Tidak penting.”
Isabella menatapnya curiga.
“Willem.”
“Ya?”
“Apa yang kau maksud dengan mati gara-gara tanaman?”
Arga tersenyum kaku.
“Cerita panjang.”
“Ceritakan.”
“Tidak.”
“Kenapa?”
“Karena memalukan.”
Isabella tertawa.
Dan Arga ikut tertawa.
Ia tidak pernah menceritakan bahwa sebelum menjadi Willem, ia adalah Arga.
Seorang tukang kebun dari masa depan.
Seorang pria yang meninggal hanya karena...
menggigit rumput liar.
Dan mungkin memang lebih baik begitu.
Karena jika Isabella tahu, ia mungkin akan kehilangan rasa hormatnya.
Atau lebih buruk lagi—
tertawa.
Beberapa dekade kemudian, Arga meninggal dengan tenang di rumahnya.
Di samping tempat tidurnya ada sebuah vas.
Berisi mawar merah.
Isabella menggenggam tangannya sampai napas terakhir.
Di luar jendela, kebun mereka sedang bermekaran.
Dan bertahun-tahun setelah kematiannya, orang-orang masih merawat kebun itu.
Sebuah papan kecil dipasang di tengah taman.
Tulisan di atasnya sederhana:
“Rawatlah sesuatu selama ia masih hidup. Jangan menunggu sampai ia pergi untuk menyadari betapa indahnya ia pernah berada di sana.”
Tidak ada yang tahu siapa yang menulisnya.
Tidak ada yang tahu kisah sebenarnya di balik kebun tersebut.
Dan tidak ada yang tahu bahwa pria yang menanam mawar-mawar itu pernah hidup di masa yang jauh berbeda.
Yang orang tahu hanyalah...
Ia sangat mencintai bunga.
Dan istrinya sangat mencintainya.
Sementara jauh di dalam tanah, akar-akar mawar terus tumbuh.
Bunga-bunga terus bermekaran.
Seolah-olah kebun itu masih mengingat tangan seseorang yang dahulu merawatnya.
Dan kalau ada yang bertanya kepada Isabella apa yang membuat suaminya begitu mencintai mawar...
ia selalu tersenyum.
Kemudian menjawab,
“Karena dia tahu betapa berharganya waktu.”
Lalu ia akan menatap bunga di tangannya.
Dan tersenyum kecil.
“Sayangnya, dia baru belajar itu setelah menggigit rumput beracun.”
...
“ISABELLA.”
“Ya?”
“KENAPA KAU CERITAKAN ITU?!”
😭🌹