Sejak kecil, Arsena menyimpan sebuah rahasia yang tak pernah ia ceritakan kepada siapa pun. Saat merasa sangat tenang atau sangat gugup, tubuhnya perlahan memudar hingga benar-benar menghilang.
Awalnya Arsena menganggap itu kutukan. Ia sering panik ketika tiba-tiba tak terlihat oleh orang lain. Pernah suatu hari ia menghilang saat guru memanggil namanya. Satu kelas gempar karena kursinya kosong, padahal Arsena masih duduk di sana dengan wajah pucat.
Karena takut dianggap aneh, Arsena belajar mengendalikan emosinya. Ia selalu menarik napas panjang setiap kali mulai merasa gugup. Sedikit demi sedikit, ia berhasil menguasai kemampuan itu.
Suatu sore, saat pulang sekolah, Arsena mendengar teriakan minta tolong dari sebuah gang kecil. Tanpa berpikir panjang, ia berlari menghampiri. Seorang anak kecil menangis karena kucing peliharaannya terjebak di dalam gudang yang pintunya hanya terbuka sedikit.
Arsena tersenyum tipis. Ia menenangkan diri hingga tubuhnya perlahan menghilang. Dengan mudah ia menyelinap melewati celah sempit, mengangkat kucing itu, lalu keluar kembali. Begitu berada di luar, wujudnya muncul lagi sedikit demi sedikit.
Anak kecil itu memeluk kucingnya dengan gembira.
"Terima kasih, Kak!" katanya.
Arsena hanya tersenyum. Ia tidak menjelaskan bagaimana ia bisa masuk ke gudang. Baginya, tidak semua keajaiban harus diketahui orang lain.
Sejak hari itu, Arsena mulai memandang kemampuannya dengan cara yang berbeda. Bukan lagi sebagai kutukan, melainkan anugerah yang bisa digunakan untuk menolong orang lain. Meski tetap merahasiakannya, ia berjanji pada dirinya sendiri bahwa selama kemampuannya dapat membawa kebaikan, ia akan menggunakannya dengan bijaksana.
Dan di setiap sudut kota, ketika seseorang membutuhkan pertolongan, mungkin ada sosok yang tak terlihat sedang tersenyum dan mengulurkan tangan. Sosok itu adalah Arsena.