Malam bulan purnama di atas Air Terjun Sekar Asih selalu membawa hawa dingin yang menusuk. Namun bagi Saraswati, putri seorang abdi dalem jelata, dingin itu kalah oleh kehangatan cinta dan kepercayaannya pada Raden Mas Bagus Kamajaya.
Di atas batu hitam besar yang basah oleh percikan air, Kamajaya memeluknya erat. Pria berdarah pangeran itu memiliki paras tampan yang sanggup meluluhkan siapa saja, namun di balik matanya yang tajam, bersemayam ambisi membara yang tak pernah merasa cukup.
Kamajaya enggan hanya menjadi bangsawan biasa. ia ingin menduduki tahta tertinggi sebagai raja.
"Hanya keris ini yang bisa membawaku ke puncak, Saraswati," bisik Kamajaya lembut, mengusap pipi kekasihnya.
Di samping mereka, tersandar sebuah pusaka bertuah pemberian dukun sakti Ki Bhra Bhairava—Keris Mahogra. Demi menyempurnakan kesaktian pusaka tersebut, sebuah pengorbanan terlarang harus dilakukan. Setiap bulan purnama, Saraswati menyerahkan seluruh jiwa dan raganya pada Kamajaya.
Benih kasih yang seharusnya tumbuh menjadi janin di dalam rahimnya ditarik dan diserap oleh Keris Mahogra sebagai tumbal kekuatan. Saraswati tahu betapa nistanya ritual itu, namun demi cintanya pada Kamajaya, ia rela menanggung dosa tersebut.
Namun, cinta Saraswati yang tulus nyatanya masih kalah dengan ambisi Kamajaya. Keris Mahogra saja tak cukup untuk merebut kerajaan.
Kamajaya membutuhkan dukungan politik yang masif. Matanya pun tertuju pada Dyah Ayu Kartarajasa, putri Kerajaan Kartarajasa yang tiada tara kecantikannya dan sekaligus tunangan dari kakak kandungnya sendiri, sang calon raja berikutnya.
Dengan kelicikan dan paras rupawannya, Kamajaya merayu Dyah Ayu dalam diam. Ia menjanjikan mahkota permaisuri. Dyah Ayu yang terbuai akhirnya bertekuk lutut, mengkhianati tunangannya dan memilih berada di pihak Kamajaya.
Pada suatu malam purnama berikutnya, Saraswati berjalan menyusuri jalan setapak menuju Air Terjun Sekar Asih dengan senyum tipis. Ia siap menyerahkan dirinya kembali demi impian pria yang dicintainya. Namun, begitu langkahnya mendekati buih air terjun, suara bisikan dan gelak tawa mesra menghentikan langkahnya.
Dibalik remang cahaya rembulan, jantung Saraswati seolah berhenti berdetak.
Di atas batu suci peraduan mereka, Kamajaya sedang bersenggama erat dengan Dyah Ayu Kartarajasa. Tidak ada rasa bersalah di wajah pria itu. Yang ada hanya tatapan nafsu dan ambisi.
Airmata Saraswati menetes deras. Dunianya runtuh seketika. Cinta mulia yang ia korbankan ternyata dibalas dengan pengkhianatan paling keji.
Dengan napas memburu dan dada yang hancur, Saraswati melangkah mendekat. Jemarinya yang gemetar menyambar hulu Keris Mahogra yang tergeletak di dekat mereka. Suara gesekan bilah keris memecah malam, membuat Kamajaya dan Dyah Ayu terperanjat kaget.
"Saraswati...?" gagap Kamajaya, mencoba bangkit dengan panik.
Saraswati menatap Kamajaya dengan mata yang tak lagi memancarkan kelembutan, melainkan duka dan kekecewaan yang membatu. Ia mengangkat Keris Mahogra tinggi-tinggi.
"Darah dan calon bayiku telah kau jadikan tumbal ambisimu, Kangmas! Tapi kau justru mengkhianatiku?!" jerit Saraswati, suaranya menggelegar mengalahkan gemuruh air terjun.
"Ingatlah hari ini! Demi langit dan bumi, aku bersumpah... Setiap keturunan laki-laki yang lahir dari darahmu akan mati sebelum genap berusia tujuh belas tahun! Dan di kehidupan manapun kita dipertemukan kembali, aku akan menagih janji sehiduo semati yang kau ucapkan dulu!"
JLEBBB
Tanpa ragu sedikit pun, Saraswati menancapkan bilah Keris Mahogra tepat ke pusat jantungnya sendiri. Darah segar menyembur, membasahi batu peraduan. Tubuhnya roboh, terkulai lemas dengan mata yang tetap terbuka menatap Kamajaya.
Kamajaya menyuruh pengawal membawa Dyah Ayu kembali ke istana secara sembunyi-sembunyi. Lalu ia sendiri membawa Saraswati menemui Ki Bhra Bhairava.
Dengan bantuan sihir Ki Bhra Bhairava, Kamajaya melakukan ritual abadi untuk mengawetkan jasad Saraswati bersama Keris Mahogra yang masih menancap di dadanya, lalu menyembunyikan jasad itu.
Setelah kejadian besar malam itu, Kamajaya justru menjadi semakin kuat.
Tak lama kemudian, pemberontakan besar pecah. Berkat bantuan militer Kerajaan Kartarajasa, Kamajaya berhasil menggulingkan kekuasaan dan bertakhta sebagai raja agung. Kerajaannya mencapai puncak kejayaan, disembah dan ditakuti oleh lawan maupun kawan.
Namun, tak ada raja yang bisa lari dari sumpah darah.
Kutukan Saraswati menjadi kenyataan yang mengerikan. Setiap kali Dyah Ayu melahirkan seorang putra, anak itu tumbuh dengan tampan dan cerdas, namun tepat pada hari ulang tahun mereka yang ke-17, mereka akan tewas secara misterius yang tidak bisa dijelaskan oleh tabib mana pun.
Hingga akhir hayatnya, Raja Kamajaya hidup dalam keagungan yang dingin dan megah, namun hatinya digerogoti oleh bayang-bayang penyesalan dan ketakutan akan janji yang dulu pernah ia sampaikan pada Saraswati dan menanti saat di mana roda reinkarnasi memutar kembali takdir mereka.