Matahari belum juga bangun, tapi bapak gue udah rapi pakai kemeja batik yang baunya kamper banget. Di tangannya ada sebuah map warna merah. Mukanya tegang, mirip orang mau sidang skripsi, padahal dia cuma mau ke kelurahan buat urus surat tanah.
"Liat, Le," kata Bapak sambil menepuk map merah itu dengan bangga. "Ini namanya persiapan. Orang sukses itu selalu siap sebelum badai datang."
Gue yang masih mengumpulkan nyawa di meja makan cuma bisa mengangguk pelan sambil mengunyah pisang goreng yang minyaknya melebihi ekspektasi. "Sip, Pak. Jangan lupa bawa pulpen sendiri. Biasanya di sana pulpennya kalau gak macet, ya diikat tali rafia kayak kambing kurban."
Bapak tertawa remeh. "Pulpen? Bapak bawa tiga. Hitam, biru, merah. Semua merek terkenal."
Satu jam kemudian, telepon gue berdering. Nama "Negara Api" muncul di layar. Itu kontak Bapak.
"Halo, Pak? Udah kelar?" tanya gue langsung.
Suara di seberang sana terdengar berbisik, seperti orang lagi ngumpet dari kejaran debt collector. "Le... kamu bisa ke kelurahan sekarang? Naik motor, cepet."
"Kenapa? Kurang berkas?"
"Bukan," bisik Bapak makin lirih. "Kacamata baca Bapak ketinggalan. Ini Bapak dari tadi salah tanda tangan di formulir orang lain. Dikira Bapak yang mau cerai."
Gue menepuk jidat keras-keras sampai bunyi plak. "Ya ampun, Pak! Terus map merah yang tadi abang banggadin gimana?"
"Isinya brosur umroh tahun lalu, Le. Bapak salah ambil map."
Tanpa babibu, gue langsung menyambar kunci motor. Di jalan, gue udah membayangkan muka pasrah Bapak di pojokan kantor kelurahan, dikelilingi ibu-ibu yang menatapnya penuh simpati karena dikira mau jadi duda baru.
Begitu sampai di lokasi, pemandangannya jauh lebih ajaib. Bapak lagi duduk di sebelah loket pelayanan, mukanya ditekuk, sementara petugas kelurahan—seorang mbak-mbak berhijab pink—sedang menahan tawa sampai bahunya bergetar.
"Ini kacamata sama map yang bener, Pak," kata gue sambil menyerahkan kantong plastik isi kacamata minusnya.
Bapak langsung memakai kacamatanya dengan gerakan dramatis. Begitu pandangannya jernih, dia melihat kertas di depannya, lalu melihat ke arah petugas.
"Eh, Mbak, jadi dari tadi saya belum tanda tangan surat tanah saya ya?" tanya Bapak polos.
"Belum, Pak," jawab si mbak sambil tersenyum lebar. "Dari tadi Bapak itu lagi ngisi kuisioner kepuasan layanan masyarakat. Tapi di kolom nama, Bapak tulis 'Ir. Soekarno'. Saya mau negur tapi Bapak mukanya galak banget kayak lagi ikrar sumpah pemuda."
Gue langsung membalikkan badan, pura-pura batuk kering padahal lagi menahan tawa sampai usus rasanya mau melilit. Bapak cuma bisa tersenyum kecut, merapikan batiknya yang mulai kusut karena keringat dingin, lalu berbisik ke gue.
"Jangan bilang ibumu ya, Le. Nanti jatah kopi hitam Bapak dipotong sebulan."
Gue cuma mengacungkan jempol. Hari itu gue belajar satu hal penting dari Bapak: persiapan yang matang tetap akan kalah telak kalau mata kita masih blur.
TAMAT
----------------------------