Asap tipis mengepul dari kukusan bambu di atas gerobak kayu yang legam oleh usia. Di sudut gang sempit kawasan pecinan, aroma tenggiri bersanding tajam dengan gurihnya minyak bawang. Penjualnya bernama Pak Tirto. Wajahnya sekaku tripleks, tangannya cekatan memotong kubis.
Di kaca gerobaknya tertempel kertas putih laminating dengan tulisan spidol besar: Siomay Premium: Rp100.000 / biji. Siomay Jelata: Rp10 / biji.
"Gila, beneran cepekceng satu biji?" keriak seorang pemuda berkamera mirrorless besar. Dia adalah salah satu dari puluhan food blogger yang mengerubungi lapak Pak Tirto sore itu. Ponsel-ponsel pintar diacungkan tinggi-tinggi.
Pak Tirto tidak menoleh. Dia mengambil satu buah siomay premium. Ukurannya besar, permukaannya berkilau, dengan sejumput telur ikan salmon di puncaknya. Menggunakan sumpit bambu, ia meletakkannya di piring keramik putih. Di sebelahnya, ia menaruh siomay jelata. Ukurannya sangat kecil, pucat, seolah hanya terbuat dari tepung sagu sisa tanpa daging sama sekali.
"Pak, apa bedanya selain harga?" tanya blogger perempuan yang sedang menyiarkan langsung di media sosialnya.
"Rasa," jawab Pak Tirto singkat. Suaranya berat, tanpa intonasi.
Blogger pertama melahap siomay seratus ribu itu dalam satu gigitan. Matanya langsung terpejam. Kamera menyorot dekat ke wajahnya yang mendadak merah. "Ini… luar biasa! Daging tenggirinya padat tapi lembut, tidak amis sama sekali. Ada letupan gurih dari salmon utuh di dalam adonannya. Bumbu kacangnya tidak pakai air, ini minyak kacang murni yang disangrai sempurna!" komentarnya histeris ke arah kamera. Kolom komentar langsung gaduh.
Penasaran, blogger itu mencoba siomay seharga sepuluh rupiah. Begitu mengunyah, wajahnya langsung berubah masam. "Ugh, ini cuma kanji jenuh. Keras, hambar, dan bumbu kacangnya encer mirip air cucian piring. Sangat tidak layak makan."
Pak Tirto hanya tersenyum tipis. Sangat tipis hingga hampir menyerupai tarikan garis lurus di bibirnya.
Dalam hitungan hari, lapak Pak Tirto viral di seluruh negeri. Konten tentang "Siomay Kesenjangan Sosial" ditonton jutaan kali. Orang-orang kaya datang mengantre menggunakan mobil mewah hanya demi gengsi memakan siomay seratus ribu rupiah. Sementara anak-anak jalanan dan pengemis sesekali menukar koin lusuh mereka dengan beberapa butir siomay sepuluh rupiah demi mengganjal perut. Lapak itu menjadi kiblat kuliner sekaligus panggung tontonan kelas sosial.
Satu bulan berlalu, kejenuhan internet mulai bekerja. Netizen bosan dengan ulasan yang sama. Seorang kritikus kuliner senior dengan reputasi akademis mendatangi lapak Pak Tirto. Tanpa membuat konten pamer, dia membeli kedua jenis siomay tersebut, membungkusnya, lalu membawa sampel itu ke laboratorium pangan independen.
Dua hari kemudian, hasil uji laboratorium diunggah di blog pribadinya. Tulisan itu runtuh seperti bom di media sosial.
“Siomay seratus ribu rupiah milik Pak Tirto positif mengandung zat adiktif sintetis dosis tinggi yang secara paksa merangsang reseptor dopamin di otak—itulah mengapa semua orang merasa rasanya luar biasa enak dan ketagihan. Sementara siomay sepuluh rupiah sengaja dicampur dengan sisa ampas tahu yang difermentasi buruk agar rasanya menjijikkan. Penjual ini tidak sedang berdagang kuliner, dia sedang memanipulasi psikologi dan biologis massa demi keuntungan sepihak.”
Keesokan paginya, badai hujatan menggantikan pujian. Akun-akun yang dulu memuja kini berbalik mengutuk. Lapak Pak Tirto sepi total. Tidak ada lagi lampu ring light, tidak ada lagi mobil mewah. Yang tersisa hanyalah aparat dinas kesehatan dan kepolisian yang datang membawa surat penyegelan resmi.
Pak Tirto tidak melawan saat petugas membongkar gerobaknya. Dia hanya berdiri di pojok gang, memperhatikan kukusan bambunya dilempar ke atas bak truk. Para blogger memotret momen kejatuhannya dari kejauhan dengan narasi baru: Karma Instan Pedagang Serakah.
Sore itu, hujan turun membasahi gang pecinan. Pak Tirto berjalan pelan membelah gerimis, meninggalkan tempatnya mencari nafkah tanpa membawa apa-apa selain pakaian di badan dan sepasang sumpit bambu di kantong celana.
TAMAT
------------------------------