Sejak awal semester, Nara selalu duduk di kursi nomor 17.
Bukan karena dia suka tempat itu.
Bukan juga karena kursinya nyaman.
Tapi karena wali kelasnya berkata, "Nara, kamu duduk di sana aja."
Dan Nara tidak pernah mempertanyakan alasannya.
Sampai suatu pagi, ia menemukan secarik kertas di dalam laci meja.
Tulisan di atasnya hanya satu kalimat.
Jangan duduk di kursi ini besok.
Nara mengerutkan kening.
"Apaan, sih?"
Ia melihat sekeliling kelas.
Teman-temannya sibuk sendiri. Tidak ada yang memperhatikannya.
Nara meremas kertas itu dan membuangnya.
Paling cuma ulah anak iseng.
Namun keesokan harinya, sesuatu yang aneh terjadi.
Saat Nara masuk kelas, kursi nomor 17 sudah ditempati seseorang.
Seorang siswi perempuan.
Rambutnya panjang, wajahnya pucat, dan seragamnya terlihat seperti seragam sekolah mereka.
Nara berhenti di depan pintu.
"Maaf..."
Siswi itu perlahan mengangkat kepala.
"Nara?"
Nara terdiam.
"Kamu kenal aku?"
Siswi itu tersenyum.
"Aku sudah menunggumu."
---
Nama siswi itu ternyata Keira.
Anehnya, tidak ada seorang pun di kelas yang mengenalnya.
"Nggak ada murid namanya Keira," kata Dito, sahabat Nara.
"Tapi aku lihat dia duduk di kursiku."
Dito tertawa.
"Jangan bercanda."
"Aku serius!"
Nara menunjuk kursi nomor 17.
Kosong.
Tidak ada siapa-siapa.
Bahkan tas Keira pun tidak ada.
Nara mulai merasa tidak nyaman.
Sepulang sekolah, ia bertanya kepada wali kelas.
"Bu, sebelumnya pernah ada murid bernama Keira?"
Wajah gurunya langsung berubah.
Hening beberapa detik.
"Kenapa kamu bertanya tentang nama itu?"
"Nggak tahu, Bu. Saya cuma..."
"Jangan pernah menyebut nama itu lagi."
Nara semakin bingung.
"Kenapa?"
Guru itu tidak menjawab.
---
Malamnya, Nara menerima pesan dari nomor tidak dikenal.
Kamu sudah menemukan aku.
Nara langsung membalas.
Siapa?
Pesan berikutnya muncul.
Keira.
Jantung Nara berdegup kencang.
Kamu siapa sebenarnya?
Lama tidak ada balasan.
Kemudian sebuah foto dikirim.
Foto kelas mereka.
Foto lama.
Di sana terlihat seluruh siswa sedang berdiri di depan papan tulis.
Nara memperbesar foto itu.
Ada sesuatu yang membuat darahnya terasa dingin.
Di barisan paling belakang berdiri seorang siswi.
Keira.
Tapi yang lebih aneh...
foto itu bertanggal lima tahun lalu.
Dan di bawah foto tertulis:
Kelas XI IPA 2 — 2021
Nara menatap layar ponselnya.
"Mustahil..."
---
Keesokan harinya, Nara kembali ke sekolah lebih pagi.
Ia langsung menuju ruang arsip.
Setelah mencari cukup lama, ia menemukan sebuah album foto lama.
Tangannya gemetar ketika membuka halaman terakhir.
Di sana ada foto Keira.
Di bawah fotonya tertulis:
Keira Anindya — XI IPA 2.
Nara membaca tulisan kecil di bawahnya.
Meninggal dunia pada 17 Agustus 2021.
Nara menjatuhkan album itu.
"Kursi nomor 17..."
Tanggal kematian Keira.
Nomor kursinya.
Semuanya terhubung.
Tiba-tiba terdengar suara dari belakang.
"Jadi kamu sudah tahu."
Nara perlahan menoleh.
Keira berdiri di sana.
"Nggak mungkin..."
Keira tersenyum.
"Aku bukan datang untuk menakutimu."
"Lalu untuk apa?"
Keira menunjuk album di tangan Nara.
"Aku ingin kamu menemukan kebenaran."
"Kebenaran apa?"
Keira menatapnya dalam-dalam.
"Kenapa aku meninggal."
---
Sejak hari itu, Nara mulai mencari tahu tentang Keira.
Ia menemukan bahwa lima tahun lalu, Keira dikenal sebagai siswi berprestasi.
Tapi beberapa hari sebelum meninggal, Keira dituduh mencuri uang sekolah.
Semua orang menjauhinya.
Tidak ada yang percaya penjelasannya.
Dan setelah kejadian itu, Keira tidak pernah masuk sekolah lagi.
Nara merasa ada yang tidak beres.
Ia akhirnya menemukan rekaman kamera sekolah lama.
Dalam rekaman itu terlihat seseorang masuk ke ruang guru pada malam sebelum uang tersebut hilang.
Nara memperbesar gambar.
Orang itu adalah...
wali kelasnya sekarang.
Nara terdiam.
"Bu...?"
Tiba-tiba lampu ruang arsip mati.
Pintu terkunci.
Suara langkah kaki terdengar dari luar.
"Nara."
Suara wali kelasnya.
"Jangan teruskan."
Nara mundur.
"Jadi Ibu yang mengambil uang itu?"
Tidak ada jawaban.
Kemudian suara Keira terdengar dari sudut ruangan.
"Bukan dia."
Nara menoleh.
Keira berdiri di belakangnya.
"Yang mengambil uang itu adalah orang yang paling kamu percaya."
Nara membeku.
Ponselnya bergetar.
Sebuah pesan masuk.
Dari Dito.
Nara, jangan percaya siapa pun.
Nara menatap layar.
Lalu membaca pesan berikutnya.
Termasuk aku.
Nara perlahan mengangkat wajah.
Keira sudah menghilang.
Dan dari luar pintu, terdengar suara Dito.
"Nara... buka pintunya."
Untuk pertama kalinya, Nara sadar bahwa selama ini ia mungkin mencari jawaban yang salah.
Karena misteri terbesar bukanlah...
siapa yang membuat Keira menghilang.
Melainkan...
kenapa Keira memilih Nara untuk menemukan kebenaran itu.