Malam jatuh dengan bobot yang tak biasa di galeri tua kawasan Menteng itu. Angin Agustus membawa aroma tanah basah dan samar-samar wangi melati yang layu. Di tengah ruangan bertengger sebuah kanvas berukuran 113 cm x 76 cm, tersinari remang lampu pijar yang berkedip pelan.
Lady With Kebaya.
Karya maestro Basuki Abdullah dari tahun 1959 itu memancarkan aura magis yang sukar dijelaskan. Sepintas, sosok wanita di atas kanvas itu memikat siapa saja: berbalut kebaya ungu yang guratannya tampak hidup, selendang merah menyala seperti getah darah, serta kalung emas yang melilit leher jenjangnya. Rambut hitamnya disanggul tradisional dengan rapi. Tatapan matanya lembut namun menyimpan rahasia kelam yang tak mampu dibaca zaman.
Siapa pun yang tahu sejarah pasti mengenal cerita di balik lukisan itu. Kartini Manoppo, pramugari Garuda Indonesia keturunan ningrat Kerajaan Bolaang Mongondow, putri dari Anthon Manoppo, adalah model asli lukisan tersebut. Dulu, Bung Karno jatuh hati seketika setelah menatap kanvas ini. Cinta rahasia mekar di udara, membawa Kartini masuk ke dalam pesawat kepresidenan Dolok Martimbang, mendampingi Sang Putra Fajar dalam setiap perjalanan, hingga pernikahan siri digelar pada 1959. Ketika badai politik menyapu tanah air, Kartini dilarikan ke Jerman dan melahirkan Totok Suryawan Soekarnoputra di Nurnberg pada tahun 1967.
Namun, dunia hanya tahu bagian romantisnya. Tak ada yang tahu apa yang dikorbankan Basuki Abdullah demi merogoh jiwa Kartini ke dalam cat minyak beraliran realisme tersebut.
---
Dimas, seorang kurator seni muda yang dipercaya merawat koleksi pribadi milik seorang kolektor misterius, berdiri terlalu dekat dengan kanvas. Napasnya terengah. Sudah seminggu ia tinggal di galeri ini sendirian, dan sejak hari pertama, lukisan Lady With Kebaya seolah terus mengawasinya.
"Engkau sungguh luar biasa..." bisik Dimas mengutip ucapan legendaris sang Presiden saat pertama kali melihat Kartini. Namun suara Dimas bergetar, bukan karena kagum, melainkan ketakutan yang mencekam.
Malam semakin larut. Detak jarum jam dinding berbunyi nyaring layaknya dentang kematian.
Sesuatu yang mengerikan mulai terjadi pada lukisan itu.
Di bawah cahaya remang, guratan cat minyak pada selendang merah itu perlahan basah. Warnanya memekat, mengental, lalu menetes ke lantai kayu dengan bunyi lembut yang bikin kuduk berdiri: Tuk... tuk... tuk...
Dimas mundur setapak. Matanya membelalak. Darah segar meleleh dari selendang merah di atas kanvas.
Tak berhenti di situ, leher jenjang sang wanita—tempat kalung emas bertengger—mulai memudar. Garis lehernya bergetar liar seolah otot-otot di bawah kulit minyak itu mendadak bernapas. Bibir berpoleskan warna merah muda yang semula tersenyum anggun dalam lukisan itu perlahan tertarik ke bawah, membentuk seringai yang ganjil dan mengerikan.
Hssshhh...
Bisikan halus bergema dari balik kanvas, memantul di dinding galeri yang sepi. Suara wanita, bergema dalam bahasa daerah kuno yang dingin dan menggeletar.
"Dia meninggalkanku di Nurnberg... Dia memenjarakan jiwaku di sini..."
Dimas hendak berlari, tetapi kakinya mendadak seperti tertancap ke lantai. Bola mata wanita dalam lukisan itu bergerak! Pupil hitamnya berputar lambat, mengunci pandangan Dimas. Tatapan yang dahulu memikat sang Bung Besar kini memancarkan keputusasaan dan kegelapan dahsyat yang terakumulasi selama puluhan tahun.
Lukisan itu bukan sekadar karya seni. Basuki Abdullah, tanpa sengaja atau mungkin terikat perjanjian mistis, telah mengikat sebagian pendar jiwa dan nasib kelam ke dalam kanvas tersebut. Sanggul tradisionalnya terurai sedikit demi sedikit dalam ilusi pandangan Dimas, meliuk-liuk bagai helai-helai ular hitam.
Aroma melati yang semula samar kini berubah menjadi bau busuk bangkai dan amis darah yang menyengat. Lelehan darah dari selendang merah makin membanjiri bagian bawah bingkai kayu ukir, merembas ke lantai dan perlahan menjangkau ujung sepatu Dimas.
"Totok... anakku..." bisikan itu kini berubah menjadi jeritan melengking yang memecah kesunyian malam.
Suara kepakan sayap burung malam memecah kaca jendela atas. Angin dingin berhembus kencang membanting pintu-pintu galeri. Dalam kegelapan yang mencekam, sosok wanita berkebaya ungu itu perlahan membusungkan dadanya keluar dari kanvas. Tangan berjemari lentik dengan kuku-kuku panjang berwarna kehitaman mencengkeram tepi bingkai kayu, seolah hendak melangkah keluar menjangkau dunia nyata.
Dimas menjerit histeris. Ia meraba-raba meja kerja di sampingnya, meraih minyak tanah dan korek api yang biasa digunakan untuk membersihkan bingkai kayu tua.
"Kau bukan manusia lagi! Kau cuma kutukan!" teriak Dimas dengan suara serak.
Dengan sisa keberaniannya, Dimas menyiramkan minyak tanah ke arah kanvas dan menyalakan pemantik. Api memercik dan menyambar cepat. Kobaran api ungu kecokelatan melahap kanvas berukuran 113 cm x 76 cm itu.
Dalam lautan api, jeritan wanita bergema merindingkan bulu kuduk. Sosok berkebaya ungu itu terlihat menggeliat kesakitan di dalam kobaran, sebelum akhirnya kanvas meluruh menjadi abu hitam yang menghitamkan lantai galeri.
Bau hangus dan darah memenuhi ruangan. Dimas jatuh terduduk di lantai, napasnya tersengal-sengal, bersyukur karena teror tersebut telah berakhir.
Namun, saat ia perlahan mengangkat wajahnya menatap dinding yang kini kosong dan gosong, matanya tertuju pada bayangannya sendiri di kaca jendela galeri.
Di balik bayangan tubuhnya yang gemetar, berdiri sosok wanita anggun berbalut kebaya ungu dan selendang merah, tersenyum dingin tepat di belakang pundaknya. Bisikan lembut kembali terdengar tepat di samping telinganya:
"Terima kasih telah membebaskanku dari kanvas... Sekarang, tempat pembaruan jiwaku adalah ragamu."