Hujan mengguyur pelataran Rumah Sakit Jiwa Dr. H. Marzoeki Mahdi Kota Bogor malam itu. Di sebuah bangku kayu bercat putih yang sudah terkelupas, Paramitha Sandrina Putri duduk membisu. Gaun katun kusam bermotif bunga-bunga kecokelatan melilit tubuhnya yang kurus. Jemarinya yang kasar dan bergaris-garis hitam bergerak perlahan, meraba punggung tangannya sendiri. Di sana, garis luka jahitan lama bercampur dengan sengatan dingin embun malam.
Perempuan itu baru saja menyelesaikan sesi konsultasi rutin di Poli Jiwa. Lima tahun. Lima tahun lamanya ia menyusuri lorong berbau karbol itu setiap dua minggu sekali, berteman dengan puluhan pil kuning, putih, dan merah muda yang menjadi penyangga tunggal jiwanya agar tidak sepenuhnya runtuh.
Ia merogoh tas kain lusuhnya. Di dalam sana, terdapat lembar surat putusan perceraian dari Pengadilan Agama yang baru saja diterimanya siang tadi. Tidak ada hak asuh anak. Tidak ada harta gono-gini. Tidak ada tuntutan nafkah mut'ah maupun iddah. Kosong. Paramitha memilih keluar dari sebuah penjara panjang bernama pernikahan dengan tangan hampa.
Ia hanya ingin bernapas. Hanya itu.
Memori Paramitha melayang ke belasan tahun yang lalu, saat ia pertama kali melangkah masuk ke rumah keluarga suaminya, Julio Chairawan—seorang pria yang dahulu ia sangka adalah pelindung hidupnya. Namun sejak awal, keluarga Julio tak pernah menerimanya. Bagi ibu mertua dan saudara-saudara kandung Yulia, Paramitha hanyalah perempuan dari keluarga biasa yang dianggap menumpang hidup dan tidak membawa kemewahan.
Tiga belas tahun usia pernikahan itu diwarnai oleh jejak-jejak ketabahan fisik yang luar biasa. Paramitha telah melewati lima kali kehamilan yang menguras seluruh isi tubuhnya.
Kehamilan pertama lahir seorang putra tampan secara normal. Rasa sakit berjam-jam di ruang bersalin terbayar ketika tangis bayi itu pecah. Kehamilan kedua, seorang putri cantik lahir kembali lewat perjuangan persalinan normal yang menguras air mata. Kehamilan ketiga, anak laki-laki kembali hadir secara normal di tengah kondisi ekonomi yang mulai goyah.
Namun kehamilan keempat menjadi pukulan takdir pertama yang meremukkan hatinya. Janin yang dikandungnya gugur di usia lima bulan. Paramitha mengalami keguguran hebat, berbaring di atas kepingan duka sementara keluarga mertuanya hanya mencibir, menganggapnya wanita lemah yang tidak bisa menjaga kandungan.
Belum sembuh trauma dan kelelahan fisiknya, kehamilan kelima hadir. Kali ini, posisi janin sungsang dan plasenta previa mengharuskannya menjalani operasi cesar di bawah ancaman pendarahan hebat. Perutnya dibelah, meninggalkan jahitan panjang di bawah pusarnya. Empat kali melahirkan secara normal dan satu kali melewati meja operasi yang mengerikan telah mengubah tubuh Paramitha menjadi retakan-retakan fisik yang menanggung kelelahan luar biasa.
Namun, pengorbanan tubuh itu sama sekali tak berharga di mata keluarga suaminya. Bagi mereka, Paramitha hanyalah beban. Setiap kali berkumpul di hari raya atau acara keluarga, cemoohan selalu diarahkan padanya.
"Punya anak banyak tapi suami tidak ada simpanan," umpat ibu mertuanya suatu kali di hadapan kerabat lain. "Paramitha ini hanya tahu melahirkan, tapi tidak tahu cara membawa rezeki."
Paramitha hanya menunduk. Ia menyimpan seluruh rasa sakit itu di balik selapis senyum yang kian hari kian memudar.
Penderitaan Paramitha mencapai puncaknya ketika tabir kegelapan Julio terkuak sepenuhnya. Julio bukanlah pria yang gigih bertanggung jawab. Di balik perawakannya yang tenang, ia adalah seorang pecandu judi—mulai dari sabung ayam, kartu, hingga judi daring yang menggerogoti setiap rupiah dari keluarga kecil mereka.
Ketika Julio tak lagi memiliki uang dan tabungan keluarga terkuras habis, ancaman kelaparan membayangi empat anak mereka yang masih kecil. Biaya sekolah menunggak berbulan-bulan, beras di gentong habis, dan panggilan dari pihak sekolah anak-anak kerap membuat dada Paramitha sesak.
Dalam kehampaan itu, Paramitha mengambil alih kemudi kapal yang hampir tenggelam. Tanpa bantuan dari keluarga Julio yang sengaja memalingkan muka, Paramitha mulai bekerja apa saja.
Subuh belum pecah ketika Paramitha sudah mengaduk adonan kue basah untuk dititipkan di pasar. Siang harinya, ia berjalan kaki dari rumah ke rumah untuk mencuci pakaian orang, menyetrika bertumpuk-tumpuk baju hingga telapak tangannya menebal dan mengelupas. Malam harinya, saat anak-anaknya tertidur, ia menjahit seragam tetangga yang robek di bawah temaram lampu bolam 15 watt.
Dari peluh yang menetes di keningnya, beras bisa dibeli. Dari jemarinya yang lecet dan pegal, uang SPP anak-anaknya bisa terlunasi. Paramitha bertarung mati-matian agar anak-anaknya tidak kehilangan masa depan, meskipun tubuhnya sendiri semakin kurus dan matanya kian cekung.
Namun, kejamnya takdir kembali menghantam. Setiap kali Paramitha berhasil menyisihkan tabungan sedikit demi sedikit—uang yang ia sembunyikan di bawah lipatan baju atau bawah kasur untuk biaya pendidikan anak-anak—Julio selalu menemukannya.
"Uang ini untuk modal bisnis, Mitha! Jangan pelit!" gertak Julio suatu malam ketika Paramitha memohon sambil berlutut agar uang sekolah putra sulung mereka tidak diambil.
"Itu uang untuk bayar ujian, Mas! Aku mencuci pakaian orang seminggu penuh untuk uang itu!" jerit Paramitha dengan suara serak.
Julio tidak peduli. Ia mendorong Paramitha hingga terbentur sudut lemari, lalu pergi membawa seluruh uang itu. Besok harinya, uang itu habis tanpa sisa di meja judi. Tabungan yang dikumpulkan dengan cucuran keringat dan air mata sirnah dalam hitungan jam.
Kejadian itu berulang bertahun-tahun. Kebencian keluarga Julio tidak pernah berkurang, sementara uang hasil kerja keras Paramitha terus dilahap oleh kerakusan judi suaminya.
Hingga akhirnya, benteng pertahanan jiwa Paramitha runtuh.
Suatu pagi, saat ia terbangun untuk menyetrika pakaian, tangannya tiba-tiba berhenti. Ia tidak bisa merasakan jemarinya. Telinganya mulai berdenging tajam, menyuarakan bisikan-bisikan asing yang menghakimi dirinya. Dada Paramitha terasa dihantam batu besar—ia tidak bisa bernapas. Ia mulai menangis tanpa bisa berhenti, tertawa hysteria, lalu mengurung diri di kamar gelap selama berhari-hari tanpa menyentuh makanan.
Keluarga Julio bukannya iba, justru semakin mencelanya. "Lihat itu, istrimu sudah gila! Hanya mempermalukan keluarga!" ujar kakak perempuan Julio tanpa rasa iba.
Atas bantuan seorang tetangga yang merasa iba, Paramitha akhirnya dibawa ke instalasi gawat darurat dan dirujuk ke Poliklinik Jiwa. Di sanalah, dokter mengonfirmasi bahwa jiwa Paramitha telah pecah di bawah beban depresi berat dan trauma berkepanjangan.
Sejak hari itu, Paramitha resmi menjadi pasien Poli Jiwa. Lima tahun lamanya ia hidup dalam bayang-bayang terapi, minum obat secara teratur agar bisikan ketakutan dan rasa cemas berlebih tidak menghancurkan sisa-sisa kesadarannya. Obat-obatan itu membuatnya sering mengantuk dan gemetaran, namun itulah satu-satunya pegangan agar ia tetap bisa berdiri tegak demi anak-anaknya.
Hari ini, semuanya telah usai.
Paramitha memegang lembaran kertas perceraian itu erat-erat. Di hadapan hakim beberapa minggu lalu, keluarga Yulia menghadirkan tuduhan bahwa Paramitha adalah seorang ibu yang tidak stabil secara mental karena menjadi pasien jiwa. Hak asuh anak jatuh ke tangan keluarga Julio. Harta tidak ada yang tersisa karena semuanya telah ludes diperjudikan.
Saat hakim bertanya apakah Paramitha ingin mengajukan tuntutan balik atau meminta hak atas rumah kusam yang mereka tinggali, Paramitha hanya menggelengkan kepala dengan pelan.
"Saya tidak menuntut apa-apa, Ibu Hakim," ucap Paramitha dengan suara pelan namun sangat jernih. Tangannya gemetar di atas pangkuan. "Saya tidak minta uang, saya tidak minta harta. Ambil semuanya... Saya hanya ingin berpisah. Saya hanya ingin melanjutkan hidup. Saya hanya ingin bernapas..."
Ruang sidang hening seketika. Tak ada derai air mata yang berlebihan dari Paramitha saat itu, hanya sebuah kepasrahan mendalam dari seorang wanita yang telah menyerahkan seluruh isi hidupnya hingga tak tersisa apa-apa lagi untuk dihancurkan.
Hujan mulai mereda menjadi gerimis tipis. Paramitha bangkit dari bangku rumah sakit jiwa itu. Ia memasukkan lembaran kertas perceraian dan botol obatnya ke dalam tas kain kusamnya.
Ia melangkah keluar dari gerbang rumah sakit menuju jalan raya yang remang-remang. Tubuhnya memang lelah, retakan bekas lima kali kehamilan dan operasi di perutnya masih sering terasa ngilu saat udara dingin menusuk. Jiwanya memang terluka dan harus terus dibantu oleh pil-pil medis.
Namun malam ini, untuk pertama kalinya dalam tiga belas tahun, Paramitha menghirup udara malam dalam-dalam. Dadanya yang dahulu sesak oleh amarah, penghinaan, dan kekecewaan, kini terasa sedikit lebih lapang.
Ia berjalan menembus malam, sendirian, tanpa harta, tanpa pendamping, dan dengan luka yang belum sepenuhnya sembuh. Namun di balik kegelapan itu, Paramitha Sandrina Putri tahu—ia masih hidup. Dan mulai malam ini, ia akan belajar cara bernapas kembali.