Pukul 23.47, Aksa masih menatap sebuah pesan yang belum ia kirim.
Pesan itu sudah ditulis sejak pukul 22.15.
Hanya terdiri dari empat kata.
Aku sebenarnya tidak apa-apa.
Ironisnya, Aksa tahu kalimat itu adalah kebohongan.
Ia menghapusnya.
Menulis lagi.
Aku capek.
Dihapus.
Aku butuh teman.
Dihapus lagi.
Aksa melempar ponselnya ke kasur. Ia berbaring sambil menatap langit-langit kamar. Kipas angin berputar pelan, menciptakan suara yang entah kenapa malam itu terdengar sangat keras.
Besok adalah hari ulang tahunnya yang ke-21.
Di media sosial, orang-orang seusianya terlihat sibuk merayakan banyak hal. Kelulusan. Pekerjaan baru. Pertunangan. Bisnis yang berkembang. Liburan ke luar kota.
Aksa bahkan melihat seorang teman lama mengunggah foto kunci mobil baru.
Sementara pencapaian terbesar Aksa minggu itu adalah berhasil bangun sebelum pukul sepuluh pagi.
Ia tertawa kecil memikirkan hal itu.
Lalu tertawanya berhenti.
Sudah tiga bulan sejak ia berhenti kuliah.
Tidak ada yang tahu alasan sebenarnya selain keluarganya.
Teman-temannya hanya tahu Aksa sedang “cuti”.
Kata itu terdengar lebih baik.
Lebih aman.
Lebih mudah dijelaskan.
Padahal, Aksa sendiri tidak yakin apakah ia akan kembali.
---
Semua bermula pada hari Senin.
Senin selalu terasa seperti musuh bagi Aksa.
Pagi itu, ia membuka grup kampus dan menemukan puluhan pesan tentang tugas, presentasi, organisasi, dan rencana masa depan.
Salah satu temannya menulis:
Guys, habis lulus aku mau coba kerja di Jakarta. Target umur 25 udah punya rumah.
Pesan itu mendapat banyak emoji api.
Aksa membaca sambil duduk diam.
Ia bahkan belum tahu apa yang akan dilakukan minggu depan.
Saat itulah ia menyadari sesuatu yang menakutkan.
Ia tidak malas.
Ia hanya lelah.
Lelah berpura-pura punya tujuan.
Lelah menjawab pertanyaan, “Setelah ini mau apa?”
Lelah mendengar orang berkata, “Kamu kan potensial.”
Potensial.
Kata yang terdengar seperti pujian, tetapi sering terasa seperti beban.
Karena jika seseorang percaya kau punya potensi, bagaimana kalau suatu hari kau gagal menjadi apa yang mereka harapkan?
Hari itu, Aksa tidak masuk kelas.
Besoknya juga.
Seminggu kemudian, ia mengajukan cuti.
Dan setelah itu, hidupnya menjadi sunyi.
---
Pukul 00.01.
Sebuah notifikasi masuk.
Selamat ulang tahun, Ksaaa!
Pesan pertama datang dari Beni, sahabatnya sejak SMA.
Kemudian pesan lain menyusul.
Ucapan selamat.
Stiker.
Foto-foto lama.
Tag di Instagram.
Aksa tersenyum melihat semuanya.
Namun di antara puluhan notifikasi itu, ada satu pesan yang membuatnya berhenti.
Dari seseorang bernama Lira.
Teman sekelasnya dulu.
Selamat ulang tahun. Kamu masih hidup?
Aksa tertawa.
Ia membalas.
Masih. Kenapa?
Balasan Lira datang cepat.
Kamu hilang dari grup.
Aku lagi mode hemat sosial.
Oh. Aku kira kamu pindah planet.
Aksa mengetik beberapa kata, lalu berhenti.
Lira kembali mengirim pesan.
Serius. Kamu baik-baik aja?
Pertanyaan itu sederhana.
Tapi entah kenapa, Aksa tidak bisa langsung menjawab.
Selama tiga bulan terakhir, banyak orang menanyakan hal yang sama.
Dan jawabannya selalu sama.
Baik.
Kali ini, jarinya menggantung di atas layar.
Lalu ia mengetik.
Nggak tahu.
Titik tiga muncul.
Lira sedang mengetik.
Aksa hampir menyesal sudah menjawab jujur.
Kemudian pesan masuk.
Aku juga.
Aksa mengernyit.
Kamu kenapa?
Lira tidak langsung menjawab.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Kemudian sebuah pesan panjang muncul.
Aku keterima magang di tempat yang aku mau. Semua orang bilang aku harus senang. Tapi aku takut. Aku ngerasa nggak sepintar orang-orang di sana. Kadang aku berharap gagal aja biar nggak perlu membuktikan apa-apa. Jahat ya pikiranku?
Aksa membaca pesan itu dua kali.
Kemudian tiga kali.
Aneh.
Selama ini ia selalu mengira Lira adalah tipe orang yang hidupnya sudah teratur. Nilainya bagus. Aktif di organisasi. Sering menang lomba.
Ternyata orang yang terlihat paling siap pun bisa takut melangkah.
Nggak jahat, balas Aksa.
Kita mungkin cuma sama-sama capek.
Malam itu, mereka berbicara sampai pukul tiga pagi.
Tentang hal-hal yang tidak pernah mereka ceritakan saat bertemu.
Tentang ketakutan.
Tentang keluarga.
Tentang ekspektasi.
Tentang media sosial.
Tentang perasaan menjadi orang dewasa yang ternyata tidak semudah bayangan masa kecil.
“Dulu aku pengin cepat gede,” tulis Lira.
“Sekarang?”
“Bisa refund nggak?”
Aksa tertawa sendiri.
Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa napasnya lebih ringan.
---
Keesokan harinya, Aksa melakukan sesuatu yang sudah lama tidak ia lakukan.
Ia keluar rumah.
Tanpa tujuan.
Tanpa membuat konten.
Tanpa mengunggah lokasi.
Ia hanya berjalan.
Di sebuah taman kecil dekat rumahnya, Aksa duduk di bangku kosong.
Di sana, ia melihat seorang anak kecil berlari sambil membawa pesawat kertas.
Anak itu jatuh.
Menangis sebentar.
Lalu bangkit lagi.
Kemudian berlari.
Aksa memperhatikannya cukup lama.
Anak kecil itu tidak berhenti hanya karena jatuh.
Ia juga tidak memikirkan apakah orang lain berlari lebih cepat.
Ia hanya ingin pesawat kertasnya terbang.
Sesederhana itu.
Ponsel Aksa bergetar.
Pesan dari Lira.
Hari ini aku mau ngopi sendiri. Biar berani keluar dari kamar.
Aksa membalas.
Aku lagi di taman.
Ngapain?
Aksa berpikir.
Nggak tahu. Lagi hidup aja.
Lira mengirim emoji tertawa.
Namun setelah itu, Aksa memikirkan kalimatnya sendiri.
Lagi hidup aja.
Mungkin selama ini ia terlalu sibuk mencari alasan untuk hidup.
Padahal hidup tidak selalu membutuhkan penjelasan besar.
Tidak setiap hari harus produktif.
Tidak setiap langkah harus menghasilkan sesuatu.
Tidak setiap usia harus memiliki pencapaian tertentu.
---
Seminggu kemudian, Lira mengajak Aksa membuat sebuah proyek.
“Apa?” tanya Aksa melalui panggilan telepon.
“Buka ruang cerita.”
“Kayak konseling?”
“Bukan. Lebih kayak akun anonim.”
“Buat apa?”
“Biar orang bisa kirim pesan tentang hal-hal yang nggak bisa mereka ceritain ke siapa-siapa.”
Aksa diam.
“Nama akunnya apa?”
Lira berpikir.
“Jeda Sebelum Kirim.”
Aksa tersenyum.
Nama itu terasa tepat.
Mereka membuat akun sederhana.
Tidak memakai nama asli.
Tidak menunjukkan wajah.
Mereka hanya menulis sebuah unggahan pertama.
Ada hal yang ingin kamu katakan, tapi tidak tahu harus mengirimnya kepada siapa? Tulis di sini.
Awalnya, hanya ada dua pesan.
Kemudian lima.
Lalu puluhan.
Sebagian pendek.
Aku kangen rumah.
Aku takut gagal.
Aku iri sama temanku.
Aku pengin berhenti sebentar.
Sebagian lain sangat panjang.
Ada mahasiswa yang bingung memilih antara passion dan keinginan orang tua.
Ada pekerja muda yang merasa salah jurusan hidup.
Ada seseorang yang baru putus cinta tetapi tetap harus terlihat baik-baik saja di kantor.
Aksa dan Lira membaca semuanya.
Mereka tidak memberikan nasihat kepada semua orang.
Kadang mereka hanya membalas:
Kami dengar.
Anehnya, dua kata itu sering kali cukup.
---
Tiga bulan berlalu.
Suatu malam, Aksa kembali membuka grup kampus.
Jantungnya berdebar.
Nama kampus itu masih membuatnya gugup.
Ia membaca percakapan teman-temannya.
Mereka masih sibuk.
Masih mengejar banyak hal.
Beberapa sudah mendapatkan pekerjaan.
Beberapa sedang menyusun skripsi.
Aksa merasa familiar dengan rasa takut yang dulu datang setiap kali membuka grup itu.
Namun malam ini berbeda.
Ia tidak lagi merasa harus mengejar semuanya.
Aksa membuka formulir pendaftaran kuliah.
Ia belum yakin ingin kembali ke jurusan yang sama.
Ia belum yakin dengan masa depannya.
Tetapi kali ini, ketidaktahuan itu tidak terasa seperti jurang.
Lebih seperti jalan berkabut.
Ia tidak bisa melihat ujungnya.
Namun setidaknya, ia bisa melihat satu langkah di depan.
Dan satu langkah, ternyata cukup untuk mulai berjalan.
---
Pukul 23.47.
Tepat setahun setelah malam ketika Aksa menatap pesan yang tidak pernah ia kirim.
Ia kembali membuka percakapan lama dengan Lira.
Pesan pertama mereka masih ada.
Kamu baik-baik aja?
Aksa tersenyum.
Kemudian ia menulis pesan baru.
Aku masih belum tahu mau jadi apa.
Lira membalas cepat.
Bagus. Berarti kamu masih punya banyak pilihan.
Aksa mengetik lagi.
Dulu aku takut banget sama masa depan.
Sekarang?
Aksa melihat keluar jendela.
Malam tampak sama seperti setahun lalu.
Namun dirinya tidak.
Ia mengetik:
Sekarang aku masih takut. Tapi kayaknya takut bukan alasan buat berhenti.
Beberapa detik kemudian, Lira membalas:
Wah, dewasa banget. Siapa yang ngajarin?
Kamu.
Salah. Aku masih sering nangis gara-gara hidup.
Berarti kita berdua belum lulus jadi dewasa.
Emang ada wisudanya?
Aksa tertawa.
Ia meletakkan ponselnya.
Di meja, ada beberapa formulir pendaftaran.
Ada buku catatan.
Ada secangkir teh yang sudah dingin.
Hidupnya masih belum sempurna.
Masih ada hari-hari ketika ia malas bangun.
Masih ada saat ia membandingkan dirinya dengan orang lain.
Masih ada ketakutan yang belum selesai.
Tapi kini Aksa mengerti.
Menjadi dewasa bukan berarti suatu hari semua jawaban datang sekaligus.
Mungkin menjadi dewasa adalah belajar hidup berdampingan dengan pertanyaan.
Belajar berjalan tanpa selalu tahu tujuan.
Belajar mengatakan “aku tidak baik-baik saja” tanpa merasa kalah.
Belajar menerima bahwa berhenti bukan selalu berarti menyerah.
Dan memulai lagi tidak selalu berarti terlambat.
Ponselnya kembali berbunyi.
Sebuah pesan anonim masuk ke akun mereka.
Aku takut semua orang sudah jauh, sementara aku masih di tempat yang sama.
Aksa membaca pesan itu lama.
Lalu ia mengetik balasan.
Mungkin kamu tidak diam di tempat. Mungkin langkahmu hanya tidak terlihat oleh orang lain.
Ia berhenti sejenak sebelum menekan tombol kirim.
Dulu, Aksa selalu takut mengirim pesan yang jujur.
Takut tidak dimengerti.
Takut dianggap lemah.
Takut jawabannya tidak datang.
Kini ia tahu, kadang-kadang kita memang membutuhkan jeda sebelum mengirim.
Bukan untuk menghapus kejujuran.
Melainkan untuk memberanikan diri.
Aksa menekan tombol Kirim.
Dan di luar sana, entah di kamar mana, seseorang mungkin sedang menatap layar ponsel.
Mungkin seseorang itu sedang merasa sendirian.
Mungkin seseorang itu sedang ragu untuk melangkah.
Mungkin seseorang itu sedang menulis pesan yang belum berani dikirim.
Aksa berharap, setidaknya malam itu, orang tersebut tahu satu hal.
Tidak apa-apa jika belum sampai.
Tidak apa-apa jika masih mencari.
Tidak apa-apa jika harus berhenti sebentar.
Karena hidup bukan perlombaan untuk siapa yang paling cepat tiba.
Kadang, yang paling berani justru bukan orang yang terus berlari.
Melainkan orang yang mau mengakui bahwa ia lelah, mengambil napas, lalu berkata pada dirinya sendiri:
Aku belum selesai. Aku hanya sedang jeda.