Panggung itu berdiri megah diujung balai acara, diselimuti nuansa biru dan dihiasi bunga-bunga yang tersusun rapi. Deretan kursi memenuhi ruangan, menghadap ke panggung dengan karpet merah yang membentang di tengah-tengahnya.
"Juara 2 Jurusan Desain komunikasi visual diraih oleh.."
Dadaku seketika sesak, aku menahan napas.
"Nara Aisyah Ramadhani"
Namaku.
Untuk beberapa detik aku hanya terpaku. Jantungku berdebar begitu keras, wajahku terasa pucat, dan tanganku mulai gemetar.
Benarkah namaku yang baru saja disebut?
Atau aku hanya sedang bermimpi?
Aku berdiri.
Kakiku terasa berat ketika mulai melangkah menuju panggung. Lampu perlahan mengarah kepadaku. Dalam sekejap, seluruh tatapan di ruangan itu terasa berpindah kepadaku.
Aku ingin tersenyum, aku memang harus bahagia. Namun Ketika kakiku menyentuh karpet merah, sesuatu didalam diriku justru bergetar.
Karpet itu membawaku maju.
Satu langkah.
Lalu satu langkah lagi.
Dan anehnya, setiap langkah justru membawaku semakin jauh ke masa lalu.
Langkah pertama.
Emam tahun yang lalu.
Aku masih bisa mengingat bagaimana orang-orang memandangku ketika aku mengatakan bahwa aku ingin masuk pesantren. Bukan tatapan bangga. Bukan pula tatapan percaya. Tatapan mereka seperti mengatakan bahwa aku sedang melakukan sesuatu yang terlalu besar untuk orang sepertiku. Suara-suara itu kembali terdengar di kepalaku.
"Buat apa masuk pesantren, nanti juga kamu kalah sama anak yang sekolah negeri"
"Paling-paling satu Minggu udah minta pulang"
"Emang pinter?"
"Kalau lulus pasti cuma bisa ngaji"
"Sok alim banget"
"Pantes pingin masuk pesantren, keluarganya aja nggak ada yang bener"
"Orang tuanya cuma petani, emang bisa bayar pesantren"
Langkah kedua.
Pesantren.
Tempat yang dulu kukira hanya akan mengajarkanku banyak hal, ternyata juga mengajarkanku bagaimana rasanya menjadi seseorang yang tidak tahu apa-apa. Aku bahkan tidak mengenal huruf Hijaiyah dengan baik. Aku tidak mengerti bagaimana membaca Al-Qur'an. Aku tidak tahu bagaimana harus berpakaian. Tidak tahu bagaimana harus berbicara.
Hal-hal yang bagi orang lain mungkin sederhana, bagiku terasa seperti dinding tinggi yang tidak tahu bagaimana cara ku lewati. Aku sering menunduk ketika yang lain mulai membaca. Aku diam Ketika tidak mengerti. Dan aku tersenyum kecil ketika sebenarnya ingin menangis. Bukan karena mereka selalu jahat. Tapi karena setiap kali aku tidak tahu sesuatu, aku merasa semakin sadar bahwa aku berbeda.
Aku malu.
Sangat malu.
Dan yang paling menyakitkan adalah aku tidak punya tempat untuk mengatakan bahwa aku sedang kesulitan.
Lalu terdengar suara keluargaku.
Suara yang sebenarnya sangat kukenal. Suara yang seharusnya menjadi tempatku pulang.
"Kok nggak dapat juara kak!"
"Nilainya kok merah!"
"Dirumah banyak yang tanya sudah dapat apa?"
"Teman kakak yang dirumah kemarin masuk kelas unggulan katanya"
Aku tahu mereka tidak sedang membenciku.
Aku tahu mereka hanya ingin aku berhasil.
Tapi entah mengapa, setiap pertanyaan itu selalu terasa seperti seseorang sedang menaruh batu satu per satu diatas pundakku.
"Uang yang ibu kirim cukup kan!, kalau nggak cukup puasa aja ya kak, nggak usah jajan dulu"
"Jadi anak yang pinter ya, jangan buat masalah"
"Kalau punya masalah sama anak lain, kamu harus minta maaf dulu ya!"
"Kita orang nggak punya, kakak harus ngerti ya"
Aku selalu menjawab dengan anggukan.
"Iya"
Hanya itu.
Aku tidak pernah mengatakan bahwa aku lelah. Tidak pernah mengatakan bahwa aku takut. Tidak pernah mengatakan bahwa terkadang aku ingin pulang. Karena mereka sudah berjuang untuk mengirimku kesana. Dan aku merasa tidak berhak menambah beban mereka dengan ceritaku.
Langkah berikutnya membawaku pada sesuatu yang lebih sulit untuk kuterima.
Kesenjangan.
Di tempat itu aku mulai memahami bahwa pendidikan tidak selalu hanya tentang siapa yang paling mampu belajar. Kadang, kesempatan juga menentukan siapa yang bisa terlihat.
"Bapak saya juga mau ikut les matematika"
"Emang kamu bisa? Ini hanya untuk anak yang mau ikut olimpiade"
"Bapak saya kemarin ikut olimpiade online dan Alhamdulillah dapat medali perak, pak"
"Emang sekolah suruh kamu ikut"
Aku terdiam.
Bahkan ketika aku mencoba membuktikan bahwa aku mampu, rasanya selalu ada pintu lain yang tertutup didepanku.
"Maaf pak. Boleh daftarkan saya SNBP? kalau nggak gitu SNBT juga nggak apa-apa, pak!"
"Saya sibuk, kamu tanya yang lain aja"
Aku menelan ludah.
Kemudian ada satu hal lagi.
"Maaf Bu, ini kenapa di album memory biodata saya nggak ada ya?"
"Salah cetak kayaknya"
"Apa nggak bisa diperbaiki Bu?"
"Difoto bersama kamu kan ada, ya sudah, itu aja"
Sesederhana itu. Namaku bisa hilang dari sebuah halaman. Dan ternyata, rasanya seperti aku juga tidak pernah benar-benar dianggap ada.
Setiap langkah terasa semakin berat. Dikepalaku terngiang kalimat yang selama ini kudengar:
"Selain donatur dilarang mengatur"
"Yang kaya berkuasa dan yang miskin jadi budaknya"
Aku tidak tahu apakah kalimat itu benar. Namun semakin lama aku menjalaninya, semakin sulit bagiku untuk mengatakan bahwa kalimat itu sepenuhnya salah.
Aku hanya tahu satu hal.
Aku pernah merasa kecil hanya karena keluargaku tidak punya banyak uang.
Dan setiap kali Yai bertanya apa yang terjadi di pesantren, aku kembali melakukan hal yang sama.
Aku hanya diam.
Bukan karena tidak ada yang ingin kukatakan. Justru karena terlalu banyak yang ingin kukatakan.
Aku menapak tangga satu demi satu.
Satu.
Dua.
Tiga.
Tangga itu terasa seperti membawa seluruh kenangan tadi bersamaku.
Lalu sebuah suara kembali terngiang di kepalaku.
Suara Yai.
"JADI SANTRI HARUS SABAR, KUAT, DAN SEMANGAT"
Aku menarik napas panjang.
Mungkin dulu aku tidak benar-benar memahami maksudnya. Sekarang aku mengerti.
Sabar bukan berarti tidak pernah terluka.
Kuat bukan berarti tidak pernah menangis.
Dan semangat bukan berarti tidak pernah ingin menyerah.
Mungkin kuat adalah ketika aku tetap melangkah...
Meskipun berkali-kali aku ingin berhenti.
Aku akhirnya berdiri diatas panggung. Dihadapanku ratusan wajah menatap, aku memandang satu per satu. Lalu mataku berhenti, dibarisan paling belakang, aku melihat mereka.
Ayah.
Ibu.
Kakak.
Keluargaku.
Tangan yang sejak tadi menggenggam piala dan piagam itu perlahan-lahan kuangkat lebih tinggi. Bukan untuk kamera. Bukan untuk tepuk tangan. Aku hanya ingin mereka melihatnya.
Aku ingin mereka tahu bahwa semua uang yang mereka sisihkan, semua doa yang mereka panjatkan, semua nasihat yang dulu terasa begitu berat untuk kudengar...
Tidak pernah sia-sia.
Aku tersenyum.
Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku tidak perlu menjelaskan apapun.
Dalam hati aku berkata,
"AYAH, IBU, KAKAK... DAN SELURUH KELUARGAKU, INILAH HASIL PERJUANGANKU."
Tepuk tangan kembali terdengar.
Aku menggenggam piala itu lebih erat.
Diatur panggung, aku tersenyum.
Namun di dalam hati, aku tahu...
Penghargaan ini bukan tentang siapa yang menjadi juara.
Ini tentang seorang anak yang pernah dianggap tidak mampu...
Dan akhirnya berdiri disini.