SEANDAINYA CINTA SAJA SUDAH CUKUP
Author: Sang Alifas Yang Merumput
Keluarga;Asmara
Aku pernah berpikir bahwa kebahagiaan dalam pernikahan tidak membutuhkan terlalu banyak hal.
Selama dua orang saling mencintai, saling menghargai, dan mau berjuang bersama, rasanya kehidupan akan baik-baik saja.
Aku ternyata salah.
Namaku Danil. Dan sampai hari ini, aku masih sering bertanya-tanya, di bagian mana aku gagal menjadi suami yang baik bagi Gracia.
Padahal, selama kami menikah, aku tidak pernah melihat istriku sebagai perempuan yang banyak menuntut.
Gracia tahu penghasilanku tidak sebesar miliknya. Bahkan kalau dihitung, gajinya hampir tiga kali lipat dari gajiku. Namun, tidak pernah sekalipun ia menggunakan hal itu untuk merendahkanku.
Kalau aku mengajaknya makan di tempat sederhana, dia tetap menikmati makanannya.
Kalau akhir bulan aku harus lebih berhati-hati mengatur pengeluaran, dia tidak pernah mengeluh.
Bahkan ketika aku belum mampu membelikannya sesuatu yang mahal, Gracia selalu bisa menemukan cara untuk membuatku merasa bahwa apa yang kulakukan sudah cukup.
Itulah yang membuatku mencintainya semakin dalam.
Malam itu kami sedang duduk di ruang keluarga setelah makan malam. Gracia bersandar di sofa sambil memainkan ujung rambutnya, sementara aku baru saja selesai membereskan piring.
“Mas.”
Aku menoleh.
“Kenapa?”
“Kamu tahu, apa yang paling membuatku bahagia?”
Aku tersenyum. Pertanyaan itu terdengar seperti jebakan kecil.
“Banyak duit?”
Gracia tertawa.
“Bisa jadi.”
“Makan enak?”
“Bisa juga.”
“Hidup berkecukupan?”
Gracia mengangguk sambil tersenyum.
“Tidak salah jawabanmu, Sayang.”
Aku duduk di sebelahnya.
“Terus apa?”
Gracia menatapku beberapa saat. Kemudian tangannya terangkat dan mengelus pipiku dengan lembut.
“Punya suami seperti kamu.”
Aku tertawa kecil.
“Jawaban aman.”
“Aku serius.”
Senyumnya membuat tawaku berhenti.
“Kenapa aku?”
“Karena kamu pengertian. Sabar. Bijaksana.” Jemarinya masih menyentuh pipiku. “Dan yang paling penting, kamu punya rasa tanggung jawab.”
Aku menggenggam tangannya.
“Aku belum bisa memberikan banyak hal untukmu.”
“Aku tidak pernah meminta banyak hal.”
“Aku tahu.”
“Yang aku butuhkan cuma suami yang pulang kepadaku setiap hari.”
Kalimat sederhana itu entah mengapa membuat dadaku terasa penuh.
Aku mencium punggung tangannya.
“Selama aku masih mampu, aku akan berusaha membuatmu bahagia.”
Gracia tersenyum.
“Jangan berusaha terlalu keras, Mas.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak ingin kamu merasa harus membuktikan sesuatu kepadaku.”
Aku terdiam.
Mungkin itulah Gracia yang kukenal.
Perempuan yang tidak pernah menghitung nilai suaminya dari jumlah uang yang dibawa pulang.
Sayangnya, tidak semua orang berpikir seperti dia.
Terutama ibunya.
Aku masih ingat ketika pertama kali meminta restu untuk menikahi Gracia. Saat itu, aku datang ke rumah keluarganya dengan perasaan gugup yang luar biasa. Aku sadar, keluarga Gracia jauh berada di atas keluargaku dalam banyak hal.
Mereka memiliki rumah besar, kehidupan yang mapan, dan hubungan sosial yang luas.
Sementara aku hanya seorang lelaki dengan pekerjaan tetap, penghasilan yang cukup untuk hidup, dan tabungan yang belum seberapa.
Namun, ibu Gracia saat itu tidak menunjukkan keberatan.
Beliau bahkan memberikan restu.
Aku mengira semuanya akan baik-baik saja.
Dan memang begitu selama beberapa waktu.
Setelah menikah, aku dan Gracia memilih tinggal di sebuah rumah kontrakan sederhana. Bukan karena Gracia tidak mampu membeli rumah sendiri. Kalau mau, mungkin dia bisa melakukannya dengan mudah.
Tetapi dia memilih tetap tinggal bersamaku.
“Aku tidak masalah tinggal di sini,” katanya suatu malam ketika aku meminta maaf karena belum mampu membeli rumah.
“Benarkah?”
“Kenapa harus masalah?”
“Karena kamu bisa mendapatkan tempat yang jauh lebih bagus.”
Gracia justru tertawa.
“Kalau aku mau rumah bagus, aku tinggal pulang ke rumah orang tuaku.”
Aku menatapnya.
“Aku ingin rumah yang kita bangun bersama.”
Waktu itu aku menganggap kalimat itu sebagai bentuk dukungan.
Aku tidak tahu bahwa kelak kalimat tersebut akan menjadi sesuatu yang paling sering menghantuiku.
Perubahan pertama sebenarnya sangat kecil.
Ibu Gracia mulai beberapa kali menanyakan tempat tinggal kami.
Awalnya aku tidak terlalu memikirkannya.
“Masih ngontrak?” tanyanya suatu sore ketika kami berkunjung.
“Iya, Bu.”
“Belum ada rencana beli rumah?”
Aku tersenyum.
“Sedang menabung.”
Beliau mengangguk, tetapi tidak mengatakan apa-apa lagi.
Aku pikir pembicaraan itu selesai.
Ternyata tidak.
Beberapa minggu kemudian, pertanyaan serupa muncul lagi.
Lalu beberapa bulan berikutnya.
Sampai suatu hari, ibu Gracia mengatakan sesuatu yang membuatku mulai memahami arah pembicaraan itu.
“Danil, kamu kan suami Gracia.”
“Iya, Bu.”
“Sebagai suami, kamu pasti ingin memberikan tempat tinggal yang layak untuk istrimu.”
Aku mengangguk.
“Tentu.”
“Kalau begitu, kapan kamu bisa membelikan rumah?”
Pertanyaan itu membuatku terdiam.
Aku tidak tahu harus menjawab apa.
Bukan karena aku tidak ingin memberikan rumah kepada Gracia.
Aku ingin.
Sangat ingin.
Hanya saja keinginanku tidak serta-merta membuat tabunganku bertambah.
“Aku sedang mengusahakannya, Bu.”
Beliau menghela napas.
“Jangan terlalu lama.”
Aku hanya bisa mengangguk.
Malamnya, ketika kami pulang, aku menceritakan percakapan itu kepada Gracia.
Aku sudah siap kalau dia akan kecewa.
Namun, dia justru memegang tanganku.
“Jangan dipikirkan.”
“Ibumu ingin aku segera punya rumah.”
“Aku tahu.”
“Dia mungkin kecewa karena aku belum mampu.”
Gracia menggeleng.
“Mas, dengarkan aku. Aku tidak pernah menikahimu karena rumah.”
Aku menatapnya.
“Kalau suatu hari kita punya rumah sendiri, aku akan senang. Tapi kalau belum mampu, ya kita tinggal di sini dulu.”
Aku tersenyum.
“Kamu tidak malu?”
“Kenapa harus malu?”
“Karena gajimu lebih besar.”
“Terus?”
“Aku suamimu.”
Gracia mendekat.
“Justru karena kamu suamiku, aku tahu kamu sudah melakukan yang terbaik.”
Aku tidak menjawab.
Aku hanya memeluknya.
Saat itu aku merasa menjadi lelaki paling beruntung di dunia.
Aku memiliki seorang istri yang tidak pernah menjadikan kekuranganku sebagai alasan untuk merendahkanku.
Aku pikir cinta kami akan cukup.
Aku pikir selama Gracia tetap berada di sisiku, kami bisa menghadapi apa pun.
Aku benar-benar berpikir begitu.
Sampai suatu malam, Gracia pulang dari rumah ibunya dengan wajah yang berbeda.
Dia meletakkan tas di atas meja, kemudian duduk tanpa mengatakan apa-apa.
Aku yang sedang membaca langsung menutup buku.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
Aku sudah mengenalnya cukup lama untuk tahu bahwa jawaban itu berarti ada sesuatu.
“Ibumu?”
Gracia menunduk.
Aku menunggunya.
Beberapa saat kemudian, dia berkata pelan, “Ibu bilang aku harus memikirkan masa depanku.”
Aku mengernyit.
“Maksudnya?”
Gracia tidak langsung menjawab.
“Ibu ingin aku punya kehidupan yang lebih baik.”
“Kita sudah punya kehidupan yang baik.”
“Aku tahu.”
“Lalu?”
Gracia menatapku.
Tatapannya membuat perasaanku tidak enak.
“Ibu tidak melihatnya seperti itu.”
Aku duduk di sampingnya.
“Dia bicara apa?”
Gracia menggeleng.
“Tidak penting.”
“Kalau sampai membuatmu seperti ini, berarti penting.”
Dia menggenggam tanganku.
“Mas, kalau suatu hari aku berubah, jangan langsung mengira aku sudah tidak mencintaimu.”
Aku terdiam.
Kalimat itu terasa aneh.
“Kenapa kamu bicara begitu?”
Gracia tersenyum tipis.
“Tidak apa-apa.”
Aku menggenggam tangannya lebih erat.
“Aku tidak akan membiarkan siapa pun membuat kita berpisah.”
Gracia menunduk.
Dan untuk pertama kalinya, aku melihat air mata jatuh dari matanya.
Aku tidak tahu apa yang dikatakan ibunya malam itu.
Aku juga belum tahu bahwa setelah percakapan tersebut, Gracia akan mulai berada di antara dua pilihan yang sama-sama menyakitkan.
Mempertahankan suaminya yang masih ia cintai, atau menaati ibunya yang sejak kecil selalu ia takuti.
Yang tidak kuketahui saat itu adalah satu hal sederhana.
Kadang-kadang, seseorang tidak meninggalkan kita karena cintanya sudah habis.
Kadang, dia pergi karena ada orang lain yang membuatnya merasa tidak punya pilihan.
Beberapa hari setelah malam itu, Gracia kembali seperti biasa.
Setidaknya, begitulah yang terlihat dari luar.
Ia masih menyiapkan sarapan untukku. Masih mengingatkan agar aku tidak lupa membawa bekal. Masih mengirim pesan ketika jam makan siang tiba, sekadar menanyakan apakah aku sudah makan atau belum.
Tidak ada yang berubah dari caranya memperlakukanku.
Justru itu yang membuatku semakin bingung.
Kalau ada masalah, seharusnya aku bisa melihatnya.
Namun, Gracia tetap menjadi Gracia yang kukenal.
Sampai suatu malam, aku melihatnya duduk sendirian di teras rumah.
Aku baru saja pulang kerja. Setelah mengganti pakaian, aku mencarinya dan menemukan dia sedang memandangi jalan di depan rumah.
“Apa yang kamu pikirkan?”
Gracia menoleh dan tersenyum.
“Belum tidur?”
“Aku baru pulang.”
“Oh.”
Aku duduk di sampingnya.
“Sejak kapan kamu suka melamun sendirian?”
“Sejak punya suami yang suka bertanya.”
Aku tertawa.
“Berarti salahku?”
“Bukan.”
Dia menyandarkan kepalanya di bahuku.
Aku membiarkannya.
Beberapa menit kami hanya duduk diam.
Aku merasa tenang karena masih bisa memeluk perempuan yang kucintai.
Namun, ketenangan itu tidak berlangsung lama.
“Mas.”
“Iya?”
“Kalau kita punya rumah sendiri, kamu mau yang seperti apa?”
Aku tersenyum.
“Kenapa tiba-tiba membicarakan rumah?”
“Jawab saja.”
Aku berpikir sebentar.
“Tidak perlu besar. Yang penting ada dua kamar, ruang keluarga, dapur, dan halaman kecil.”
“Halaman kecil?”
“Iya. Biar kamu bisa menanam bunga.”
Gracia tersenyum.
“Kalau aku ingin rumah yang lebih besar?”
“Kita menabung lagi.”
“Kalau harganya mahal?”
“Berarti aku harus bekerja lebih keras.”
Gracia terdiam.
Aku menoleh kepadanya.
“Kamu kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Kamu ingin rumah seperti yang diminta Ibu?”
Ia tidak menjawab.
Aku menghela napas.
“Grace.”
“Ibu bilang kamu harus punya target.”
“Aku punya target.”
“Bukan cuma menabung.”
Aku menatapnya.
“Apa maksudnya?”
Gracia menggigit bibirnya.
“Ibu bilang laki-laki harus punya kemampuan untuk memberikan kehidupan yang layak kepada istrinya.”
Aku tersenyum getir.
“Aku memang belum mampu memberikan semuanya.”
“Aku tahu.”
“Dan kamu tahu aku sedang berusaha.”
“Aku tahu.”
“Lalu apa masalahnya?”
Gracia menatapku.
Matanya tampak basah.
“Masalahnya bukan kamu.”
Aku tidak mengerti.
“Kalau bukan aku, lalu siapa?”
“Ibu.”
Aku terdiam.
Gracia buru-buru mengusap matanya.
“Dia terus membandingkan hidupku sekarang dengan hidupku sebelum menikah.”
Aku tidak menyangka itu.
“Dia bilang aku dulu tidak pernah kekurangan.”
“Aku tahu.”
“Dia bilang setelah menikah, seharusnya kehidupanku meningkat.”
Aku menunduk.
Kalimat itu terasa seperti tamparan yang tidak langsung ditujukan kepadaku.
Padahal aku tidak pernah berjanji membuat Gracia hidup mewah.
Aku hanya berjanji akan menjadi suami yang bertanggung jawab.
Dan selama ini aku sudah berusaha menepatinya.
“Aku tidak ingin kamu merasa hidupmu menurun setelah menikah denganku.”
Gracia langsung memegang tanganku.
“Jangan bilang begitu.”
“Tapi kenyataannya—”
“Tidak.”
Suaranya lebih tegas.
“Aku bahagia.”
Aku menatap wajahnya.
“Aku bahagia bersamamu, Mas.”
Aku percaya.
Karena aku mengenal istriku.
Tetapi ternyata masalahnya bukan apakah Gracia bahagia atau tidak.
Masalahnya adalah ibunya tidak percaya bahwa kebahagiaan seperti itu cukup untuk anaknya.
Hari-hari berikutnya, hubungan kami tetap berjalan seperti biasa.
Namun, telepon dari ibu Gracia semakin sering.
Kadang saat sedang makan.
Kadang ketika kami sedang menonton televisi.
Kadang bahkan ketika kami baru saja selesai berbicara sebelum tidur.
Setiap kali ponselnya berdering, ekspresi Gracia berubah.
Dia akan menjauh dariku.
Berbicara dengan suara pelan.
Kemudian kembali dengan wajah yang sulit kubaca.
Suatu malam, aku bertanya.
“Ibumu bilang apa?”
“Tidak ada.”
“Setiap kali menelepon, kamu selalu kelihatan sedih.”
“Cuma sedang banyak pikiran.”
“Apa tentang rumah?”
Gracia diam.
Aku tahu jawabannya.
Aku hanya tidak menyangka dia akhirnya berkata, “Ibu ingin kita membeli rumah tahun ini.”
Aku mengusap wajah.
“Tahun ini?”
“Iya.”
“Dengan tabungan yang kita punya, belum cukup.”
“Aku tahu.”
“Aku bisa mencari pekerjaan tambahan.”
Gracia langsung menggeleng.
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Aku tidak ingin kamu sakit.”
“Kalau itu yang diperlukan supaya Ibu tidak menganggap aku gagal sebagai suami—”
“Mas!”
Gracia tiba-tiba meninggikan suara.
Aku terdiam.
Dia menunduk.
“Maaf.”
Aku meraih tangannya.
“Aku cuma ingin mempertahankan rumah tangga kita.”
“Aku juga.”
“Lalu kenapa kamu takut?”
Gracia tidak menjawab.
Aku menatapnya lama.
Kemudian dia berkata pelan, “Karena sejak kecil aku selalu berusaha menjadi anak yang Ibu inginkan.”
Aku mulai memahami sesuatu.
Selama ini aku mengira Gracia hanya tidak enak hati kepada ibunya.
Ternyata lebih dari itu.
Gracia takut.
Bukan takut dimarahi.
Bukan sekadar takut mengecewakan.
Dia takut kehilangan kasih sayang ibunya.
Dan ketakutan seperti itu tidak mudah dilawan hanya dengan mengatakan, “Kamu sudah dewasa.”
Aku menarik Gracia ke dalam pelukanku.
“Kalau kamu harus memilih antara aku dan Ibumu, aku tidak mau kamu memilih karena terpaksa.”
Tubuhnya menegang dalam pelukanku.
“Jangan suruh aku memilih.”
“Aku tidak menyuruhmu.”
“Aku tidak mau kehilangan siapa pun.”
Aku memeluknya lebih erat.
“Kita cari jalan lain.”
Gracia menangis di dadaku.
Saat itu aku masih percaya bahwa selalu ada jalan lain.
Aku masih percaya bahwa jika kami cukup sabar, ibunya akan memahami.
Aku masih percaya bahwa seorang ibu pada akhirnya akan melihat kebahagiaan anaknya sebagai hal yang paling penting.
Ternyata aku terlalu naif.
Karena beberapa minggu kemudian, ibu Gracia datang ke rumah kami.
Dan kali ini, beliau tidak datang untuk sekadar menanyakan kabar.
Aku masih ingat sore itu.
Ibu Gracia datang tanpa memberi tahu sebelumnya.
Begitu mendengar suara mobil berhenti di depan rumah, Gracia langsung berdiri dari sofa. Wajahnya berubah seketika.
“Ibu?”
Aku ikut berdiri.
Tidak lama kemudian, ibunya masuk dengan membawa sebuah tas tangan. Beliau tersenyum kepada Gracia, tetapi hanya mengangguk kepadaku.
“Selamat sore, Bu.”
“Sore.”
Jawabannya singkat.
Gracia segera mengambilkan minum.
“Ibu duduk dulu.”
Ibunya duduk di sofa, lalu matanya berkeliling melihat rumah kontrakan kami.
Aku tahu rumah ini sederhana. Perabotannya juga tidak banyak. Tetapi selama ini aku tidak pernah merasa malu membawanya pulang sebagai tempat tinggal kami.
Ini rumah kami.
Tempat aku dan Gracia berbagi banyak hal.
Tempat kami makan bersama, tertawa, bertengkar karena hal-hal kecil, lalu berdamai sebelum tidur.
Namun, sore itu untuk pertama kalinya aku melihat rumah ini melalui pandangan orang lain.
Dan aku tahu, bagi ibu Gracia, tempat ini tidak cukup.
“Sudah berapa lama kalian tinggal di sini?” tanyanya.
“Sudah hampir dua tahun, Bu,” jawabku.
Beliau mengangguk.
“Belum punya rumah sendiri?”
Aku menarik napas.
“Belum.”
Gracia yang sedang menuangkan minuman langsung menoleh kepadaku.
Aku tahu dia sedang cemas.
“Danil masih menabung, Bu,” katanya.
“Ibu bertanya kepada suamimu.”
Gracia terdiam.
Aku menjawab dengan tenang.
“Benar, Bu. Saya masih menabung.”
“Berapa?”
Aku sempat terdiam.
Pertanyaan itu terasa terlalu pribadi, tetapi aku tidak ingin memperkeruh suasana.
“Belum banyak.”
“Kalau begitu, kapan rumah itu akan terbeli?”
“Saya belum bisa memastikan.”
Ibunya menghela napas.
“Sudah dua tahun menikah.”
Aku menunduk.
“Iya, Bu.”
“Menurutmu, itu waktu yang cukup?”
Aku tidak menjawab.
“Danil,” katanya lagi, “saya menikahkan anak saya dengan kamu bukan supaya kehidupannya berhenti sampai di sini.”
Gracia langsung menyela.
“Bu, jangan begitu.”
Ibunya menoleh kepadanya.
“Kamu diam dulu.”
Gracia langsung menunduk.
Aku melihat itu.
Dan untuk pertama kalinya, aku benar-benar memahami seberapa besar pengaruh perempuan itu terhadap istriku.
“Gracia punya pekerjaan bagus,” lanjut ibunya. “Penghasilannya juga bagus. Tetapi saya tidak ingin anak saya terus hidup seperti ini.”
Saya menahan perasaan yang mulai tidak nyaman.
“Gracia tidak pernah mengeluh, Bu.”
“Saya tahu.”
“Dia juga tidak pernah meminta saya membelikannya rumah.”
“Itulah masalahnya.”
Aku mengerutkan dahi.
“Apa maksud Ibu?”
“Karena dia terlalu mencintaimu sampai tidak bisa melihat kekuranganmu.”
Ruangan itu mendadak terasa sangat sunyi.
Gracia menatap ibunya dengan mata berkaca-kaca.
“Ibu…”
“Seorang istri boleh mencintai suaminya,” kata ibunya, “tetapi bukan berarti dia harus mengorbankan masa depannya.”
Aku mengepalkan tangan di atas paha.
Aku ingin membela diri.
Ingin mengatakan bahwa aku bukan lelaki malas.
Aku bekerja setiap hari.
Aku membayar kebutuhan rumah tangga.
Aku tidak pernah meminta uang kepada Gracia untuk memenuhi kebutuhan pribadiku.
Aku bahkan selalu berusaha memastikan kebutuhan istriku terpenuhi sebelum memikirkan diriku sendiri.
Tetapi semua itu terasa tidak berarti ketika berhadapan dengan ukuran yang digunakan keluarga Gracia.
“Ibu ingin saya melakukan apa?”
Ibunya menatapku.
“Buktikan bahwa kamu mampu menjadi suami Gracia.”
“Saya sedang berusaha.”
“Berusaha saja tidak cukup.”
Kalimat itu membuat dadaku sesak.
Aku menatap Gracia.
Dia menangis diam-diam.
“Bu, cukup.”
Ibunya berdiri.
“Kalau kamu tetap ingin mempertahankan pernikahan ini, kamu harus bicara dengan suamimu.”
“Bicara apa?”
“Suruh dia menentukan masa depan.”
Setelah mengatakan itu, ibunya mengambil tasnya dan pergi.
Gracia mengantarnya sampai ke depan pintu.
Aku tetap duduk.
Kepalaku penuh dengan berbagai pikiran.
Beberapa menit kemudian, Gracia kembali.
Dia duduk di sampingku.
“Mas.”
Aku menoleh.
“Maaf.”
“Kamu tidak perlu minta maaf.”
“Tapi…”
Aku menggeleng.
“Aku tidak marah kepadamu.”
Gracia menangis.
“Aku takut.”
Aku meraih tangannya.
“Takut apa?”
“Ibu akan terus seperti ini.”
“Kita hadapi bersama.”
“Mas…”
“Aku akan mencari cara untuk membeli rumah.”
Gracia menatapku.
“Jangan.”
“Kenapa?”
“Aku tidak ingin kamu memaksakan diri.”
“Aku suamimu.”
“Aku tahu.”
“Dan aku ingin memberikan rumah untukmu.”
Air matanya semakin deras.
“Aku tidak butuh rumah itu.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa kamu tetap mau melakukannya?”
Aku tersenyum lemah.
“Karena aku ingin ibumu berhenti menganggap aku tidak mampu menjagamu.”
Gracia memelukku.
Aku membalas pelukannya.
Dalam pelukan itu, aku masih yakin semuanya bisa diselesaikan.
Aku belum tahu bahwa masalahnya sudah jauh lebih besar daripada sebuah rumah.
Beberapa hari setelah kedatangan ibunya, Gracia mulai berubah.
Bukan dalam cara dia mencintaiku.
Justru sebaliknya.
Dia menjadi semakin perhatian.
Semakin sering memasak makanan kesukaanku.
Semakin sering menunggu aku pulang.
Dan setiap kali kami berpelukan, dia seperti tidak ingin melepaskanku.
Aku sempat bertanya.
“Kenapa kamu akhir-akhir ini seperti ini?”
Dia hanya menjawab, “Aku ingin menikmati waktu bersama suamiku.”
Aku tertawa kecil.
“Seolah-olah besok aku mau pergi.”
Gracia tidak tertawa.
Dia hanya memelukku lebih erat.
Saat itu aku belum mengerti.
Ternyata bukan aku yang akan pergi.
Melainkan dia.
Aku tidak pernah menyangka bahwa percakapan terakhir kami pagi itu akan menjadi awal dari hari-hari terburuk dalam hidupku.
Gracia berdiri di depan pintu sambil membawa tas kecil.
“Aku pulang dulu ke rumah Ibu.”
Aku mengernyit.
“Bukankah kemarin kamu bilang tidak ingin pulang?”
“Ibu memintaku datang.”
“Untuk apa?”
Gracia tidak menjawab.
Aku mendekatinya.
“Grace, ada apa sebenarnya?”
Dia tersenyum, tetapi senyumnya terlihat dipaksakan.
“Tidak ada apa-apa.”
“Kamu jangan bohong kepadaku.”
Gracia menunduk.
Aku ingin memeluknya, tetapi dia justru mundur satu langkah.
“Mas, aku akan pulang.”
“Ya sudah. Tapi jangan terlalu lama.”
Dia mengangguk.
Sebelum pergi, Gracia tiba-tiba memelukku.
Pelukannya begitu erat.
Seolah-olah dia sedang mengucapkan selamat tinggal.
Aku mengusap punggungnya.
“Kamu kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Kalau ada masalah, ceritakan kepadaku.”
Gracia semakin erat memelukku.
“Aku sayang kamu, Mas.”
Aku tersenyum.
“Aku juga.”
Dia melepaskan pelukannya, mengusap air mata yang hampir jatuh, lalu pergi.
Aku masih berdiri di depan pintu sampai mobil yang membawanya menghilang dari pandangan.
Saat itu aku tidak tahu bahwa Gracia pergi bukan karena ingin.
Dia pergi karena malam sebelumnya ibunya memberikan sebuah pilihan yang tidak pernah terpikirkan olehnya.
“Kalau kamu masih ingin mempertahankan Danil, Ibu tidak bisa menjamin keselamatannya.”
Gracia menatap ibunya dengan wajah pucat.
“Apa maksud Ibu?”
Ibunya tidak langsung menjawab.
Sebuah map diletakkan di atas meja.
Di dalamnya terdapat beberapa lembar foto.
Foto Danil ketika berangkat kerja.
Foto ketika pulang.
Foto rumah kontrakan mereka.
Bahkan ada foto Danil sedang berdiri sendirian di depan tempat kerjanya.
Tangan Gracia gemetar ketika melihat semuanya.
“Dari mana Ibu mendapatkan ini?”
“Itu bukan hal yang perlu kamu ketahui.”
Gracia mengangkat wajahnya.
“Ibu mengawasi Mas Danil?”
“Ibu sedang memastikan kamu tidak membuat keputusan yang salah.”
“Dia suamiku.”
“Justru karena itu Ibu memberimu kesempatan terakhir.”
Gracia menggeleng.
“Aku tidak mau meninggalkan Mas Danil.”
Ibunya menatapnya tanpa ekspresi.
“Kalau begitu, bersiaplah melihat sesuatu terjadi kepadanya.”
Gracia membeku.
“Ibu mengancam suamiku?”
“Ibu sedang memperingatkanmu.”
“Aku tidak percaya Ibu akan melakukan itu.”
“Tidak perlu percaya.”
Ibunya mengambil ponsel dan menunjukkan sebuah pesan.
Tidak ada nama.
Hanya sebuah foto Danil yang baru saja keluar dari tempat kerja.
Wajah Gracia seketika berubah.
“Siapa mereka?”
“Kamu tidak perlu tahu.”
“Ibu…”
“Dengarkan baik-baik. Kamu boleh menganggap Ibu jahat. Kamu boleh membenci Ibu. Tetapi kalau kamu tetap mempertahankan pernikahan ini, Danil yang akan menanggung akibatnya.”
Air mata Gracia jatuh.
“Apa yang Ibu inginkan?”
“Berpisah dengannya.”
“Tidak.”
“Pilih.”
Gracia menatap ibunya dengan tubuh gemetar.
“Aku mencintainya.”
“Ibu tahu.”
“Dia tidak pernah menyakitiku.”
“Ibu juga tahu.”
“Dia suami yang baik.”
“Justru karena itu, jangan tunggu sampai dia menjadi korban.”
Gracia terdiam.
Ibunya mendekat.
“Besok kamu pulang ke rumahmu. Bawa barang-barangmu. Katakan kepada Danil bahwa kamu ingin berpisah.”
“Aku tidak bisa.”
“Kamu bisa.”
“Aku tidak mau.”
“Kalau kamu tidak melakukannya, Ibu yang akan memastikan Danil tidak lagi bisa menjalani hidupnya dengan tenang.”
Gracia menutup wajahnya.
Ia menangis lama.
Bukan karena sudah tidak mencintai suaminya.
Tetapi karena untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa cinta yang dimilikinya justru bisa membahayakan orang yang dicintainya.
Dua hari kemudian, Gracia pulang.
Aku sedang duduk di ruang depan ketika pintu terbuka.
Aku langsung berdiri.
“Grace?”
Dia masuk sambil membawa koper.
Aku menatap koper itu.
Kemudian menatap wajahnya.
“Kenapa bawa koper?”
Gracia tidak menjawab.
“Grace?”
Dia meletakkan koper di samping pintu.
Aku mendekat.
“Ada apa?”
Gracia menangis.
Aku langsung memegang kedua bahunya.
“Siapa yang menyakitimu?”
Dia menggeleng.
“Tidak ada.”
“Lalu kenapa kamu membawa semua ini?”
Gracia menutup matanya.
Aku mulai merasa ada sesuatu yang sangat buruk.
“Lihat aku.”
Dia tidak mau.
“Gracia.”
Akhirnya dia mengangkat wajahnya.
“Mas…”
“Apa?”
“Aku ingin kita berpisah.”
Kalimat itu membuatku seolah kehilangan kemampuan untuk berpikir.
Aku melepaskan tanganku dari bahunya.
“Apa?”
“Aku ingin kita berpisah.”
Aku tertawa kecil karena tidak percaya.
“Kamu bercanda?”
Gracia menggeleng.
“Tidak.”
“Kemarin kamu bilang mencintaiku.”
“Aku masih mencintaimu.”
“Lalu kenapa?”
Dia menangis semakin deras.
“Aku tidak bisa melanjutkan pernikahan ini.”
Aku mendekatinya lagi.
“Siapa yang menyuruhmu?”
“Tidak ada.”
“Jangan bohong.”
“Aku yang memutuskan.”
“Tidak mungkin.”
Gracia terdiam.
Aku memandang koper di sampingnya.
Kemudian kembali menatap matanya.
“Apakah Ibumu?”
Dia langsung menunduk.
Jawabannya sudah cukup.
Aku menghela napas panjang.
“Dia mengancammu?”
Gracia menggeleng.
“Bukan begitu.”
“Lalu apa?”
“Aku cuma sadar kita tidak bisa terus seperti ini.”
“Tidak bisa seperti apa?”
“Mas belum bisa memberikan rumah.”
Aku terdiam.
Hanya karena itu?
Setelah semua yang kami lalui?
“Jadi selama ini semua yang kamu katakan kepadaku bohong?”
“Tidak.”
“Katamu rumah tidak penting.”
“Memang tidak.”
“Katamu kamu bahagia.”
“Aku bahagia.”
“Katamu kamu mencintaiku.”
“Aku masih mencintaimu.”
Aku menatapnya dengan perasaan yang semakin kacau.
“Kalau semuanya benar, kenapa kamu pergi?”
Gracia menangis.
Aku menunggu jawabannya.
Namun, dia tidak mengatakannya.
Karena dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya.
Dia tidak mungkin memberitahuku bahwa ada seseorang yang mengawasi langkahku.
Dia tidak mungkin mengatakan bahwa ibunya mengancam keselamatanku.
Dia tidak mungkin membuatku mencoba melawan sesuatu yang bahkan dia sendiri tidak tahu seberapa jauh ancamannya akan dilakukan.
Maka Gracia memilih menjadi perempuan yang terlihat kejam di mataku.
“Aku sudah memutuskan.”
Aku menggeleng.
“Tidak.”
“Mas…”
“Tidak.”
Aku meraih tangannya.
“Kita bisa memperbaiki semuanya.”
Gracia menangis.
“Aku tahu.”
“Kita bisa menabung lagi.”
“Aku tahu.”
“Aku bisa bekerja lebih keras.”
“Aku tahu.”
“Aku akan cari rumah.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa?”
Gracia menggigit bibirnya agar tangisnya tidak pecah.
Aku menatapnya.
Untuk pertama kalinya selama pernikahan kami, aku melihat seseorang yang sangat kucintai berdiri di hadapanku sambil berusaha menghancurkan dirinya sendiri.
“Aku minta maaf, Mas.”
“Jangan minta maaf. Jelaskan.”
“Aku tidak bisa.”
“Kenapa?”
Dia mengusap air matanya.
“Karena kalau aku tetap bersamamu, aku takut sesuatu yang lebih buruk akan terjadi.”
Aku mengerutkan dahi.
“Apa maksudmu?”
Gracia langsung diam.
Aku mendekatinya.
“Grace, apa yang kamu takutkan?”
Dia menatapku.
Ada ketakutan yang begitu jelas di matanya.
Tetapi beberapa detik kemudian, dia kembali menunduk.
“Tidak ada.”
Aku tahu dia berbohong.
Namun aku tidak tahu kepada siapa sebenarnya dia sedang berusaha menyelamatkanku.
Dan itulah yang paling menyakitkan.
Istriku berdiri di depanku sambil menangis, mengatakan bahwa dia masih mencintaiku, tetapi tetap memilih pergi.
Aku tidak tahu apa yang telah dilakukan ibunya.
Aku hanya tahu satu hal.
Pernikahan yang selama ini kuperjuangkan sedang berakhir di depan mataku.
Dan aku bahkan tidak tahu apa yang harus kulawan.
Aku masih berdiri di hadapan Gracia ketika dia mengatakan ingin berpisah.
Aku tidak tahu harus marah, menangis, atau memintanya mengulang perkataannya.
Semua terasa tidak masuk akal.
“Duduk dulu,” kataku.
Gracia menggeleng.
“Aku tidak bisa lama-lama.”
“Kenapa?”
“Ibu menungguku.”
Aku menatap koper di dekat pintu.
“Jadi kamu datang ke sini hanya untuk mengambil barang?”
Gracia tidak menjawab.
“Setelah itu kamu pergi?”
Ia mengangguk pelan.
Aku menarik napas dalam-dalam.
“Lihat aku, Grace.”
Dia mengangkat wajahnya.
“Kamu masih mencintaiku?”
Air matanya langsung jatuh.
“Iya.”
“Masih bahagia bersamaku?”
“Iya.”
“Pernikahan kita baik-baik saja?”
“Iya.”
Aku semakin tidak mengerti.
“Kalau begitu, kenapa kita harus berpisah?”
Gracia menutup wajahnya.
Aku mendekat dan memegang bahunya.
“Bicaralah kepadaku. Apa yang sebenarnya terjadi?”
“Aku tidak bisa.”
“Kamu bisa.”
“Tidak, Mas.”
“Siapa yang memaksamu?”
Gracia menangis semakin keras.
Aku mulai kehilangan kesabaran, tetapi bukan kepadanya.
“Apakah Ibumu mengancammu?”
Dia terdiam.
“Jawab aku.”
“Tidak.”
Aku tahu dia berbohong.
“Kalau bukan Ibumu, siapa?”
Gracia tidak menjawab.
Aku melepaskan tanganku dari bahunya.
“Apakah ada orang lain?”
Dia langsung menggeleng.
“Tidak ada.”
“Lalu aku?”
“Apa?”
“Apakah aku melakukan sesuatu yang salah?”
Gracia menatapku.
“Tidak.”
“Pernah menyakitimu?”
“Tidak.”
“Tidak bertanggung jawab?”
“Tidak.”
“Pernah membuatmu menyesal menikah denganku?”
Gracia menggeleng sambil menangis.
“Tidak pernah.”
Aku tertawa hambar.
“Lalu kenapa kamu meninggalkanku?”
Gracia tidak mampu menjawab.
Aku melihat wajahnya lama sekali.
Perempuan ini bukan sedang meninggalkanku karena membenciku.
Ada sesuatu yang sedang disembunyikannya.
Dan aku tahu, sesuatu itu pasti lebih besar daripada alasan tentang rumah.
“Aku tidak akan membiarkanmu pergi seperti ini.”
Gracia mengusap air matanya.
“Mas, jangan.”
“Aku suamimu.”
“Aku tahu.”
“Kalau ada masalah, kita selesaikan bersama.”
“Aku tidak bisa.”
“Kamu bisa.”
“Aku tidak bisa, Mas.”
Suaranya bergetar.
“Kalau aku tetap di sini, sesuatu yang buruk akan terjadi.”
Aku terdiam.
“Apa?”
Gracia langsung membungkam mulutnya.
Aku melangkah mendekat.
“Terjadi apa?”
“Tidak ada.”
“Tadi kamu sendiri yang bilang sesuatu yang buruk akan terjadi.”
“Aku hanya takut.”
“Takut apa?”
Dia menggeleng.
Aku menatap matanya.
“Apakah aku dalam bahaya?”
Wajahnya seketika berubah.
Hanya sepersekian detik.
Tetapi aku melihatnya.
Ketakutan.
Gracia segera mengalihkan pandangan.
Aku semakin yakin.
“Grace.”
“Jangan tanya lagi.”
“Kenapa?”
“Karena semakin banyak kamu bertanya, semakin sulit aku pergi.”
Aku terdiam.
Kalimat itu menghantamku lebih keras daripada keputusan untuk berpisah.
Aku mengambil tangannya.
“Kalau kamu memang tidak ingin pergi, jangan pergi.”
Gracia menangis.
“Aku ingin tinggal.”
“Kalau begitu tinggal.”
“Aku tidak bisa.”
“Kenapa?”
“Karena aku takut.”
Aku menggenggam tangannya lebih erat.
“Takut kepada siapa?”
Gracia tidak menjawab.
Aku sudah tahu jawabannya.
Tetapi aku masih berharap dia menyangkalnya.
“Ibumu?”
Gracia menutup mata.
Air mata mengalir di pipinya.
Dia tidak mengatakan iya.
Dia juga tidak mengatakan tidak.
Namun diamnya sudah cukup.
Aku duduk di kursi dekat meja kecil ruang depan. Kepalaku terasa berat.
Selama ini aku tahu Gracia sangat menghormati ibunya.
Aku tahu dia sulit menolak permintaan orang tuanya.
Tetapi aku tidak pernah membayangkan sampai sejauh ini.
“Jadi Ibumu yang meminta kamu meninggalkanku?”
Gracia mengangguk kecil.
“Karena rumah?”
Ia kembali menggeleng.
“Lalu karena apa?”
“Aku tidak bisa mengatakannya.”
“Kenapa?”
“Karena aku tidak ingin kamu melakukan sesuatu yang bodoh.”
Aku berdiri lagi.
“Apa yang bisa kulakukan?”
“Jangan datang ke rumah Ibu.”
“Kenapa?”
“Pokoknya jangan.”
“Grace, aku harus tahu.”
“Tidak.”
“Kalau Ibumu mengancammu—”
“Bukan hanya aku yang akan terkena akibatnya.”
Aku membeku.
Gracia langsung menutup mulutnya.
Aku menatapnya.
“Apa maksudmu?”
Dia menggeleng cepat.
“Lupakan.”
“Tidak mungkin aku melupakan itu.”
“Mas, tolong.”
“Apa yang akan terjadi kepadaku?”
Gracia menangis.
Aku baru menyadari sesuatu yang selama ini tidak pernah terpikirkan.
Mungkin alasan Gracia meninggalkanku bukan karena dirinya.
Mungkin karena aku.
“Apakah Ibumu mengancam keselamatanku?”
Gracia tidak menjawab.
Aku melangkah mendekatinya.
“Jawab.”
“Jangan cari tahu.”
“Grace.”
“Jangan!”
Untuk pertama kalinya, dia membentakku.
Aku terdiam.
Gracia menangis sambil menatapku.
“Aku cuma ingin kamu baik-baik saja.”
“Kalau begitu jangan pergi.”
“Aku harus pergi.”
“Tidak.”
“Aku harus.”
“Tidak, Grace.”
Aku memegang kedua tangannya.
“Kita bisa pergi dari sini. Kita bisa pindah kota. Aku akan mencari pekerjaan di tempat lain. Kita mulai lagi dari awal.”
Gracia menggeleng.
“Mereka akan menemukan kita.”
Aku membeku.
“Mereka?”
Gracia menyadari kesalahannya.
Ia langsung menunduk.
Aku tidak lagi bertanya.
Bukan karena aku sudah mengerti.
Justru karena aku semakin tidak mengerti.
Siapa mereka?
Seberapa jauh ibunya terlibat?
Dan mengapa Gracia begitu yakin bahwa aku akan berada dalam bahaya jika dia tetap menjadi istriku?
Aku ingin mencari jawabannya.
Tetapi melihat wajah Gracia, aku tahu dia tidak akan memberikannya.
Dia sedang melindungiku dengan satu-satunya cara yang menurutnya masih mungkin.
Pergi dariku.
Gracia menarik tangannya perlahan.
“Aku harus pergi sekarang.”
Aku tidak menahannya lagi.
Bukan karena aku rela.
Aku hanya takut jika aku memaksanya tinggal, sesuatu yang lebih buruk benar-benar terjadi.
Gracia mengambil koper.
Sebelum membuka pintu, dia menoleh.
“Mas.”
Aku menatapnya.
“Aku minta maaf.”
“Jangan pergi.”
Suaraku nyaris tidak terdengar.
Gracia menggigit bibirnya.
“Aku mencintaimu.”
“Kalau begitu tinggal.”
Air matanya jatuh.
“Seandainya cinta saja sudah cukup…”
Dia tidak menyelesaikan kalimatnya.
Pintu terbuka.
Kemudian tertutup perlahan setelah dia keluar.
Aku tetap berdiri di tempatku.
Untuk pertama kalinya sejak menikah, rumah kontrakan kecil itu terasa begitu luas dan begitu sunyi.
Aku tidak tahu alasan sebenarnya Gracia pergi.
Aku hanya tahu satu hal.
Istriku masih mencintaiku.
Dan justru karena itu, aku mulai takut bahwa perpisahan kami bukan akhir dari masalah.
Melainkan awal dari sesuatu yang jauh lebih buruk.