Senja selalu membuat Alena mengingat satu hal: tidak semua yang indah harus dimiliki sejak awal.
Kadang sesuatu yang indah justru harus diperjuangkan.
Sore itu, ia berdiri di tepi pantai dengan rambut yang diterbangkan angin. Langit perlahan berubah menjadi jingga. Matahari mulai turun, meninggalkan garis cahaya panjang di permukaan laut.
Sudah tiga tahun sejak terakhir kali ia berdiri di tempat itu.
Tiga tahun sejak seseorang berkata kepadanya,
“Aku akan kembali sebelum senja terakhir.”
Namun orang itu tidak pernah kembali.
Namanya Raka.
Dulu mereka bertemu di tempat yang sama.
Raka adalah lelaki yang selalu datang membawa kamera tua. Ia suka memotret matahari terbenam dan percaya bahwa setiap senja mempunyai cerita sendiri.
Sementara Alena datang ke pantai hanya untuk melupakan masalahnya.
Pertemuan pertama mereka terjadi karena sebuah kamera.
Saat itu kamera Raka jatuh ketika ia berjalan melewati Alena.
“Maaf,” katanya.
Alena mengambil kamera tersebut.
“Ini punya kamu?”
Raka mengangguk.
“Terima kasih. Kalau rusak, saya bisa kehilangan separuh hidup saya.”
Alena tertawa.
“Separuh hidup cuma karena kamera?”
Raka tersenyum.
“Separuhnya lagi karena seseorang yang belum saya temui.”
Kalimat itu membuat Alena terdiam.
Ia tidak menyangka lelaki asing itu akan menjadi seseorang yang begitu penting dalam hidupnya.
Hari-hari berikutnya mereka sering bertemu.
Kadang di pantai.
Kadang di kedai kopi.
Kadang hanya bertukar pesan sampai tengah malam.
Raka membuat Alena kembali tertawa.
Alena membuat Raka merasa pulang.
Mereka tidak pernah membicarakan masa depan dengan serius.
Mereka hanya menikmati hari demi hari.
Sampai suatu sore, Raka menerima kabar bahwa ia harus pergi ke luar kota.
Ada pekerjaan besar yang tidak bisa ditolak.
“Aku cuma pergi beberapa bulan,” katanya.
Alena mencoba tersenyum.
“Lalu?”
“Aku kembali.”
“Kapan?”
Raka memandang matahari yang hampir tenggelam.
“Sebelum senja terakhir tahun ini.”
Alena tertawa.
“Janji?”
“Janji.”
Lalu Raka pergi.
Hari pertama, Alena masih menerima pesan.
Hari kedua juga.
Minggu pertama masih ada telepon.
Namun setelah itu semuanya berubah.
Pesan semakin jarang.
Telepon berhenti.
Alena mencoba menghubungi.
Tidak ada jawaban.
Hari berganti minggu.
Minggu berganti bulan.
Senja terakhir tahun itu datang.
Alena berdiri sendirian di pantai.
Ia menunggu.
Matahari turun.
Tidak ada Raka.
Saat matahari benar-benar hilang, Alena menangis.
Ia merasa bodoh karena masih percaya.
Sejak hari itu, ia berhenti datang ke pantai.
Ia juga berhenti menunggu.
Tiga tahun berlalu.
Kini Alena kembali.
Bukan karena ingin mencari Raka.
Ia hanya ingin membuktikan kepada dirinya sendiri bahwa tempat ini tidak lagi memiliki kekuatan untuk membuatnya sedih.
Ia menarik napas panjang.
“Sudah selesai,” bisiknya.
Namun tepat ketika ia hendak pergi, seseorang memanggil namanya.
“Alena.”
Tubuhnya membeku.
Suara itu.
Suara yang sudah bertahun-tahun berusaha ia lupakan.
Ia perlahan berbalik.
Raka berdiri beberapa meter di belakangnya.
Rambutnya lebih pendek.
Wajahnya lebih matang.
Tetapi matanya masih sama.
Alena tidak mampu berkata-kata.
Raka berjalan mendekat.
“Hai.”
Alena tertawa kecil, tetapi matanya mulai berkaca-kaca.
“Setelah tiga tahun, cuma hai?”
Raka menundukkan kepala.
“Aku tidak tahu harus mulai dari mana.”
“Mulai dari alasan kenapa kamu menghilang.”
Raka terdiam.
Alena menunggu.
“Aku tidak pernah meninggalkanmu karena ingin,” katanya akhirnya.
“Lalu?”
“Aku mengalami kecelakaan.”
Alena terdiam.
“Aku kehilangan ponsel. Aku dirawat cukup lama. Setelah itu ada banyak masalah yang membuatku tidak bisa menghubungimu.”
“Kenapa setelah sembuh kamu tidak pulang?”
Raka menatap laut.
“Karena aku pikir kamu sudah membenciku.”
Alena tertawa pahit.
“Aku memang membencimu.”
Raka menatapnya.
“Untuk waktu yang lama.”
“Sekarang?”
Alena tidak menjawab.
Raka kemudian mengeluarkan sesuatu dari saku jaketnya.
Sebuah kamera tua.
Alena mengenalinya.
“Kamera itu masih ada?”
Raka mengangguk.
“Aku membawanya ke mana-mana.”
Ia membuka kamera itu.
Ada sebuah foto.
Foto Alena sedang tertawa di pantai, tiga tahun lalu.
Alena menatap foto tersebut.
“Kamu masih menyimpan ini?”
“Aku punya banyak foto.”
“Kenapa?”
Raka tersenyum sedih.
“Karena selama tiga tahun aku tetap punya satu alasan untuk pulang.”
Alena menunduk.
Air matanya jatuh.
“Aku menunggumu.”
“Aku tahu.”
“Tidak. Kamu tidak tahu.”
Alena menghapus air matanya.
“Aku menunggu sampai senja terakhir. Sendirian.”
Raka mendekat.
“Aku juga menunggumu.”
“Di mana?”
“Di tempat lain.”
Mereka terdiam.
Angin pantai bertiup semakin kuat.
Matahari mulai turun.
Raka melihat langit.
“Sepertinya kita terlambat tiga tahun.”
Alena tersenyum.
“Mungkin.”
Raka mengulurkan tangannya.
“Kalau begitu, boleh kita mulai lagi?”
Alena menatap tangan itu.
Dulu ia mungkin akan langsung menggenggamnya.
Namun sekarang ia lebih berhati-hati.
“Kamu berjanji tidak akan pergi lagi?”
Raka menggeleng.
“Aku tidak bisa menjanjikan hidup akan selalu mudah.”
Alena terdiam.
“Tapi aku bisa berjanji satu hal.”
“Apa?”
“Kalau suatu hari keadaan membuatku harus pergi, aku tidak akan menghilang. Aku akan menjelaskan. Aku akan tetap mencari jalan untuk kembali.”
Alena menatap matanya.
Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun, ia merasa tidak perlu melawan masa lalu.
Ia menggenggam tangan Raka.
“Baik.”
Raka tersenyum.
Mereka duduk berdampingan.
Matahari semakin rendah.
Cahaya jingga menyentuh wajah mereka.
“Alena.”
“Hm?”
“Lihat.”
Raka menunjuk langit.
“Senja terakhir tahun ini.”
Alena tersenyum.
“Bukan.”
Raka menoleh.
“Bukan?”
“Ini bukan senja terakhir.”
“Kenapa?”
“Karena setelah ini masih ada banyak senja.”
Raka tertawa.
“Benar juga.”
Alena bersandar pelan di bahunya.
Tiga tahun lalu, ia mengira senja adalah akhir.
Hari ini ia memahami sesuatu.
Senja tidak selalu berarti kehilangan.
Kadang senja adalah kesempatan kedua.
Kesempatan bagi dua orang yang pernah terpisah untuk bertemu lagi.
Kesempatan bagi hati yang pernah patah untuk percaya kembali.
Dan kesempatan bagi sebuah janji yang pernah gagal untuk ditepati.
Raka menggenggam tangannya lebih erat.
“Terima kasih sudah masih di sini.”
Alena tersenyum.
“Aku tidak menunggumu.”
Raka terkejut.
“Lalu?”
“Aku hanya kebetulan datang.”
“Dan aku?”
Alena menatapnya.
“Kamu juga kebetulan datang.”
Raka tertawa.
Mereka kemudian berjalan meninggalkan pantai.
Namun sebelum pergi, Alena menoleh sekali lagi.
Langit telah berubah menjadi jingga keemasan.
Ia tersenyum.
Dulu ia datang ke tempat itu untuk menunggu seseorang.
Sekarang ia meninggalkannya bersama seseorang.
Dan ketika malam perlahan menutup langit, Alena akhirnya menyadari:
mereka tidak memenangkan senja dengan mengalahkan waktu.
Mereka memenangkannya dengan tidak menyerah kepada kehilangan.
Karena terkadang cinta memang membutuhkan waktu yang panjang untuk menemukan jalan pulang.
Dan sore itu,
setelah tiga tahun,
senja akhirnya menjadi milik mereka lagi.